Berita pertama ini merupakan kata pengantar Kitab Efesus. Walaupun ini hanya kata pengantar, namun di sini kita akan membahas perkara yang amat penting, menentukan, dan berbobot.
1. POKOK ‑ GEREJA
A. Tubuh
Pokok Kitab Efesus ialah gereja. Kitab Efesus membahas tujuh aspek gereja. Aspek pertama ialah gereja sebagai Tubuh Kristus, kepenuhan‑Nya yang memenuhi segala sesuatu di dalam segala sesuatu. Jika seorang yang hidup ingin menjadi sempurna, ia harus memiliki satu tubuh sebagai ekspresinya. Tubuh Kristus ialah kepenuhan‑Nya, yang memenuhi segalanya di dalam segalanya.
Orang Kristen hari ini telah menyalahgunakan, menyalahpahami, dan menyalah tafsirkan istilah "kepenuhan" ini. Kebanyakan guru Kristen mengira kepenuhan adalah kekayaan. Maka ketika orang Kristen membicarakan masalah kepenuhan Kristus, mereka mengartikannya kekayaan Kristus. (Walau ada banyak orang Kristen yang membicarakan tentang kepenuhan Roh Kudus atau kepenuhan Allah, tetapi jarang yang menyinggung tentang kepenuhan Kristus.) Menurut Kitab Efesus, istilah "kepenuhan" bukan berarti "kekayaan", melainkan berarti ekspresi. Istilah "kekayaan Kristus" tercantum dalam Efesus 3:8, sedang istilah "kepenuhan" tercantum dalam Efesus 1:23 dan 4:13. Pasal pertama mengatakan kepenuhan Dia yang memenuhi segalanya di dalam segalanya, dan pasal 4 mengatakan kadar atau ukuran perawakan kepenuhan Kristus. Menurut Efesus 4:13, kepenuhan mempunyai suatu perawakan, dan perawakan mempunyai suatu ukuran (kapasitas). Kita masing‑masing mempunyai satu perawakan, sebab kita mempunyai satu tubuh. Jika kita hanya kepala tanpa tubuh, tentu kita tidak mempunyai perawakan. Kepenuhan Kristus adalah Tubuh, karena Efesus 4:13 mengatakan bahwa kepenuhan ini punya satu perawakan berikut satu ukuran. Maka kita mempunyai ukuran perawakan kepenuhan Kristus.
Kepenuhan berbeda dengan kekayaan; kekayaan tidak memenuhi perawakan. Namun, kepenuhan yang merupakan Tubuh ini mempunyai satu perawakan, bahkan pada perawakan ini terdapat satu ukuran. Jadi, ini membuktikan dengan kuat bahwa kepenuhan Kristus bukan kekayaan Kristus, melainkan Tubuh Kristus.
Memahami mengapa Tubuh Kristus disebut kepenuhan sangatlah penting dan bermakna. Tubuh seseorang justru berarti kepenuhan orang itu sendiri, dan kepenuhan ini juga berarti ekspresinya. Sewaktu saya berbicara, tubuh saya ikut bergerak. Dengan demikian, manusia saya terekspresi lewat tubuh saya. Begitu pula, gereja adalah Tubuh Kristus, dan Tubuh ini merupakan kepenuhan Dia yang memenuhi segalanya di dalam segalanya. Alangkah dalamnya hal ini! Alam semesta dipenuhi oleh Kristus. Sebagai Persona yang memenuhi segalanya di dalam segalanya, Kristus sungguh tak kepalang tanggung besarnya. Persona yang demikian agung ini memerlukan satu Tubuh yang agung pula, dan Tubuh ini ialah gereja. Karena itu, gereja adalah Tubuh Kristus, kepenuhanNya.
Kekayaan Kristus dapat diumpamakan sebagai bahan makanan yang diproduksi di Amerika Serikat. Kekayaan itu bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dimakan. Ketika kita memakan bahan makanan Amerika Serikat yang kaya itu, kekayaan tersebut seolah‑olah melenyap ke dalam diri kita. Setelah kekayaan itu dicerna dan diserap oleh kita, kekayaan itu menjadi bagian kita. HasiInya, ia bukan lagi kekayaan, tetapi kepenuhan. Jadi kaum muda Amerika Serikat berawak besar karena menyerap begitu banyak bahan makanan Amerika Serikat yang kaya, merekalah kepenuhan Amerika. Melalui perumpamaan ini, kini kita dapat membedakan kekayaan dengan kepenuhan. Kekayaan berarti makanan yang masih belum kita makan, sedang kepenuhan adalah makanan yang telah kita makan, kita cerna, bahkan kita serap. Kekayaan Kristus adalah segala apa adanya Kristus. Tatkala kita mencerna dan menyerap kekayaan Kristus ke dalam diri kita, segala kekayaan itu akan menjadi bagian kita, dan kita pun menjadi kepenuhan‑Nya. Jadi, gereja sebagai Tubuh Kristus adalah kepenuhan Personayang betapa besar yang universal, yang memenuhi segalanya dan di dalam segalanya. Inilah hal atau aspek pertama dari apa adanya gereja.
Pokok Kitab Efesus ialah gereja. Kitab Efesus membahas tujuh aspek gereja. Aspek pertama ialah gereja sebagai Tubuh Kristus, kepenuhan‑Nya yang memenuhi segala sesuatu di dalam segala sesuatu. Jika seorang yang hidup ingin menjadi sempurna, ia harus memiliki satu tubuh sebagai ekspresinya. Tubuh Kristus ialah kepenuhan‑Nya, yang memenuhi segalanya di dalam segalanya.
Orang Kristen hari ini telah menyalahgunakan, menyalahpahami, dan menyalah tafsirkan istilah "kepenuhan" ini. Kebanyakan guru Kristen mengira kepenuhan adalah kekayaan. Maka ketika orang Kristen membicarakan masalah kepenuhan Kristus, mereka mengartikannya kekayaan Kristus. (Walau ada banyak orang Kristen yang membicarakan tentang kepenuhan Roh Kudus atau kepenuhan Allah, tetapi jarang yang menyinggung tentang kepenuhan Kristus.) Menurut Kitab Efesus, istilah "kepenuhan" bukan berarti "kekayaan", melainkan berarti ekspresi. Istilah "kekayaan Kristus" tercantum dalam Efesus 3:8, sedang istilah "kepenuhan" tercantum dalam Efesus 1:23 dan 4:13. Pasal pertama mengatakan kepenuhan Dia yang memenuhi segalanya di dalam segalanya, dan pasal 4 mengatakan kadar atau ukuran perawakan kepenuhan Kristus. Menurut Efesus 4:13, kepenuhan mempunyai suatu perawakan, dan perawakan mempunyai suatu ukuran (kapasitas). Kita masing‑masing mempunyai satu perawakan, sebab kita mempunyai satu tubuh. Jika kita hanya kepala tanpa tubuh, tentu kita tidak mempunyai perawakan. Kepenuhan Kristus adalah Tubuh, karena Efesus 4:13 mengatakan bahwa kepenuhan ini punya satu perawakan berikut satu ukuran. Maka kita mempunyai ukuran perawakan kepenuhan Kristus.
Kepenuhan berbeda dengan kekayaan; kekayaan tidak memenuhi perawakan. Namun, kepenuhan yang merupakan Tubuh ini mempunyai satu perawakan, bahkan pada perawakan ini terdapat satu ukuran. Jadi, ini membuktikan dengan kuat bahwa kepenuhan Kristus bukan kekayaan Kristus, melainkan Tubuh Kristus.
Memahami mengapa Tubuh Kristus disebut kepenuhan sangatlah penting dan bermakna. Tubuh seseorang justru berarti kepenuhan orang itu sendiri, dan kepenuhan ini juga berarti ekspresinya. Sewaktu saya berbicara, tubuh saya ikut bergerak. Dengan demikian, manusia saya terekspresi lewat tubuh saya. Begitu pula, gereja adalah Tubuh Kristus, dan Tubuh ini merupakan kepenuhan Dia yang memenuhi segalanya di dalam segalanya. Alangkah dalamnya hal ini! Alam semesta dipenuhi oleh Kristus. Sebagai Persona yang memenuhi segalanya di dalam segalanya, Kristus sungguh tak kepalang tanggung besarnya. Persona yang demikian agung ini memerlukan satu Tubuh yang agung pula, dan Tubuh ini ialah gereja. Karena itu, gereja adalah Tubuh Kristus, kepenuhanNya.
Kekayaan Kristus dapat diumpamakan sebagai bahan makanan yang diproduksi di Amerika Serikat. Kekayaan itu bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dimakan. Ketika kita memakan bahan makanan Amerika Serikat yang kaya itu, kekayaan tersebut seolah‑olah melenyap ke dalam diri kita. Setelah kekayaan itu dicerna dan diserap oleh kita, kekayaan itu menjadi bagian kita. HasiInya, ia bukan lagi kekayaan, tetapi kepenuhan. Jadi kaum muda Amerika Serikat berawak besar karena menyerap begitu banyak bahan makanan Amerika Serikat yang kaya, merekalah kepenuhan Amerika. Melalui perumpamaan ini, kini kita dapat membedakan kekayaan dengan kepenuhan. Kekayaan berarti makanan yang masih belum kita makan, sedang kepenuhan adalah makanan yang telah kita makan, kita cerna, bahkan kita serap. Kekayaan Kristus adalah segala apa adanya Kristus. Tatkala kita mencerna dan menyerap kekayaan Kristus ke dalam diri kita, segala kekayaan itu akan menjadi bagian kita, dan kita pun menjadi kepenuhan‑Nya. Jadi, gereja sebagai Tubuh Kristus adalah kepenuhan Personayang betapa besar yang universal, yang memenuhi segalanya dan di dalam segalanya. Inilah hal atau aspek pertama dari apa adanya gereja.
B. Manusia Baru
Kedua, gereja ialah manusia baru (2:15). Dalam alam semesta hanya ada satu manusia baru; gerejalah manusia baru itu. Antara Tubuh dengan manusia baru terdapat satu perbedaan yang nyata. Tubuh hanya memerlukan hayat, tetapi manusia baru memerlukan hayat dan pribadi. Tubuh saya memerlukan hayat, namun diri saya sebagai seorang manusia memerlukan pribadi. Gereja bukan hanya Tubuh Kristus yang memiliki hayat Kristus, gereja juga manusia baru yang memiliki Kristus sebagai pribadi. Tidak dapat diragukan, manusia baru ini bersifat korporat, sebab dalam Efesus 2:15 dikatakan bahwa Kristus menciptakan satu manusia baru dari bangsa Yahudi dan bangsa bukan Yahudi. Ini berarti kedua golongan orang tersebut telah tercipta menjadi satu manusia baru. Bila kita nampak gereja hari ini bukan hanya suatu Tubuh, bahkan suatu manusia yang berpribadi, pengenalan kita tentang hidup gereja akan dipertinggi.
Kedua, gereja ialah manusia baru (2:15). Dalam alam semesta hanya ada satu manusia baru; gerejalah manusia baru itu. Antara Tubuh dengan manusia baru terdapat satu perbedaan yang nyata. Tubuh hanya memerlukan hayat, tetapi manusia baru memerlukan hayat dan pribadi. Tubuh saya memerlukan hayat, namun diri saya sebagai seorang manusia memerlukan pribadi. Gereja bukan hanya Tubuh Kristus yang memiliki hayat Kristus, gereja juga manusia baru yang memiliki Kristus sebagai pribadi. Tidak dapat diragukan, manusia baru ini bersifat korporat, sebab dalam Efesus 2:15 dikatakan bahwa Kristus menciptakan satu manusia baru dari bangsa Yahudi dan bangsa bukan Yahudi. Ini berarti kedua golongan orang tersebut telah tercipta menjadi satu manusia baru. Bila kita nampak gereja hari ini bukan hanya suatu Tubuh, bahkan suatu manusia yang berpribadi, pengenalan kita tentang hidup gereja akan dipertinggi.
C. Kerajaan
Dalam Efesus 2:19 kita nampak gereja adalah Kerajaan Allah. Ayat ini mengatakan, "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang‑orang kudus dan anggota‑anggota keluarga Allah." Kata kawan sewarga menandakan Kerajaan Allah, karena menjadi kawan sewarga berarti menjadi seorang yang memiliki hak warga negara, dan hak warga negara ini selalu. berkaitan dengan suatu bangsa atau kerajaan. Karena itu, ayat 19 ini mewahyukan bahwa gereja adalah Kerajaan Allah, dan. kita adalah warga negara kerajaan ini, yang memiliki hak‑hak warga negara tertentu. Ketika kita menikmati hak‑hak itu, kita juga harus mengambil bagian atas kewajiban‑kewajibannya. Maka sebagai Kerajaan Allah, gereja memiliki hak berikut kewajiban. Jika kita menginginkan hak, kita pun harus memikul kewajiban. Namun, kadang‑kadang kita mungkin ingin menikmati hak saja, enggan memikul kewajiban. Sebenarnya kedua‑duanya wajib kita terima, yaitu menikmati hak dan memikul kewajiban. Inilah gereja sebagai Kerajaan Allah.
Dalam Efesus 2:19 kita nampak gereja adalah Kerajaan Allah. Ayat ini mengatakan, "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang‑orang kudus dan anggota‑anggota keluarga Allah." Kata kawan sewarga menandakan Kerajaan Allah, karena menjadi kawan sewarga berarti menjadi seorang yang memiliki hak warga negara, dan hak warga negara ini selalu. berkaitan dengan suatu bangsa atau kerajaan. Karena itu, ayat 19 ini mewahyukan bahwa gereja adalah Kerajaan Allah, dan. kita adalah warga negara kerajaan ini, yang memiliki hak‑hak warga negara tertentu. Ketika kita menikmati hak‑hak itu, kita juga harus mengambil bagian atas kewajiban‑kewajibannya. Maka sebagai Kerajaan Allah, gereja memiliki hak berikut kewajiban. Jika kita menginginkan hak, kita pun harus memikul kewajiban. Namun, kadang‑kadang kita mungkin ingin menikmati hak saja, enggan memikul kewajiban. Sebenarnya kedua‑duanya wajib kita terima, yaitu menikmati hak dan memikul kewajiban. Inilah gereja sebagai Kerajaan Allah.
D. Keluarga Allah
Keempat, gereja adalah keluarga Allah (Ef 2:19). Keluarga bukan masalah hak warga negara, melainkan masalah hayat dan kenikmatan. Dalam keluarga Anda tidak banyak membicarakan soal hak, sebab di sana Anda mempunyai hayat ayah serta kenikmatan atas hayatnya. Jadi, gereja sebagai keluarga atau rumah tangga Allah berkaitan dengan masalah hayat dan kenikmatan.
Banyak orang beriman menyukai hidup gereja yang bergaya keluarga, bukan yang bergaya kerajaan; ini berarti mereka selalu menginginkan waktu yang indah dan kenikmatan yang mengasyikkan. Akan tetapi, kita tidak dapat selamanya diam di rumah. Kita perlu menggunakan beberapa jam dalam sehari untuk mencari nafkah di luar rumah. Jadi, kita tidak boleh hanya memiliki kenikmatan keluarga, kita pun harus memikul kewajiban kerajaan. Gereja tidak dapat selalu menjadi keluarga Allah, gereja juga harus menjadi Kerajaan Allah. Namun demikian, saya girang, karena dalam keluarga Allah, yaitu gereja, kita memiliki hayat dan kenikmatan.
Keempat, gereja adalah keluarga Allah (Ef 2:19). Keluarga bukan masalah hak warga negara, melainkan masalah hayat dan kenikmatan. Dalam keluarga Anda tidak banyak membicarakan soal hak, sebab di sana Anda mempunyai hayat ayah serta kenikmatan atas hayatnya. Jadi, gereja sebagai keluarga atau rumah tangga Allah berkaitan dengan masalah hayat dan kenikmatan.
Banyak orang beriman menyukai hidup gereja yang bergaya keluarga, bukan yang bergaya kerajaan; ini berarti mereka selalu menginginkan waktu yang indah dan kenikmatan yang mengasyikkan. Akan tetapi, kita tidak dapat selamanya diam di rumah. Kita perlu menggunakan beberapa jam dalam sehari untuk mencari nafkah di luar rumah. Jadi, kita tidak boleh hanya memiliki kenikmatan keluarga, kita pun harus memikul kewajiban kerajaan. Gereja tidak dapat selalu menjadi keluarga Allah, gereja juga harus menjadi Kerajaan Allah. Namun demikian, saya girang, karena dalam keluarga Allah, yaitu gereja, kita memiliki hayat dan kenikmatan.
E. Tempat Kediaman Allah
Dalam Efesus 2:21‑22 kita nampak bahwa gereja juga adalah tempat kediaman Allah. Ayat 21 mengatakan, "Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan." Ini dituiukan kepada pembangunan yang universal. Ayat 22 mengatakan bahwa kaum beriman di Efesus terbangun bersama menjadi suatu tempat kediaman Allah di dalam roh. Ini adalah pembangunan yang bersifat lokal. Secara universal, gereja adalah bait dalam Tuhan, sedang secara lokal, gereja ialah tempat kediaman Allah di dalam roh kita.
Dalam Efesus 2:21‑22 kita nampak bahwa gereja juga adalah tempat kediaman Allah. Ayat 21 mengatakan, "Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan." Ini dituiukan kepada pembangunan yang universal. Ayat 22 mengatakan bahwa kaum beriman di Efesus terbangun bersama menjadi suatu tempat kediaman Allah di dalam roh. Ini adalah pembangunan yang bersifat lokal. Secara universal, gereja adalah bait dalam Tuhan, sedang secara lokal, gereja ialah tempat kediaman Allah di dalam roh kita.
F. Mempelai Perempuan ‑ Istri Kristus
Dalam pasal 5 kita nampak bahwa gereja adalah mempelai perempuan ‑ istri Kristus. Seorang istri ialah untuk kepuasan suami. Ketika Adam hidup seorang dirl, Alkitab mengatakan, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja" (Kej. 2:18). Perkataan ini menunjukkan ketika Adam seorang diri, ia tidak memiliki kesenangan atau kepuasan. Adam memerlukan seorang istri. Setelah Adam mendapat seorang istri, barulah ia mempunyai perhentian dan kepuasan. Karena itu, menurut Alkitab, mempelai perempuan, istri, adalah untuk perhentian dan kepuasan. Tanpa perhentian, mungkinkah kita puas? Maka kepuasan yang penuh berarti menikmati perhentian yang penuh. Hari pernikahan seorang lelaki adalah hari kepuasan dan perhentiannya. Karena Kristus mengasihi gereja, gereja adalah perhentian dan kepuasanNya.
Kasih Kristus yang ditujukan kepada gereja berbeda dengan kasih‑Nya yang ditujukan kepada orang dosa. Orang Kristen sering membicarakan tentang kasih Kristus terhadap orang dosa, tetapi jarang yang membicarakan kasih‑Nya terhadap istri‑Nya. Kita dulu adalah orang dosa, tetapi kini kita adalah istri Kristus. Tak peduli kita pria atau wanita, kita semua adalah istri‑Nya. Gereja adalah istri untuk kepuasan Kristus.
Dalam pasal 5 kita nampak bahwa gereja adalah mempelai perempuan ‑ istri Kristus. Seorang istri ialah untuk kepuasan suami. Ketika Adam hidup seorang dirl, Alkitab mengatakan, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja" (Kej. 2:18). Perkataan ini menunjukkan ketika Adam seorang diri, ia tidak memiliki kesenangan atau kepuasan. Adam memerlukan seorang istri. Setelah Adam mendapat seorang istri, barulah ia mempunyai perhentian dan kepuasan. Karena itu, menurut Alkitab, mempelai perempuan, istri, adalah untuk perhentian dan kepuasan. Tanpa perhentian, mungkinkah kita puas? Maka kepuasan yang penuh berarti menikmati perhentian yang penuh. Hari pernikahan seorang lelaki adalah hari kepuasan dan perhentiannya. Karena Kristus mengasihi gereja, gereja adalah perhentian dan kepuasanNya.
Kasih Kristus yang ditujukan kepada gereja berbeda dengan kasih‑Nya yang ditujukan kepada orang dosa. Orang Kristen sering membicarakan tentang kasih Kristus terhadap orang dosa, tetapi jarang yang membicarakan kasih‑Nya terhadap istri‑Nya. Kita dulu adalah orang dosa, tetapi kini kita adalah istri Kristus. Tak peduli kita pria atau wanita, kita semua adalah istri‑Nya. Gereja adalah istri untuk kepuasan Kristus.
G. Pejuang
Terakhir, Efesus 6 mewahyukan bahwa gereja ialah pejuang, yaitu pejuang yang korporat. Kalau pasukan tentara terdiri atas banyak prajurit, maka pejuang adalah seorang saja. Gereja adalah manusia baru, dan manusia baru ini ialah seorang pejuang. Seluruh perlengkapan senjata Allah yang tercantum dalam pasal 6 bukan untuk orang Kristen perorangan, melainkan untuk seluruh gereja, manusia baru ini. Sebagal pejuang, gereja melawan musuh Allah dan menaklukkannya.
Jika kita menggabungkan ketujuh aspek gereja tersebut di atas, kita akan nampak sebuah lukisan gereja yang sangat indah: sebagal Tubuh, gereja mengekspresikan Kristus; sebagai manusia baru, gereja menerima Kristus sebagai pribadi; sebagai kerajaan, gereja mempunyai hak dan kewajiban; sebagai keluarga, gereja memiliki hayat dan kenikmatan; sebagai tempat kediaman Allah, gereja memberi Allah tempat . tinggal; sebagai mempelai perempuan, gereja memuaskan Kristus; dan sebagai pejuang, gereja berperang dan mengalahkan musuh, sehingga Allah dapat menggenapkan kehendak‑Nya yang kekal. Inilah gereja.
Apa yang dilakukan oleh gereja tidak sepenting apa adanya gereja. Gereja adalah Tubuh, manusia baru, kerajaan, keluarga, tempat kediaman, istri, dan pejuang. Apa yang kita lakukan tidaklah begitu penting, namun apa adanya kita, sangatlah penting. Dalam gereja yang terlukis dalam Kitab Efesus ini, Kristus telah diekspresikan. Melalui gereja yang demikian, Kristus, Persona ini telah dihidupkan. Dalam gereja yang demikian, terdapatlah Kerajaan Allah yang disertai hak dan kewajiban; bahkan, sebagai keluarga Allah, gereja adalah yang membawakan hayat dan kenikmatan. Gereja ini juga adalah tempat kediaman Allah, kepuasan Kristus, dan pejuang Allah yang berperang demi kehendak kekal‑Nya. Alangkah hebatnya gereja ini!
Bila kita nampak visi gereja, kita akan tahu betapa kasihannya situasi agama hari ini. Dalam agama kita tidak nampak Tubuh atau manusia baru. Selain itu kita tidak nampak kerajaan, keluarga Allah, tempat kediaman Allah, mempelai perempuan Kristus, atau pejuang Allah. Sebagai gereja, kita harus menjadi ketujuh aspek tersebut. Terutama mereka yang memimpin dalam gereja, perlu nampak visi gereja yang tercantum dalam Kitab Efesus ini. Gereja bukan sebuah sekolah, lembaga masyarakat, atau organisasi. Gereja adalah Tubuh, manusia baru, kerajaan, keluarga, tempat kediaman, mempelai perempuan, dan pejuang. Inilah gereja dan inilah pokok Kitab Efesus. Karena Kitab Efesus mempunyai pokok Yang sedemikian, maka kitab ini sangat limpah tidak habis terkatakan.
Namun, masih banyak lagi aspek gereja Yang tercantum dalam kitab terakhir dari Alkitab. Dalam Kitab Wahyu kita nampak empat aspek lain dari gereja: Gereja sebagai kaki dian, anak laki‑laki, buah sulung, dan kota kudus. Hanya satu aspek gereja Yang tercantum dalam Kitab Wahyu, yaitu mempelai perempuan, yang sepadan dengah aspek yang terdapat dalam Kitab Efesus.
Terakhir, Efesus 6 mewahyukan bahwa gereja ialah pejuang, yaitu pejuang yang korporat. Kalau pasukan tentara terdiri atas banyak prajurit, maka pejuang adalah seorang saja. Gereja adalah manusia baru, dan manusia baru ini ialah seorang pejuang. Seluruh perlengkapan senjata Allah yang tercantum dalam pasal 6 bukan untuk orang Kristen perorangan, melainkan untuk seluruh gereja, manusia baru ini. Sebagal pejuang, gereja melawan musuh Allah dan menaklukkannya.
Jika kita menggabungkan ketujuh aspek gereja tersebut di atas, kita akan nampak sebuah lukisan gereja yang sangat indah: sebagal Tubuh, gereja mengekspresikan Kristus; sebagai manusia baru, gereja menerima Kristus sebagai pribadi; sebagai kerajaan, gereja mempunyai hak dan kewajiban; sebagai keluarga, gereja memiliki hayat dan kenikmatan; sebagai tempat kediaman Allah, gereja memberi Allah tempat . tinggal; sebagai mempelai perempuan, gereja memuaskan Kristus; dan sebagai pejuang, gereja berperang dan mengalahkan musuh, sehingga Allah dapat menggenapkan kehendak‑Nya yang kekal. Inilah gereja.
Apa yang dilakukan oleh gereja tidak sepenting apa adanya gereja. Gereja adalah Tubuh, manusia baru, kerajaan, keluarga, tempat kediaman, istri, dan pejuang. Apa yang kita lakukan tidaklah begitu penting, namun apa adanya kita, sangatlah penting. Dalam gereja yang terlukis dalam Kitab Efesus ini, Kristus telah diekspresikan. Melalui gereja yang demikian, Kristus, Persona ini telah dihidupkan. Dalam gereja yang demikian, terdapatlah Kerajaan Allah yang disertai hak dan kewajiban; bahkan, sebagai keluarga Allah, gereja adalah yang membawakan hayat dan kenikmatan. Gereja ini juga adalah tempat kediaman Allah, kepuasan Kristus, dan pejuang Allah yang berperang demi kehendak kekal‑Nya. Alangkah hebatnya gereja ini!
Bila kita nampak visi gereja, kita akan tahu betapa kasihannya situasi agama hari ini. Dalam agama kita tidak nampak Tubuh atau manusia baru. Selain itu kita tidak nampak kerajaan, keluarga Allah, tempat kediaman Allah, mempelai perempuan Kristus, atau pejuang Allah. Sebagai gereja, kita harus menjadi ketujuh aspek tersebut. Terutama mereka yang memimpin dalam gereja, perlu nampak visi gereja yang tercantum dalam Kitab Efesus ini. Gereja bukan sebuah sekolah, lembaga masyarakat, atau organisasi. Gereja adalah Tubuh, manusia baru, kerajaan, keluarga, tempat kediaman, mempelai perempuan, dan pejuang. Inilah gereja dan inilah pokok Kitab Efesus. Karena Kitab Efesus mempunyai pokok Yang sedemikian, maka kitab ini sangat limpah tidak habis terkatakan.
Namun, masih banyak lagi aspek gereja Yang tercantum dalam kitab terakhir dari Alkitab. Dalam Kitab Wahyu kita nampak empat aspek lain dari gereja: Gereja sebagai kaki dian, anak laki‑laki, buah sulung, dan kota kudus. Hanya satu aspek gereja Yang tercantum dalam Kitab Wahyu, yaitu mempelai perempuan, yang sepadan dengah aspek yang terdapat dalam Kitab Efesus.
2. ISI
A. Berkat Yang Diterima Gereja di Dalam Kristus
Sekarang baiklah kita meninjau isi Kitab Efesus. Perkara pertama dalam isi kitab ini ialah berkat yang diterima oleh gereja di dalam Kristus (1:3‑14). Tidak banyak orang Yang memahami istilah "berkat" dengan tepat. Berkat ini bukan sejenis benda seperti mobil baru atau rumah.Rasul Paulus berdoa agar gereja beroleh wahyu untuk melihat semua berkat Yang telah diterimanya. Berkat‑berkat material seperti mobil atau rumah itu tidak perlu wahyu untuk melihatnya. Tetapi berkat Yang diperoleh gereja memerlukan wahyu. Kebanyakan orang Kristen justru tidak nampak berkat yang telah diterima oleh gereja.
B. Doa Rasul bagi Gereja untuk Wahyu
Setelah mewahyukan berkat‑berkat ini kepada gereja, Rasul Paulus berdoa agar kaum beriman memiliki roh hikmat dan wahyu untuk memahami hasil dari berkat-berkat ini, dan mengetahui kuat kuasa yang mendatangkan berkat ini, agar gereja dapat menjadi Tubuh Kristus, yakni kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu (1:15‑23).
Setelah mewahyukan berkat‑berkat ini kepada gereja, Rasul Paulus berdoa agar kaum beriman memiliki roh hikmat dan wahyu untuk memahami hasil dari berkat-berkat ini, dan mengetahui kuat kuasa yang mendatangkan berkat ini, agar gereja dapat menjadi Tubuh Kristus, yakni kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu (1:15‑23).
C. Kelahiran, Sifat, Kedudukan, Pembangunan, dan Fungsi Gereja
Menyusul penyebutan gereja pada akhir pasal 1, pasal 2 memperlihatkan kepada kita tentang kelahiran, sifat, kedudukan, pembangunan, dan fungsi gereja.
Menyusul penyebutan gereja pada akhir pasal 1, pasal 2 memperlihatkan kepada kita tentang kelahiran, sifat, kedudukan, pembangunan, dan fungsi gereja.
D. Wahyu Rahasia dan Ministri Kepengurusan Rumah Tangga Gereja
Dalam Efesus 3:1‑13 kita memiliki wahyu dari rahasia dan ministri kepengurusan rumah tangga gereja. Tidak banyak orang Kristen yang mengerti apa itu ministri kepengurusan rumah tangga. Ada suatu hal yang disebut kepengurusan rumah tangga, dan kepengurusan rumah tangga ini mempunyai satu ministri. Ministri kepengurusan rumah tangga ini berkaitan dengan gereja. Maka bukan rahasia saja yang berkaitan dengan gereja, tetapi juga kepengurusan rumah tangga. Jika kita ingin memahami gereja, kita perlu mengenal wahyu rahasia dan ministri kepengurusan rumah tangga. Masalah ini akan kita bahas secara rinci bila kita tiba pada pasal 3.
