Sabtu, 09 April 2011

KATA PENGANTAR KITAB EFESUS

Berita pertama ini merupakan kata pengantar Kitab Efesus. Walaupun ini hanya kata pengantar, namun di sini kita akan membahas perkara yang amat penting, menentukan, dan berbobot.

1. POKOK ‑ GEREJA
A. Tubuh 
Pokok Kitab Efesus ialah gereja. Kitab Efesus mem­bahas tujuh aspek gereja. Aspek pertama ialah gereja se­bagai Tubuh Kristus, kepenuhan‑Nya yang memenuhi se­gala sesuatu di dalam segala sesuatu. Jika seorang yang hidup ingin menjadi sempurna, ia harus memiliki satu tubuh sebagai ekspresinya. Tubuh Kristus ialah kepe­nuhan‑Nya, yang memenuhi segalanya di dalam segala­nya.

Orang Kristen hari ini telah menyalahgunakan, me­nyalahpahami, dan menyalah tafsirkan istilah "kepenuh­an" ini. Kebanyakan guru Kristen mengira kepenuhan adalah kekayaan. Maka ketika orang Kristen membicara­kan masalah kepenuhan Kristus, mereka mengartikannya kekayaan Kristus. (Walau ada banyak orang Kristen yang membicarakan tentang kepenuhan Roh Kudus atau kepenuhan Allah, tetapi jarang yang menyinggung tentang kepenuhan Kristus.) Menurut Kitab Efesus, istilah "ke­penuhan" bukan berarti "kekayaan", melainkan berarti ekspresi. Istilah "kekayaan Kristus" tercantum dalam Efesus 3:8, sedang istilah "kepenuhan" tercantum dalam Efesus 1:23 dan 4:13. Pasal pertama mengatakan kepe­nuhan Dia yang memenuhi segalanya di dalam segalanya, dan pasal 4 mengatakan kadar atau ukuran perawakan kepenuhan Kristus. Menurut Efesus 4:13, kepenuhan mempunyai suatu perawakan, dan perawakan mempunyai suatu ukuran (kapasitas). Kita masing‑masing mem­punyai satu perawakan, sebab kita mempunyai satu tu­buh. Jika kita hanya kepala tanpa tubuh, tentu kita tidak mempunyai perawakan. Kepenuhan Kristus adalah Tu­buh, karena Efesus 4:13 mengatakan bahwa kepenuhan ini punya satu perawakan berikut satu ukuran. Maka kita mempunyai ukuran perawakan kepenuhan Kristus. 

Kepenuhan berbeda dengan kekayaan; kekayaan tidak memenuhi perawakan. Namun, kepenuhan yang me­rupakan Tubuh ini mempunyai satu perawakan, bahkan pada perawakan ini terdapat satu ukuran. Jadi, ini mem­buktikan dengan kuat bahwa kepenuhan Kristus bukan kekayaan Kristus, melainkan Tubuh Kristus. 

Memahami mengapa Tubuh Kristus disebut kepenuhan sangatlah penting dan bermakna. Tubuh seseorang justru berarti kepenuhan orang itu sendiri, dan kepenuh­an ini juga berarti ekspresinya. Sewaktu saya berbicara, tubuh saya ikut bergerak. Dengan demikian, manusia saya terekspresi lewat tubuh saya. Begitu pula, gereja adalah Tubuh Kristus, dan Tubuh ini merupakan kepe­nuhan Dia yang memenuhi segalanya di dalam segalanya. Alangkah dalamnya hal ini! Alam semesta dipenuhi oleh Kristus. Sebagai Persona yang memenuhi segalanya di dalam segalanya, Kristus sungguh tak kepalang tanggung besarnya. Persona yang demikian agung ini memerlukan satu Tubuh yang agung pula, dan Tubuh ini ialah gereja. Karena itu, gereja adalah Tubuh Kristus, kepenuhan­Nya.