Dalam Efesus 3:1‑13 kita memiliki wahyu dari rahasia dan ministri kepengurusan rumah tangga gereja. Tidak banyak orang Kristen yang mengerti apa itu ministri kepengurusan rumah tangga. Ada suatu hal yang disebut kepengurusan rumah tangga, dan kepengurusan rumah tangga ini mempunyai satu ministri. Ministri kepengurusan rumah tangga ini berkaitan dengan gereja. Maka bukan rahasia saja yang berkaitan dengan gereja, tetapi juga kepengurusan rumah tangga. Jika kita ingin memahami gereja, kita perlu mengenal wahyu rahasia dan ministri kepengurusan rumah tangga. Masalah ini akan kita bahas secara rinci bila kita tiba pada pasal 3.
E. Doa Rasul bagi Gereja untuk Mengalami Kristus
Rasul tahu bahwa perkara rahasia dan. ministri kepengurusan rumah tangga adalah perkara yang sangat dalam, maka rasul segera berdoa agar gereja dapat mengalami Kristus secara riil (3:14‑21). Gereja yang diwahyukan dalam rahasia dan yang dilayankan oleh kepengurusan rumah tangga memerlukan pengalaman atas Kristus. Rasul Paulus berdoa untuk hal ini.
Rasul tahu bahwa perkara rahasia dan. ministri kepengurusan rumah tangga adalah perkara yang sangat dalam, maka rasul segera berdoa agar gereja dapat mengalami Kristus secara riil (3:14‑21). Gereja yang diwahyukan dalam rahasia dan yang dilayankan oleh kepengurusan rumah tangga memerlukan pengalaman atas Kristus. Rasul Paulus berdoa untuk hal ini.
F. Kehidupan dan Kewajiban Gereja di Dalam Roh
Dalam pasal 4 sampai pasal 6 kita nampak kehidupan dan kewajib‑an gereja di dalam Roh. Jika kita mempunyai satu pandangan yang jernih atas isi Kitab Efesus, segenap Kitab Efesus akan terungkap di hadapan kita. Kita akan nampak berkat‑berkat antara lain: pemilihan Allah, penentuan, keputraan, kekudusan, penebusan, pemeteraian, jaminan, dan masih banyak lagi. Kemudian kita akan nampak doa rasul untuk roh hikmat dan wahyu supaya kita mengetahui pengharapan panggilan Allah, nampak kemuliaan warisan Allah di antara kaum beriman‑Nya, dan memahami kebesaran kuat kuasa yang telah tergarap dalam Kristus untuk melahirkan Tubuh. Kemudian dalam pasal 2, kita akan nampak kelahiran gereja, sifat gereja, visi gereja, pembangunan gereja, dan fungsi gereja. Dalam pasal 3 kita akan nampak wahyu rahasia dan ministri kepengurusan rumah tangga gereja. Selanjutnya kita akan nampak doa Paulus untuk penguatan manusia batiniah kita, agar Kristus dapat berumah di dalam hati kita, dan agar kita dapat dipenuhi dengan segala kepenuhan Allah. Hal ini memungkinkan kita mengalami Kristus secara riil. Sesudah itu, seperti yang diwahyukan dalam ketiga pasal terakhir, kita akan mengetahui bagaimana kita harus hidup di bumi, bagaimana kita harus menanggung kewajiban, dan bagaimana kita berperang bagi kehendak Allah. Demikianlah isi Kitab Efesus.
Dalam pasal 4 sampai pasal 6 kita nampak kehidupan dan kewajib‑an gereja di dalam Roh. Jika kita mempunyai satu pandangan yang jernih atas isi Kitab Efesus, segenap Kitab Efesus akan terungkap di hadapan kita. Kita akan nampak berkat‑berkat antara lain: pemilihan Allah, penentuan, keputraan, kekudusan, penebusan, pemeteraian, jaminan, dan masih banyak lagi. Kemudian kita akan nampak doa rasul untuk roh hikmat dan wahyu supaya kita mengetahui pengharapan panggilan Allah, nampak kemuliaan warisan Allah di antara kaum beriman‑Nya, dan memahami kebesaran kuat kuasa yang telah tergarap dalam Kristus untuk melahirkan Tubuh. Kemudian dalam pasal 2, kita akan nampak kelahiran gereja, sifat gereja, visi gereja, pembangunan gereja, dan fungsi gereja. Dalam pasal 3 kita akan nampak wahyu rahasia dan ministri kepengurusan rumah tangga gereja. Selanjutnya kita akan nampak doa Paulus untuk penguatan manusia batiniah kita, agar Kristus dapat berumah di dalam hati kita, dan agar kita dapat dipenuhi dengan segala kepenuhan Allah. Hal ini memungkinkan kita mengalami Kristus secara riil. Sesudah itu, seperti yang diwahyukan dalam ketiga pasal terakhir, kita akan mengetahui bagaimana kita harus hidup di bumi, bagaimana kita harus menanggung kewajiban, dan bagaimana kita berperang bagi kehendak Allah. Demikianlah isi Kitab Efesus.
3. CIRI‑CIRI
Kitab Efesus memiliki ciri‑ciri yang khusus. Tidak seperti Kitab Roma, yang membahas dari keadaan orang dosa. Kitab Efesus berbicara dari kehendak Allah yang kekal. Pada pasal‑pasal permulaan Kitab Roma, kita nampak keadaan orang dosa. Dalam Roma 1 tercantum daftar segala jenis dosa. Namun, daftar yang demikian tidak terdapat dalam Efesus 1. Ini disebabkan Kitab Efesus bukan berbicara dari keadaan orang dosa, melainkan dari kehendak Allah yang kekal. Tambahan pula, Kitab Efesus berbicara dari kekekalan, bukan dari waktu; dan dari surga, bukan dari bumi. Kitab Efesus membawa kita ke dalam kekekalan. Janganlah tertinggal di dalam waktu ‑ masuklah ke dalam kekekalan. Karena Kitab Efesus membawa kita ke dalam surga, kita tidak seharusnya tertinggal di dalam keadaan kita sendiri, sebaliknya kita harus berada di dalam kekekalan dan surga. Kita berada dalam kehendak Allah yang kekal, dan kita tidak perlu memandang keadaan diri kita sendiri. Sebaliknya, marilah kita memandang kehendak Allah yang kekal. Karena kita begitu terikat oleh keadaan kita dan terbungkus di dalamnya, maka kita perlu diselamatkan. Kitab Efesus memperhatikan kehendak Allah jauh lebih banyak daripada memperhatikan keadaan kita. Kitab Efesus berbicara kepada kita darl inti kehendak Allah. Ketika kita membaca kitab ini, kita perlu berdoa, "Oh Tuhan, bawalah aku keluar darl keadaanku, keluar dari bumi, dan keluar darl waktu. Tuhan, selamatkanlah aku dari keadaanku dan bawalah aku masuk ke dalam kekekalan dan surga. Aku ingin masuk ke dalam hati Allah dan ke dalam kehendak‑Nya yang kekal."
Pada tahun‑tahun yang lalu, ketika saya membaca Kitab Efesus, saya seperti katak dalam tempurung yang sempit. Dari posisi saya di dalam tempurung itu, saya mencoba memahami Kitab Efesus ini. Tetapi saya tidak berdaya memahaminya. Untuk memahami kitab ini, kita perlu dilepaskan dari keadaan kita dan dibawa masuk ke dalam kehendak Allah yang kekal dan ke dalam surga. Bila kita membaca Kitab Efesus dari posisi yang sedemikian, pembacaan kita akan lain. Ciri kitab ini ialah ditulis dari kekekalan, dari surga, dari hati Allah, dan dari kehendak Allah yang kekal.
Kitab Efesus memiliki ciri‑ciri yang khusus. Tidak seperti Kitab Roma, yang membahas dari keadaan orang dosa. Kitab Efesus berbicara dari kehendak Allah yang kekal. Pada pasal‑pasal permulaan Kitab Roma, kita nampak keadaan orang dosa. Dalam Roma 1 tercantum daftar segala jenis dosa. Namun, daftar yang demikian tidak terdapat dalam Efesus 1. Ini disebabkan Kitab Efesus bukan berbicara dari keadaan orang dosa, melainkan dari kehendak Allah yang kekal. Tambahan pula, Kitab Efesus berbicara dari kekekalan, bukan dari waktu; dan dari surga, bukan dari bumi. Kitab Efesus membawa kita ke dalam kekekalan. Janganlah tertinggal di dalam waktu ‑ masuklah ke dalam kekekalan. Karena Kitab Efesus membawa kita ke dalam surga, kita tidak seharusnya tertinggal di dalam keadaan kita sendiri, sebaliknya kita harus berada di dalam kekekalan dan surga. Kita berada dalam kehendak Allah yang kekal, dan kita tidak perlu memandang keadaan diri kita sendiri. Sebaliknya, marilah kita memandang kehendak Allah yang kekal. Karena kita begitu terikat oleh keadaan kita dan terbungkus di dalamnya, maka kita perlu diselamatkan. Kitab Efesus memperhatikan kehendak Allah jauh lebih banyak daripada memperhatikan keadaan kita. Kitab Efesus berbicara kepada kita darl inti kehendak Allah. Ketika kita membaca kitab ini, kita perlu berdoa, "Oh Tuhan, bawalah aku keluar darl keadaanku, keluar dari bumi, dan keluar darl waktu. Tuhan, selamatkanlah aku dari keadaanku dan bawalah aku masuk ke dalam kekekalan dan surga. Aku ingin masuk ke dalam hati Allah dan ke dalam kehendak‑Nya yang kekal."
Pada tahun‑tahun yang lalu, ketika saya membaca Kitab Efesus, saya seperti katak dalam tempurung yang sempit. Dari posisi saya di dalam tempurung itu, saya mencoba memahami Kitab Efesus ini. Tetapi saya tidak berdaya memahaminya. Untuk memahami kitab ini, kita perlu dilepaskan dari keadaan kita dan dibawa masuk ke dalam kehendak Allah yang kekal dan ke dalam surga. Bila kita membaca Kitab Efesus dari posisi yang sedemikian, pembacaan kita akan lain. Ciri kitab ini ialah ditulis dari kekekalan, dari surga, dari hati Allah, dan dari kehendak Allah yang kekal.
4.KEDUDUKAN
Kitab Efesus mempunyai satu kedudukan khusus dalam urutan kitab‑kitab Perjanjian Baru. Janggal sekali seandainya Kitab Efesus menjadi kitab pertama Perjanjian Baru. Terpujilah Tuhan, karena kitab ini telah ditempatkan pada posisi yang benar dan tepat, yakni segera setelah adanya wahyu tentang Kristus berlawanan dengan agama (Kitab Galatia), diikuti dengan pengalaman kita yang riil atas Kristus (Kitab Filipi), dan memimpin kepada Sang Kepala (Kitab Kolose).
Kitab Efesus mempunyai satu kedudukan khusus dalam urutan kitab‑kitab Perjanjian Baru. Janggal sekali seandainya Kitab Efesus menjadi kitab pertama Perjanjian Baru. Terpujilah Tuhan, karena kitab ini telah ditempatkan pada posisi yang benar dan tepat, yakni segera setelah adanya wahyu tentang Kristus berlawanan dengan agama (Kitab Galatia), diikuti dengan pengalaman kita yang riil atas Kristus (Kitab Filipi), dan memimpin kepada Sang Kepala (Kitab Kolose).
A. Sesudah Wahyu tentang Kristus Berlawanan dengan Agama
Dalam Kitab Galatia kita nampak masalah Kristus berlawanan dengan agama. Kita tidak boleh mengganti Kristus dengan perkara apa pun. Ini berarti bukan emosi kita berlawanan dengan agama, atau praktek kita berlawanan dengan agama, melainkan Kristus berlawanan dengan agama.Kitab Efesus menyusul setelah wahyu Kristus berlawanan dengan agama ini, membawa kita kepada gereja. Kristus berlawanan dengan agama bukan se kadar untuk pengalaman kita; itu adalah penekanan yang tidak tepat oleh orang‑orang yang menyebut dirinya aliran hayat batiniah; mereka memang mencari Kristus, tetapi bukan untuk gereja, melainkan untuk pengalaman mereka sendiri. Kristus berlawanan dengan agama terutama bukan untuk pengalaman kita, melainkan untuk gereja. Galatia 2:20 mengatakan bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus, dan Kristus hidup di dalam kita. Pengalaman ini seharusnya ditujukan untuk hidup gereja.
Dalam Kitab Galatia kita nampak masalah Kristus berlawanan dengan agama. Kita tidak boleh mengganti Kristus dengan perkara apa pun. Ini berarti bukan emosi kita berlawanan dengan agama, atau praktek kita berlawanan dengan agama, melainkan Kristus berlawanan dengan agama.Kitab Efesus menyusul setelah wahyu Kristus berlawanan dengan agama ini, membawa kita kepada gereja. Kristus berlawanan dengan agama bukan se kadar untuk pengalaman kita; itu adalah penekanan yang tidak tepat oleh orang‑orang yang menyebut dirinya aliran hayat batiniah; mereka memang mencari Kristus, tetapi bukan untuk gereja, melainkan untuk pengalaman mereka sendiri. Kristus berlawanan dengan agama terutama bukan untuk pengalaman kita, melainkan untuk gereja. Galatia 2:20 mengatakan bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus, dan Kristus hidup di dalam kita. Pengalaman ini seharusnya ditujukan untuk hidup gereja.
B. Diikuti oleh Pengalaman yang riiI atas Kristus
Adalah hal yang keliru bila kita terlalu memperhatikan pengalaman pribadi atas Kristus sehingga mengabaikan gereja. Namun, bila kita terlalu mementingkan gereja dan mengabaikan pengalaman yang riil atas Kristus, itu pun tidak benar. Kepada orang yang hanya mementingkan pengalaman pribadi tanpa mementingkan gereja, saya ingin berkata, "Kalian harus maju ke depan, dari Kitab Galatia menuju Kitab Efesus." Tetapi kepada mereka yang terlalu mementingkan gereja, sehingga mengabaikan pengalaman atas Kristus, saya akan berkata, "Kalian harus ingat, setelah Kitab Efesus ada Kitab Filipi.".Kita perlu pengalaman yang riil atas Kristus, agar kita dapat berkata, “Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku" (Flp. 1:20); kita juga harus bisa berkata, "Karena bagiku hidup adalah Kristus" (Flp. 1:21). Bahkan kita harus dapat menganggap segala sesuatu seperti sampah, karena kemustikaan Kristus (Flp. 3:8). Kita. semua perlu mengalami Kristus. Sebelum seseorang masuk ke dalam gereja, ia harus memiliki pengalaman atas Kristus, dan setelah ia masuk ke dalam gereja, ia bahkan perlu mengalami‑Nya lebih banyak.
Adalah hal yang keliru bila kita terlalu memperhatikan pengalaman pribadi atas Kristus sehingga mengabaikan gereja. Namun, bila kita terlalu mementingkan gereja dan mengabaikan pengalaman yang riil atas Kristus, itu pun tidak benar. Kepada orang yang hanya mementingkan pengalaman pribadi tanpa mementingkan gereja, saya ingin berkata, "Kalian harus maju ke depan, dari Kitab Galatia menuju Kitab Efesus." Tetapi kepada mereka yang terlalu mementingkan gereja, sehingga mengabaikan pengalaman atas Kristus, saya akan berkata, "Kalian harus ingat, setelah Kitab Efesus ada Kitab Filipi.".Kita perlu pengalaman yang riil atas Kristus, agar kita dapat berkata, “Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku" (Flp. 1:20); kita juga harus bisa berkata, "Karena bagiku hidup adalah Kristus" (Flp. 1:21). Bahkan kita harus dapat menganggap segala sesuatu seperti sampah, karena kemustikaan Kristus (Flp. 3:8). Kita. semua perlu mengalami Kristus. Sebelum seseorang masuk ke dalam gereja, ia harus memiliki pengalaman atas Kristus, dan setelah ia masuk ke dalam gereja, ia bahkan perlu mengalami‑Nya lebih banyak.
C. Dipimpin kepada Sang Kepala
Pengalaman atas Kristus akan memimpin kita kepada Sang‑Kepala. Karena itu, setelah Kitab Filipi, ada Kitab Kolose. Saya sangat menyukai Kitab Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose. Saya telah menghabiskan lebih banyak waktu untuk mempelajari keempat kitab ini daripada kitab lainnya dalam Alkitab. Kita semua perlu meluangkan lebih banyak waktu atas keempat kitab ini. Kitab Galatia memuat wahyu Kristus berlawanan dengan agama, Kitab Efesus membahas ketujuh aspek gereja, Kitab Filipi membicarakan pengalaman riil atas Kristus, dan Kitab Kolose memimpin kita kepada Sang Kepala. Kalau kita memasuki keempat kitab ini, kita akan nampak Kristus ada di sini, Kristus membawa kita memasuki gereja, hidup gereja membawa kita mengalami Kristus dari hari ke hari, dan semuanya itu membawa kita kepada Sang Kepala. Demikianlah kedudukan Kitab Efesus dalam Perjanjian Baru.
Pengalaman atas Kristus akan memimpin kita kepada Sang‑Kepala. Karena itu, setelah Kitab Filipi, ada Kitab Kolose. Saya sangat menyukai Kitab Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose. Saya telah menghabiskan lebih banyak waktu untuk mempelajari keempat kitab ini daripada kitab lainnya dalam Alkitab. Kita semua perlu meluangkan lebih banyak waktu atas keempat kitab ini. Kitab Galatia memuat wahyu Kristus berlawanan dengan agama, Kitab Efesus membahas ketujuh aspek gereja, Kitab Filipi membicarakan pengalaman riil atas Kristus, dan Kitab Kolose memimpin kita kepada Sang Kepala. Kalau kita memasuki keempat kitab ini, kita akan nampak Kristus ada di sini, Kristus membawa kita memasuki gereja, hidup gereja membawa kita mengalami Kristus dari hari ke hari, dan semuanya itu membawa kita kepada Sang Kepala. Demikianlah kedudukan Kitab Efesus dalam Perjanjian Baru.
5. PENULIS
Sekarang kita perlu melihat penulis Kitab Efesus. Kita tahu penulisnya ialah Rasul Paulus. Efesus 1:1 mengatakan‑, "Dari Paulus, rasul Kristus Yesus atas kehendak Allah." Paulus dijadikan seorang rasul Kristus bukan oleh manusia, tetapi melalui kehendak Allah, sesual dengan ekonomi Allah. Kedudukan ini memberinya otoritas untuk menjabarkan wahyu tujuan kekal Allah mengenai gereja dalam surat ini. Gereja dibangun di atas wahyu ini (2:20). Paulus sebagai rasul Kristus ditujukan kepada kedudukannya, sedang ia sebagai rasul oleh kehendak Allah ditujukan kepada kekuasaannya. Sebagai seorang rasul yang demikian, Paulus menjadi penulis kitab ini.
Sekarang kita perlu melihat penulis Kitab Efesus. Kita tahu penulisnya ialah Rasul Paulus. Efesus 1:1 mengatakan‑, "Dari Paulus, rasul Kristus Yesus atas kehendak Allah." Paulus dijadikan seorang rasul Kristus bukan oleh manusia, tetapi melalui kehendak Allah, sesual dengan ekonomi Allah. Kedudukan ini memberinya otoritas untuk menjabarkan wahyu tujuan kekal Allah mengenai gereja dalam surat ini. Gereja dibangun di atas wahyu ini (2:20). Paulus sebagai rasul Kristus ditujukan kepada kedudukannya, sedang ia sebagai rasul oleh kehendak Allah ditujukan kepada kekuasaannya. Sebagai seorang rasul yang demikian, Paulus menjadi penulis kitab ini.
VI. PENERIMA
A. Orang‑orang Kudus di Efesus
Bagian akhir dari Efesus 1:1‑2 menerangkan, "Kepada orang‑orang kudus di Efesus, orang‑orang percaya dalam Kristus Yesus. Anugerah dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dart Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu." Penerima surat ini ialah orang‑orang kudus di Efesus. Ini ditujukan kepada posisi mereka. Orang‑orang kudus adalah orang‑orang yang dijadikan kudus, yang dikuduskan, dipisahkan bagi Allah dari segala sesuatu yang umum.
Bagian akhir dari Efesus 1:1‑2 menerangkan, "Kepada orang‑orang kudus di Efesus, orang‑orang percaya dalam Kristus Yesus. Anugerah dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dart Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu." Penerima surat ini ialah orang‑orang kudus di Efesus. Ini ditujukan kepada posisi mereka. Orang‑orang kudus adalah orang‑orang yang dijadikan kudus, yang dikuduskan, dipisahkan bagi Allah dari segala sesuatu yang umum.
B. Orang‑orang yang Setia dalam Kristus Yesus
Para penerimanya juga adalah orang‑orang "yang setia" (TI.) dalam Kristus Yesus. Orang‑orang,yang setia ialah mereka yang setia dalam iman, yang disebutkan dalam Efesus 4:13, 2 Timotius 4:7 dan Yudas 3. Para penerima ini, orang‑orang yang setia dalam Kristus Yesus, tidak saja memiliki kedudukan yang dikuduskan, juga memiliki kehidupan yang setia. Mereka hidup dengan setia dalam iman mereka. Untuk memenuhi syarat dan berkedudukan menjadi penerima surat ini, kita perlu menjadi orang yang sedemikian. Kita harus menjadi orang‑orang yang kudus dan menjadi orang‑orang yang setia dalam Kristus Yesus. Kita harus mempunyai posisi yang dikuduskan dan kehidupan yang setia.
Para penerimanya juga adalah orang‑orang "yang setia" (TI.) dalam Kristus Yesus. Orang‑orang,yang setia ialah mereka yang setia dalam iman, yang disebutkan dalam Efesus 4:13, 2 Timotius 4:7 dan Yudas 3. Para penerima ini, orang‑orang yang setia dalam Kristus Yesus, tidak saja memiliki kedudukan yang dikuduskan, juga memiliki kehidupan yang setia. Mereka hidup dengan setia dalam iman mereka. Untuk memenuhi syarat dan berkedudukan menjadi penerima surat ini, kita perlu menjadi orang yang sedemikian. Kita harus menjadi orang‑orang yang kudus dan menjadi orang‑orang yang setia dalam Kristus Yesus. Kita harus mempunyai posisi yang dikuduskan dan kehidupan yang setia.
C. Anugerah dan Damai Sejahtera
Di antara penulis dan penerima terdapat persekutuan anugerah (kasih karunia) dan damai sejahtera (1:2). Anugerah dan damai sejahtera mengalir dari penulis kepada penerima. Tidak ada gosip, kritik, tuduhan, atau penghakiman, melainkan anugerah dan damai sejahtera semata.
1. Anugerah Berarti Allah Menjadi Kenikmatan Kita
Anugerah berarti Allah menjadi kenikmatan kita (Yoh. 1:17, 1 Kor. 15:10). Ketika Allah menjadi bagian kita, untuk kita nikmati, itulah anugerah. Jangan mengira anugerah sebagai sesuatu yang lebih rendah daripada Allah. Anugerah tidak lain ialah Allah yang kita nikmati menjadi bagian kita secara riil.
Anugerah berarti Allah menjadi kenikmatan kita (Yoh. 1:17, 1 Kor. 15:10). Ketika Allah menjadi bagian kita, untuk kita nikmati, itulah anugerah. Jangan mengira anugerah sebagai sesuatu yang lebih rendah daripada Allah. Anugerah tidak lain ialah Allah yang kita nikmati menjadi bagian kita secara riil.
2. Damai Sejahtera Adalah Keadaan yang Dihasilkan dari Anugerah
Damai sejahtera ialah suatu keadaan yang dihasilkan dari anugerah, berasal dari kenikmatan kita terhadap Allah Bapa. Tatkala kita menikmati Allah sebagai anugerah, berarti kita berada dalam suatu keadaan yang penuh perhentian, kepuasan, dan sukacita. Inilah damai sejahtera. Anugerah ialah suatu substansi, sedang damai sejahtera adalah suatu keadaan. Substansi anugerah lalah Allah sendiri, dan keadaan damai sejahtera ialah hasil dari kenikmatan kita terhadap Allah sebagai anugerah. Kita semua dapat bersaksi, ketika kita menikmati Allah sebagai anugerah, kita pun memiliki damai sejahtera. Pada baris pertama kidung No: 378 tercantum, "Hayat dan alangkah teduh (damai)." Hayat adalah anugerah. Ketika kita benar‑benar menikmati Kristus sebagai hayat kita, kita pun beroleh bagian dalam anugerah. Kemudian kita akan memiliki damai sejahtera. Alangkah hayat! Alangkah damai! Sekarang kita pun dapat berkata: Alangkah substansi! Alangkab keadaan! Kita memiliki substansi ilahi menjadi kenikmatan kita, dan kita memiliki keadaan surgawi. Inilah damai sejahtera yang kita nikmati.
3. Allah Adalah Pencipta bagi Kita, Makhluk Ciptaan‑Nya; dan Bapa Kita Adalah Bapa bagi Kita, Anak‑anak‑Nya
Anugerah dan damai sejahtera ini berasal dari Allah Bapa kita dan Tuhan Yesus Kristus. Kita adalah makhluk ciptaan Allah dan anak‑anak Allah. Dari kedudukan kita sebagai makhluk ciptaan Allah, Allah adalah Allah kita, sedang ditinjau dari kedudukan kita sebagai anak‑anak Allah, Allah adalah Bapa kita. Di satu pihak, kita adalah makhluk ciptaan Allah; di pihak lain, kita adalah anakanak Bapa.
Anugerah dan damai sejahtera ini berasal dari Allah Bapa kita dan Tuhan Yesus Kristus. Kita adalah makhluk ciptaan Allah dan anak‑anak Allah. Dari kedudukan kita sebagai makhluk ciptaan Allah, Allah adalah Allah kita, sedang ditinjau dari kedudukan kita sebagai anak‑anak Allah, Allah adalah Bapa kita. Di satu pihak, kita adalah makhluk ciptaan Allah; di pihak lain, kita adalah anakanak Bapa.
4. Tuhan Yesus Kristus Adalah Penebus bagi Kita, Umat Tebusan Allah
Anugerah dan damai sejahtera juga datang kepada kita dari Tuhan Yesus Kristus. Dialah Penebus kita, dan kita adalah umat tebusan‑Nya. Sebagai umat tebusan Tuhan, kita memiliki‑Nya sebagai Tuhan kita.
Anugerah dan damai sejahtera juga datang kepada kita dari Tuhan Yesus Kristus. Dialah Penebus kita, dan kita adalah umat tebusan‑Nya. Sebagai umat tebusan Tuhan, kita memiliki‑Nya sebagai Tuhan kita.
Jadi, anugerah dan damai sejahtera datang kepada kita dari Allah, Pencipta kita, dari Bapa kita, dan dari Tuhan, Penebus kita. Sebagai umat ciptaan, yang dilahirkan kembali dan ditebus, kita berkedudukan untuk menerima anugerah dan damai sejahtera Dia. Kita memiliki tiga status: kita telah diciptakan, kita telah dilahirkan kembali, dan kita telah ditebus. Kita mempunyai Allah sebagai Pencipta kita, kita mempunyai Bapa sebagai Bapa kita, dan kita mempunyai Yesus Kristus sebagai Penebus kita. Karena itu,‑ kita benar‑benar memenuhi syarat untuk menerima anugerah dan damai sejahtera dari Allah Tritunggal. Demikianlah kata pengantar untuk Kitab Efesus ini.
TIGA ASPEK PUJIAN (KATA‑KATA INDAH)
Dalam berita ini kita akan membahas ketiga aspek dari pujian (kata‑kata indah) terhadap Allah. Judul semacam ini mungkin kelihatannya sangat tidak lazim. Efesus 1:3 mengatakan, "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga." Istilah "terpujilah", "mengaruniakan", dan "berkat" dalam ayat ini, dalam bahasa Yunaninya memiliki kata dasar yang sama. Istilah Yunani yang diterjemahkan "terpujilah" berarti dibicarakan dengan baik, yaitu dipuji sembah; “mengaruniakan" berarti memuji atau menuturkan dengan baik; dan "berkat" berarti ucapan atau pengutaraan yang baik, tuturan yang baik, kata‑kata yang indah yang menyiratkan kebaikan dan manfaat. Bila ditujukan untuk Allah, ini adalah suatu sanjungan dan pujian yang sejati, bahkan suatu pujian kepada Allah pada tingkat yang tertinggi. Istilah yang dipakai Rasul Paulus untuk memuji Allah dalam Efesus 1:3, dalam makna dasar Yunaninya adalah kata‑kata indah (mengatakan yang baik). Dengan istilah ini Paulus menyanjung Allah, mengucapkan pujian yang indah, bahkan pujian yang elok kepada‑Nya. Dengan ini pula Paulus memuji, menjunjung, dan meninggikan Allah. Maka, memuji Allah berarti mengatakan kata‑kata indah tentang Allah.
I. TERPUJILAH ALLAH DAN BAPA TUHAN KITA YESUS KRISTUS
Dalam pujian yang tinggi kepada Allah ini, Paulus tidak berkata, "Terpujilah Allah, bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia‑Nya." Banyak orang muda yang suka menyanyikan mazmur, khususnya Mazmur 136 yang mengatakan "Bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia‑Nya." Pujian terhadap Allah semacam ini sedikit pun tidak setinggi yang diucapkan oleh Paulus dalam Efesus 1:3 ini. Walaupun kita sulit memahami Efesus 1:3, tetapi kita mudah sekali mengerti apa artinya kata bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia Allah, sebab ini cocok dengan konsepsi alamiah kita.
Dalam pujian yang tinggi kepada Allah ini, Paulus tidak berkata, "Terpujilah Allah, bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia‑Nya." Banyak orang muda yang suka menyanyikan mazmur, khususnya Mazmur 136 yang mengatakan "Bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia‑Nya." Pujian terhadap Allah semacam ini sedikit pun tidak setinggi yang diucapkan oleh Paulus dalam Efesus 1:3 ini. Walaupun kita sulit memahami Efesus 1:3, tetapi kita mudah sekali mengerti apa artinya kata bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia Allah, sebab ini cocok dengan konsepsi alamiah kita.