Kekayaan Kristus dapat diumpamakan sebagai ba­han makanan yang diproduksi di Amerika Serikat. Ke­kayaan itu bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk di­makan. Ketika kita memakan bahan makanan Amerika Serikat yang kaya itu, kekayaan tersebut seolah‑olah melenyap ke dalam diri kita. Setelah kekayaan itu di­cerna dan diserap oleh kita, kekayaan itu menjadi bagian kita. HasiInya, ia bukan lagi kekayaan, tetapi kepenuhan. Jadi kaum muda Amerika Serikat berawak besar karena menyerap begitu banyak bahan makanan Amerika Seri­kat yang kaya, merekalah kepenuhan Amerika. Melalui perumpamaan ini, kini kita dapat membedakan kekayaan dengan kepenuhan. Kekayaan berarti makanan yang ma­sih belum kita makan, sedang kepenuhan adalah makan­an yang telah kita makan, kita cerna, bahkan kita serap. Kekayaan Kristus adalah segala apa adanya Kristus. Tatkala kita mencerna dan menyerap kekayaan Kristus ke dalam diri kita, segala kekayaan itu akan menjadi bagian kita, dan kita pun menjadi kepenuhan‑Nya. Jadi, gereja sebagai Tubuh Kristus adalah kepenuhan Personayang betapa besar yang universal, yang memenuhi segala­nya dan di dalam segalanya. Inilah hal atau aspek per­tama dari apa adanya gereja.
B. Manusia Baru 
Kedua, gereja ialah manusia baru (2:15). Dalam alam semesta hanya ada satu manusia baru; gerejalah manusia baru itu. Antara Tubuh dengan manusia baru terdapat satu perbedaan yang nyata. Tubuh hanya memerlukan hayat, tetapi manusia baru memerlukan hayat dan pri­badi. Tubuh saya memerlukan hayat, namun diri saya se­bagai seorang manusia memerlukan pribadi. Gereja bu­kan hanya Tubuh Kristus yang memiliki hayat Kristus, gereja juga manusia baru yang memiliki Kristus sebagai pribadi. Tidak dapat diragukan, manusia baru ini bersifat korporat, sebab dalam Efesus 2:15 dikatakan bahwa Kris­tus menciptakan satu manusia baru dari bangsa Yahudi dan bangsa bukan Yahudi. Ini berarti kedua golongan orang tersebut telah tercipta menjadi satu manusia baru. Bila kita nampak gereja hari ini bukan hanya suatu Tu­buh, bahkan suatu manusia yang berpribadi, pengenalan kita tentang hidup gereja akan dipertinggi.
C. Kerajaan 
Dalam Efesus 2:19 kita nampak gereja adalah Kera­jaan Allah. Ayat ini mengatakan, "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang‑orang kudus dan anggota‑anggota keluarga Allah." Kata kawan sewarga menandakan Kerajaan Allah, karena menjadi kawan sewarga berarti menjadi seorang yang memiliki hak warga negara, dan hak warga negara ini selalu. berkaitan dengan suatu bang­sa atau kerajaan. Karena itu, ayat 19 ini mewahyukan bahwa gereja adalah Kerajaan Allah, dan. kita adalah warga negara kerajaan ini, yang memiliki hak‑hak warga negara tertentu. Ketika kita menikmati hak‑hak itu, kita juga harus mengambil bagian atas kewajiban‑kewajiban­nya. Maka sebagai Kerajaan Allah, gereja memiliki hak berikut kewajiban. Jika kita menginginkan hak, kita pun harus memikul kewajiban. Namun, kadang‑kadang kita mungkin ingin menikmati hak saja, enggan memikul kewajiban. Sebenarnya kedua‑duanya wajib kita terima, yaitu menikmati hak dan memikul kewajiban. Inilah gereja sebagai Kerajaan Allah.
D. Keluarga Allah 
Keempat, gereja adalah keluarga Allah (Ef 2:19). Keluarga bukan masalah hak warga negara, melainkan masalah hayat dan kenikmatan. Dalam keluarga Anda ti­dak banyak membicarakan soal hak, sebab di sana Anda mempunyai hayat ayah serta kenikmatan atas hayatnya. Jadi, gereja sebagai keluarga atau rumah tangga Allah berkaitan dengan masalah hayat dan kenikmatan. 

Banyak orang beriman menyukai hidup gereja yang bergaya keluarga, bukan yang bergaya kerajaan; ini ber­arti mereka selalu menginginkan waktu yang indah dan kenikmatan yang mengasyikkan. Akan tetapi, kita tidak dapat selamanya diam di rumah. Kita perlu mengguna­kan beberapa jam dalam sehari untuk mencari nafkah di luar rumah. Jadi, kita tidak boleh hanya memiliki kenikmatan keluarga, kita pun harus memikul kewajiban kerajaan. Gereja tidak dapat selalu menjadi keluarga Allah, gereja juga harus menjadi Kerajaan Allah. Namun demikian, saya girang, karena dalam keluarga Allah, yaitu gereja, kita memiliki hayat dan kenikmatan.
E. Tempat Kediaman Allah 
Dalam Efesus 2:21‑22 kita nampak bahwa gereja juga adalah tempat kediaman Allah. Ayat 21 mengatakan, "Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan." Ini di­tuiukan kepada pembangunan yang universal. Ayat 22 mengatakan bahwa kaum beriman di Efesus terbangun bersama menjadi suatu tempat kediaman Allah di dalam roh. Ini adalah pembangunan yang bersifat lokal. Secara universal, gereja adalah bait dalam Tuhan, sedang secara lokal, gereja ialah tempat kediaman Allah di dalam roh kita.
F. Mempelai Perempuan ‑ Istri Kristus 
Dalam pasal 5 kita nampak bahwa gereja adalah mempelai perempuan ‑ istri Kristus. Seorang istri ialah untuk kepuasan suami. Ketika Adam hidup seorang dirl, Alkitab mengatakan, "Tidak baik, kalau manusia itu se­orang diri saja" (Kej. 2:18). Perkataan ini menunjukkan ketika Adam seorang diri, ia tidak memiliki kesenangan atau kepuasan. Adam memerlukan seorang istri. Setelah Adam mendapat seorang istri, barulah ia mempunyai perhentian dan kepuasan. Karena itu, menurut Alkitab, mempelai perempuan, istri, adalah untuk perhentian dan kepuasan. Tanpa perhentian, mungkinkah kita puas? Maka kepuasan yang penuh berarti menikmati perhen­tian yang penuh. Hari pernikahan seorang lelaki adalah hari kepuasan dan perhentiannya. Karena Kristus me­ngasihi gereja, gereja adalah perhentian dan kepuasan­Nya.