Dalam kekristenan hari ini terdapat dua sumber utama percampuran. Percampuran pertama dibuat oleh gereja Katolik, mereka telah mencampurkan ekonomi Perjanjian Baru dengan tata cara Perjanjian Lama. Percampuran kedua dibuat oleh gerakan Pentakosta. Golongan Pentakosta mengembalikan orang Kristen kepada pujian Perjanjian Lama dalam Kitab Mazmur. Sudah tentu saya bukan menyalahkan Kitab Mazmur, tetapi saya menyalahkan cara mereka menyanyikannya menurut konsepsi alamiah itu. Sebagai contoh, tidak ada satu ayat pun dalam Perjanjian Baru yang mengatakan, "Bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia Allah." Namun, golongan Pentakosta terus‑menerus menyanyikan Kitab Mazmur menurut konsepsi alamiah. Saya tidak pernah mendengar golongan Pentakosta menyanyikan Kitab Efesus, sebab bagi mereka Kitab Efesus adalah sebuah kitab yang tertutup. Dalam puji‑pujlan mereka tidak ada cita rasa inkarnasi, tidak ada petunjuk bahwa Allah telah menjadi satu dengan manusia. Untuk memuji Allah karena kasih setia‑Nya yang kekal, tidak perlu wahyu. Siapa saja yang menaruh perhatian kepada Allah tentu mengetahui bahwa kasih setia‑Nya kekal. Akan tetapi, jika ingin memuji Allah seperti yang diucapkan Paulus dalam Efesus 1:3, kita harus mempunyai wahyu.
Dalam Efesus 1:3 Paulus berkata, "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. " Jika Yesus Kristus itu Allah, mengapa Paulus mengatakan Allah (dari) Yesus Kristus? Bagaimana mungkin Allah menjadi AllahNya? Tidak hanya demikian, Paulus juga mengatakan Bapa (dari) Yesus Kristus. Bagaimana mungkin Allah mempunyai seorang Bapa? Ditinjau dari Tuhan Yesus Kristus, kita sebagai Anak Manusia, Allah adalah Allah Tuhan kita Yesus Kristus; ditinjau dari Dia sebagai Anak Allah, Allah adalah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Menurut keinsanian Tuhan, Allah adalah Allah‑Nya; menurut keilahian Tuhan, Allah adalah Bapa‑Nya.
Dalam Efesus 1:3 Paulus berkata, "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. " Jika Yesus Kristus itu Allah, mengapa Paulus mengatakan Allah (dari) Yesus Kristus? Bagaimana mungkin Allah menjadi AllahNya? Tidak hanya demikian, Paulus juga mengatakan Bapa (dari) Yesus Kristus. Bagaimana mungkin Allah mempunyai seorang Bapa? Ditinjau dari Tuhan Yesus Kristus, kita sebagai Anak Manusia, Allah adalah Allah Tuhan kita Yesus Kristus; ditinjau dari Dia sebagai Anak Allah, Allah adalah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Menurut keinsanian Tuhan, Allah adalah Allah‑Nya; menurut keilahian Tuhan, Allah adalah Bapa‑Nya.
Dalam ayat 3 Paulus juga membicarakan tentang Tuhan kita Yesus Kristus. Karena Tuhan Yesus Kristus adalah milik kita, maka hakiki Allah terhadap Dia juga merupakan milik kita. "Tuhan kita" mengacu kepada ketuhanan (Lordship) Juruselamat kita (Kis. 2:36); Yesus mengacu kepada Dia sebagai seorang manusia (1 Tim. 2:5); dan Kristus mengacu kepada Dia sebagai yang diurapi Allah (Yoh. 20:31).
Adalah mutlak benar jika kita mengatakan Allah penuh rahmat dan kasih setia‑Nya kekal. Memang ini suatu ungkapan yang indah untuk menyanjung Allah. Namun, ungkapan sedemikian adalah menurut konsepsi alamiah kita semata. Hari ini kita berada di surga, di dalam kekekalan di dalam kehendak hati Allah, dan di dalam tujuan Allah. Karena itu, kita tidak seharusnya memuji muji Allah menurut konsepsi alamiah kita, melainkan menurut wahyu‑Nya tentang diri‑Nya sendiri. Pujian atas kasih setia dan keagungan Allah itu bertaraf sekolah dasar, sedang pujian dalam Efesus 1:3 bertaraf pasca sarjana. Dalam sidang kita perlu lebih banyak pujian tingkat tinggi.
Adalah mutlak benar jika kita mengatakan Allah penuh rahmat dan kasih setia‑Nya kekal. Memang ini suatu ungkapan yang indah untuk menyanjung Allah. Namun, ungkapan sedemikian adalah menurut konsepsi alamiah kita semata. Hari ini kita berada di surga, di dalam kekekalan di dalam kehendak hati Allah, dan di dalam tujuan Allah. Karena itu, kita tidak seharusnya memuji muji Allah menurut konsepsi alamiah kita, melainkan menurut wahyu‑Nya tentang diri‑Nya sendiri. Pujian atas kasih setia dan keagungan Allah itu bertaraf sekolah dasar, sedang pujian dalam Efesus 1:3 bertaraf pasca sarjana. Dalam sidang kita perlu lebih banyak pujian tingkat tinggi.
Pujian Efesus dalam 1:3 sungguh dalam dan rahasia, karena mencakup seluruh ekonomi Perjanjian Baru. Di sini tidak saja ada penciptaan yang dinyatakan oleh sebutan "Allah", tetapi juga ada inkarnasi yang ditunjukkan oleh sebutan "Allah Tuhan kita Yesus Kristus". Wahyu pertama tentang Allah dalam Alkitab terdapat dalam penciptaan, sebab Alkitab dimulai dengan kalimat, "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." Setelah penciptaan ada inkarnasi. Pada suatu hari, Allah Pencipta berinkarnasi menjadi seorang manusia. Firman yang bersama‑sama dengan Allah dan yang adalah Allah itu, telah menjadi daging (manusia) (Yoh. 1:1, 14). Ketika Allah sendirl menjadi manusia, maka Allah yang menciptakan segala sesuatu itu menjadi Allah‑Nya. Inilah inkarnasi, bukan hanya keagungan atau kasih setia Allah. Karena itu, Allah Tuhan kita Yesus Kristus dalam Efesus 1:3 mengacu kepada Inkarnasi; Bapa Tuhan kita Yesus Kristus mengacu kepada penyaluran hayat.
Allah tidak hanya menciptakan, pada suatu hari, Dia juga berinkarnasi. Dalam inkarnasi Dialah Bapa yang menyalurkan hayat‑Nya kepada semua anak‑Nya. Allah Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah seorang manusia. Jika Dia hanya sebagai Allah, Allah tidak mungkin menjadi Allah‑Nya. Agar Allah bisa menjadi Allah‑Nya, Dia harus menjadi seorang manusia. Allah yang disembah orang‑orang Yahudi hanyalah Allah yang menciptakan, bukan Allah yang berinkarnasi. Namun Allah yang kita sembah hari ini bukan hanya Allah yang menciptakan, tetapi juga Allah yang berinkarnasi dan Bapa yang menyalurkan hayat. Maka puji‑pujian yang tertinggi terhadap Allah mengatakan bahwa Allah kita, Pencipta, telah menjadi seorang manusia, dan Allah kita juga sebagai Bapa penyalur hayat. Dalam inkarnasi, Allah Pencipta telah menjadi Allah Yesus. Pada saat yang sama, Allah pun menjadi Bapa Kristus (sebagai Anak Allah). Dalam keinsanian Kristus, Allah adalah Allah‑Nya, tetapi dalam keilahian Kristus, Allah adalah Bapa‑Nya. Sebelum penyaliban dan kebangkitan‑Nya, Dia adalah Anak Tunggal Allah, tetapi setelah kebangkitan‑Nya, Dia menjadi Anak Sulung Allah, yang menghasilkan banyak anak Allah. Karena itu, puji‑pujian terhadap Allah yang diucapkan Paulus dalam Efesus 1:3 mencakup penciptaan, inkarnasi, dan penyaluran hayat.
Akan tetapi, memuji‑muji kekekalan kasih setia Allah tidaklah mencakup inkarnasi atau penyaluran hayat, melainkan hanya mengatakan Allah penuh kasih setia. Puji‑pujian demikian tidak ada hubungannya dengan Allah menjadi manusia atau penyaluran hayat‑Nya, bahkan sama sekah tidak berkaitan dengan penyaluran hayat Bapa ke dalam ciptaan‑Nya, agar mereka menjadi anak‑anak Allah. Karena alasan inilah maka saya mengatakan puji‑pujian tinggi dalam Efesus 1:3 berada di tingkat pasca sarjana, berbeda dengan puji‑pujian yang mengatakan "Bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia Allah."
Karena pujian Paulus dalam Efesus 1:3 sulit dimengerti, maka di tempat lain dalam Efesus 1, Paulus berdoa meminta Allah memberikan roh hikmat dan wahyu. Hari ini kita benar‑benar memerlukan roh yang sedemikian. Kita perlu wahyu untuk melihat, kita pun perlu hikmat untuk mengerti, menyadari, dan memahami. Namun kebanyakan kita tidak mempunyai wahyu dan hikmat. Kita hanya mempunyai konsepsi alamiah. Karena itulah kita hanya bisa memuji, "Bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia‑Nya." Kita tidak seharusnya‑memuji sedangkal itu, melainkan perlu memuji‑muji Allah menurut puji‑pujian Efesus 1:3 ini. Kita harus memuji Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, memuji Dia atas penciptaan‑Nya, inkarnasi‑Nya, dan penyaluran hayat‑Nya.
Apa adanya Allah bagi Kristus telah ditransmisikan kepada kita. Allah itu milik‑Nya, dan Dia milik kita. Allah itu Allah dan Bapa‑Nya, dan Dia adalah Tuhan kita. Nanti akan kita lihat dalam Efesus 1:22 bahwa Allah memberikan Kristus kepada gereja sebagai Kepala atas segala sesuatu. Istilah "kepada" yang kecil ini menyiratkan suatu transmisi, yang menunjukkan bahwa apa yang telah dicapai dan diperoleh Kristus telah ditransmisikan kepada gereja.
Sebutan "Tuhan kita Yesus Kristus" mengandung arti yang kaya. "Tuhan" berarti ke‑Tuhanan (Lordship) Kristus, "Yesus" berarti keinsanan‑Nya menjadi Penebus dan Juruselamat kita, dan “Kristus" berarti Dialah yang diurapi Allah. Ini merupakan keterangan lebih lanjut yang membuktikan bahwa Efesus 1:3 adalah puji‑pujian yang top, dan penyanjungan tertinggi terhadap Allah. Kita semua perlu memuji‑muji Allah dalam aspek‑aspek sedemikian: Allah itu Allah yang menciptakan, berinkarnasi, yang menyalurkan hayat, dan yang mentransmisikan dengan penebusan; sebagai Penebus, Juruselamat, dan Persona yang diurapi untuk menggenapkan kehendak Allah yang kekal.
Allah tidak hanya menciptakan, pada suatu hari, Dia juga berinkarnasi. Dalam inkarnasi Dialah Bapa yang menyalurkan hayat‑Nya kepada semua anak‑Nya. Allah Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah seorang manusia. Jika Dia hanya sebagai Allah, Allah tidak mungkin menjadi Allah‑Nya. Agar Allah bisa menjadi Allah‑Nya, Dia harus menjadi seorang manusia. Allah yang disembah orang‑orang Yahudi hanyalah Allah yang menciptakan, bukan Allah yang berinkarnasi. Namun Allah yang kita sembah hari ini bukan hanya Allah yang menciptakan, tetapi juga Allah yang berinkarnasi dan Bapa yang menyalurkan hayat. Maka puji‑pujian yang tertinggi terhadap Allah mengatakan bahwa Allah kita, Pencipta, telah menjadi seorang manusia, dan Allah kita juga sebagai Bapa penyalur hayat. Dalam inkarnasi, Allah Pencipta telah menjadi Allah Yesus. Pada saat yang sama, Allah pun menjadi Bapa Kristus (sebagai Anak Allah). Dalam keinsanian Kristus, Allah adalah Allah‑Nya, tetapi dalam keilahian Kristus, Allah adalah Bapa‑Nya. Sebelum penyaliban dan kebangkitan‑Nya, Dia adalah Anak Tunggal Allah, tetapi setelah kebangkitan‑Nya, Dia menjadi Anak Sulung Allah, yang menghasilkan banyak anak Allah. Karena itu, puji‑pujian terhadap Allah yang diucapkan Paulus dalam Efesus 1:3 mencakup penciptaan, inkarnasi, dan penyaluran hayat.
Akan tetapi, memuji‑muji kekekalan kasih setia Allah tidaklah mencakup inkarnasi atau penyaluran hayat, melainkan hanya mengatakan Allah penuh kasih setia. Puji‑pujian demikian tidak ada hubungannya dengan Allah menjadi manusia atau penyaluran hayat‑Nya, bahkan sama sekah tidak berkaitan dengan penyaluran hayat Bapa ke dalam ciptaan‑Nya, agar mereka menjadi anak‑anak Allah. Karena alasan inilah maka saya mengatakan puji‑pujian tinggi dalam Efesus 1:3 berada di tingkat pasca sarjana, berbeda dengan puji‑pujian yang mengatakan "Bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia Allah."
Karena pujian Paulus dalam Efesus 1:3 sulit dimengerti, maka di tempat lain dalam Efesus 1, Paulus berdoa meminta Allah memberikan roh hikmat dan wahyu. Hari ini kita benar‑benar memerlukan roh yang sedemikian. Kita perlu wahyu untuk melihat, kita pun perlu hikmat untuk mengerti, menyadari, dan memahami. Namun kebanyakan kita tidak mempunyai wahyu dan hikmat. Kita hanya mempunyai konsepsi alamiah. Karena itulah kita hanya bisa memuji, "Bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia‑Nya." Kita tidak seharusnya‑memuji sedangkal itu, melainkan perlu memuji‑muji Allah menurut puji‑pujian Efesus 1:3 ini. Kita harus memuji Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, memuji Dia atas penciptaan‑Nya, inkarnasi‑Nya, dan penyaluran hayat‑Nya.
Apa adanya Allah bagi Kristus telah ditransmisikan kepada kita. Allah itu milik‑Nya, dan Dia milik kita. Allah itu Allah dan Bapa‑Nya, dan Dia adalah Tuhan kita. Nanti akan kita lihat dalam Efesus 1:22 bahwa Allah memberikan Kristus kepada gereja sebagai Kepala atas segala sesuatu. Istilah "kepada" yang kecil ini menyiratkan suatu transmisi, yang menunjukkan bahwa apa yang telah dicapai dan diperoleh Kristus telah ditransmisikan kepada gereja.
Sebutan "Tuhan kita Yesus Kristus" mengandung arti yang kaya. "Tuhan" berarti ke‑Tuhanan (Lordship) Kristus, "Yesus" berarti keinsanan‑Nya menjadi Penebus dan Juruselamat kita, dan “Kristus" berarti Dialah yang diurapi Allah. Ini merupakan keterangan lebih lanjut yang membuktikan bahwa Efesus 1:3 adalah puji‑pujian yang top, dan penyanjungan tertinggi terhadap Allah. Kita semua perlu memuji‑muji Allah dalam aspek‑aspek sedemikian: Allah itu Allah yang menciptakan, berinkarnasi, yang menyalurkan hayat, dan yang mentransmisikan dengan penebusan; sebagai Penebus, Juruselamat, dan Persona yang diurapi untuk menggenapkan kehendak Allah yang kekal.
Ketika Bapa di surga mendengar puji‑pujian Paulus yang setinggi ini, Dia pasti sangat gembira. Mungkin Dia akan berkata, "Paulus, sebelum engkau mengucapkan perkataan ini, Aku tidak pernah mendengar seorang pun yang menyanjung Aku sedemikian. Aku pernah mendengar orang‑orang Yahudi memuji‑Ku, bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia‑Ku. Aku juga mendengar mereka memuji‑muji‑Ku karena keagungan‑Ku. Namun Aku merasa bosan dengan puji‑pujian yang demikian. Tetapi, Paulus, puji‑pujianmu sungguh menjamah hati‑Ku." Sudah tentu Allah Bapa m.engerti makna pujian Paulus. Kita semua perlu memuji Allah dengan pujian yang bermutu tinggi menurut Efesus 1:3 ini.
Bila kita hanya mengerti memuji Allah karena kasih setia‑Nya, kita tetap, berada dalam kondisi yang kasihan. Puji‑pujian macam itu tidak menunjukkan ada sesuatu dari diri‑Nya telah masuk ke dalam kita. Karena itu, kita perlu nampak bahwa Pencipta, Allah Yesus Kristus, telah berinkarnasi menjadi manusia, Dia pun Bapa Penyalur hayat yang menyalurkan diri‑Nya sendiri sebagai hayat ke dalam kita, sehingga kita dapat menjadi anak‑anakNya. Berdasarkan Yohanes 20:17, setelah kebangkitanNya, Tuhan Yesus memberi tahu Maria Magdalena, "Pergilah kepada saudara‑saudara‑Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa‑Ku dan Bapamu, kepada Allah‑Ku dan Allahmu." Karena Kristus telah menjadi milik kita, maka segala apa adanya Allah bagi Kristus telah disalurkan ke dalam kita. Hal ini jauh lebih besar daripada kasih setia. Allah tidak lagi hanya memberikan kasih setia kepada kita. Dialah Allah dan Bapa kita, dan kita adalah anak‑anak‑ Nya; bukan hanya makhluk ciptaan‑Nya. Kita bukan hanya makhluk ciptaan Allah yang telah diciptakan, jatuh, dan ditebus, tetapi juga anak‑anak‑Nya, yang memiliki hayat dan sifat‑Nya dalam batin kita. Jadi, kita bersatu dengan Dia. Oh, semoga Tuhan mencelikkan mata kita, agar kita nampak hal ini! Kita wajib memuji‑muji Allah menurut ekonomi Perjanjian Baru. Dalam puji‑pujian kita harus terkandung pikiran inkarnasi, penyaluran hayat, dan transmisi yang surgawi dan rohani. Kita pun harus merangkum pikiran Kristus sebagai Tuhan, sebagai Kepala, dan Yesus sebagai Yehova, Juruselamat kita, yang merampungkan penebusan dan keselamatan bagi kita. Kita pun harus ingat bahwa Kristus adalah Persona yang diurapi Allah, yang telah menggenapkan kehendak Allah sepenuhnya. Puji‑pujian kita yang tinggi kepada Allah tidak seharusnya alamiahnya, tetapi harus dipenuhi oleh wahyu tentang setiap aspek yang indah dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.
II. YANG TELAH MENGARUNIAKAN BERKAT KEPADA KITA
Allah yang kita puji ini telah mengaruniakan berkat kepada kita. (Berkat dalam ayat 3, dalam bahasa aslinya berarti ucapan atau pengutaraan yang baik, kata‑kata yang indah). Kata‑kata indah Allah kepada kita mencakup seluruh Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, Allah mengucapkan kata‑kata indah tentang kita. Kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru penuh dengan ungkapan dan kata‑kata indah Allah tentang kita. Salah satu contoh dari kata‑kata indah Allah itu tercatat dalam Wahyu 22:14, "Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu‑pintu gerbang ke dalam kota itu.". Kata‑kata "anugerah dan damai sejahtera . . . menyertai kamu", juga merupakan sebagian dari kata‑kata indah Allah. Jika Anda ingin mendengar kata‑kata indah Allah, Anda perlu membaca Perjanjian Baru, dan mengaminkan setiap aspeknya. Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Amin. Dia memilih kita agar klita kudus dan tak bercacat. Amin.
Kita memuji Allah, karena Allah telah memberkati kita. Karena Dia telah mengatakan kata‑kata yang begitu indah terhadap kita, maka kita membalas‑Nya pula dengan kata‑kata indah. Sebagai contoh, ketika kita membaca tentang penebusan tubuh kita, kita harus berkata, "Ya Allah, betapa syukurku kepada‑Mu, karena engkau telah masuk ke dalamku, dan engkau telah menjenuhi aku dengan diri‑Mu sendiri. Pada suatu hari, jenuhan‑Mu ini akan terekspresi melalui tubuhku. Itulah saat tubuhku ditebus. Ya Allah, betapa syukurku kepada‑Mu atas hal ini!" Berkata demikian berarti membalas Allah dengan kata‑kata indah. Jadi, Dia memberkati Anda, Anda pun memuji‑muji Dia. Belajarlah mengucapkan kata‑kata indah kepada Allah menurut ekonomi Perjanjian BaruNya. Setelah mendengar kata‑kata indah Allah terhadap kita, kita pun memenuhi syarat untuk mengucapkan kata‑kata indah, yakni memuji‑muji‑Nya.
Allah yang kita puji ini telah mengaruniakan berkat kepada kita. (Berkat dalam ayat 3, dalam bahasa aslinya berarti ucapan atau pengutaraan yang baik, kata‑kata yang indah). Kata‑kata indah Allah kepada kita mencakup seluruh Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, Allah mengucapkan kata‑kata indah tentang kita. Kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru penuh dengan ungkapan dan kata‑kata indah Allah tentang kita. Salah satu contoh dari kata‑kata indah Allah itu tercatat dalam Wahyu 22:14, "Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu‑pintu gerbang ke dalam kota itu.". Kata‑kata "anugerah dan damai sejahtera . . . menyertai kamu", juga merupakan sebagian dari kata‑kata indah Allah. Jika Anda ingin mendengar kata‑kata indah Allah, Anda perlu membaca Perjanjian Baru, dan mengaminkan setiap aspeknya. Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Amin. Dia memilih kita agar klita kudus dan tak bercacat. Amin.
Kita memuji Allah, karena Allah telah memberkati kita. Karena Dia telah mengatakan kata‑kata yang begitu indah terhadap kita, maka kita membalas‑Nya pula dengan kata‑kata indah. Sebagai contoh, ketika kita membaca tentang penebusan tubuh kita, kita harus berkata, "Ya Allah, betapa syukurku kepada‑Mu, karena engkau telah masuk ke dalamku, dan engkau telah menjenuhi aku dengan diri‑Mu sendiri. Pada suatu hari, jenuhan‑Mu ini akan terekspresi melalui tubuhku. Itulah saat tubuhku ditebus. Ya Allah, betapa syukurku kepada‑Mu atas hal ini!" Berkata demikian berarti membalas Allah dengan kata‑kata indah. Jadi, Dia memberkati Anda, Anda pun memuji‑muji Dia. Belajarlah mengucapkan kata‑kata indah kepada Allah menurut ekonomi Perjanjian BaruNya. Setelah mendengar kata‑kata indah Allah terhadap kita, kita pun memenuhi syarat untuk mengucapkan kata‑kata indah, yakni memuji‑muji‑Nya.
Kita memenuhi syarat, sebab kita adalah makhluk ciptaan‑Nya, umat tebusan‑Nya, dan umat yang dilahirkan kembali oleh‑Nya. Semua berkat, kebaikan, dan manfaat dalam alam semesta ini terbagi dalam tiga kategori. Kategori pertama adalah penciptaan Allah, kategori kedua ialah penebusan Allah, dan kategori ketiga ialah kelahiran kembali Allah. Dalam penciptaan Allah, kita menikmati banyak sekali benda yang baik dan indah, seperti udara, cahaya matahari, mineral, hayat binatang, hayat tumbuhan. Semua itu adalah barang yang baik dan indah dalam penciptaan Allah, dan kita memenuhi syarat untuk mengambil bagian atas semua itu, karena kita adalah makhluk ciptaan‑Nya. Selain itu, sebagal umat tebusan, kita menikmati pengampunan dosa, pembenaran oleh iman, pendamaian dalam anugerah Allah, dan pengudusan. Karena kita telah ditebus, maka semua kebaikan dalam penebusan Allah menjadi milik kita. Selain itu, karena kita telah dilahirkan kembali, kita menikmati hayat Allah, sifat‑Nya, dan pribadi‑Nya. Melalui ketiga kualifikasi ini ‑ diciptakan, ditebus, dan dilahirkan kembali ‑ kita benar‑benar memenuhi syarat untuk menikmati segala berkat dalam alam semesta ini; yakni berkatberka t Allah dalam penciptaan, penebusan, dan kelahiran kembali. Para malaikat mungkin tidak berdosa, tetapi mereka tidak bersyarat untuk menikmati semua berkat ini. Namun melalui darah Kristus, kita menikmati pengampunan dosa, pembasuhan darah, pembenaran oleh iman, dan pendamaian dengan Allah. Kita menikmati semua berkat dalam penebusan Kristus. Tidak hanya demikian, dari hari ke hari kita menikmati segala kebaikan dan manfaat dari kelahiran kembali. Kita memiliki hayat i1ahi, sifat ilahi, dan Persona ilahi. Adakah Yang lebih tinggi daripada ini? Hari ini kita menikmati Pencipta, Penebus, dan Bapa. Itulah aspek kedua dari katakata indah.
III. SEGALA BERKAT ROHANI DALAM SURGA DI DALAM KRISTUS
Aspek ketiga dari kata‑kata indah ialah bahwa Allah "dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga." Allah telah memberkati kita dengan kata‑kata‑Nya Yang baik dan indah. Tiap kata‑kata Yang demikian adalah berkat bagi kita. Ayat 4‑14 adalah suatu catatan kata‑kata indah atau berkat yang sedemikian. Semua berkat ini bersifat rohani, di dalam surga, dan di dalam Kristus.
A. Segala
Istilah "segala" di sini menunjukkan kealmuhitan (meliputi segala sesuatu, all inclusive) berkat Allah. Berkat ini meliputi segala sesuatu, tanpa ada yang terkecuali.
Istilah "segala" di sini menunjukkan kealmuhitan (meliputi segala sesuatu, all inclusive) berkat Allah. Berkat ini meliputi segala sesuatu, tanpa ada yang terkecuali.
B. Rohani
Semua berkat ini bersifat rohani. Ini menunjukkan hubungan antara berkat Allah dengan Roh Kudus. Karena segala berkat yang digunakan Allah untuk memberkati kita bersifat rohani, maka hal ini berhubungan dengan Roh Kudus. Roh Allah bukan hanya saluran, tetapi juga realitas berkat‑berkat Allah. Dalam ayat ini, Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh, semuanya berhubungan dengan berkat‑berkat yang dikaruniakan kepada kita. Sebenarnya, berkat Allah atas kita adalah penyaluran diri‑Nya sendiri ke dalam kita. Maka berkat‑berkat Allah terutama ialah untuk menyalurkan Allah yang Tritunggal ke dalam kita.
Semua berkat ini bersifat rohani. Ini menunjukkan hubungan antara berkat Allah dengan Roh Kudus. Karena segala berkat yang digunakan Allah untuk memberkati kita bersifat rohani, maka hal ini berhubungan dengan Roh Kudus. Roh Allah bukan hanya saluran, tetapi juga realitas berkat‑berkat Allah. Dalam ayat ini, Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh, semuanya berhubungan dengan berkat‑berkat yang dikaruniakan kepada kita. Sebenarnya, berkat Allah atas kita adalah penyaluran diri‑Nya sendiri ke dalam kita. Maka berkat‑berkat Allah terutama ialah untuk menyalurkan Allah yang Tritunggal ke dalam kita.
C. Di Dalam Surga
Selain itu, berkat‑berkat rohani ini ialah berkat yang ada di dalam surga. Kata "surga" di sini bukan hanya menandakan tempat surgawi, tetapi juga sifat, keadaan, ciri‑ciri, dan atmosfer surgawi dari berkat‑berkat rohani yang dengannya Allah telah memberkati kita. Berkatberkat ini berasal dari surga, memiliki sifat surgawi, keadaan surgawi, ciri‑ciri surgawi, dan atmosfer surgawi. Kaum beriman dalam Kristus di bumi sedang menikmati berkat‑berkat surgawi ini, yang rohani juga surgawi. Berkat‑berkat ini berbeda dengan berkat‑berkat yang Allah berikan kepada orang Israel. Berkat‑berkat itu bersifat jasmaniah dan bumiah. Berkat‑berkat yang dikaruniakan ke atas kita adalah dari Allah Bapa, dalam Allah Putra, melalui Allah Roh, dan di dalam surga.
Selain itu, berkat‑berkat rohani ini ialah berkat yang ada di dalam surga. Kata "surga" di sini bukan hanya menandakan tempat surgawi, tetapi juga sifat, keadaan, ciri‑ciri, dan atmosfer surgawi dari berkat‑berkat rohani yang dengannya Allah telah memberkati kita. Berkatberkat ini berasal dari surga, memiliki sifat surgawi, keadaan surgawi, ciri‑ciri surgawi, dan atmosfer surgawi. Kaum beriman dalam Kristus di bumi sedang menikmati berkat‑berkat surgawi ini, yang rohani juga surgawi. Berkat‑berkat ini berbeda dengan berkat‑berkat yang Allah berikan kepada orang Israel. Berkat‑berkat itu bersifat jasmaniah dan bumiah. Berkat‑berkat yang dikaruniakan ke atas kita adalah dari Allah Bapa, dalam Allah Putra, melalui Allah Roh, dan di dalam surga.
D. Di Dalam Kristus
Terakhir, segala berkat rohani itu adalah di dalam Kristus. Kristus adalah kebajikan, alat, dan ruang lingkup tempat Allah memberkati kita. Di luar Kristus, terpisah dari Kristus, Allah tidak ada hubungannya dengan kita, tetapi dalam Kristus, Dia telah memberkati kita dengan berkat rohani di dalam surga.
Terakhir, segala berkat rohani itu adalah di dalam Kristus. Kristus adalah kebajikan, alat, dan ruang lingkup tempat Allah memberkati kita. Di luar Kristus, terpisah dari Kristus, Allah tidak ada hubungannya dengan kita, tetapi dalam Kristus, Dia telah memberkati kita dengan berkat rohani di dalam surga.
Kita bukan berada di dalam diri sendiri, melainkan di dalam Kristus. Bila kita berada dalam diri sendiri, kita putus hubungan dengan berkat Allah. Haleluyal Kita berada di dalam Kristus, Dialah ruang lingkup, saluran, alat, dan kebajikan yang di dalamnya kita telah diberkati.
DIPILIH MENJADI KUDUS
Dalam berita ini kita akan membahas masalah pemilihan Allah (Ef 1:4), yakni masalah kita dipilih menjadi kudus.
1. PERKARA PERTAMA DALAM BERKAT ALLAH
Efesus 1:4 mengatakan, "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan‑Nya. " Setelah ayat 3, ayat 4‑14 memberikan sebuah daftar tentang segala berkat rohani yang digunakan Allah untuk memberkati kita. Pemilihan Allah adalah berkat pertama yang Ia karuniakan kepada kita, dan perkara yang pertama dari kata‑kata indah Allah tentang gereja. Pemilihan Allah berarti seleksi Allah. Dari antara orang‑orang yang tak terhitung jumlahnya, Dia memilih kita.
Efesus 1:4 mengatakan, "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan‑Nya. " Setelah ayat 3, ayat 4‑14 memberikan sebuah daftar tentang segala berkat rohani yang digunakan Allah untuk memberkati kita. Pemilihan Allah adalah berkat pertama yang Ia karuniakan kepada kita, dan perkara yang pertama dari kata‑kata indah Allah tentang gereja. Pemilihan Allah berarti seleksi Allah. Dari antara orang‑orang yang tak terhitung jumlahnya, Dia memilih kita.
2. DI DALAM DIA
Allah memilih kita "di dalam Dia", yaitu di dalam Kristus. Kristus adalah ruang lingkup yang di dalam‑Nya kita dipilih oleh Allah. Di luar Kristus kita bukan pilihan Allah.
3. SEBELUM DUNIA DIJADIKAN
Ayat 4 mengatakan, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Ini ditujukan pada kekekalan yang lampau. Sebelum Dia menciptakan kita, Allah memilih kita menurut pandangan jauhnya yang tak terbatas. Kitab Roma dimulai dengan manusia jatuh di bumi, Surat Efesus dimulai dengan orang‑orang pilihan Allah di dalam surga.
Pemilihan Allah bukan terjadi dalam waktu, melainkan dalam kekekalan. Allah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Di antara jutaan manusia, Dia telah nampak dulu akan kita, bahkan sebelum kita terlahir, dan memilih kita sebelum dunia dijadikan. Ungkapan "sebelum dunia dijadikan" mencakup alam semesta, tidak hanya bumi. Ini berarti bahwa dunia, alam semesta, diciptakan bagi keberadaan manusia untuk menggenapkan tujuan kekal Allah. Maka manusia adalah inti ‑dari kehendak kekal Allah. Alam semesta dijadikan agar manusia dapat hidup, agar kehendak kekal Allah dapat digenapkan.
Ayat 4 mengatakan, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Ini ditujukan pada kekekalan yang lampau. Sebelum Dia menciptakan kita, Allah memilih kita menurut pandangan jauhnya yang tak terbatas. Kitab Roma dimulai dengan manusia jatuh di bumi, Surat Efesus dimulai dengan orang‑orang pilihan Allah di dalam surga.
Pemilihan Allah bukan terjadi dalam waktu, melainkan dalam kekekalan. Allah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Di antara jutaan manusia, Dia telah nampak dulu akan kita, bahkan sebelum kita terlahir, dan memilih kita sebelum dunia dijadikan. Ungkapan "sebelum dunia dijadikan" mencakup alam semesta, tidak hanya bumi. Ini berarti bahwa dunia, alam semesta, diciptakan bagi keberadaan manusia untuk menggenapkan tujuan kekal Allah. Maka manusia adalah inti ‑dari kehendak kekal Allah. Alam semesta dijadikan agar manusia dapat hidup, agar kehendak kekal Allah dapat digenapkan.
4. SUPAYA KITA MENJADI KUDUS
Allah memilih kita supaya kita menjadi kudus. Istilah "kudus" telah dirusak oleh ajaran‑ajaran agama Kristen hari ini. Boleh jadi pengertian Anda terhadap "kudus" juga telah dipengaruhi oleh ajaran‑ajaran terebut. Istilah "kudus" dalam Alkitab tidak boleh kita pahami menurut konsepsi alamiah kita. Banyak orang mengira kudus berarti keadaan tanpa dosa. Menurut konsepsi ini, jika seseorang tidak berbuat dosa, dia adalah orang kudus. Anggapan demikian sama sekali keliru. Kudus bukan keadaan tanpa dosa, juga bukan kesempurnaan. Kudus bukan hanya berarti dikuduskan, disisihkan bagi Allah, tetapi juga berbeda, terpisah dari segala sesuatu yang bersifat umum. Hanya Allah yang berbeda, terpisah dari segala sesuatu. Karena itu, Dia yang kudus; kudus adalah sifat‑Nya.
la membuat kita kudus dengan menyalurkan diriNya sendiri, Sang Kudus, ke dalam diri kita, sehingga seluruh diri kita diresapi dan dijenuhi dengan sifat kudus‑Nya. Bagi kita, kaum pilihan Allah, menjadi kudus berarti mengambil bagian dalam sifat ilahi Allah (2 Ptr. 1:4), dan membiarkan seluruh diri kita diresapi dengan Allah sendiri. Ini berbeda dengan sekadar sempurna tanpa dosa atau murni tanpa dosa. Ini membuat diri kita kudus dalam sifat dan karakter Allah, sama seperti Allah sendiri.
Allah memilih kita supaya kita menjadi kudus. Istilah "kudus" telah dirusak oleh ajaran‑ajaran agama Kristen hari ini. Boleh jadi pengertian Anda terhadap "kudus" juga telah dipengaruhi oleh ajaran‑ajaran terebut. Istilah "kudus" dalam Alkitab tidak boleh kita pahami menurut konsepsi alamiah kita. Banyak orang mengira kudus berarti keadaan tanpa dosa. Menurut konsepsi ini, jika seseorang tidak berbuat dosa, dia adalah orang kudus. Anggapan demikian sama sekali keliru. Kudus bukan keadaan tanpa dosa, juga bukan kesempurnaan. Kudus bukan hanya berarti dikuduskan, disisihkan bagi Allah, tetapi juga berbeda, terpisah dari segala sesuatu yang bersifat umum. Hanya Allah yang berbeda, terpisah dari segala sesuatu. Karena itu, Dia yang kudus; kudus adalah sifat‑Nya.
la membuat kita kudus dengan menyalurkan diriNya sendiri, Sang Kudus, ke dalam diri kita, sehingga seluruh diri kita diresapi dan dijenuhi dengan sifat kudus‑Nya. Bagi kita, kaum pilihan Allah, menjadi kudus berarti mengambil bagian dalam sifat ilahi Allah (2 Ptr. 1:4), dan membiarkan seluruh diri kita diresapi dengan Allah sendiri. Ini berbeda dengan sekadar sempurna tanpa dosa atau murni tanpa dosa. Ini membuat diri kita kudus dalam sifat dan karakter Allah, sama seperti Allah sendiri.
A. Allah Itu Kudus
Menjadi kudus berarti terpisah dari setiap perkara yang di luar Allah, juga berarti dibedakan dari segala yang bukan Allah. Maka kita tidak seharusnya menjadi umum, tetapi harus berbeda. Dalam alam semesta, hanya Allah yang kudus. Dia berbeda dengan setiap perkara dan terpisah. Karena itu, menjadi kudus berarti menjadi satu dengan Allah. Tanpa dosa atau sempurna tidak sama dengan menjadi kudus. Untuk menjadi kudus, kita perlu menjadi satu dengan Allah, sebab hanya Allah yang kudus (Im. 11:44; 1 Sam. 2:2).
Menjadi kudus berarti terpisah dari setiap perkara yang di luar Allah, juga berarti dibedakan dari segala yang bukan Allah. Maka kita tidak seharusnya menjadi umum, tetapi harus berbeda. Dalam alam semesta, hanya Allah yang kudus. Dia berbeda dengan setiap perkara dan terpisah. Karena itu, menjadi kudus berarti menjadi satu dengan Allah. Tanpa dosa atau sempurna tidak sama dengan menjadi kudus. Untuk menjadi kudus, kita perlu menjadi satu dengan Allah, sebab hanya Allah yang kudus (Im. 11:44; 1 Sam. 2:2).
B. Di Mana Ada Allah, di Sana Kudus
Istilah "kudus" tidak tercantum dalam Kitab Kejadian. Istilah ini kali pertama dipakai dalam Kitab Keluaran. Di satu pihak, manusia dalam Kitab Kejadian masih belum terbawa ke dalam Allah. Dalam Kitab Keluaran, bukan dalam Kitab Kejadian, yakni ketika Allah mulai beroleh tempat kediaman di bumi, barulah manusia dibawa ke dalam tempat maha kudus. Tidak peduli berapa tingginya pengalaman rohani mereka yang berada dalam Kitab Kejadian, saat itu di bumi belum ada tempat maha kudus untuk dimasuki manusia. Tetapi dalam Kitab Keluaran terjadilah sesuatu yang luar biasa: di bumi dan di antara manusia ada satu tempat yang disebut tempat maha kudus, dan Allah ada di sana. Manusia bisa pergi ke tempat itu untuk berjumpa dengan Allah. Di sana, di dalam tempat maha kudus, Allah berfirman dan mengatur. Karena tempat yang demikian tidak terdapat dalam Kitab Kejadian, maka istilah "kudus" juga tidak dipakai dalam kitab tersebut. Ketika Allah datang dan menyuruh umat‑Nya membangun Kemah Pertemuan dengan tempat maha kudus, barulah istilah "kudus" mulai dipergunakan.
Penyebutan pertama istilah ini terdapat dalam panggilan atas Musa dalam Keluaran 3. Ketika Musa menggembalakan kawanan domba, ia melihat semak duri menyala di padang gurun. Sewaktu ia ingin melihat mengapa semak itu tidak terbakar habis, Allah berfirman kepadanya dari dalam semak duri, "Janganlah datang dekat‑dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus" (Kel. 3:5). Ini menunjukkan bahwa di mana saja Allah berada, tempat itu kudus. Ingatlah, hanya Allah yang kudus. Jika Anda tidak berhubungan dengan Allah, Anda tidak kudus; tidak peduli betapa Anda tanpa dosa atau sempurna. Anda mungkin tanpa dosa dan sempurna seluruhnya, tetapi bila Anda tidak berhubungan dengan Allah, Anda tidak kudus. Begitu Anda berhubungan dengan Allah, Anda segera menjadi kudus.
Istilah "kudus" tidak tercantum dalam Kitab Kejadian. Istilah ini kali pertama dipakai dalam Kitab Keluaran. Di satu pihak, manusia dalam Kitab Kejadian masih belum terbawa ke dalam Allah. Dalam Kitab Keluaran, bukan dalam Kitab Kejadian, yakni ketika Allah mulai beroleh tempat kediaman di bumi, barulah manusia dibawa ke dalam tempat maha kudus. Tidak peduli berapa tingginya pengalaman rohani mereka yang berada dalam Kitab Kejadian, saat itu di bumi belum ada tempat maha kudus untuk dimasuki manusia. Tetapi dalam Kitab Keluaran terjadilah sesuatu yang luar biasa: di bumi dan di antara manusia ada satu tempat yang disebut tempat maha kudus, dan Allah ada di sana. Manusia bisa pergi ke tempat itu untuk berjumpa dengan Allah. Di sana, di dalam tempat maha kudus, Allah berfirman dan mengatur. Karena tempat yang demikian tidak terdapat dalam Kitab Kejadian, maka istilah "kudus" juga tidak dipakai dalam kitab tersebut. Ketika Allah datang dan menyuruh umat‑Nya membangun Kemah Pertemuan dengan tempat maha kudus, barulah istilah "kudus" mulai dipergunakan.
Penyebutan pertama istilah ini terdapat dalam panggilan atas Musa dalam Keluaran 3. Ketika Musa menggembalakan kawanan domba, ia melihat semak duri menyala di padang gurun. Sewaktu ia ingin melihat mengapa semak itu tidak terbakar habis, Allah berfirman kepadanya dari dalam semak duri, "Janganlah datang dekat‑dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus" (Kel. 3:5). Ini menunjukkan bahwa di mana saja Allah berada, tempat itu kudus. Ingatlah, hanya Allah yang kudus. Jika Anda tidak berhubungan dengan Allah, Anda tidak kudus; tidak peduli betapa Anda tanpa dosa atau sempurna. Anda mungkin tanpa dosa dan sempurna seluruhnya, tetapi bila Anda tidak berhubungan dengan Allah, Anda tidak kudus. Begitu Anda berhubungan dengan Allah, Anda segera menjadi kudus.
C. Apa saja yang dari dan untuk Allah Adalah Kudus
Di mana saja, benda apa saja, perkara apa saja, dan siapa saja, yang berkaitan dengan Allah adalah kudus, sebab apa saja yang dari dan untuk Allah adalah kudus (Im. 20:26; Bil. 16:5; Neh. 8:9; Kel. 30:37).
Di mana saja, benda apa saja, perkara apa saja, dan siapa saja, yang berkaitan dengan Allah adalah kudus, sebab apa saja yang dari dan untuk Allah adalah kudus (Im. 20:26; Bil. 16:5; Neh. 8:9; Kel. 30:37).
D. Roh Allah Mencapai Manusia Adalah Roh Kudus
Tambahan pula, ketika Roh Allah mencapai kita, Dia itulah Roh kudus (Luk. 1:35; Mat. 1:20; 28:19; lihat Rm. 1:4). Itulah sebabnya istilah "Roh Kudus" tidak dipakai dalam kitab Perjanjian Lama (Dalam Yesaya 63:10‑11 untuk "Roh Kudus‑Nya" seharusnya diterjemahkan menjadi "roh kekudusan"). Istilah ini kali pertama dipakai ketika Tuhan Yesus akan dikandung dalam rahim Maria (Luk. 1:35). Hal ini menandakan bahwa kudus berarti membawakan Allah kepada manusia dan membawakan manusia kepada Allah. Lebih lanjut lagi, istilah ini juga berarti membawakan Allah ke dalam manusia dan membawakan manusia ke dalam Allah. Bila Allah masuk ke dalam kita, kita menjadi kudus. Bila kita masuk ke dalam Allah, kita menjadi lebih kudus. Tetapi ketika kita berbaur dengan Allah, kita akan menjadi paling kudus. Jadi, kita menjadi kudus oleh adanya Allah di dalam kita, kita menjadi lebih kudus dengan berada di dalam Allah, dan kita menjadi paling kudus dengan dibaurkan, diresapi, dan dijenuhi oleh Allah.
Kitab Efesus menyebut kaum beriman "orang‑orang kudus" (Ef. 1:1). Setiap orang yang telah percaya Tuhan Yesus adalah orang yang kudus (orang saleh). Tetapi ada sebagian orang beriman yang kudus, ada yang lebih kudus, dan ada yang paling kudus. Tidak perlu diragukan, kita semua kudus, tetapi apakah kita lebih kudus atau paling kudus, itu patut dipertanyakan. Sebagai contoh, selama Anda beserta dengan Tuhan di waktu pagi, Anda mungkin berada di bawah proses diresapi dan dijenuhi oleh‑Nya. Tetapi kemudian istri Anda mengucapkan sesuatu yang menyinggung hati Anda, dan Anda menjadi marah. Kemudian setelah makan pagi, Anda kembali ke kamar dan berdoa, "Oh Tuhan, ampunilah aku. Aku tadi sudah dijenuhi oleh‑Mu, tetapi sepatah kata istriku menyebabkan aku terpisah dari‑Mu. Tuhan, bawalah aku kembali ke dalam penjenuhan‑Mu. Tuhan, aku memujiMu karena darah pembasuhan‑Mu." Perumpamaan ini bertujuan menunjukkan bahwa ketika kita bersekutu dengan Allah, kita ini kudus, sebab kita berada di bawah penjenuhan‑Nya. Tetapi bila kita meninggalkan Allah, kita menjadi tidak kudus. Saya ulangi, dikuduskan bukan berarti disempurnakan atau tanpa dosa, melainkan disatukan dengan Allah. Ketika kita dijenuhi dan diresapi oleh Allah, kita akan menjadi paling kudus.
Kita telah nampak bahwa kekudusan adalah Allah sendiri. Pemakaian istilah "kudus" yang pertama ialah ketika Allah mulai memiliki sekelompok orang di bumi yang di tengah‑tengah mereka Dia dapat bermukim dan mereka dapat masuk ke hadirat‑Nya dalam tempat maha kudus. Sejak saat itu dan seterusnya, istilah ini dipakai berulang‑ulang dalam Kitab Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Banyak sekali benda yang tercantum dalam kitab‑kitab itu yang disebut kudus, sebab dalam kitabkitab itu Allah telah datang di antara manusia dan manusia telah dibawa kepada Allah; karena itu, setiap benda yang berhubungan dengan Kemah Pertemuan dan keimaman itu kudus adanya. Setiap perkara yang berhubungan dengan pengaturan atau ketetapan Allah dalam Perjanjian Lama, kudus adanya, sebab ia berhubungan dengan pertemuan bersama antara Allah dan manusia.
Kita telah menunjukkan bahwa kah pertama istilah "Roh Kudus" dipakai adalah ketika Tuhan Yesus dikandung dalam rahim gadis Maria. Hal ini merupakan perkara yang jauh lebih besar daripada bermukimnya Allah dalam kemah di tengah‑tengah manusia. Kemah (Pertemuan) adalah tempat kediaman Allah. Tetapi inkarnasi Kristus berarti berkemahnya Allah di tengah‑tengah manusia. Yohanes 1:14 mengatakan, "Firman itu telah menjadi manusia (daging), dan tinggal (berkemah) di antara kita." Hal ini berawal dari waktu Kristus dikandung dalam rahim Maria. Peristiwa itu bukan hanya masalah kekudusan, juga masalah Roh Kudus. Walau banyak benda dalam Perjanjian Lama itu kudus, tetapi tidak ada satu pun yang berasal dari Roh Kudus. Hanya dalam masa Perjanjian Baru, ketika Allah masuk ke dalam manusia dan menjadi manusia, barulah kita memiliki sesuatu yang berasal dari Roh Kudus (Mat. 1:20).
Dalam kitab Perjanjian Baru Yunani sering kali dipakai ungkapan "Roh itu, yang kudus itu" (1 Tes. 4:8; Ibr. 3:7). Saya belum menemukan satu penjelasan yang memadai tentang ungkapan Yunani yang demikian. Ada beberapa orang menjelaskannya sebagai satu ungkapan bahasa Yunani belaka, namun saya meragukan apakah penjelasan seperti itu sudah memadai. Menurut roh saya, saya percaya bahwa alasan untuk ini dikarenakan Perjanjian Baru bukan hanya menitikberatkan Roh, juga kekudusan. Roh itulah kekudusan. Maka, Roh Kudus kadang kala disebut Roh itu, yang kudus itu. Di mana Roh itu berada, di situ ada kekudusan.
Hari ini Roh itu tidak hanya ada dalam kita, Ia pun menyatukan diri‑Nya dengan kita dan kita dengan‑Nya. Satu Korintus 6:17 mengatakan, "Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia." Karena itu, kekudusan sesungguhnya berarti diresapi oleh Allah, yakni membuat seorang yang biasa diresapi sepenuhnya oleh Roh itu. Tatkala Allah datang untuk tinggal di antara manusia, istilah "kudus" baru dipakai untuk kali pertama. Ketika Allah datang sebagai manusia, istilah "Roh Kudus" baru pula disebut untuk kali pertama. Untuk menguduskan suatu perabot di Kemah Pertemuan, tidak perlu Roh Kudus. Begitu perabot itu ditaruh dalam Kemah Pertemuan untuk Allah, ia segera menjadi kudus. Kita tidak seperti perabot yang untuk Allah itu, kita adalah orang‑orang hidup yang dihuni Roh Allah di dalam kita, sehingga kita disatukan denganNya. Ini bukan sekadar menjadi kudus, tetapi juga diresapi dengan Roh Kudus. Dikuduskan mula‑mula berarti dipisahkan kepada Allah; kedua berarti diterima Allah; ketiga berarti dimiliki Allah; dan keempat berarti diresapi Allah dan disatukan dengan Allah. Akhirnya, hasil dari perkara ini dalam Alkitab adalah Yerusalem Baru, yang disebut kota kudus, sebuah kota yang bukan hanya milik Allah dan untuk Allah, tetapi diresapi Allah, dan bersatu dengan Allah. Yerusalem Baru adalah satu perwujudan kudus yang dimiliki Allah, diduduki Allah, diresapi Allah, dan yang bersatu dengan Allah. Inilah kekudusan.
Tambahan pula, ketika Roh Allah mencapai kita, Dia itulah Roh kudus (Luk. 1:35; Mat. 1:20; 28:19; lihat Rm. 1:4). Itulah sebabnya istilah "Roh Kudus" tidak dipakai dalam kitab Perjanjian Lama (Dalam Yesaya 63:10‑11 untuk "Roh Kudus‑Nya" seharusnya diterjemahkan menjadi "roh kekudusan"). Istilah ini kali pertama dipakai ketika Tuhan Yesus akan dikandung dalam rahim Maria (Luk. 1:35). Hal ini menandakan bahwa kudus berarti membawakan Allah kepada manusia dan membawakan manusia kepada Allah. Lebih lanjut lagi, istilah ini juga berarti membawakan Allah ke dalam manusia dan membawakan manusia ke dalam Allah. Bila Allah masuk ke dalam kita, kita menjadi kudus. Bila kita masuk ke dalam Allah, kita menjadi lebih kudus. Tetapi ketika kita berbaur dengan Allah, kita akan menjadi paling kudus. Jadi, kita menjadi kudus oleh adanya Allah di dalam kita, kita menjadi lebih kudus dengan berada di dalam Allah, dan kita menjadi paling kudus dengan dibaurkan, diresapi, dan dijenuhi oleh Allah.
Kitab Efesus menyebut kaum beriman "orang‑orang kudus" (Ef. 1:1). Setiap orang yang telah percaya Tuhan Yesus adalah orang yang kudus (orang saleh). Tetapi ada sebagian orang beriman yang kudus, ada yang lebih kudus, dan ada yang paling kudus. Tidak perlu diragukan, kita semua kudus, tetapi apakah kita lebih kudus atau paling kudus, itu patut dipertanyakan. Sebagai contoh, selama Anda beserta dengan Tuhan di waktu pagi, Anda mungkin berada di bawah proses diresapi dan dijenuhi oleh‑Nya. Tetapi kemudian istri Anda mengucapkan sesuatu yang menyinggung hati Anda, dan Anda menjadi marah. Kemudian setelah makan pagi, Anda kembali ke kamar dan berdoa, "Oh Tuhan, ampunilah aku. Aku tadi sudah dijenuhi oleh‑Mu, tetapi sepatah kata istriku menyebabkan aku terpisah dari‑Mu. Tuhan, bawalah aku kembali ke dalam penjenuhan‑Mu. Tuhan, aku memujiMu karena darah pembasuhan‑Mu." Perumpamaan ini bertujuan menunjukkan bahwa ketika kita bersekutu dengan Allah, kita ini kudus, sebab kita berada di bawah penjenuhan‑Nya. Tetapi bila kita meninggalkan Allah, kita menjadi tidak kudus. Saya ulangi, dikuduskan bukan berarti disempurnakan atau tanpa dosa, melainkan disatukan dengan Allah. Ketika kita dijenuhi dan diresapi oleh Allah, kita akan menjadi paling kudus.
Kita telah nampak bahwa kekudusan adalah Allah sendiri. Pemakaian istilah "kudus" yang pertama ialah ketika Allah mulai memiliki sekelompok orang di bumi yang di tengah‑tengah mereka Dia dapat bermukim dan mereka dapat masuk ke hadirat‑Nya dalam tempat maha kudus. Sejak saat itu dan seterusnya, istilah ini dipakai berulang‑ulang dalam Kitab Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Banyak sekali benda yang tercantum dalam kitab‑kitab itu yang disebut kudus, sebab dalam kitabkitab itu Allah telah datang di antara manusia dan manusia telah dibawa kepada Allah; karena itu, setiap benda yang berhubungan dengan Kemah Pertemuan dan keimaman itu kudus adanya. Setiap perkara yang berhubungan dengan pengaturan atau ketetapan Allah dalam Perjanjian Lama, kudus adanya, sebab ia berhubungan dengan pertemuan bersama antara Allah dan manusia.
Kita telah menunjukkan bahwa kah pertama istilah "Roh Kudus" dipakai adalah ketika Tuhan Yesus dikandung dalam rahim gadis Maria. Hal ini merupakan perkara yang jauh lebih besar daripada bermukimnya Allah dalam kemah di tengah‑tengah manusia. Kemah (Pertemuan) adalah tempat kediaman Allah. Tetapi inkarnasi Kristus berarti berkemahnya Allah di tengah‑tengah manusia. Yohanes 1:14 mengatakan, "Firman itu telah menjadi manusia (daging), dan tinggal (berkemah) di antara kita." Hal ini berawal dari waktu Kristus dikandung dalam rahim Maria. Peristiwa itu bukan hanya masalah kekudusan, juga masalah Roh Kudus. Walau banyak benda dalam Perjanjian Lama itu kudus, tetapi tidak ada satu pun yang berasal dari Roh Kudus. Hanya dalam masa Perjanjian Baru, ketika Allah masuk ke dalam manusia dan menjadi manusia, barulah kita memiliki sesuatu yang berasal dari Roh Kudus (Mat. 1:20).
Dalam kitab Perjanjian Baru Yunani sering kali dipakai ungkapan "Roh itu, yang kudus itu" (1 Tes. 4:8; Ibr. 3:7). Saya belum menemukan satu penjelasan yang memadai tentang ungkapan Yunani yang demikian. Ada beberapa orang menjelaskannya sebagai satu ungkapan bahasa Yunani belaka, namun saya meragukan apakah penjelasan seperti itu sudah memadai. Menurut roh saya, saya percaya bahwa alasan untuk ini dikarenakan Perjanjian Baru bukan hanya menitikberatkan Roh, juga kekudusan. Roh itulah kekudusan. Maka, Roh Kudus kadang kala disebut Roh itu, yang kudus itu. Di mana Roh itu berada, di situ ada kekudusan.
Hari ini Roh itu tidak hanya ada dalam kita, Ia pun menyatukan diri‑Nya dengan kita dan kita dengan‑Nya. Satu Korintus 6:17 mengatakan, "Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia." Karena itu, kekudusan sesungguhnya berarti diresapi oleh Allah, yakni membuat seorang yang biasa diresapi sepenuhnya oleh Roh itu. Tatkala Allah datang untuk tinggal di antara manusia, istilah "kudus" baru dipakai untuk kali pertama. Ketika Allah datang sebagai manusia, istilah "Roh Kudus" baru pula disebut untuk kali pertama. Untuk menguduskan suatu perabot di Kemah Pertemuan, tidak perlu Roh Kudus. Begitu perabot itu ditaruh dalam Kemah Pertemuan untuk Allah, ia segera menjadi kudus. Kita tidak seperti perabot yang untuk Allah itu, kita adalah orang‑orang hidup yang dihuni Roh Allah di dalam kita, sehingga kita disatukan denganNya. Ini bukan sekadar menjadi kudus, tetapi juga diresapi dengan Roh Kudus. Dikuduskan mula‑mula berarti dipisahkan kepada Allah; kedua berarti diterima Allah; ketiga berarti dimiliki Allah; dan keempat berarti diresapi Allah dan disatukan dengan Allah. Akhirnya, hasil dari perkara ini dalam Alkitab adalah Yerusalem Baru, yang disebut kota kudus, sebuah kota yang bukan hanya milik Allah dan untuk Allah, tetapi diresapi Allah, dan bersatu dengan Allah. Yerusalem Baru adalah satu perwujudan kudus yang dimiliki Allah, diduduki Allah, diresapi Allah, dan yang bersatu dengan Allah. Inilah kekudusan.
E. Dipisahkan kepada Allah dalam Kedudukan
Untuk membuat kita menjadi kudus, pertama‑tama kita perlu dipisahkan kepada Allah dalam kedudukan. Terhadap keluarga, tetangga, rekan, dan teman sekolah, kita perlu dipisahkan. Namun, banyak orang Kristen yang sudah diselamatkan, belum lagi dipisahkan. Dalam keadaan normal, begitu seseorang beroleh selamat, ia pun harus dipisahkan. Itulah sebabnya orang yang percaya disebut orang kudus. Lihatlah mayoritas orang-orang Kristen hari ini. Pada hakekatnya mereka tidak berbeda dengan orang‑orang duniawi. Pada mereka tidak ada pemisahan. Sampai‑sampai banyak kerabat atau kawan mereka tidak tahu kalau mereka orang Kristen. Namun kudus berarti terpisah bagi Allah. Ini sudah tentu merupakan masalah kedudukan.
1. Oleh‑ Darah Penebusan Kristus
Kita telah dipisahkan kepada Allah oleh darah penebusan Kristus (Ibr. 9:14). Tetapi kita tidak dapat nampak kuasa darah Kristus dalam kebanyakan orang Kristen dewasa ini. Semua orang Kristen percaya diri mereka telah ditebus, namun dalam beberapa orang di antara mereka tidak ada tanda penebusan darah. Tanda darah itulah tanda pemisahan. Bila Anda telah ditebus oleh darah, Anda pun harus membawa tanda pemisahan. Mungkin orang lain boleh dengan bebas berkata atau berbuat sesuatu, namun Anda tidak dapat. Sekalipun Anda dapat melakukan perkara itu, tetapi Anda menahan diri untuk tidak melakukannya, karena Anda telah ditebus oleh darah. Pada Anda terdapat suatu tanda bahwa Anda berbeda dan terpisah. Kalau orang lain boleh menuturkan perkataan tertentu, mengunjungi tempat tertentu, dan membeli barang tertentu, kita tidak dapat, sebab kita telah dipisahkan dan membawa tanda darah penebusan. Darah ini telah menguduskan dan memisahkan kita.