Kasih Kristus yang ditujukan kepada gereja berbeda dengan kasih‑Nya yang ditujukan kepada orang dosa. Orang Kristen sering membicarakan tentang kasih Kris­tus terhadap orang dosa, tetapi jarang yang membi­carakan kasih‑Nya terhadap istri‑Nya. Kita dulu adalah orang dosa, tetapi kini kita adalah istri Kristus. Tak pe­duli kita pria atau wanita, kita semua adalah istri‑Nya. Gereja adalah istri untuk kepuasan Kristus.
G. Pejuang 
Terakhir, Efesus 6 mewahyukan bahwa gereja ialah pejuang, yaitu pejuang yang korporat. Kalau pasukan tentara terdiri atas banyak prajurit, maka pejuang adalah seorang saja. Gereja adalah manusia baru, dan manusia baru ini ialah seorang pejuang. Seluruh perlengkapan senjata Allah yang tercantum dalam pasal 6 bukan untuk orang Kristen perorangan, melainkan untuk seluruh ge­reja, manusia baru ini. Sebagal pejuang, gereja melawan musuh Allah dan menaklukkannya.

Jika kita menggabungkan ketujuh aspek gereja ter­sebut di atas, kita akan nampak sebuah lukisan gereja yang sangat indah: sebagal Tubuh, gereja mengekspresi­kan Kristus; sebagai manusia baru, gereja menerima Kristus sebagai pribadi; sebagai kerajaan, gereja mem­punyai hak dan kewajiban; sebagai keluarga, gereja me­miliki hayat dan kenikmatan; sebagai tempat kediaman Allah, gereja memberi Allah tempat . tinggal; sebagai mempelai perempuan, gereja memuaskan Kristus; dan sebagai pejuang, gereja berperang dan mengalahkan mu­suh, sehingga Allah dapat menggenapkan kehendak‑Nya yang kekal. Inilah gereja.

Apa yang dilakukan oleh gereja tidak sepenting apa adanya gereja. Gereja adalah Tubuh, manusia baru, kera­jaan, keluarga, tempat kediaman, istri, dan pejuang. Apa yang kita lakukan tidaklah begitu penting, namun apa adanya kita, sangatlah penting. Dalam gereja yang ter­lukis dalam Kitab Efesus ini, Kristus telah diekspresikan. Melalui gereja yang demikian, Kristus, Persona ini telah dihidupkan. Dalam gereja yang demikian, terdapatlah Kerajaan Allah yang disertai hak dan kewajiban; bahkan, sebagai keluarga Allah, gereja adalah yang membawakan hayat dan kenikmatan. Gereja ini juga adalah tempat ke­diaman Allah, kepuasan Kristus, dan pejuang Allah yang berperang demi kehendak kekal‑Nya. Alangkah hebatnya gereja ini!

Bila kita nampak visi gereja, kita akan tahu betapa kasihannya situasi agama hari ini. Dalam agama kita ti­dak nampak Tubuh atau manusia baru. Selain itu kita ti­dak nampak kerajaan, keluarga Allah, tempat kediaman Allah, mempelai perempuan Kristus, atau pejuang Allah. Sebagai gereja, kita harus menjadi ketujuh aspek ter­sebut. Terutama mereka yang memimpin dalam gereja, perlu nampak visi gereja yang tercantum dalam Kitab Efesus ini. Gereja bukan sebuah sekolah, lembaga masya­rakat, atau organisasi. Gereja adalah Tubuh, manusia baru, kerajaan, keluarga, tempat kediaman, mempelai perempuan, dan pejuang. Inilah gereja dan inilah pokok Kitab Efesus. Karena Kitab Efesus mempunyai pokok Yang sedemikian, maka kitab ini sangat limpah tidak habis terkatakan.