Kita telah dipisahkan kepada Allah oleh darah penebusan Kristus (Ibr. 9:14). Tetapi kita tidak dapat nampak kuasa darah Kristus dalam kebanyakan orang Kristen dewasa ini. Semua orang Kristen percaya diri mereka telah ditebus, namun dalam beberapa orang di antara mereka tidak ada tanda penebusan darah. Tanda darah itulah tanda pemisahan. Bila Anda telah ditebus oleh darah, Anda pun harus membawa tanda pemisahan. Mungkin orang lain boleh dengan bebas berkata atau berbuat sesuatu, namun Anda tidak dapat. Sekalipun Anda dapat melakukan perkara itu, tetapi Anda menahan diri untuk tidak melakukannya, karena Anda telah ditebus oleh darah. Pada Anda terdapat suatu tanda bahwa Anda berbeda dan terpisah. Kalau orang lain boleh menuturkan perkataan tertentu, mengunjungi tempat tertentu, dan membeli barang tertentu, kita tidak dapat, sebab kita telah dipisahkan dan membawa tanda darah penebusan. Darah ini telah menguduskan dan memisahkan kita.
2. Oleh Roh Kudus
Kita pun telah dipisahkan kepada Allah oleh Roh Kudus (1 Kor. 6:11; 1 Ptr. 1:2; Rm. 15:16). Karena kuasa Roh menaungi kita, kita tidak dapat mengucapkan kata‑kata tertentu, mengunjungi tempat tertentu, dan mengerjakan perkara tertentu. Ini tidak berarti kita berada di bawah peraturan. Tidak, melainkan berarti bahwa kita berada di bawah darah penebusan dan di dalam Roh Kudus.
3. Di Dalam Nama Tuhan Yesus
Kita mempunyai satu kedudukan yang dikuduskan, bukan hanya oleh darah dan oleh Roh, tetapi juga di dalam nama Tuhan Yesus (1 Kor. 6:11). Karena kita membawa nama Tuhan Yesus, kita tidak boleh memalukan nama‑Nya dengan bersikap umum. Orang lain boleh menonton pertandingan olahraga atau bioskop, tetapi kita tidak mau, karena kita tidak mau memalukan nama Tuhan. NamaNya harus memelihara kita agar kita selalu terpisah. Jangan bertanya apakah suatu perkara itu terbilang berdosa atau tidak berdosa. Pemisahan tidak berkaitan dengan perkara berdosa atau tidak berdosa, melainkan masalah umum atau terpisah. Kita wajib membawa beberapa tanda yang menunjukkan bahwa kita berada di bawah darah, di dalam Roh, dan di dalam nama Tuhan Yesus.
Tidak dapat disangkal, pemisahan bukanlah suatu masalah yang sangat dalam, ia hanyalah pada aspek kedudukan saja. Tetapi janganlah mengira kedudukan itu tidak penting. Kedudukan sangat penting. Kita memiliki kedudukan sebagal orang kudus, orang yang terpisah; kita perlu menjaga dan memelihara kedudukan ini.
Kita mempunyai satu kedudukan yang dikuduskan, bukan hanya oleh darah dan oleh Roh, tetapi juga di dalam nama Tuhan Yesus (1 Kor. 6:11). Karena kita membawa nama Tuhan Yesus, kita tidak boleh memalukan nama‑Nya dengan bersikap umum. Orang lain boleh menonton pertandingan olahraga atau bioskop, tetapi kita tidak mau, karena kita tidak mau memalukan nama Tuhan. NamaNya harus memelihara kita agar kita selalu terpisah. Jangan bertanya apakah suatu perkara itu terbilang berdosa atau tidak berdosa. Pemisahan tidak berkaitan dengan perkara berdosa atau tidak berdosa, melainkan masalah umum atau terpisah. Kita wajib membawa beberapa tanda yang menunjukkan bahwa kita berada di bawah darah, di dalam Roh, dan di dalam nama Tuhan Yesus.
Tidak dapat disangkal, pemisahan bukanlah suatu masalah yang sangat dalam, ia hanyalah pada aspek kedudukan saja. Tetapi janganlah mengira kedudukan itu tidak penting. Kedudukan sangat penting. Kita memiliki kedudukan sebagal orang kudus, orang yang terpisah; kita perlu menjaga dan memelihara kedudukan ini.
4. Sebelum Pembenaran
Menurut doktrinnya, aspek pengudusan ini terjadi sebelum pembenaran (1 Kor. 6:11). Pengudusan kedudukan mendahului pembenaran, tetapi pengudusan watak (sifat) menyusul pembenaran. Sebelum kita dibenarkan, kita telah dikuduskan oleh darah, oleh Roh Kudus, dan di dalam nama Tuhan Yesus.
Menurut doktrinnya, aspek pengudusan ini terjadi sebelum pembenaran (1 Kor. 6:11). Pengudusan kedudukan mendahului pembenaran, tetapi pengudusan watak (sifat) menyusul pembenaran. Sebelum kita dibenarkan, kita telah dikuduskan oleh darah, oleh Roh Kudus, dan di dalam nama Tuhan Yesus.
F. Dijenuhi Allah dalam Watak Kita
1. Setelah Pembenaran
Kini kita meninjau masalah pengudusan watak (sifat) kita, yang terjadi sesudah pembenaran (Rm. 6:19, 22). Ini adalah pengudusan yang bukan hanya pada kedudukan kita, tetapi juga di dalam watak kita. Maka, hal ini lebih dalam dan lebih subyektif daripada pengudusan kedudukan.
Dalam pengudusan yang subyektif ini, kita dijenuhi Allah dalam watak kita. Pemisahan dapat terjadi lebih mudah dan memakan waktu yang sangat singkat, namun untuk dijenuhi dalam watak memakan waktu panjang. Jika kita setia kepada Tuhan, barulah kita akan dijenuhi dengan sifat Allah dari hari ke hari. Allah memang ingin menjenuhi kita dengan diri‑Nya sendiri, dan kita wajib menyesap Allah ke dalam diri kita. Hal ini memerlukan waktu. Inilah proses pengudusan kita.
Kini kita meninjau masalah pengudusan watak (sifat) kita, yang terjadi sesudah pembenaran (Rm. 6:19, 22). Ini adalah pengudusan yang bukan hanya pada kedudukan kita, tetapi juga di dalam watak kita. Maka, hal ini lebih dalam dan lebih subyektif daripada pengudusan kedudukan.
Dalam pengudusan yang subyektif ini, kita dijenuhi Allah dalam watak kita. Pemisahan dapat terjadi lebih mudah dan memakan waktu yang sangat singkat, namun untuk dijenuhi dalam watak memakan waktu panjang. Jika kita setia kepada Tuhan, barulah kita akan dijenuhi dengan sifat Allah dari hari ke hari. Allah memang ingin menjenuhi kita dengan diri‑Nya sendiri, dan kita wajib menyesap Allah ke dalam diri kita. Hal ini memerlukan waktu. Inilah proses pengudusan kita.
Allah telah memilih kita dengan tujuan menjenuhi kita dengan diri‑Nya sendiri; Ia ingin menggarapkan diriNya ke dalam diri kita. Kemudian kita akan menjadi kudus, sekudus la sendiri. Dewasa ini, kita semua berada dalam proses penjenuhan. Saya telah berada dalam proses ini lebih dari 50 tahun, dan saya masih berada di dalamnya, yakni masih "menyesap" Allah dari hari ke hari. Kadang kala istri saya atau saudara saudari saya membantu saya untuk menyesap Allah. Mereka membantu saya untuk rela dijenuhi, sekalipun sewaktu saya sendiri tidak mau. Maka, mau atau tidak, Tuhan tetap membuat saya dijenuhi‑Nya dan menyesap‑Nya. Banyak orang di antara kita yang dahulunya berada dalam kekristenan dapat bersaksi, ketika kita berada di sana, kita tidak mengalami banyak penjenuhan yang sedemikian. Akan tetapi sejak kita memasuki hidup gereja, kita mengalami sangat banyak penjenuhan Allah ini. Hidup gereja adalah hidup yang menyesap Allah. Mau atau tidak, kita tetap akan dijenuhi oleh unsur ilahi.
Saya tidak mempedulikan koreksi luaran, itu tidak ada artinya. Tetapi diresapi dan dijenuhi Allah sangat besar artinya. Dalam hidup gereja, Anda telah dikoreksi atau dijenuhi? Banyak di antara kita telah dijenuhi Allah dalam hidup gereja. Saya tidak mengapresiasi koreksi diri. Misalkan ada seseorang yang congkak dan ia mengoreksi dirinya supaya menjadi rendah hati, itu tidak ada artinya. Hanya satu perkara yang penting, yaitu kita dijenuhi Allah. Alangkah girangnya saya melihat banyak saudara saudari telah dijenuhi Allah; mereka telah menyesap kelimpahan Allah ke dalam diri mereka. Inilah kekudusan atau pengudusan yang diwahyukan dalam Alkitab.
Kita semua telah dipilih menjadi kudus dengan cara demikian. Pertama, kita dipisahkan kepada Allah; kedua, kita dijenuhi Allah; akhirnya kita menjadi satu denganNya. Pada suatu hari, kita akan serupa dengan‑Nya. Hal itu akan menjadi tanda kegenapan pengudusan kita, proses yang diawali pemisahan, dilanjutkan dengan penjenuhan, dan tergenap dengan penebusan sepenuhnya atas tubuh kita. Pada saat itu, kita akan menjadi benar‑benar serupa dengan Dia lahir dan batin. Kita akan menjadi kudus. Dengan tujuan inilah kita dipilih oleh Allah sebelum dunia dijadikan.
Saya tidak mempedulikan koreksi luaran, itu tidak ada artinya. Tetapi diresapi dan dijenuhi Allah sangat besar artinya. Dalam hidup gereja, Anda telah dikoreksi atau dijenuhi? Banyak di antara kita telah dijenuhi Allah dalam hidup gereja. Saya tidak mengapresiasi koreksi diri. Misalkan ada seseorang yang congkak dan ia mengoreksi dirinya supaya menjadi rendah hati, itu tidak ada artinya. Hanya satu perkara yang penting, yaitu kita dijenuhi Allah. Alangkah girangnya saya melihat banyak saudara saudari telah dijenuhi Allah; mereka telah menyesap kelimpahan Allah ke dalam diri mereka. Inilah kekudusan atau pengudusan yang diwahyukan dalam Alkitab.
Kita semua telah dipilih menjadi kudus dengan cara demikian. Pertama, kita dipisahkan kepada Allah; kedua, kita dijenuhi Allah; akhirnya kita menjadi satu denganNya. Pada suatu hari, kita akan serupa dengan‑Nya. Hal itu akan menjadi tanda kegenapan pengudusan kita, proses yang diawali pemisahan, dilanjutkan dengan penjenuhan, dan tergenap dengan penebusan sepenuhnya atas tubuh kita. Pada saat itu, kita akan menjadi benar‑benar serupa dengan Dia lahir dan batin. Kita akan menjadi kudus. Dengan tujuan inilah kita dipilih oleh Allah sebelum dunia dijadikan.
2. Melalui Transformasi Jiwa
Pengudusan secara watak ini pertama‑tama mentransformasi (mengubah) jiwa kita melalui dijenuhinya tiap bagian batin insani kita oleh unsur Allah yang kudus (2 Kor. 3:18; Rm. 12:2).
Pengudusan secara watak ini pertama‑tama mentransformasi (mengubah) jiwa kita melalui dijenuhinya tiap bagian batin insani kita oleh unsur Allah yang kudus (2 Kor. 3:18; Rm. 12:2).
3. Melalui Transfigurasi Tubuh
Melalui pengudusan watak tersebut, semua orang beriman pada akhirnya akan menjadi kota kudus yang dijenuhi oleh Allah yang kudus (Why. 21:2, 10). Yang terakhir, pengudusan secara watak itu akan mentransfigurasi tubuh kita menjadi tubuh yang mulia seperti yang dimiliki Kristus (Flp. 3:21). Ini berarti unsur kudus Allah akan menjenuhi tubuh kita sehingga tubuh kita dapat ditebus (Rm. 8:23).
Melalui pengudusan watak tersebut, semua orang beriman pada akhirnya akan menjadi kota kudus yang dijenuhi oleh Allah yang kudus (Why. 21:2, 10). Yang terakhir, pengudusan secara watak itu akan mentransfigurasi tubuh kita menjadi tubuh yang mulia seperti yang dimiliki Kristus (Flp. 3:21). Ini berarti unsur kudus Allah akan menjenuhi tubuh kita sehingga tubuh kita dapat ditebus (Rm. 8:23).
4. Terakhir Menjadi Kota Kudus
V. TAK BERCACAT
Ayat 4 juga mengatakan bahwa kita dipilih di dalam Dia supaya kita tak bercacat. Suatu cacat adalah seperti sebutir benda asing dalam permata yang mahal. Kaum pilihan Allah seharusnya hanya dijenuhi dengan diri Allah, tanpa benda‑benda asing, seperti unsur manusia alamiah yang telah jatuh, daging, diri, atau perkara‑perkara duniawi. Inilah "tanpa cacat", tanpa campuran apa pun, tanpa unsur lain, selain sifat kudus Allah. Setelah terbasuh seluruhnya dengan air dalam firman, gereja akan dikuduskan dengan cara demikian (Ef. 5:26‑27).
Hari ini, kita masih memiliki banyak sekali campuran. Banyak benda asing, antara lain seperti daging, diri sendiri, dan hayat alamiah, masih terdapat di dalam kita. Tetapi kita sedang diubah secara berangsur‑angsur. Maka, pada akhirnya kita akan dijadikan demikian kudus dan jernih, sehingga tanpa cacat, tanpa benda asing, melainkan hanya unsur ilahi semata.
Ayat 4 juga mengatakan bahwa kita dipilih di dalam Dia supaya kita tak bercacat. Suatu cacat adalah seperti sebutir benda asing dalam permata yang mahal. Kaum pilihan Allah seharusnya hanya dijenuhi dengan diri Allah, tanpa benda‑benda asing, seperti unsur manusia alamiah yang telah jatuh, daging, diri, atau perkara‑perkara duniawi. Inilah "tanpa cacat", tanpa campuran apa pun, tanpa unsur lain, selain sifat kudus Allah. Setelah terbasuh seluruhnya dengan air dalam firman, gereja akan dikuduskan dengan cara demikian (Ef. 5:26‑27).
Hari ini, kita masih memiliki banyak sekali campuran. Banyak benda asing, antara lain seperti daging, diri sendiri, dan hayat alamiah, masih terdapat di dalam kita. Tetapi kita sedang diubah secara berangsur‑angsur. Maka, pada akhirnya kita akan dijadikan demikian kudus dan jernih, sehingga tanpa cacat, tanpa benda asing, melainkan hanya unsur ilahi semata.
VI. DI HADAPAN‑NYA
Kita akan menjadi kudus tanpa bercacat di hadapanNya. "Di hadapan‑Nya" menandakan bahwa kita kudus dan tak bercacat dalam pandangan Allah sesuai dengan standar Allah. Keadaan ini melayakkan kita untuk tetap di dalam hadirat‑Nya dan menikmati penyertaan‑Nya. Kita menjadi kudus dan tak bercacat bukan menurut standar atau pandangan kita sendiri, melainkan menurut standar‑Nya dan pandangan‑Nya.
Kita akan menjadi kudus tanpa bercacat di hadapanNya. "Di hadapan‑Nya" menandakan bahwa kita kudus dan tak bercacat dalam pandangan Allah sesuai dengan standar Allah. Keadaan ini melayakkan kita untuk tetap di dalam hadirat‑Nya dan menikmati penyertaan‑Nya. Kita menjadi kudus dan tak bercacat bukan menurut standar atau pandangan kita sendiri, melainkan menurut standar‑Nya dan pandangan‑Nya.
VII. DALAM KASIH
Terakhir, kita akan menjadi kudus tak bercacat di hadapan‑Nya, di dalam kasih. Kasih di sini mengacu kepada kasih Allah, dengan kasih ini Allah mengasihi umat pilihan‑Nya, dan dengan kasih ini juga umat pilihan‑Nya mengasihi Dia. Di dalam dan dengan kasih ini umat pilihan Allah menjadi kudus dan tak bercacat di hadapanNya. Mula‑mula Allah mengasihi kita, kemudian kasih Allah ini membangkitkan kita untuk mengasihi‑Nya kembali. Dalam keadaan dan suasana kasih ini, kita dijenuhi Allah agar menjadi kudus dan tanpa cacat seperti apa adanya Dia. Dalam kasih ini, yaitu kasih yang timbal balik, Allah mengasihi kita, dan kita membalasnya dengan kasih pula. Dalam kondisi semacam inilah kita diubah. Di bawah kondisi seperti inilah, kita dijenuhi oleh Allah.
Saya harap kita dapat nampak bahwa kekudusan yang diwahyukan dalam Alkitab mutlak berbeda dengan ajaran tentang koreksi diri atau perbaikan kelakuan yang ada pada hari ini‑ Pertama, kita dipisahkan kepada Allah, lalu kita dijenuhi dengan Allah secara terus‑menerus, hingga semua campuran dalam diri kita tertelan oleh sifat ilahi‑Nya. Ketika hal ini mencapai kesempurnaannya, kita pun akan dikuduskan, diubah, dan diserupakan gambar Anak Allah, Yesus Kristus, dengan sempurna. Akhirnya, kita akan menjadi kudus dengan sempurna.
Terakhir, kita akan menjadi kudus tak bercacat di hadapan‑Nya, di dalam kasih. Kasih di sini mengacu kepada kasih Allah, dengan kasih ini Allah mengasihi umat pilihan‑Nya, dan dengan kasih ini juga umat pilihan‑Nya mengasihi Dia. Di dalam dan dengan kasih ini umat pilihan Allah menjadi kudus dan tak bercacat di hadapanNya. Mula‑mula Allah mengasihi kita, kemudian kasih Allah ini membangkitkan kita untuk mengasihi‑Nya kembali. Dalam keadaan dan suasana kasih ini, kita dijenuhi Allah agar menjadi kudus dan tanpa cacat seperti apa adanya Dia. Dalam kasih ini, yaitu kasih yang timbal balik, Allah mengasihi kita, dan kita membalasnya dengan kasih pula. Dalam kondisi semacam inilah kita diubah. Di bawah kondisi seperti inilah, kita dijenuhi oleh Allah.
Saya harap kita dapat nampak bahwa kekudusan yang diwahyukan dalam Alkitab mutlak berbeda dengan ajaran tentang koreksi diri atau perbaikan kelakuan yang ada pada hari ini‑ Pertama, kita dipisahkan kepada Allah, lalu kita dijenuhi dengan Allah secara terus‑menerus, hingga semua campuran dalam diri kita tertelan oleh sifat ilahi‑Nya. Ketika hal ini mencapai kesempurnaannya, kita pun akan dikuduskan, diubah, dan diserupakan gambar Anak Allah, Yesus Kristus, dengan sempurna. Akhirnya, kita akan menjadi kudus dengan sempurna.
DITENTUKAN DARI SEMULA UNTUK MENJADI ANAK‑ANAK ALLAH
Dalam berita ini kita tiba pada masalah penentuan Allah atas diri kita dari semula untuk menjadi anak‑anak Allah. Efesus 1:5 mengatakan, “Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak‑Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak‑Nya." (kata ”kerelaan", dalam bahasa aslinya adalah "kesukaan". Red.). Dalam susunan tata bahasa ayat 4‑5, subyek dan predikat utamanya tidak terdapat dalam ayat 5, melainkan dalam ayat 4. Ayat 4 mengatakan, "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan‑Nya (dalam kasih).
Subyeknya ialah "Dia" dan predikat utamanya ialah "memilih". Ayat ini boleh ditulis demikian: "Sebab di dalam Dia, Allah telah menentukan untuk memilih kita dari semula." Pemilihan Allah tidak dapat dipisahkan dari penentuan‑Nya, sebab keduanya merupakan dua aspek dari satu perkara. Pemilihan Allah berjalan seiring dengan penentuan‑Nya dan penentuan‑Nya bersatu dengan pemilihan‑Nya. Sulit dikatakan yang mana yang pertama.
Ditentukan dari semula untuk menjadi anak‑anak Allah merupakan butir kedua dalam berkat Allah. Seperti telah kita tuniukkan dalam berita yang lalu, butir pertama dalam berkat Allah adalah terpilihnya kita menjadi kudus.
II. MENETAPKAN NASIB UMAT PILIHAN‑NYA DALAM KEKEKALAN YANG LAMPAU
Dalam kekekalan yang lampau Allah telah menentukan kita untuk menjadi anak‑anak‑Nya, menetapkan nasib bagi umat pilihan‑Nya sebelum dunia dijadikan. Sasaran penentuan Allah adalah keputraan. Bahkan kita telah ditentukan untuk menjadi anak‑anak Allah sebelum kita diciptakan. Maka, sebagai makhluk ciptaan Allah, kita perlu dilahirkan kemball oleh‑Nya, agar kita boleh mengambil bagian dalam hayat‑Nya untuk menjadi anak-anak‑Nya. Keputraan bukan hanya menyiratkan hayat, juga kedudukan anak. Orang‑orang yang telah ditetapkan ini memiliki hayat untuk menjadi anak‑anak‑Nya dan memiliki kedudukan untuk mewarisi Dia.
Dalam kekekalan yang lampau Allah telah menentukan kita untuk menjadi anak‑anak‑Nya, menetapkan nasib bagi umat pilihan‑Nya sebelum dunia dijadikan. Sasaran penentuan Allah adalah keputraan. Bahkan kita telah ditentukan untuk menjadi anak‑anak Allah sebelum kita diciptakan. Maka, sebagai makhluk ciptaan Allah, kita perlu dilahirkan kemball oleh‑Nya, agar kita boleh mengambil bagian dalam hayat‑Nya untuk menjadi anak-anak‑Nya. Keputraan bukan hanya menyiratkan hayat, juga kedudukan anak. Orang‑orang yang telah ditetapkan ini memiliki hayat untuk menjadi anak‑anak‑Nya dan memiliki kedudukan untuk mewarisi Dia.
III. MEMBERI TANDA SEBELUMNYA PADA UMAT PILIHAN‑NYA
Kata "ditentukan dari semula" yang diterjemahkan dari bahasa Yunani boleh juga diterjemahkan "menandai sebelumnya" Memberi tanda sebelumnya adalah proses, sedangkan penentuan adalah tujuan, yaitu menetapkan nasib sebelumnya. Allah memilih kita sebelum dunia dijadikan, menandai sebelumnya kepada suatu nasib tertentu.
IV. MENURUT PENGENALAN DINI‑NYA
Allah memilih dan menentukan kita menurut pengenalan dini‑Nya (1 Ptr. 1:2). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kita dengan Allah diprakarsai oleh Allah menurut pengetahuan diri‑Nya.
Allah memilih dan menentukan kita menurut pengenalan dini‑Nya (1 Ptr. 1:2). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kita dengan Allah diprakarsai oleh Allah menurut pengetahuan diri‑Nya.
V. MELALUI YESUS KRISTUS
Allah menentukan kita untuk menjadi anak‑anakNya melalui Yesus Kristus. "Melalui Yesus Kristus" berarti melalui Putra Allah, Sang Penebus. Melalui Dia kita ditebus, menjadi anak‑anak Allah, memiliki hayat dan kedudukan sebagai anak‑anak Allah.
Allah menentukan kita untuk menjadi anak‑anakNya melalui Yesus Kristus. "Melalui Yesus Kristus" berarti melalui Putra Allah, Sang Penebus. Melalui Dia kita ditebus, menjadi anak‑anak Allah, memiliki hayat dan kedudukan sebagai anak‑anak Allah.
VI. SESUAI DENGAN KESUKAAN KEHENDAK‑NYA
Allah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak‑anak‑Nya sesuai dengan kesukaan kehendak‑Nya. Ini mewahyukan bahwa Allah mempunyai satu kehendak; dalam kehendak ini terdapat kesukaan‑Nya. Allah menentukan kita menjadi anak‑anak‑Nya sesuai dengan kesukaan‑Nya, menurut kesenangan hati‑Nya. Tidak seperti Kitab Roma, Kitab Efesus tidak berbicara dari sudut keadaan manusia yang penuh dosa, tetapi dari sudut kesukaan dalam hati Allah. Sebab itu, Kitab Efesus lebih dalam dan lebih tinggi.
VII. KEPADA KEPUTRAAN (MENJADI ANAK‑ANAK ALLAH)
Dalam ayat 4 kita nampak Allah telah memilih kita agar kita menjadi kudus. Tetapi menjadi kudus hanyalah prosedur, bukan sasaran. Sasarannya adalah keputraan, Kita telah ditentukan untuk menjadi anak‑anak‑Nya. Dengan kata lain, Allah memilih kita supaya menjadi kudus agar kita boleh menjadi anak‑anak‑Nya. Jadi, menjadi kudus adalah proses, prosedur, tetapi menjadi anak‑anak Allah itulah sasaran. Allah tidak hanya menghendaki sekelompok manusia yang kudus; Ia menghendaki banyak anak. Bagi kita mungkin sudah cukup kalau Allah memilih kita menjadi kudus, dan kita mungkin merasa puas sekali akan hal ini. Namun Allah memilih kita menjadi kudus untuk satu maksud, dan maksud itu tidak lain lalah agar kita menjadi anak‑anak Allah.
Baiklah kita mengambil contoh memanggang kue. Ketika seorang saudari memanggang kue, pertama‑tama ia menyediakan adonan dengan mencampurkan berbagai bahan dengan tepung terigu. Setelah bahan‑bahan ini tercampur dengan adonan, kita boleh mengatakan adonan ini sebagai satu lukisan pengudusan. Mula‑mula adonan dipisahkan, lalu dikuduskan melalui dimasukkannya berbagai bahan ke dalamnya. Setelah saudari ini mengaduk adonan itu, la lalu membentuknya menjadi bentuk-bentuk tertentu. Demikian pula, pertama‑tama Allah misahkan kita, lalu menaruhkan diri‑Nya ‑ Bapa, Putra, dan Roh Kudus ke dalam kita. Berikutnya ialah proses pengadukan. Mengatakan Allah mengaduk kita berarti Allah mengganggu kita. Kita mungkin menyukai kehidupan gereja yang tenang, tetapi sering kali Allah mengaduk, menjungkir‑balikkan urusan‑urusan kita. Namun justru inilah kehidupan gereja yang normal.
Menjadi kudus berarti berbaur dengan Allah. Allah menguduskan kita dengan menaruh diri‑Nya ke dalam kita dan kemudian membaurkan kita dengan sifat‑Nya. Ini adalah masalah sifat, yaitu agar sifat kita diubah dengan sifat‑Nya. Kita dilahirkan sebagai yang insani dan alami, tetapi Allah menghendaki kita menjadi ilahi. Jalan satu‑satunya supaya hal ini dapat terjadi ialah dengan memasukkan sifat ilahi ke dalam diri kita dan berbaur dengannya. Dengan jalan inilah Allah menguduskan kita. Jadi, pengudusan adalah suatu prosedur untuk mengubah sifat kita. Tetapi, ini masih bukan sasarannya. Sasarannya berkaitan dengan pembentukan. Itulah sebabnya selain Allah memilih kita menjadi kudus, Ia pun perlu menentukan kita dari semula untuk menjadi anakanak‑Nya. Menjadi kudus adalah masalah sifat, tetapi menjadi anak‑anak adalah masalah pembentukan. Anak-anak Allah adalah sekelompok manusia yang diserupakan dengan suatu bentuk atau rupa tertentu.
Kaki dian emas dalam Wahyu 1 telah menjelaskan hal ini. Dalam sifatnya, kaki pelita itu emas, tetapi dalam bentuknya ia adalah sebuah kaki pelita. Untuk memproduksi sebuah kaki pelita emas, pertama bahannya harus emas murni. Ini ditujukan kepada prosedurnya. Tetapi sasaran dari prosedur ini ialah memproduksi kaki pelita yang memiliki bentuk khas. Demikian pula, menjadi kudus adalah prosedur kita untuk menjadi anak‑anak Allah. Sewaktu saya nampak kekudusan itu untuk keputraan, saya berkata kepada diri sendiri, "Bagaimana kamu bisa merasa puas dengan kekudusan sebagai sasaran? Kamu hanya dapat merasa puas bila menjadi anak Allah." Jadi, kita tidak hanya menjadi kudus, juga menjadi anak-anak Allah. Kita tidak hanya mempunyai sifat kudus Allah, bahkan memiliki Persona Anak‑Nya. Karena itu, kita tidak hanya menjadi, adonan kudus, juga sebagai anak‑anak Allah.
Semua orang Kristen tahu bahwa kaum beriman yang sejati di dalam Kristus adalah Gereja. Namun gereja bukan hanya sekelompok manusia yang telah beroleh selamat. Gereja adalah manusia korporat yang telah dikuduskan sifatnya menjadi anak‑anak Allah. Orang korporat ini seharusnya dikuduskan, diresapi, dan dibaurkan dengan sifat Allah. Demikian, mereka baru menjadi anak-anak Allah. Orang‑orang yang demikian adalah gereja.
Situasi agama Kristen hari ini menyimpang jauh dari yang demikian. Dalam agama Kristen kita nampak kelompok‑kelompok orang yang telah beroleh selamat, namun mereka masih awam dan duniawi, tanpa kekudusan sedikit pun. Lagi pula, mereka tidak hidup seperti anak-anak Allah. Sebaliknya, mereka kebanyakan hidup seperti anak‑anak orang dosa. Walaupun begitu banyak orang percaya Tuhan Yesus, dibasuh oleh darah, dan dilahirkan kembali oleh Roh, tetapi mereka masih duniawi dan awam, tanpa tanda kekudusan dalam kehidupan mereka. Mereka sama sekali serupa dengan tetangga, teman, atau kerabat mereka. Namun demikian, mereka mengatakan dirinya itu gereja. Alangkah memalukan Allah dan alangkah memalukan gereja! Gereja tersusun dari sekelompok orang yang telah dipisahkan bagi Allah, dijenuhi dengan sifat Allah, dan dikuduskan sepenuhnya untuk hidup sebagai anak‑anak Allah. Gereja jelas bukan sekelompok orang Kristen yang duniawi, yang hidup seperti anak‑anak orang dosa. Memalukan sekali jika Anda mengatakan kelompok orang yang semacam itu gereja.
Kalau kita menyatakan diri kita gereja, kita harus bertanya apakah kita ini orang yang telah dipisahkan dan dikuduskan. Sudahkah kita dipisahkan bagi Allah dan dijenuhi Allah? Sudahkah kita dikuduskan dalam kedudukan dan watak oleh sifat Allah untuk hidup seperti anak‑anak Allah? Oh, semoga mata kita tercelik, sehingga kita nampak apa itu gereja. Gereja bukanlah sekelompok orang Kristen yang bergairah, tetapi awam dan duniawi, tanpa pemisahan atau penjenuhan apa‑apa. Gereja tersusun dari mereka yang telah Allah kuduskan, untuk hidup seperti anak‑anak Allah.
Ingatlah, Kitab Efesus membahas masalah gereja. Dalam kata pembukaan kitab ini, diberitahukan bahwa gereja adalah orang‑orang yang berada di bawah kata-kata indah Allah (Ef 1:3). Perkara yang pertama dalam kata‑kata indah Allah adalah kita telah dipilih untuk menjadi kudus. Itulah berkat Allah, kata‑kata indah‑Nya tentang kita. Tetapi, banyak orang Kristen menolak berkat ini. Allah mengatakan bahwa la telah memilih kita untuk menjadi kudus, tetapi mereka mengatakan mereka tidak mau berbeda dengan orang lain. Ada sebagian orang berkata, "Kami tidak mau menjadi kudus. Kami suka menjadi awam." Allah berkatal "Kamu telah dipilih agar berbeda." Tetapi mereka membantah, "Kami tidak ingin berbeda. Kami ingin menjadi serupa dengan orang lain." Menolak kata‑kata indah Allah yang sedemikian berarti memberontak. Oh, semoga Tuhan membelaskasihani kita! Betapa kita memerlukan rahmat‑Nya, karena situasi hari ini demikian kasihan! Kita perlu nampak bahwa kita telah dipilih untuk menjadi kudus, agar kita dapat menempuh kehidupan anak‑anak Allah.
Dalam ayat 4 kita nampak Allah telah memilih kita agar kita menjadi kudus. Tetapi menjadi kudus hanyalah prosedur, bukan sasaran. Sasarannya adalah keputraan, Kita telah ditentukan untuk menjadi anak‑anak‑Nya. Dengan kata lain, Allah memilih kita supaya menjadi kudus agar kita boleh menjadi anak‑anak‑Nya. Jadi, menjadi kudus adalah proses, prosedur, tetapi menjadi anak‑anak Allah itulah sasaran. Allah tidak hanya menghendaki sekelompok manusia yang kudus; Ia menghendaki banyak anak. Bagi kita mungkin sudah cukup kalau Allah memilih kita menjadi kudus, dan kita mungkin merasa puas sekali akan hal ini. Namun Allah memilih kita menjadi kudus untuk satu maksud, dan maksud itu tidak lain lalah agar kita menjadi anak‑anak Allah.
Baiklah kita mengambil contoh memanggang kue. Ketika seorang saudari memanggang kue, pertama‑tama ia menyediakan adonan dengan mencampurkan berbagai bahan dengan tepung terigu. Setelah bahan‑bahan ini tercampur dengan adonan, kita boleh mengatakan adonan ini sebagai satu lukisan pengudusan. Mula‑mula adonan dipisahkan, lalu dikuduskan melalui dimasukkannya berbagai bahan ke dalamnya. Setelah saudari ini mengaduk adonan itu, la lalu membentuknya menjadi bentuk-bentuk tertentu. Demikian pula, pertama‑tama Allah misahkan kita, lalu menaruhkan diri‑Nya ‑ Bapa, Putra, dan Roh Kudus ke dalam kita. Berikutnya ialah proses pengadukan. Mengatakan Allah mengaduk kita berarti Allah mengganggu kita. Kita mungkin menyukai kehidupan gereja yang tenang, tetapi sering kali Allah mengaduk, menjungkir‑balikkan urusan‑urusan kita. Namun justru inilah kehidupan gereja yang normal.
Menjadi kudus berarti berbaur dengan Allah. Allah menguduskan kita dengan menaruh diri‑Nya ke dalam kita dan kemudian membaurkan kita dengan sifat‑Nya. Ini adalah masalah sifat, yaitu agar sifat kita diubah dengan sifat‑Nya. Kita dilahirkan sebagai yang insani dan alami, tetapi Allah menghendaki kita menjadi ilahi. Jalan satu‑satunya supaya hal ini dapat terjadi ialah dengan memasukkan sifat ilahi ke dalam diri kita dan berbaur dengannya. Dengan jalan inilah Allah menguduskan kita. Jadi, pengudusan adalah suatu prosedur untuk mengubah sifat kita. Tetapi, ini masih bukan sasarannya. Sasarannya berkaitan dengan pembentukan. Itulah sebabnya selain Allah memilih kita menjadi kudus, Ia pun perlu menentukan kita dari semula untuk menjadi anakanak‑Nya. Menjadi kudus adalah masalah sifat, tetapi menjadi anak‑anak adalah masalah pembentukan. Anak-anak Allah adalah sekelompok manusia yang diserupakan dengan suatu bentuk atau rupa tertentu.
Kaki dian emas dalam Wahyu 1 telah menjelaskan hal ini. Dalam sifatnya, kaki pelita itu emas, tetapi dalam bentuknya ia adalah sebuah kaki pelita. Untuk memproduksi sebuah kaki pelita emas, pertama bahannya harus emas murni. Ini ditujukan kepada prosedurnya. Tetapi sasaran dari prosedur ini ialah memproduksi kaki pelita yang memiliki bentuk khas. Demikian pula, menjadi kudus adalah prosedur kita untuk menjadi anak‑anak Allah. Sewaktu saya nampak kekudusan itu untuk keputraan, saya berkata kepada diri sendiri, "Bagaimana kamu bisa merasa puas dengan kekudusan sebagai sasaran? Kamu hanya dapat merasa puas bila menjadi anak Allah." Jadi, kita tidak hanya menjadi kudus, juga menjadi anak-anak Allah. Kita tidak hanya mempunyai sifat kudus Allah, bahkan memiliki Persona Anak‑Nya. Karena itu, kita tidak hanya menjadi, adonan kudus, juga sebagai anak‑anak Allah.
Semua orang Kristen tahu bahwa kaum beriman yang sejati di dalam Kristus adalah Gereja. Namun gereja bukan hanya sekelompok manusia yang telah beroleh selamat. Gereja adalah manusia korporat yang telah dikuduskan sifatnya menjadi anak‑anak Allah. Orang korporat ini seharusnya dikuduskan, diresapi, dan dibaurkan dengan sifat Allah. Demikian, mereka baru menjadi anak-anak Allah. Orang‑orang yang demikian adalah gereja.
Situasi agama Kristen hari ini menyimpang jauh dari yang demikian. Dalam agama Kristen kita nampak kelompok‑kelompok orang yang telah beroleh selamat, namun mereka masih awam dan duniawi, tanpa kekudusan sedikit pun. Lagi pula, mereka tidak hidup seperti anak-anak Allah. Sebaliknya, mereka kebanyakan hidup seperti anak‑anak orang dosa. Walaupun begitu banyak orang percaya Tuhan Yesus, dibasuh oleh darah, dan dilahirkan kembali oleh Roh, tetapi mereka masih duniawi dan awam, tanpa tanda kekudusan dalam kehidupan mereka. Mereka sama sekali serupa dengan tetangga, teman, atau kerabat mereka. Namun demikian, mereka mengatakan dirinya itu gereja. Alangkah memalukan Allah dan alangkah memalukan gereja! Gereja tersusun dari sekelompok orang yang telah dipisahkan bagi Allah, dijenuhi dengan sifat Allah, dan dikuduskan sepenuhnya untuk hidup sebagai anak‑anak Allah. Gereja jelas bukan sekelompok orang Kristen yang duniawi, yang hidup seperti anak‑anak orang dosa. Memalukan sekali jika Anda mengatakan kelompok orang yang semacam itu gereja.
Kalau kita menyatakan diri kita gereja, kita harus bertanya apakah kita ini orang yang telah dipisahkan dan dikuduskan. Sudahkah kita dipisahkan bagi Allah dan dijenuhi Allah? Sudahkah kita dikuduskan dalam kedudukan dan watak oleh sifat Allah untuk hidup seperti anak‑anak Allah? Oh, semoga mata kita tercelik, sehingga kita nampak apa itu gereja. Gereja bukanlah sekelompok orang Kristen yang bergairah, tetapi awam dan duniawi, tanpa pemisahan atau penjenuhan apa‑apa. Gereja tersusun dari mereka yang telah Allah kuduskan, untuk hidup seperti anak‑anak Allah.
Ingatlah, Kitab Efesus membahas masalah gereja. Dalam kata pembukaan kitab ini, diberitahukan bahwa gereja adalah orang‑orang yang berada di bawah kata-kata indah Allah (Ef 1:3). Perkara yang pertama dalam kata‑kata indah Allah adalah kita telah dipilih untuk menjadi kudus. Itulah berkat Allah, kata‑kata indah‑Nya tentang kita. Tetapi, banyak orang Kristen menolak berkat ini. Allah mengatakan bahwa la telah memilih kita untuk menjadi kudus, tetapi mereka mengatakan mereka tidak mau berbeda dengan orang lain. Ada sebagian orang berkata, "Kami tidak mau menjadi kudus. Kami suka menjadi awam." Allah berkatal "Kamu telah dipilih agar berbeda." Tetapi mereka membantah, "Kami tidak ingin berbeda. Kami ingin menjadi serupa dengan orang lain." Menolak kata‑kata indah Allah yang sedemikian berarti memberontak. Oh, semoga Tuhan membelaskasihani kita! Betapa kita memerlukan rahmat‑Nya, karena situasi hari ini demikian kasihan! Kita perlu nampak bahwa kita telah dipilih untuk menjadi kudus, agar kita dapat menempuh kehidupan anak‑anak Allah.
A. Melalui Roh Anak Allah
Sekarang kita perlu membahas tiga perkara tentang keputraan, yaitu tentang kita menjadi anak‑anak Allah. Pertama‑tama Allah telah menentukan kita untuk menjadi anak‑anak‑Nya melalui menaruh Roh Anak‑Nya ke dalam kita. Pada waktu kita percaya Tuhan Yesus dan dilahirkan kembali, Roh Allah masuk ke dalam kita sebagai Roh Anak Allah. Itulah sebabnya setelah kita dilahirkan kembali kita dapat dengan mudah dan manis menyebut "Ya Abba, ya Bapa." Sebelum kita dilahirkan kemball, kita hanya dapat berkata, "Ya Allah, tolonglah aku." Namun setelah kita diselamatkan, kita dengan spontan mulai berseru secara lembut dan dengan rasa manis, "Ya Abba, ya Bapa."
Sekarang kita perlu membahas tiga perkara tentang keputraan, yaitu tentang kita menjadi anak‑anak Allah. Pertama‑tama Allah telah menentukan kita untuk menjadi anak‑anak‑Nya melalui menaruh Roh Anak‑Nya ke dalam kita. Pada waktu kita percaya Tuhan Yesus dan dilahirkan kembali, Roh Allah masuk ke dalam kita sebagai Roh Anak Allah. Itulah sebabnya setelah kita dilahirkan kembali kita dapat dengan mudah dan manis menyebut "Ya Abba, ya Bapa." Sebelum kita dilahirkan kemball, kita hanya dapat berkata, "Ya Allah, tolonglah aku." Namun setelah kita diselamatkan, kita dengan spontan mulai berseru secara lembut dan dengan rasa manis, "Ya Abba, ya Bapa."
Roma 8:15 dan Galatia 4:6 mengatakan hal ini. Galatia 4:6 mengatakan bahwa Roh Anak berseru, "Ya Abba, ya Bapa." Tetapi Roma 8:15 mengatakan kitalah yang berseru demikian. Hal ini menunjukkan bahwa seruan kita adalah seruan‑Nya dan seruan‑Nya adalah seruan kita. Kita dan Dia bersama‑sama berseru, "Ya Abba, ya Bapa", demikian manis dan intim. Tetapi ketika kita mengatakan demikian,‑ kita merasa senang, manis dan nyaman! Ini membuktikan dengan kuat bahwa Roh Allah ada di dalam kita, kita memiliki Roh keputraan.
Sering kali orang‑orang muda bertanya kepada saya tentang olahraga. Ada beberapa yang ingin mendebat dengan mengatakan bahwa berolahraga tidak ada salahnya. Saya menjawab, "Saya tidak mengatakan berolahraga itu salah. Saya hanya ingin bertanya, dapatkah kalian menyebut 'ya Abba, ya Bapa' sewaktu kalian ingin mengikuti olahraga tertentu?" Jawab mereka, "Saudara Lee, Anda memang terlalu pintar. Anda tahu jika kami menyebut ‘ya Abba, ya Bapa', kami pasti tidak jadi mengikuti olahraga itu, karena kami tahu Bapa kami tidak memperkenankannya." Saya tidak menentang olahraga, tetapi saya menentang si jahat itu. Tidak perlu Anda bertanya kepada saya tentang olahraga. Sebaliknya, berseru saja, "Ya Abba, ya Bapa." Jika Anda melakukan hal ini, Dia akan menyuruh Anda berdoa atau membaca Alkitab sebagai pengganti olahraga itu. Saya dapat bersaksi bahwa saya telah ditanggulangi oleh Bapa sedemikian. Itulah hayat anak‑anak Allah. Apakah Anda menempuh kehidupan anak‑anak Allah, atau menempuh kehidupan anak‑anak orang dosa, yaitu anak‑anak durhaka?
B. Dalam Hayat Anak Allah
Kita telah ditentukan untuk menjadi anak‑anak Allah bukan hanya melalui Roh Anak Allah, juga di dalam hayat Anak Allah. Ini sangatlah subyektiL Kita benarbenar memiliki hayat Anak Allah. Seperti dikatakan dalam 1 Yohanes 5:12, "Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup; siapa yang tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup." Karena itu, kita bukan anak menantu Allah, melainkan anak Allah yang memiliki hayat Allah. Sering kali, kita mungkin bisa menolak Roh Anak Allah, tetapi kita tidak dapat menolak hayat Anak Allah, karena hayat itu telah menjadi diri kita. Kita memiliki dua manusia: manusia alamiah yang dilahirkan oleh orang tua kita, dan manusia rohani yang dilahirkan oleh Allah. Dalam manusia kedua inilah kita memiliki hayat Anak Allah. Menurut manusia kedua ini, kita tidak saja memiliki Roh Yang bergerak dan bekerja dalam batin kita, kita pun memiliki hayat yang telah menjadi diri kita sendiri; bukan diri yang alamiah, melainkan yang rohani. Kadang‑kadang kita tidak saja memberontak kepada Roh, juga kepada diri kita sendiri, menentang diri sendiri.
Kita telah ditentukan untuk menjadi anak‑anak Allah bukan hanya melalui Roh Anak Allah, juga di dalam hayat Anak Allah. Ini sangatlah subyektiL Kita benarbenar memiliki hayat Anak Allah. Seperti dikatakan dalam 1 Yohanes 5:12, "Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup; siapa yang tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup." Karena itu, kita bukan anak menantu Allah, melainkan anak Allah yang memiliki hayat Allah. Sering kali, kita mungkin bisa menolak Roh Anak Allah, tetapi kita tidak dapat menolak hayat Anak Allah, karena hayat itu telah menjadi diri kita. Kita memiliki dua manusia: manusia alamiah yang dilahirkan oleh orang tua kita, dan manusia rohani yang dilahirkan oleh Allah. Dalam manusia kedua inilah kita memiliki hayat Anak Allah. Menurut manusia kedua ini, kita tidak saja memiliki Roh Yang bergerak dan bekerja dalam batin kita, kita pun memiliki hayat yang telah menjadi diri kita sendiri; bukan diri yang alamiah, melainkan yang rohani. Kadang‑kadang kita tidak saja memberontak kepada Roh, juga kepada diri kita sendiri, menentang diri sendiri.
Saya tidak setuju dalam gereja harus ada suatu peraturan. Namun, saya tahu dalam setiap anak Allah terdapat Roh Anak Allah dengan hayat Anak Allah. Karena itu, tidak perlu ada peraturan‑peraturan. Sebagai contoh: Anda tidak perlu menempelkan sebuah peraturan di rumah Anda Yang menyatakan anak‑anak Anda tidak boleh makan barang Yang pahit, hanya boleh makan barang Yang manis. Andaikata seorang anak memasukkan sesuatu Yang pahit ke dalam mulutnya, ia akan memuntahkannya dengan spontan, sekalipun ia tidak mengetahul apa artinya pahit. Karena hayat dalam setiap anak menolak benda‑benda Yang pahit, tidak perlu diberi peraturan tentang hal‑hal Yang pahit. Sebagai tambahan Roh Anak Allah, kita memiliki hayat Anak Allah. Jika kita mengecap sesuatu yang dirasa pahit oleh hayat Anak ini, kita tidak dapat berpura‑pura merasa senang terhadapnya. Walau kita boleh berpura‑pura senang, tetapi di dalam batin kita tidaklah senang, sebab kita tahu bahwa kita telah bertindak melawan hayat Anak Allah. Jika kita menyebut, "Ya Abba, ya Bapa" dan hidup menurut hayat Anak Allah, kita akan bersukacita dalam lubuk batin kita. Pada hakekatnya, seluruh diri kita akan dipenuhi oleh sukacita.
C. Dalam Kedudukan Anak Allah
Kita tidak saja memiliki Roh Anak Allah dan hayat Anak Allah, kita pun memiliki kedudukan Anak Allah (Yoh. 20:17). Sesungguhnya, keputraan lebih erat hubungannya dengan kedudukan daripada dengan hayat. Mungkin Anda seorang anak dari ayah Anda, tetapi karena alasan hukum tertentu, Anda mungkin tidak mempunyai kedudukan sebagai anak, jika demikian berarti Anda tidak memiliki hak keputraan. Jadi, keputraan merupakan masalah hukum. Sebagai contoh: seseorang mungkin sebenarnya bukan terlahir sebagai anak orang kaya. Tetapi bila ia memiliki kedudukan sebagai anak orang itu secara hukum, maka ia berhak menjadi ahli warisnya. Warisan itu menjadi miliknya bukan menurut hayat, melainkan menurut kedudukannya. Tetapi beberapa anak yang sejati malahan boleh jadi kehilangan kedudukan sebagai anak, sekalipun mereka memiliki hayat ayah mereka. Ini menerangkan suatu fakta bahwa hayat anak Allah hanya berkaitan dengan hayat, tetapi kedUdukan anak Allah itu masalah hukum. Haleluya, kita memiliki Roh Anak Allah, hayat Anak Allah, dan kita pun memiliki kedudukan Anak Allah.
Semuanya ini adalah untuk warisan kita. Karena kita anak‑anak Allah, kita akan mewarisi segala apa adanya Allah dan segala milik Allah. Kita mempunyai kedudukan yang sah untuk mewarisi segala kekayaan Bapa. Dalam kehidupan gereja, kita menikmati Bapa dari hari ke hari. Hari ini, hal ini mungkin merupakan masalah hayat, tetapi kelak ini juga merupakan masalah kedudukan. Wahyu 21:7 mengatakan, "Siapa yang menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak‑Ku." Dalam ayat ini, menjadi anak dan mewarisi semuanya, bukan hanya masalah hayat, juga masalah kedudukan. Walau kita hari ini adalah anak‑anak Allah di dalam hayat, namun alam semesta belum lagi nampak kita sebagai anak‑anak Allah pada aspek kedudukan. Tetapi ketika Yerusalem Baru tiba, alam semesta akan mengetahui bahwa kita adalah anak‑anak Allah dalam kedudukan, juga dalam hayat kita. Andaikata saya masuk ke sebuah rumah makan dan menyatakan kepada orang‑orang yang duduk di situ bahwa saya adalah anak Allah, mereka pasti akan menganggap saya mengidap sakit jiwa. Namun, ketika Yerusalem Baru tiba, kita tidak perlu mengatakan apa‑apa. Setiap orang dapat melihat kita sebagai anak‑anak Allah dalam kedudukan kita. Semua malaikat akan berkata, "Lihat orangorang itu ‑ mereka adalah anak‑anak Allah. Mereka menikmati Allah dan mewarisi segala apa adanya Allah di dalam Yerusalem Baru."
Semuanya ini adalah untuk warisan kita. Karena kita anak‑anak Allah, kita akan mewarisi segala apa adanya Allah dan segala milik Allah. Kita mempunyai kedudukan yang sah untuk mewarisi segala kekayaan Bapa. Dalam kehidupan gereja, kita menikmati Bapa dari hari ke hari. Hari ini, hal ini mungkin merupakan masalah hayat, tetapi kelak ini juga merupakan masalah kedudukan. Wahyu 21:7 mengatakan, "Siapa yang menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak‑Ku." Dalam ayat ini, menjadi anak dan mewarisi semuanya, bukan hanya masalah hayat, juga masalah kedudukan. Walau kita hari ini adalah anak‑anak Allah di dalam hayat, namun alam semesta belum lagi nampak kita sebagai anak‑anak Allah pada aspek kedudukan. Tetapi ketika Yerusalem Baru tiba, alam semesta akan mengetahui bahwa kita adalah anak‑anak Allah dalam kedudukan, juga dalam hayat kita. Andaikata saya masuk ke sebuah rumah makan dan menyatakan kepada orang‑orang yang duduk di situ bahwa saya adalah anak Allah, mereka pasti akan menganggap saya mengidap sakit jiwa. Namun, ketika Yerusalem Baru tiba, kita tidak perlu mengatakan apa‑apa. Setiap orang dapat melihat kita sebagai anak‑anak Allah dalam kedudukan kita. Semua malaikat akan berkata, "Lihat orangorang itu ‑ mereka adalah anak‑anak Allah. Mereka menikmati Allah dan mewarisi segala apa adanya Allah di dalam Yerusalem Baru."
Hari ini gereja adalah miniatur Yerusalem Baru. Dalam gereja kita adalah anak‑anak Allah dalam hayat dan kedudukan. Kita tidak perlu saling mengatakan bahwa kita adalah anak‑anak Allah, sebab kita mengenal satu sama lain bahwa kita adalah anak‑anak Allah. Karena kita memiliki Roh, hayat, dan kedudukan, kita saling memahami dan saling mengenal. Kita mengakui bahwa kita semua adalah anak‑anak Allah. Walaupun kita mempunyai Roh, hayat, dan kedudukan sebagai anak‑anak Allah, tetapi ditinjau dari watak kita, kita masih belum kudus. Karena itu, dalam kehidupan gereja Allah senantiasa membaurkan kita, agar kita dapat dikuduskan melalui berbaur dengan sifat‑Nya.
Banyak guru Kristen menunjukkan bahwa Kitab Efesus membahas masalah gereja, namun mereka sendiri tidak berada dalam kehidupan gereja yang riil. Kita tidak puas dengan hanya membicarakan gereja, kita ingin memiliki kehidupan gereja secara riil. Kehidupan gereja yang riil terdapat dalam terpilihnya kita agar menjadi kudus, dan penentuan‑Nya atas kita untuk menjadi anak-anak dengan Roh, hayat, dan kedudukan. Karena kita memiliki ketiga hal tersebut, maka Bapa sering meletakkan kita ke dalam alat pengaduk, agar kita dapat dikuduskan pada aspek watak. Kadang kala Bapa seolah‑olah berkata, "Anak‑Ku, kamu mempunyai Roh, hayat, dan kedudukan, tetapi kamu masih perlu diaduk. Kamu perlu dibaurkan dengan sifat‑Ku yang kudus. Aku telah memilihmu menjadi kudus. Kini Aku akan menggarap dirimu, agar kamu menjadi anak‑Ku yang kudus." Inilah kehidupan gereja.
Kita semua mengharapkan kehidupan gereja menjadi teduh, tenang, dan damai sejahtera. Tetapi tidak ada dapur yang demikian pada saat koki menyiapkan makanan. Sebaliknya, segalanya berantakan. Bila keadaan dapur tidak demikian ketika makanan dipersiapkan, tidak mungkin ada pesta. Kehidupan gereja hari ini serupa dengan suatu dapur yang penuh dengan macam‑macam barang yang berantakan. Di satu pihak, kehidupan gereja memang indah dan mulia, tetapi di pihak lain, kehidupan gereja benar‑benar "berantakan", agar kita dapat berbaur dengan Allah dan menjadi kudus. Semakin mengalami pembauran, kita akan semakin dikuduskan. Tatkala Yerusalem Baru tiba, ia akan menjadi keputraan yang kudus dan korporat dengan Roh, hayat, dan kedudukan. Pada saat itu, pembauran akan berlalu, karena kita semua sudah dijenuhi, dikuduskan, dan diubah. Itu barulah keputraan yang sempurna.
Banyak guru Kristen menunjukkan bahwa Kitab Efesus membahas masalah gereja, namun mereka sendiri tidak berada dalam kehidupan gereja yang riil. Kita tidak puas dengan hanya membicarakan gereja, kita ingin memiliki kehidupan gereja secara riil. Kehidupan gereja yang riil terdapat dalam terpilihnya kita agar menjadi kudus, dan penentuan‑Nya atas kita untuk menjadi anak-anak dengan Roh, hayat, dan kedudukan. Karena kita memiliki ketiga hal tersebut, maka Bapa sering meletakkan kita ke dalam alat pengaduk, agar kita dapat dikuduskan pada aspek watak. Kadang kala Bapa seolah‑olah berkata, "Anak‑Ku, kamu mempunyai Roh, hayat, dan kedudukan, tetapi kamu masih perlu diaduk. Kamu perlu dibaurkan dengan sifat‑Ku yang kudus. Aku telah memilihmu menjadi kudus. Kini Aku akan menggarap dirimu, agar kamu menjadi anak‑Ku yang kudus." Inilah kehidupan gereja.
Kita semua mengharapkan kehidupan gereja menjadi teduh, tenang, dan damai sejahtera. Tetapi tidak ada dapur yang demikian pada saat koki menyiapkan makanan. Sebaliknya, segalanya berantakan. Bila keadaan dapur tidak demikian ketika makanan dipersiapkan, tidak mungkin ada pesta. Kehidupan gereja hari ini serupa dengan suatu dapur yang penuh dengan macam‑macam barang yang berantakan. Di satu pihak, kehidupan gereja memang indah dan mulia, tetapi di pihak lain, kehidupan gereja benar‑benar "berantakan", agar kita dapat berbaur dengan Allah dan menjadi kudus. Semakin mengalami pembauran, kita akan semakin dikuduskan. Tatkala Yerusalem Baru tiba, ia akan menjadi keputraan yang kudus dan korporat dengan Roh, hayat, dan kedudukan. Pada saat itu, pembauran akan berlalu, karena kita semua sudah dijenuhi, dikuduskan, dan diubah. Itu barulah keputraan yang sempurna.
VIII. KEPADA DIRI‑NYA SENDIRI
Keputraan membawa kita kepada Allah, yaitu masuk ke dalam diri Allah sendiri, supaya kita dapat disatukan dengan‑Nya dalam hayat dan sifat.
IX. DISERUPAKAN DENGAN GAMBAR ANAK‑NYA
Sewaktu Bapa membawa kita kepada keputraan yang sempurna, kita diserupakan dengan gambar Anak‑Nya (Rm. 8:29). Hal ini berarti Allah hendak "memutrakan" seluruh diri kita. Proses pemutraan ini sedang berlangsung dalam kehidupan gereja dewasa ini. Boleh jadi Anda telah disalahl oleh seseorang dalam kehidupan gereja, atau Anda yang menyalahi orang lain. Baik disalahi maupun menyalahi, kedua‑duanya berguna bagi proses "pemutraan". Saya bukan menganjuri Anda untuk disalahi atau menyalahi orang lain. Tetapi nyatanya masalah tersebut tidak dapat kita hindari. Jika bukan Anda yang menyalahi orang, Anda akan disalahi orang. Tetapi kita semua akan "diputrakan" oleh hal tersebut. Semakin disalahi, kita akan semakin "diputrakan". Jika Anda tidak pernah disalahi dalam kehidupan gereja, Anda mungkin masih belum banyak mengalami "pemutraan". Berbahagialah bila Anda disalahi oleh saudara saudari atau para penatua, sebab Anda telah cukup "diputrakan". Tetapi, ada sebagian orang tidak bisa disalahi orang. Bila disalahi, ia akan meninggalkan kehidupan gereja. Pada saat demikian, seharusnya tidak meninggalkan kehidupan gereja, melainkan menghargainya, bahkan mencium hal‑hal yang menyalahi kita, sebab hal‑hal itulah yang "memutrakan" kita. Bila Anda ingin melarikan diri dari kehidupan gereja, hayat Anak Allah dalam Anda akan berkata, "Janganlah melarikan diri. Tinggallah dan tanggunglah hal itu, bahkan rangkullah dia." Bila Anda merangkul hal itu, ia akan menjadi sukacita Anda. Itulah "pemutraan' dalam kehidupan gereja.
Kita semua berada dalam proses "pemutraan". Kita memiliki Roh Anak Allah, hayat Anak Allah, dan kedudukan Anak Allah, tetapi kita masih perlu diserupakan dengan gambar Anak Allah. Karena itu, kita perlu lebih banyak "pemutraan". Tuhan hendak menyerupakan kita dengan gambar‑Nya, gambar Anak Allah. Satu‑satunya tempat yang memungkinkan hal ini bisa terjadi adalah kehidupan gereja. Di luar gereja kita tidak dapat diserupakan dengan gambar Anak Allah. Sebab itu, saya menganjuri kalian, bersukacitalah dalam kehidupan gereja yang serba berantakan ini. Janganlah menendang duri (galah rangsang), melainkan terimalah proses "pemutraan" dengan senang hati.
X. DISEMPURNAKAN DALAM KEPUTRAAN
Akhirnya, kita akan disempurnakan dalam keputraan. Kesempurnaan keputraan, keputraan yang penuh, adalah penebusan tubuh kita (Rm. 8:23). Ini berarti tubuh kita akan ditransfigurasi dan juga "diputrakan". Roh kita telah "diputrakan, jiwa kita dalam proses "pemutraan", dan ketika Tuhan datang, tubuh kita juga akan "diputrakan". Itulah kesempurnaan keputraan.