Namun, masih banyak lagi aspek gereja Yang tercan­tum dalam kitab terakhir dari Alkitab. Dalam Kitab Wahyu kita nampak empat aspek lain dari gereja: Gereja sebagai kaki dian, anak laki‑laki, buah sulung, dan kota kudus. Hanya satu aspek gereja Yang tercantum dalam Kitab Wahyu, yaitu mempelai perempuan, yang sepadan dengah aspek yang terdapat dalam Kitab Efesus.

2. ISI
A. Berkat Yang Diterima Gereja di Dalam Kristus
Sekarang baiklah kita meninjau isi Kitab Efesus. Perkara pertama dalam isi kitab ini ialah berkat yang di­terima oleh gereja di dalam Kristus (1:3‑14). Tidak ba­nyak orang Yang memahami istilah "berkat" dengan te­pat. Berkat ini bukan sejenis benda seperti mobil baru atau rumah.Rasul Paulus berdoa agar gereja beroleh wahyu untuk melihat semua berkat Yang telah diterimanya. Berkat‑berkat material seperti mobil atau rumah itu tidak perlu wahyu untuk melihatnya. Te­tapi berkat Yang diperoleh gereja memerlukan wahyu. Kebanyakan orang Kristen justru tidak nampak berkat yang telah diterima oleh gereja.

B. Doa Rasul bagi Gereja untuk Wahyu 
Setelah mewahyukan berkat‑berkat ini kepada gere­ja, Rasul Paulus berdoa agar kaum beriman memiliki roh hikmat dan wahyu untuk memahami hasil dari berkat­-berkat ini, dan mengetahui kuat kuasa yang mendatang­kan berkat ini, agar gereja dapat menjadi Tubuh Kristus, yakni kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam se­gala sesuatu (1:15‑23).
C. Kelahiran, Sifat, Kedudukan, Pembangunan, dan Fungsi Gereja 
Menyusul penyebutan gereja pada akhir pasal 1, pa­sal 2 memperlihatkan kepada kita tentang kelahiran, si­fat, kedudukan, pembangunan, dan fungsi gereja.
D. Wahyu Rahasia dan Ministri Kepengurusan Rumah Tangga Gereja 
Dalam Efesus 3:1‑13 kita memiliki wahyu dari raha­sia dan ministri kepengurusan rumah tangga gereja. Ti­dak banyak orang Kristen yang mengerti apa itu ministri kepengurusan rumah tangga. Ada suatu hal yang disebut kepengurusan rumah tangga, dan kepengurusan rumah tangga ini mempunyai satu ministri. Ministri kepeng­urusan rumah tangga ini berkaitan dengan gereja. Maka bukan rahasia saja yang berkaitan dengan gereja, tetapi juga kepengurusan rumah tangga. Jika kita ingin mema­hami gereja, kita perlu mengenal wahyu rahasia dan ministri kepengurusan rumah tangga. Masalah ini akan kita bahas secara rinci bila kita tiba pada pasal 3.
E. Doa Rasul bagi Gereja untuk Mengalami Kristus 
Rasul tahu bahwa perkara rahasia dan. ministri ke­pengurusan rumah tangga adalah perkara yang sangat dalam, maka rasul segera berdoa agar gereja dapat mengalami Kristus secara riil (3:14‑21). Gereja yang diwahyukan dalam rahasia dan yang dilayankan oleh kepengurusan rumah tangga memerlukan pengalaman atas Kristus. Rasul Paulus berdoa untuk hal ini.
F. Kehidupan dan Kewajiban Gereja di Dalam Roh 
Dalam pasal 4 sampai pasal 6 kita nampak kehidup­an dan kewajib‑an gereja di dalam Roh. Jika kita mempu­nyai satu pandangan yang jernih atas isi Kitab Efesus, segenap Kitab Efesus akan terungkap di hadapan kita. Kita akan nampak berkat‑berkat antara lain: pemilihan Allah, penentuan, keputraan, kekudusan, penebusan, pemeteraian, jaminan, dan masih banyak lagi. Kemudian kita akan nampak doa rasul untuk roh hikmat dan wahyu supaya kita mengetahui pengharapan panggilan Allah, nampak kemuliaan warisan Allah di antara kaum beriman‑Nya, dan memahami kebesaran kuat kuasa yang telah tergarap dalam Kristus untuk melahirkan Tubuh. Kemudian dalam pasal 2, kita akan nampak kelahiran gereja, sifat gereja, visi gereja, pembangunan gereja, dan fungsi gereja. Dalam pasal 3 kita akan nampak wahyu rahasia dan ministri kepengurusan rumah tangga