Akhirnya, kita akan disempurnakan dalam keputraan. Kesempurnaan keputraan, keputraan yang penuh, adalah penebusan tubuh kita (Rm. 8:23). Ini berarti tubuh kita akan ditransfigurasi dan juga "diputrakan". Roh kita telah "diputrakan, jiwa kita dalam proses "pemutraan", dan ketika Tuhan datang, tubuh kita juga akan "diputrakan". Itulah kesempurnaan keputraan.
XI. TERAKHIR MEWARISI SEGALA APA ADANYA ALLAH
Terakhir, makna keputraan adalah kita akan mewarisi segala apa adanya Allah sampai selama‑lamanya (Why. 21:7).
Terakhir, makna keputraan adalah kita akan mewarisi segala apa adanya Allah sampai selama‑lamanya (Why. 21:7).
PUJIAN ATAS KEMULIAAN ANUGERAH ALLAH
Dalam berita ini kita akan membahas tentang pujian atas kemuliaan anugerah (kasih karunia) Allah (Ef 1:6). Judul ini kelihatannya sangat sederhana, tetapi sesungguhnya sangat sulit. Boleh jadi kita mengira bahwa kita mengenal istilah‑istilah pujian, kemuliaan, dan anugerah, namun bila kita jujur, kita akan mengakui bahwa kita tidak cukup mengetahui apa sebenarnya makna istilah-istilah tersebut.
Efesus 1:6 mengatakan, "Supaya terpujilah anugerah‑Nya yang mulia, yang dikaruniakan‑Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi‑Nya." Ayat ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan akibat atau hasil penentuan keputraan yang dikatakan dalam ayat sebelumnya. Ini berarti pujian atas kemuliaan anugerah Allah adalah hasil atau akibat keputraan. Karena itu, untuk memahami pujian dalam ayat 6, haruslah kita memahami keputraan dalam ayat 5. Jika kita tidak memahami isi keputraan, kita hanya mungkin memahami ayat 6 secara alamiah.
I. ANUGERAH ADALAH APA ADANYA ALLAH TERHADAP KITA BAGI KENIKMATAN KITA
Apa itu anugerah Allah? Sulit sekah mendefinisikan anugerah. Saya telah dipersulit olehnya bertahun‑tahun lamanya, bahkan sampai hari ini saya masih mempelajarinya. Menurut Perjanjian Baru, anugerah adalah apa adanya Allah terhadap kita bagi kenikmatan kita (Yoh. 1:16‑17; 2 Kor. 12:9; 1 Kor. 15:10). Yohanes 1:17 mengatakan bahwa hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran (realitas) datang dari Yesus Kristus. Dalam 1 Korintus 15:10 Paulus mengatakan bahwa ia bekerja lebih keras daripada rasul‑rasul lainnya, tetapi bukan dia, melainkan anugerah Allah yang menyertainya. Galatia 2:20 sejajar dengan 1 Korintus 15:10. Galatia 2:20 mengatakan, "Tetapi bukan aku, melainkan Kristus". sedang 1 Korintus 15:10 mengatakan, "Tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku." Ini menunjukkan bahwa anugerah adalah Kristus itu sendiri. Bagian lain dari Perjanjian Baru juga menekankan anugerah. Sebagai contoh, "Anugerah Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian" (2 Kor. 13:13). Selain itu, Paulus mengawali semua surat kirimannya dengan menyebut anugerah; ia pun mengakhirinya dengan kata‑kata tentang anugerah. "Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara‑saudara! Amin" (Gal. 6:18). "Tuhan menyertai rohmu. Anugerah‑Nya menyertai kamu!" (2 Tim. 4:22). Dalam ayat ini Kristus paralel dengan anugerah. Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kita sama dengan anugerah menyertai roh kita. Ini menunjukkan bahwa anugerah pada hakekatnya sama dengan Kristus. Ketika kita memiliki Kristus, kita memiliki anugerah. Ketika Kristus tiba, anugerah pun tiba. Inilah sebabnya Yohanes 1:17 mengatakan bahwa anugerah datang dari Yesus Kristus, menunjukkan bahwa anugerah agak mirip dengan seseorang. Anugerah dipersonifikasikan sebagai seorang manusia. Personifikasi anugerah ini tak lain ialah Allah sendiri.
Walau hal ini bagi sementara orang kedengarannya agak asing, namun ini adalah fakta. Mengenai anugerah, jika Anda memasuki roh dalam Perjanjian Baru, Anda akan nampak bahwa sedikit atau banyak anugerah memang dipersonifikasikan. Tatkala Paulus berkata, "Bukan aku, melainkan anugerah Allah", anugerah merupakan satu persona hidup baginya. Dalam Paulus, ada satu Persona menjadi anugerah untuk bekerja keras. Karena itu, anugerah sesungguhnya adalah Allah itu sendiri; yaitu apa adanya Allah terhadap kita bagi kenikmatan kita. Ketika Allah telah kita nikmati, itulah anugerah. Anugerah adalah Allah sendiri, yang menjadi bagian kita di dalam Yesus Kristus Anak‑Nya, agar kita dapat menikmati segala apa ada‑Nya.
Allah itu kasih. Bila kita tidak menikmati‑Nya sebagai kasih, kita tidak memiliki anugerah. Tetapi jika kita menikmati Allah sebagai kasih, kita memiliki anugerah. Sekali lagi saya katakan, anugerah ialah apa adanya Allah terhadap kita sebagai bagian kita, untuk kenikmatan kita. Kita seharusnya tidak hanya menyanyikan, bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia‑Nya, tetapi juga anugerah‑Nya. Kita perlu mengubah beberapa lagu tentang Allah menjadi anugerah kita, untuk mengekspresikan bahwa Allah itu untuk kenikmatan kita. Jika kita memuji Allah hanya untuk kasih setia atau belas kasih‑Nya, berarti kita tetap berada di taraf Sekolah Dasar. Kita perlu maju terus, dari kasih setia kepada anugerah Allah. Anugerah terbit dari belas kasih, seperti halnya Sekolah Menengah sebagai lanjutan Sekolah Dasar. Setelah tamat Sekolah Dasar, kita harus meneruskan ke Sekolah Menengah. Kita perlu maju terus, jangan selalu tertinggal di Sekolah Dasar. Namun hari ini banyak orang Kristen, sekalipun telah bertahun‑tahun lamanya menjadi orang Kristen, tetap saja tertinggal di tahap Sekolah Dasar. Marilah kita maju terus menuju tingkat yang lebih tinggi, dan memuji Allah karena anugerah‑Nya.
Walau hal ini bagi sementara orang kedengarannya agak asing, namun ini adalah fakta. Mengenai anugerah, jika Anda memasuki roh dalam Perjanjian Baru, Anda akan nampak bahwa sedikit atau banyak anugerah memang dipersonifikasikan. Tatkala Paulus berkata, "Bukan aku, melainkan anugerah Allah", anugerah merupakan satu persona hidup baginya. Dalam Paulus, ada satu Persona menjadi anugerah untuk bekerja keras. Karena itu, anugerah sesungguhnya adalah Allah itu sendiri; yaitu apa adanya Allah terhadap kita bagi kenikmatan kita. Ketika Allah telah kita nikmati, itulah anugerah. Anugerah adalah Allah sendiri, yang menjadi bagian kita di dalam Yesus Kristus Anak‑Nya, agar kita dapat menikmati segala apa ada‑Nya.
Allah itu kasih. Bila kita tidak menikmati‑Nya sebagai kasih, kita tidak memiliki anugerah. Tetapi jika kita menikmati Allah sebagai kasih, kita memiliki anugerah. Sekali lagi saya katakan, anugerah ialah apa adanya Allah terhadap kita sebagai bagian kita, untuk kenikmatan kita. Kita seharusnya tidak hanya menyanyikan, bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia‑Nya, tetapi juga anugerah‑Nya. Kita perlu mengubah beberapa lagu tentang Allah menjadi anugerah kita, untuk mengekspresikan bahwa Allah itu untuk kenikmatan kita. Jika kita memuji Allah hanya untuk kasih setia atau belas kasih‑Nya, berarti kita tetap berada di taraf Sekolah Dasar. Kita perlu maju terus, dari kasih setia kepada anugerah Allah. Anugerah terbit dari belas kasih, seperti halnya Sekolah Menengah sebagai lanjutan Sekolah Dasar. Setelah tamat Sekolah Dasar, kita harus meneruskan ke Sekolah Menengah. Kita perlu maju terus, jangan selalu tertinggal di Sekolah Dasar. Namun hari ini banyak orang Kristen, sekalipun telah bertahun‑tahun lamanya menjadi orang Kristen, tetap saja tertinggal di tahap Sekolah Dasar. Marilah kita maju terus menuju tingkat yang lebih tinggi, dan memuji Allah karena anugerah‑Nya.
II. KEMULIAAN ANUGERAH ALLAH BERARTI ALLAH DIEKSPRESIKAN DALAM ANUGERAH‑NYA
Kini kita perlu membahas apa itu kemuliaan anugerah Allah. Boleh jadi Anda telah sering membaca Kitab Efesus tanpa memperhatikan ungkapan "kemuliaan anugerah‑Nya" ini. Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Kristus, Anak Allah, adalah cahaya kemuliaan Allah. Allah mempunyai satu kemuliaan, dan cahaya atau pancaran kemuliaan‑Nya ialah Anak‑Nya. Jika Anda mempelajari dengan seksama perihal kemuliaan dalam Alkitab, Anda akan mengetahui bahwa kemuliaan adalah Allah yang terekspresi. Bila Allah terekspresi, itulah kemuliaan. Kita boleh mengambil listrik sebagai contoh. Listrik itu tersembunyi, tetapi bila diekspresikan sebagai terang, terang itu adalah kemuliaan listrik. Begitu pula, bila Allah tersembunyi, kita tidak dapat nampak kemuliaan‑Nya, tetapi bila la terekspresi, kemuliaan‑Nya ternyatakan. Karena itu, kemuliaan berarti Allah terekspresi. Begitu didirikan, tabernakel dipenuhi oleh kemuliaan Allah (Kel. 40:34). Kemuliaan itu adalah ekspresi Allah. Seprinsip dengan ini, Anak Allah datang sebagai cahaya kemuliaan Allah Yang berarti Dia adalah ekspresi Allah. Tidak ada seorang pun Yang pernah melihat Allah, tetapi kita telah nampak kemuliaan Anak Tunggal‑Nya.
Kemuliaan anugerah Allah menandakan bahwa anugerah Allah, Yang adalah diri‑Nya sendiri sebagai kenikmatan kita, mengekspresikan Dia. Allah terekspresikan dalam anugerah‑Nya, dan penentuan‑Nya adalah untuk pujian ekspresi ini. Ketika kita menerima anugerah dan menikmati Allah, kita memiliki perasaan mulia, walaupun kita mungkin tidak mempunyai kata‑kata untuk mengekspresikan perasaan itu. Kadang kala setelah selesai suatu sidang Yang indah, kita dipenuhi oleh anugerah dan kita berkata, "Alangkah mulianya!" Ini berarti Allah terekspresi dalam anugerah‑Nya.
Ketika kita nampak bahwa kita telah dipilih untuk menjadi kudus dan ditentukan untuk keputraan, nampak bahwa kita memiliki Roh Anak, hayat Anak dan kedudukan Anak, dan nampak bahwa kita akan diserupakan dengan gambar Anak, memiliki kesempurnaan keputraan, penebusan tubuh, dan mewarisi keputraan Yang sempurna, kita akan berseru, "Oh, alangkah mulianya!" Kita perlu merenungkan keenam perkara ini sambil berdoa: Roh Anak, hayat Anak, kedudukan Anak, gambar Anak, kesempurnaan keputraan, dan warisan keputraan. Bila Anda berbuat demikian, Anda akan berada dalam kemuliaan dan memuji Allah atas keputraan.
Kini kita perlu membahas apa itu kemuliaan anugerah Allah. Boleh jadi Anda telah sering membaca Kitab Efesus tanpa memperhatikan ungkapan "kemuliaan anugerah‑Nya" ini. Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Kristus, Anak Allah, adalah cahaya kemuliaan Allah. Allah mempunyai satu kemuliaan, dan cahaya atau pancaran kemuliaan‑Nya ialah Anak‑Nya. Jika Anda mempelajari dengan seksama perihal kemuliaan dalam Alkitab, Anda akan mengetahui bahwa kemuliaan adalah Allah yang terekspresi. Bila Allah terekspresi, itulah kemuliaan. Kita boleh mengambil listrik sebagai contoh. Listrik itu tersembunyi, tetapi bila diekspresikan sebagai terang, terang itu adalah kemuliaan listrik. Begitu pula, bila Allah tersembunyi, kita tidak dapat nampak kemuliaan‑Nya, tetapi bila la terekspresi, kemuliaan‑Nya ternyatakan. Karena itu, kemuliaan berarti Allah terekspresi. Begitu didirikan, tabernakel dipenuhi oleh kemuliaan Allah (Kel. 40:34). Kemuliaan itu adalah ekspresi Allah. Seprinsip dengan ini, Anak Allah datang sebagai cahaya kemuliaan Allah Yang berarti Dia adalah ekspresi Allah. Tidak ada seorang pun Yang pernah melihat Allah, tetapi kita telah nampak kemuliaan Anak Tunggal‑Nya.
Kemuliaan anugerah Allah menandakan bahwa anugerah Allah, Yang adalah diri‑Nya sendiri sebagai kenikmatan kita, mengekspresikan Dia. Allah terekspresikan dalam anugerah‑Nya, dan penentuan‑Nya adalah untuk pujian ekspresi ini. Ketika kita menerima anugerah dan menikmati Allah, kita memiliki perasaan mulia, walaupun kita mungkin tidak mempunyai kata‑kata untuk mengekspresikan perasaan itu. Kadang kala setelah selesai suatu sidang Yang indah, kita dipenuhi oleh anugerah dan kita berkata, "Alangkah mulianya!" Ini berarti Allah terekspresi dalam anugerah‑Nya.
Ketika kita nampak bahwa kita telah dipilih untuk menjadi kudus dan ditentukan untuk keputraan, nampak bahwa kita memiliki Roh Anak, hayat Anak dan kedudukan Anak, dan nampak bahwa kita akan diserupakan dengan gambar Anak, memiliki kesempurnaan keputraan, penebusan tubuh, dan mewarisi keputraan Yang sempurna, kita akan berseru, "Oh, alangkah mulianya!" Kita perlu merenungkan keenam perkara ini sambil berdoa: Roh Anak, hayat Anak, kedudukan Anak, gambar Anak, kesempurnaan keputraan, dan warisan keputraan. Bila Anda berbuat demikian, Anda akan berada dalam kemuliaan dan memuji Allah atas keputraan.
III. PUJIAN ATAS KEMULIAAN ANUGERAH ALLAH ADALAH PUJIAN TINGGI ATAS TEREKSPRESINYA ALLAH DALAM ANUGERAH‑NYA
Kita telah nampak bahwa anugerah itu berarti Allah sendiri menjadi kenikmatan kita, kemuliaan berarti terekspresinya Allah, dan kemuliaan anugerah Allah berarti Allah diekspresikan dalam kenikmatan kita terhadapNya. Sekarang kita harus meninjau aspek yang tersulit dalam berita ini, yaitu makna pujian dalam ayat 6. Apa maksud pujian kemuliaan anugerah Allah? Pernahkah Anda memuji Allah karena keputraan? Kita, anak‑anak Allah, tidak banyak memuji‑muji Allah. Biasanya kita bersyukur kepada‑Nya saja. Ketika kita mengatakan, "Puji Tuhan," maksud kita sering berarti, "Syukur kepada Tuhan". Bersyukur kepada Allah berarti kita berterima kasih untuk suatu kebaikan Allah. Tetapi tatkala kita memuji Allah, itu terutama berarti memuji‑Nya atas apa ada‑Nya atau perbuatan‑Nya, tidak peduli kita menerima suatu kebaikan dari Dia atau tidak. Dalam memuji Allah Anda harus melupakan diri sendiri dan keluar dari diri sendiri. Ketika Anda benar‑benar memuji Allah, seolah‑olah diri Anda sendiri tidak ada. Anda hanya nampak apa adanya Allah dan apa yang Dia lakukan.
Karena itu, Anda memuji‑Nya dan mengatakan kata‑kata indah tentang Dia. Dengan perumpamaan yang ekstrem, seandainya Allah menyuruh Anda turun ke neraka, dapatkah Anda memuji‑Nya? Jika Anda benar‑benar mengenal Allah, Anda dapat berkata, "Ya Allah, sekalipun Engkau menyuruh aku turun ke neraka, aku akan tetap memuji‑Mu, sebab Engkau adalah Allah." Oh, betapa perlunya kita belaJar memuji‑Nya!
Kita telah nampak bahwa anugerah itu berarti Allah sendiri menjadi kenikmatan kita, kemuliaan berarti terekspresinya Allah, dan kemuliaan anugerah Allah berarti Allah diekspresikan dalam kenikmatan kita terhadapNya. Sekarang kita harus meninjau aspek yang tersulit dalam berita ini, yaitu makna pujian dalam ayat 6. Apa maksud pujian kemuliaan anugerah Allah? Pernahkah Anda memuji Allah karena keputraan? Kita, anak‑anak Allah, tidak banyak memuji‑muji Allah. Biasanya kita bersyukur kepada‑Nya saja. Ketika kita mengatakan, "Puji Tuhan," maksud kita sering berarti, "Syukur kepada Tuhan". Bersyukur kepada Allah berarti kita berterima kasih untuk suatu kebaikan Allah. Tetapi tatkala kita memuji Allah, itu terutama berarti memuji‑Nya atas apa ada‑Nya atau perbuatan‑Nya, tidak peduli kita menerima suatu kebaikan dari Dia atau tidak. Dalam memuji Allah Anda harus melupakan diri sendiri dan keluar dari diri sendiri. Ketika Anda benar‑benar memuji Allah, seolah‑olah diri Anda sendiri tidak ada. Anda hanya nampak apa adanya Allah dan apa yang Dia lakukan.
Karena itu, Anda memuji‑Nya dan mengatakan kata‑kata indah tentang Dia. Dengan perumpamaan yang ekstrem, seandainya Allah menyuruh Anda turun ke neraka, dapatkah Anda memuji‑Nya? Jika Anda benar‑benar mengenal Allah, Anda dapat berkata, "Ya Allah, sekalipun Engkau menyuruh aku turun ke neraka, aku akan tetap memuji‑Mu, sebab Engkau adalah Allah." Oh, betapa perlunya kita belaJar memuji‑Nya!
IV. ALLAH MENENTUKAN KITA UNTUK KEPUTRAAN BAGI KETERPUJIAN EKSPRESI ALLAH DI DALAM ANUGERAH‑NYA
Allah menentukan kita untuk keputraan bagi kepujian ekspresi‑Nya di dalam anugerah‑Nya. Mungkin para malaikat adalah yang pertama‑tama memuji Allah atas keputraan kita. Ketika para malaikat memuji Allah atas keputraan kita, setan‑setan akan terkejut dan berkata, "Astaga, orang‑orang dosa yang kita kuasai bisa menjadi anak‑anak Allah!" Bukan hanya para malaikat memuji Allah atas keputraan kita, tetapi juga setiap perkara yang positif dalam alam semesta akan memuji Dia. Hal ini akan terjadi pada saat anak‑anak Allah dinyatakan (Rm. 8:19). Dewasa ini semua makhluk sedang berkeluhkesah di bawah perbudakan, dan menantikan manifestasi anak‑anak Allah. Ketika hal 1tu terjadi, alam semesta akan memuji Allah. Jadi, Efesus 1:6 akan tergenap kelak pada saat Roma 8:19 itu. Pada waktu itu seluruh perkara yang positif dalam alam semesta akan memuji Allah, sebab kemuliaan anugerah Allah akan tertampak dalam manifestasi anak‑anak Allah. Kita, anak‑anak Allah, mungkin akan tercengang melihat puji‑pujian yang dipersembahkan para malaikat kepada Allah, karena mereka memuji‑muji Allah atas keputraan kita. Itulah pujian terhadap kemuliaan anugerah Allah.
Keputraan sangatlah bermakna. Berdasarkan Roma 8, alam semesta sedang menantikan manifestasi anakanak Allah. Kemerdekaan seluruh makhluk dari perhambaan kebinasaan tergantung pada manifestasi kita. Saya ulangi, pada saat manifestasi itu, barulah Efesus 1:6 tergenap.
Keputraan sangatlah bermakna. Berdasarkan Roma 8, alam semesta sedang menantikan manifestasi anakanak Allah. Kemerdekaan seluruh makhluk dari perhambaan kebinasaan tergantung pada manifestasi kita. Saya ulangi, pada saat manifestasi itu, barulah Efesus 1:6 tergenap.
V. ALLAH MENGARUNIAI KITA BERARTI MENEMPATKAN KITA DALAM KEDUDUKAN ANUGERAH DAN MENJADIKAN KITA SASARAN PERKENAN‑NYA
Efesus 1:6 mengatakan bahwa Allah telah "mengaruniai kita" (dikaruniakan‑Nya kepada kita). Istilah "dikaruniakan" merupakan ungkapan yang sangat tidak lazim. Allah mengaruniai kita berarti Ia menaruh kita ke dalam kedudukan anugerah, sehingga kita menjadi sasaran anugerah dan kemurahan Allah, yaitu agar kita boleh menikmati segala apa adanya Allah bagi kita. Untuk menerima sesuatu, perlu kedudukan yang tepat. Karena itu, Allah telah menaruh kita dalam anugerah‑Nya. la telah memberi kita kedudukan dalam anugerah‑Nya, agar kita menjadi sasaran anugerah. Di sini, di atas kedudukan anugerah dan sebagai sasaran anugerah, kita sepenuhnya diperkenan oleh Allah. Karena kita berada dalam kedudukan anugerah dan menjadi sasaran anugerah, maka Allah berkenan menerima kita. Perkenan‑Nya ada di dalam kita, dan kita pun bersukacita dengan Dia. Pada akhirnya, terdapatlah saling menikmati: kita menikmati Dia, Dia pun menikmati kita. Di sini, dalam anugerah, Dialah sukacita dan kepuasan kita, dan kita adalah sukacita dan kepuasan‑Nya. Semuanya ini tercakup, dalam istilah "dikaruniakan‑Nya" ini.
Hari ini kita tidak hanya berada di bawah belas kasih Allah, kita juga di atas kedudukan anugerah, menjadi sasaran anugerah‑Nya. Kita menikmati‑Nya dan juga menjadi kenikmatan‑Nya. Maka, di sini terdapat saling menyukai, saling menikmati, dan saling memuaskan. Jangan lagi menganggap diri sendiri sebagai orang berdosa, karena kita tidak lagi terikat oleh waktu dan tempat. Sebaliknya, kita berada di surga, dan dalam kekekalan. Kita juga tidak berada dalam kondisi kita ‑ kita berada dalam kesukaan hati Allah. Itulah artinya kita mengatakan Allah telah mengaruniai kita. Sebab itu, kita tidak seharusnya memandang diri sendiri lagi, tetapi harus menengadah dan menatap ke surga, ke dalam kekekalan. Jangan terlalu membicarakan atau memikirkan diri sendiri, melainkan bicarakanlah anugerah Allah, dan pikirkanlah betapa Dia telah mengaruniai kita. Allah, Yang di dalam‑Nya Dia berkenan (Mat. 3:17; 17:5). Sebab itu, dalam mengaruniai kita, Allah bertujuan menjadikan kita sasaran Yang diperkenan‑Nya. Ini mutlak adalah kesenangan bagi Allah. Dalam Kristus kita telah diberkati oleh Allah dengan segala berkat. Di dalam Dia yang dikasihi‑Nya, diperkenan‑Nya, kita diberi anugerah, kita menjadi sasaran kesukaan dan kesenangan hati Allah, sehingga kita menikmati Allah, dan Allah menikmati kita dalam anugerah. Di dalam Dia yang dikasihi‑Nya, kita juga menjadi perkenan‑Nya.
Allah berkenan kepada Dia Yang dikasihi‑Nya -AnakNya ‑ Dia pun berkenan kepada kita. Jadi, dalam ungkapan "di dalam Dia Yang dikasihi‑Nya" terkandung kesukaan, kepuasan, dan kenikmatan, Yang dimiliki Allah Bapa di dalam kita, karena kita telah menjadi sasaran anugerah dan perkenan‑Nya. Dalam pengertian ini, kita semua wajib menghargai dan menilai tinggi diri kita sendiri, karena kita adalah sasaran kesukaan Allah. Anda wajib berkata, "Karena Allah menyukai aku, aku menghargai diri sendiri. Bahkan aku menilai tinggi diriku sendiri, sebab aku telah diletakkan di atas kedudukan anugerah, dan menjadi sasaran anugerah Allah." Kita wajib mempunyai pandangan Yang sedemikian terhadap, diri sendiri; bukan menurut keadaan alami kita, tetapi menurut fakta bahwa kita telah dipilih, ditentukan, dilahirkan kembali, dan dikaruniai. Allah berkenan kepada kita, bukan di dalam diri kita sendiri, melainkan di dalam AnakNya yang terkasih.
Hari ini kita tidak hanya berada di bawah belas kasih Allah, kita juga di atas kedudukan anugerah, menjadi sasaran anugerah‑Nya. Kita menikmati‑Nya dan juga menjadi kenikmatan‑Nya. Maka, di sini terdapat saling menyukai, saling menikmati, dan saling memuaskan. Jangan lagi menganggap diri sendiri sebagai orang berdosa, karena kita tidak lagi terikat oleh waktu dan tempat. Sebaliknya, kita berada di surga, dan dalam kekekalan. Kita juga tidak berada dalam kondisi kita ‑ kita berada dalam kesukaan hati Allah. Itulah artinya kita mengatakan Allah telah mengaruniai kita. Sebab itu, kita tidak seharusnya memandang diri sendiri lagi, tetapi harus menengadah dan menatap ke surga, ke dalam kekekalan. Jangan terlalu membicarakan atau memikirkan diri sendiri, melainkan bicarakanlah anugerah Allah, dan pikirkanlah betapa Dia telah mengaruniai kita. Allah, Yang di dalam‑Nya Dia berkenan (Mat. 3:17; 17:5). Sebab itu, dalam mengaruniai kita, Allah bertujuan menjadikan kita sasaran Yang diperkenan‑Nya. Ini mutlak adalah kesenangan bagi Allah. Dalam Kristus kita telah diberkati oleh Allah dengan segala berkat. Di dalam Dia yang dikasihi‑Nya, diperkenan‑Nya, kita diberi anugerah, kita menjadi sasaran kesukaan dan kesenangan hati Allah, sehingga kita menikmati Allah, dan Allah menikmati kita dalam anugerah. Di dalam Dia yang dikasihi‑Nya, kita juga menjadi perkenan‑Nya.
Allah berkenan kepada Dia Yang dikasihi‑Nya -AnakNya ‑ Dia pun berkenan kepada kita. Jadi, dalam ungkapan "di dalam Dia Yang dikasihi‑Nya" terkandung kesukaan, kepuasan, dan kenikmatan, Yang dimiliki Allah Bapa di dalam kita, karena kita telah menjadi sasaran anugerah dan perkenan‑Nya. Dalam pengertian ini, kita semua wajib menghargai dan menilai tinggi diri kita sendiri, karena kita adalah sasaran kesukaan Allah. Anda wajib berkata, "Karena Allah menyukai aku, aku menghargai diri sendiri. Bahkan aku menilai tinggi diriku sendiri, sebab aku telah diletakkan di atas kedudukan anugerah, dan menjadi sasaran anugerah Allah." Kita wajib mempunyai pandangan Yang sedemikian terhadap, diri sendiri; bukan menurut keadaan alami kita, tetapi menurut fakta bahwa kita telah dipilih, ditentukan, dilahirkan kembali, dan dikaruniai. Allah berkenan kepada kita, bukan di dalam diri kita sendiri, melainkan di dalam AnakNya yang terkasih.
PENEBUSAN DALAM ANAK
Dalam Efesus 1:3‑14 terdapat tiga bagian: ayat 3‑6, pemilihan dan penentuan Bapa, membicarakan kehendak kekal Allah; ayat 7‑12, penebusan Anak, membicarakan penggenapan kehendak kekal. Bapa; dan ayat 13‑14, meterai dan jaminan Roh Kudus, membicarakan penerapan kehendak Allah yang telah rampung. Pertama‑tama kita mempunyai kehendak kekal Bapa, kemudian Anak menggenapkan kehendak Bapa, dan terakhir Roh Kudus menerapkan apa yang digenapkan Anak sesuai dengan kehendak Bapa. Dengan ini kita nampak bahwa Allah Tritunggal terekspresi dalam berkat‑Nya. Melalui kehendak Bapa, penggenapan Anak, dan penerapan Roh Kudus, kita menjadi gereja. Dalam berita terdahulu kita telah membahas tentang pemilihan dan penentuan Bapa. Dalam berita ini kita akan membahas penebusan Anak, yakni penebusan di dalam Anak (Ef. 1:7).
Kita telah nampak bahwa Kitab Efesus tidak berbicara dari keadaan kita, darl bumi, atau dari waktu, melainkan dari kehendak kekal Allah, dari surga, dan dari kekekalan. Karena demikian, mungkin Anda merasa heran, mengapa penebusan disinggung di sini‑ Alasannya adalah karena umat pilihan Allah telah jatuh. Menurut kehendak kekal Allah, kita telah dipilih, tetapi setelah diciptakan, kita lalu jatuh. Sebab itu, perlu ada penebusan. Melalui menebus kita, Anak telah menggenapkan kehendak Bapa.
Walaupun pasal 1 membicarakan penebusan, tetapi tidak mencatat keadaan kita yang kasihan. Hal itu terungkap sepenuhnya dalam pasal 2. Ketika kita tiba pada pasal 2, kita akan nampak betapa kasihannya keadaan kita, dan betapa kita memerlukan belas kasihan Allah. Meski pasal 1 sama sekah mulia, namun la ditujukan kepada keperluan kita akan penebusan akibat kejatuhan.
Efesus 1:7 mengatakan, "Sebab di dalam Dia kita beroleh penebusan oleh darah‑Nya, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan anugerah‑Nya." Ayat 7 adalah kelanjutan ayat 6. Seperti telah kita lihat dalam berita yang lalu, ayat 6 menyatakan bahwa kita telah menjadi obyek kesukaan Allah, karena kita telah dikaruniai di dalam Anak yang terkasih. Kata "di dalam Dia" dalam ayat 7 ditujukan kepada 'Anak yang dikasihi‑Nya" dalam ayat 6. Ini berarti kita telah ditebus di dalam Anak yang terkasih, yakni di dalam Dia yang dikasihi Allah. Karena itu, dalam pandangan Allah, penebusan bukan suatu perkara yang kasihan, melainkan satu perkara yang disukai. Walau mengatakan kita telah ditebus di dalam Kristus itu tepat, tetapi tidaklah begitu menyenangkan seperti mengatakan ditebus di dalam Anak yang terkasih. Kata "di dalam Dia yang dikasihi‑Nya" berarti di dalam perkenan Allah. Di dalam Anak yang terkasih, dalam perkenan Allah, kita telah ditebus. Hal ini merupakan keterangan lebih lanjut bahwa dalam pasal 1 tidak ada pikiran tentang keadaan kita yang kasihan; sebaliknya, pasal ini penuh dengan kesukaan. Kita telah ditebus melalui darah Anak Allah yang terkasih yang dicurahkan bagi kita di atas salib.
Menurut ayat 7, penebusan ini berarti pengampunan pelanggaran, bukan pengampunan dosa. (Kata "dosa" dalam ayat 7, menurut bahasa aslinya seharusnya diterjemahkan sebagai "pelanggaran". Red.). Pelanggaran berbeda dengan dosa. Karena catatan pasal 1 begitu manis, maka pasal ini tidak menyinggung dosa, melainkan pelanggaran. Dalam pandangan Bapa, umat pihhan‑Nya telah melakukan beberapa pelanggaran yang perlu mendapat pengampunan. Sebaliknya, pasal 2 membicarakan tentang murka dan dosa‑dosa. Dalam pasal 1 Allah Bapa membereskan pelanggaran kita. Namun, pelanggaran‑pelanggaran itu menyebabkan penebusan menjadi suatu keharusan dan darah Anak Allah yang terkasih teralir di atas salib untuk pengampunan kita. Tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan (lbr. 9:22). Maka, darah itu diperlukan. Pengampunan ini adalah berdasarkan kekayaan anugerah Allah, yang dilimpahkan‑Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian (ayat 8).
Kita telah nampak bahwa Kitab Efesus tidak berbicara dari keadaan kita, darl bumi, atau dari waktu, melainkan dari kehendak kekal Allah, dari surga, dan dari kekekalan. Karena demikian, mungkin Anda merasa heran, mengapa penebusan disinggung di sini‑ Alasannya adalah karena umat pilihan Allah telah jatuh. Menurut kehendak kekal Allah, kita telah dipilih, tetapi setelah diciptakan, kita lalu jatuh. Sebab itu, perlu ada penebusan. Melalui menebus kita, Anak telah menggenapkan kehendak Bapa.
Walaupun pasal 1 membicarakan penebusan, tetapi tidak mencatat keadaan kita yang kasihan. Hal itu terungkap sepenuhnya dalam pasal 2. Ketika kita tiba pada pasal 2, kita akan nampak betapa kasihannya keadaan kita, dan betapa kita memerlukan belas kasihan Allah. Meski pasal 1 sama sekah mulia, namun la ditujukan kepada keperluan kita akan penebusan akibat kejatuhan.
Efesus 1:7 mengatakan, "Sebab di dalam Dia kita beroleh penebusan oleh darah‑Nya, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan anugerah‑Nya." Ayat 7 adalah kelanjutan ayat 6. Seperti telah kita lihat dalam berita yang lalu, ayat 6 menyatakan bahwa kita telah menjadi obyek kesukaan Allah, karena kita telah dikaruniai di dalam Anak yang terkasih. Kata "di dalam Dia" dalam ayat 7 ditujukan kepada 'Anak yang dikasihi‑Nya" dalam ayat 6. Ini berarti kita telah ditebus di dalam Anak yang terkasih, yakni di dalam Dia yang dikasihi Allah. Karena itu, dalam pandangan Allah, penebusan bukan suatu perkara yang kasihan, melainkan satu perkara yang disukai. Walau mengatakan kita telah ditebus di dalam Kristus itu tepat, tetapi tidaklah begitu menyenangkan seperti mengatakan ditebus di dalam Anak yang terkasih. Kata "di dalam Dia yang dikasihi‑Nya" berarti di dalam perkenan Allah. Di dalam Anak yang terkasih, dalam perkenan Allah, kita telah ditebus. Hal ini merupakan keterangan lebih lanjut bahwa dalam pasal 1 tidak ada pikiran tentang keadaan kita yang kasihan; sebaliknya, pasal ini penuh dengan kesukaan. Kita telah ditebus melalui darah Anak Allah yang terkasih yang dicurahkan bagi kita di atas salib.
Menurut ayat 7, penebusan ini berarti pengampunan pelanggaran, bukan pengampunan dosa. (Kata "dosa" dalam ayat 7, menurut bahasa aslinya seharusnya diterjemahkan sebagai "pelanggaran". Red.). Pelanggaran berbeda dengan dosa. Karena catatan pasal 1 begitu manis, maka pasal ini tidak menyinggung dosa, melainkan pelanggaran. Dalam pandangan Bapa, umat pihhan‑Nya telah melakukan beberapa pelanggaran yang perlu mendapat pengampunan. Sebaliknya, pasal 2 membicarakan tentang murka dan dosa‑dosa. Dalam pasal 1 Allah Bapa membereskan pelanggaran kita. Namun, pelanggaran‑pelanggaran itu menyebabkan penebusan menjadi suatu keharusan dan darah Anak Allah yang terkasih teralir di atas salib untuk pengampunan kita. Tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan (lbr. 9:22). Maka, darah itu diperlukan. Pengampunan ini adalah berdasarkan kekayaan anugerah Allah, yang dilimpahkan‑Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian (ayat 8).
I. BERKAT KETIGA YANG ALLAH KARUNIAKAN
Ayat 4‑5 mengungkapkan bahwa kita telah dipilih dan ditentukan. Tetapi setelah diciptakan, kita jatuh. Maka, kita perlu penebusan, yang telah digenapkan Allah di dalam Kristus melalui darah‑Nya. Inilah bagian lain dari berkat yang Allah karuniakan kepada kita. Berkat pertama ialah pemilihan untuk menjadi kudus, kedua ialah ditentukan untuk menjadi anak‑anak, dan ketiga ialah penebusan di dalam Anak.
II. PENEBUSAN DALAM ANAK TERKASIH ALLAH, MEMUASKAN TUNTUTAN KEADILAN ALLAH DAN MENYUKAKAN ALLAH
Walaupun Allah menyukai kita dan menjadikan kita sasaran anugerah‑Nya, namun kita tetap memerlukan penebusan, sebab Dia adalah Allah yang adil. Bapa kita yang menyukai kita itu adil, Dia tidak dapat membiarkan ketidakbenaran, kesalahan, atau pelanggaran. Perkara-perkara semacam itu merupakan penghinaan terhadap keadilan‑Nya. Karena itu, keadilan‑Nya menyebabkan penggenapan penebusan menjadi suatu keharusan. Penebusan memenuhi tuntutan keadilan Allah dan menyukakan Allah. Allah bukan hanya Allah pengasih, Dia pun Allah yang adil; setiap perkara yang tidak benar tidak disukai‑Nya. Setiap perkara yang berhubungan denganNya harus dapat memuaskan tuntutan keadilan‑Nya. Inilah alasannya, untuk menyukakan Allah, Anak yang terkasih harus tersalib, demi menggenapkan penebusan dengan sempurna bagi umat pilihan Allah.
Walaupun Allah menyukai kita dan menjadikan kita sasaran anugerah‑Nya, namun kita tetap memerlukan penebusan, sebab Dia adalah Allah yang adil. Bapa kita yang menyukai kita itu adil, Dia tidak dapat membiarkan ketidakbenaran, kesalahan, atau pelanggaran. Perkara-perkara semacam itu merupakan penghinaan terhadap keadilan‑Nya. Karena itu, keadilan‑Nya menyebabkan penggenapan penebusan menjadi suatu keharusan. Penebusan memenuhi tuntutan keadilan Allah dan menyukakan Allah. Allah bukan hanya Allah pengasih, Dia pun Allah yang adil; setiap perkara yang tidak benar tidak disukai‑Nya. Setiap perkara yang berhubungan denganNya harus dapat memuaskan tuntutan keadilan‑Nya. Inilah alasannya, untuk menyukakan Allah, Anak yang terkasih harus tersalib, demi menggenapkan penebusan dengan sempurna bagi umat pilihan Allah.
III. MELALUI DARAH‑NYA YANG TERALIR DI ATAS SALIB BAGI DOSA‑DOSA KITA
Penebusan Anak itu melalui darah‑Nya yang teralir di atas salib bagi dosa‑dosa kita (1 Ptr. 1:18‑19). Karena kematian Anak dalam daging di atas salib telah memenuhi tuntutan keadilan Allah, maka darah‑Nya menjadi sarana penebusan kita.
Penebusan Anak itu melalui darah‑Nya yang teralir di atas salib bagi dosa‑dosa kita (1 Ptr. 1:18‑19). Karena kematian Anak dalam daging di atas salib telah memenuhi tuntutan keadilan Allah, maka darah‑Nya menjadi sarana penebusan kita.
IV. PENEBUSAN OLEH DARAH‑NYA SEBAGAI PENGAMPUNAN PELANGGARAN KITA
Penebusan Anak oleh darah‑Nya adalah pengampunan pelanggaran kita (Mat. 26:28; Ibr. 9:22). Penebusan adalah perkara yang telah Kristus genapkan untuk pelanggaran kita, sedang pengampunan adalah penerapan apa yang telah Kristus genapkan untuk pelanggaran kita. Penebusan telah dirampungkan di atas salib, sedang pengampunan diterapkan pada saat kita percaya Kristus. Penebusan dan pengampunan sebenarnya adalah dua ujung dari satu perkara. Kita telah nampak bahwa pengampunan pelanggaran adalah penebusan yang telah rampung melalui darah Kristus. Akan tetapi, untuk perihal ini dipakai dua istilah, sebab perkara ini mempunyai dua ujung: ujung yang dirampungkan di atas salib dan ujung yang diterapkan di atas diri kita pada saat kita percaya. Walaupun penebusan telah rampung di atas salib tatkala Kristus mengalirkan darah‑Nya, tetapi pada waktu itu belum diterapkan pada diri kita. Penerapan baru terjadi ketika kita percaya Kristus dan bertobat terhadap Allah yang adil. Pada saat itulah, Roh Allah menerapkan penebusan Kristus yang telah rampung di salib itu ke atas diri kita. Maka, penebusan merupakan penggenapan, sedang pengampunan merupakan penerapan.
Penebusan Anak oleh darah‑Nya adalah pengampunan pelanggaran kita (Mat. 26:28; Ibr. 9:22). Penebusan adalah perkara yang telah Kristus genapkan untuk pelanggaran kita, sedang pengampunan adalah penerapan apa yang telah Kristus genapkan untuk pelanggaran kita. Penebusan telah dirampungkan di atas salib, sedang pengampunan diterapkan pada saat kita percaya Kristus. Penebusan dan pengampunan sebenarnya adalah dua ujung dari satu perkara. Kita telah nampak bahwa pengampunan pelanggaran adalah penebusan yang telah rampung melalui darah Kristus. Akan tetapi, untuk perihal ini dipakai dua istilah, sebab perkara ini mempunyai dua ujung: ujung yang dirampungkan di atas salib dan ujung yang diterapkan di atas diri kita pada saat kita percaya. Walaupun penebusan telah rampung di atas salib tatkala Kristus mengalirkan darah‑Nya, tetapi pada waktu itu belum diterapkan pada diri kita. Penerapan baru terjadi ketika kita percaya Kristus dan bertobat terhadap Allah yang adil. Pada saat itulah, Roh Allah menerapkan penebusan Kristus yang telah rampung di salib itu ke atas diri kita. Maka, penebusan merupakan penggenapan, sedang pengampunan merupakan penerapan.
V. MENURUT KEKAYAAN ANUGERAH‑NYA
Ayat 7 menerangkan bahwa penebusan itu berdasarkan kekayaan anugerah Allah. Menurut konsepsi kita, Allah sangat mudah mengampuni kita, sebab Dia Mahakuasa dan berdaulat. Namun, kenyataannya tidak begitu mudah. Penggenapan penebusan adalah satu perkara yang amat besar, penting, dan serius. Karena keseriusannya, untuk ini diperlukan kekayaan anugerah Allah.
Kini kita perlu melihat mengapa penebusan memerlukan kekayaan anugerah Allah. Alkitab mengatakan, tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Karena itu, darah harus teralir, agar kita bisa beroleh pengampunan. Tetapi, dalam hal ini darah binatang tidak berguna (Ibr. 10:4). Darah kurban binatang hanya merupakan lambang. Untuk penggenapan penebusan yang sejati, perlu darah yang berasal dari hayat yang lebih tinggi, yaitu darah yang sama sekali tidak berdosa. Dari manakah Allah bisa memperoleh darah semacam ini di antara umat manusia? Tidak mungkin, sebab seluruh umat manusia telah berdosa. Di antara manusia yang telah jatuh tidak ada darah yang tanpa dosa. Lagi pula, orang pilihan Allah berjumlah jutaan. Jika suatu kurban penghapus dosa harus dipersembahkan untuk setiap orang, tentu harus ada jutaan kurban pula. Maka selain darah yang sempurna dan tanpa dosa, perlu pula ada satu kurban penghapus dosa yang mampu mencakup jutaan orang. Hal ini menunjukkan bahwa darah yang olehnya penebusan dirampungkan bukan hanya harus tanpa dosa, bahkan harus berfungsi almuhit, dapat menebus jutaan orang pilihan Allah. Hanya Yesus Kristus yang dapat menjadi kurban penghapus dosa dengan mengalirkan darah‑Nya yang tanpa dosa bagi jutaan orang pilihan. Dengan penumpahan darah‑Nya yang sekali di salib itu penebusan kekal bagi orang pilihan Allah dirampungkan sekali untuk selama‑lamanya (Ibr. 9:28; 10:10, 12).
Sekarang kita perlu, meninjau bagaimana Allah memperoleh darah yang tanpa dosa dan almuhit ini. Untuk memperoleh darah yang sedemikian jauh lebih sulit darlpada menciptakan alam semesta. Untuk menciptakan alam semesta, Allah cukup berfirman. MisaInya Dia berfirman, "Jadilah terang", maka terang itu jadi (Kej. 1:3). Tetapi, penebusan tidak mungkin terjadi secara demikian. Allah tidak dapat hanya berfirman, "Jadilah penebusan." Untuk menciptakan alam semesta, Allah tidak memerlukan anugerah, tetapi untuk merampungkan penebusan, diperlukan kekayaan anugerah Allah.
Coba pikirkan bagaimana Sang Penebus, Tuhan Yesus, terkandung. Untuk hal ini Roh Kudus perlu berkontak dengan anak dara Maria. Kita tidak dapat menjelaskan bagaimana Roh Kudus membuat Sang Penebus terkandung di dalam rahim seorang dara. Untuk ini, perlu kekayaan anugerah Allah. Menurut Lukas 1:35, anak yang dikandung dalam Maria oleh Roh Kudus itu disebut "kudus". Hal ini menunjukkan bahwa terkandungnya Tuhan Yesus mutlak suatu perkara. yang kudus. (Kekudusan ditujukan kepada sesuatu yang terkandung dari Roh Kudus). "Benda kudus" ini berada dalam rahim Maria selama sembilan bulan. Siapakah yang dapat menerangkan berapa banyak anugerah yang dibutuhkan untuk ini? Betapa besar anugerah yang diperlukan bagi Yesus, Yehova Juruselamat, untuk tinggal di dalam rahim selama 9 bulan!
Tuhan Yesus bekerja sebagai tukang kayu hingga berusia 30 tahun. Betapa besarnya anugerah yang dibutuhkan oleh seorang yang bernama Imanuel, Allah menyertai kita, untuk bekerja sebagai tukang kayu selama bertahun‑tahun. Terakhir, Dia muncul menunaikan ministri‑Nya selama tiga setengah tahun. Walaupun Dia begitu prihatin terhadap orang dosa, tetapi mereka menentang‑Nya, menganiaya‑Nya, bahkan bersekongkol untuk membunuh‑Nya. Dia dikhianati oleh seorang muridNya dan ditangkap. Dia sebenarnya bukan ditangkap, melainkan menyerahkan diri‑Nya kepada mereka yang datang mencari‑Nya. Dia bisa memohon kepada Bapa untuk mengutus dua belas pasukan malaikat untuk menolong‑Nya, namun Dia tidak mau (Mat. 26:53). Setelah ditangkap, Dia diadili di hadapan Imam Besar, Pilatus, dan Herodes. Setelah itu Dia dipaku di atas salib, dan digantung selama 6 jam; dari pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore. Betapa besar anugerah yang diperlukan untuk semuanya itu! Tuhan Yesus mati bagi dosa kita di atas salib. Lalu Dia dimakamkan, dibangkitkan, dan diangkat ke surga untuk mendatangkan pertobatan dan pengampunan (Kis. 5:31). Karena kekayaan anugerah Allah, kita dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Janganlah mengira pertobatan Anda berasal dari Anda sendiri. Tidak, Allah Bapalah yang mengaruniakan pertobatan kepada Anak, Sang Penebus, dan Dialah yang memberikannya kepada Anda melalui Roh itu. Selain pertobatan, kita pun menerima pengampunan. Semua ini adalah berdasarkan kekayaan anugerah‑Nya. Alangkah tak terbatas dan tak terukur anugerah Allah ini!
Ayat 7 menerangkan bahwa penebusan itu berdasarkan kekayaan anugerah Allah. Menurut konsepsi kita, Allah sangat mudah mengampuni kita, sebab Dia Mahakuasa dan berdaulat. Namun, kenyataannya tidak begitu mudah. Penggenapan penebusan adalah satu perkara yang amat besar, penting, dan serius. Karena keseriusannya, untuk ini diperlukan kekayaan anugerah Allah.
Kini kita perlu melihat mengapa penebusan memerlukan kekayaan anugerah Allah. Alkitab mengatakan, tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Karena itu, darah harus teralir, agar kita bisa beroleh pengampunan. Tetapi, dalam hal ini darah binatang tidak berguna (Ibr. 10:4). Darah kurban binatang hanya merupakan lambang. Untuk penggenapan penebusan yang sejati, perlu darah yang berasal dari hayat yang lebih tinggi, yaitu darah yang sama sekali tidak berdosa. Dari manakah Allah bisa memperoleh darah semacam ini di antara umat manusia? Tidak mungkin, sebab seluruh umat manusia telah berdosa. Di antara manusia yang telah jatuh tidak ada darah yang tanpa dosa. Lagi pula, orang pilihan Allah berjumlah jutaan. Jika suatu kurban penghapus dosa harus dipersembahkan untuk setiap orang, tentu harus ada jutaan kurban pula. Maka selain darah yang sempurna dan tanpa dosa, perlu pula ada satu kurban penghapus dosa yang mampu mencakup jutaan orang. Hal ini menunjukkan bahwa darah yang olehnya penebusan dirampungkan bukan hanya harus tanpa dosa, bahkan harus berfungsi almuhit, dapat menebus jutaan orang pilihan Allah. Hanya Yesus Kristus yang dapat menjadi kurban penghapus dosa dengan mengalirkan darah‑Nya yang tanpa dosa bagi jutaan orang pilihan. Dengan penumpahan darah‑Nya yang sekali di salib itu penebusan kekal bagi orang pilihan Allah dirampungkan sekali untuk selama‑lamanya (Ibr. 9:28; 10:10, 12).
Sekarang kita perlu, meninjau bagaimana Allah memperoleh darah yang tanpa dosa dan almuhit ini. Untuk memperoleh darah yang sedemikian jauh lebih sulit darlpada menciptakan alam semesta. Untuk menciptakan alam semesta, Allah cukup berfirman. MisaInya Dia berfirman, "Jadilah terang", maka terang itu jadi (Kej. 1:3). Tetapi, penebusan tidak mungkin terjadi secara demikian. Allah tidak dapat hanya berfirman, "Jadilah penebusan." Untuk menciptakan alam semesta, Allah tidak memerlukan anugerah, tetapi untuk merampungkan penebusan, diperlukan kekayaan anugerah Allah.
Coba pikirkan bagaimana Sang Penebus, Tuhan Yesus, terkandung. Untuk hal ini Roh Kudus perlu berkontak dengan anak dara Maria. Kita tidak dapat menjelaskan bagaimana Roh Kudus membuat Sang Penebus terkandung di dalam rahim seorang dara. Untuk ini, perlu kekayaan anugerah Allah. Menurut Lukas 1:35, anak yang dikandung dalam Maria oleh Roh Kudus itu disebut "kudus". Hal ini menunjukkan bahwa terkandungnya Tuhan Yesus mutlak suatu perkara. yang kudus. (Kekudusan ditujukan kepada sesuatu yang terkandung dari Roh Kudus). "Benda kudus" ini berada dalam rahim Maria selama sembilan bulan. Siapakah yang dapat menerangkan berapa banyak anugerah yang dibutuhkan untuk ini? Betapa besar anugerah yang diperlukan bagi Yesus, Yehova Juruselamat, untuk tinggal di dalam rahim selama 9 bulan!
Tuhan Yesus bekerja sebagai tukang kayu hingga berusia 30 tahun. Betapa besarnya anugerah yang dibutuhkan oleh seorang yang bernama Imanuel, Allah menyertai kita, untuk bekerja sebagai tukang kayu selama bertahun‑tahun. Terakhir, Dia muncul menunaikan ministri‑Nya selama tiga setengah tahun. Walaupun Dia begitu prihatin terhadap orang dosa, tetapi mereka menentang‑Nya, menganiaya‑Nya, bahkan bersekongkol untuk membunuh‑Nya. Dia dikhianati oleh seorang muridNya dan ditangkap. Dia sebenarnya bukan ditangkap, melainkan menyerahkan diri‑Nya kepada mereka yang datang mencari‑Nya. Dia bisa memohon kepada Bapa untuk mengutus dua belas pasukan malaikat untuk menolong‑Nya, namun Dia tidak mau (Mat. 26:53). Setelah ditangkap, Dia diadili di hadapan Imam Besar, Pilatus, dan Herodes. Setelah itu Dia dipaku di atas salib, dan digantung selama 6 jam; dari pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore. Betapa besar anugerah yang diperlukan untuk semuanya itu! Tuhan Yesus mati bagi dosa kita di atas salib. Lalu Dia dimakamkan, dibangkitkan, dan diangkat ke surga untuk mendatangkan pertobatan dan pengampunan (Kis. 5:31). Karena kekayaan anugerah Allah, kita dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Janganlah mengira pertobatan Anda berasal dari Anda sendiri. Tidak, Allah Bapalah yang mengaruniakan pertobatan kepada Anak, Sang Penebus, dan Dialah yang memberikannya kepada Anda melalui Roh itu. Selain pertobatan, kita pun menerima pengampunan. Semua ini adalah berdasarkan kekayaan anugerah‑Nya. Alangkah tak terbatas dan tak terukur anugerah Allah ini!
A. Anugerah Allah yang Berlimpah Telah Menggenapkan Penebusan bagi Kita dan Menerapkan Pengampunan atas Kita
Anugerah Allah yang berlimpah telah menggenapkan penebusan bagi kita dan telah menerapkan pengampunan atas kita. Melalui inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan Kristus, genaplah sudah penebusan itu. Setelah naik ke surga, dan mendatangkan pertobatan dan pengampunan, kini Dia menerapkan pengampunan itu atas diri kita. Hal ini berdasarkan kekayaan anugerah Allah.
Anugerah Allah yang berlimpah telah menggenapkan penebusan bagi kita dan telah menerapkan pengampunan atas kita. Melalui inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan Kristus, genaplah sudah penebusan itu. Setelah naik ke surga, dan mendatangkan pertobatan dan pengampunan, kini Dia menerapkan pengampunan itu atas diri kita. Hal ini berdasarkan kekayaan anugerah Allah.
B. Penebusan dan Pengampunan Sesuai dengan Keadilan Allah, tetapi Digenapkan dan Diterapkan oleh Kekayaan Anugerah Allah
Penebusan dan pengampunan sesuai dengan keadilan Allah, namun digenapkan dan diterapkan oleh kekayaan anugerah Allah. Ini berarti keadilan Allah, yaitu cara Allah melakukan sesuatu, dan anugerah, yaitu Allah sendiri yang disalurkan ke dalam umat pilihan‑Nya, telah diterapkan hingga mencapai titik tertinggi.
Penebusan dan pengampunan sesuai dengan keadilan Allah, namun digenapkan dan diterapkan oleh kekayaan anugerah Allah. Ini berarti keadilan Allah, yaitu cara Allah melakukan sesuatu, dan anugerah, yaitu Allah sendiri yang disalurkan ke dalam umat pilihan‑Nya, telah diterapkan hingga mencapai titik tertinggi.
VI. MEMBUAT ANUGERAH ALLAH DILIMPAHKAN KEPADA KITA
Efesus 1:8 mengatakan, bahwa anugerah Allah ”dilimpahkan‑Nya kepada kita". Anugerah Allah bukan hanya kaya, tetapi juga limpah. Banyak orang Kristen mengetahui tentang "anugerah yang mengagumkan", tetapi tidak mengetahui tentang anugerah yang melimpah. Untuk memahami anugerah yang melimpah, perlu wahyu. Anugerah ini menjadikan kita warisan bagi Allah (ayat 11), dan melayakkan kita mewarisi segala apa adanya Allah (ayat 14). Dengan kata lain, anugerah yang melimpah ini pada satu aspek membuat kita menjadi warisan Allah, pada aspek lain membuat Allah menjadi warisan kita. Ini jauh lebih besar daripada sekadar beroleh selamatnya orang dosa atau naik ke surga. Konsepsi tentang beroleh selamat masuk ke surga sangatlah alamiah. Kita perlu nampak anugerah yang melimpah, yang menjadikan kita warisan Allah, dan yang melayakkan kita mewarisi segala apa adanya Allah.
Efesus 1:8 mengatakan, bahwa anugerah Allah ”dilimpahkan‑Nya kepada kita". Anugerah Allah bukan hanya kaya, tetapi juga limpah. Banyak orang Kristen mengetahui tentang "anugerah yang mengagumkan", tetapi tidak mengetahui tentang anugerah yang melimpah. Untuk memahami anugerah yang melimpah, perlu wahyu. Anugerah ini menjadikan kita warisan bagi Allah (ayat 11), dan melayakkan kita mewarisi segala apa adanya Allah (ayat 14). Dengan kata lain, anugerah yang melimpah ini pada satu aspek membuat kita menjadi warisan Allah, pada aspek lain membuat Allah menjadi warisan kita. Ini jauh lebih besar daripada sekadar beroleh selamatnya orang dosa atau naik ke surga. Konsepsi tentang beroleh selamat masuk ke surga sangatlah alamiah. Kita perlu nampak anugerah yang melimpah, yang menjadikan kita warisan Allah, dan yang melayakkan kita mewarisi segala apa adanya Allah.
VII. DENGAN SEGALA HIKMAT DAN KEBIJAKSANAAN
Ayat 8 mengatakan bahwa kekayaan kasih karunia Allah telah dilimpahkan kepada kita dengan segala hikmat dan pengertian (kebijaksanaan). Hikmat adalah apa yang ada di dalam Allah untuk merencanakan dan menetapkan suatu kehendak tentang kita; pengertian (kebijaksanaan) adalah penerapan hikmat Allah. Pertama-tama, Allah merencanakan dan menetapkan kehendak di dalam hikmat‑Nya, kemudian dengan kebijaksanaan Dia menerapkan apa yang telah la rencanakan dan tetapkan bagi kita. Hikmat terutama bagi rencana Allah dalam kekekalan, dan kebijaksanaan terutama bagi pelaksanaan rencana Allah di dalam waktu. Apa yang di dalam hikmat‑Nya Allah rencanakan dalam kekekalan, sekarang dalam kebijaksanaan‑Nya dilaksanakan‑Nya di dalam waktu. Dengan kebijaksanaan‑Nya, Allah telah membawa kita kepada diri‑Nya sendiri serta ke dalam pemulihanNya. Kini melalui pelaksanaan kebijaksanaan‑Nya, Dia sedang menerapkan setiap perkara yang berhubungan dengan kita yang telah dirancang‑Nya dalam kekekalan itu ke atas diri kita.
Ayat 8 mengatakan bahwa kekayaan kasih karunia Allah telah dilimpahkan kepada kita dengan segala hikmat dan pengertian (kebijaksanaan). Hikmat adalah apa yang ada di dalam Allah untuk merencanakan dan menetapkan suatu kehendak tentang kita; pengertian (kebijaksanaan) adalah penerapan hikmat Allah. Pertama-tama, Allah merencanakan dan menetapkan kehendak di dalam hikmat‑Nya, kemudian dengan kebijaksanaan Dia menerapkan apa yang telah la rencanakan dan tetapkan bagi kita. Hikmat terutama bagi rencana Allah dalam kekekalan, dan kebijaksanaan terutama bagi pelaksanaan rencana Allah di dalam waktu. Apa yang di dalam hikmat‑Nya Allah rencanakan dalam kekekalan, sekarang dalam kebijaksanaan‑Nya dilaksanakan‑Nya di dalam waktu. Dengan kebijaksanaan‑Nya, Allah telah membawa kita kepada diri‑Nya sendiri serta ke dalam pemulihanNya. Kini melalui pelaksanaan kebijaksanaan‑Nya, Dia sedang menerapkan setiap perkara yang berhubungan dengan kita yang telah dirancang‑Nya dalam kekekalan itu ke atas diri kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar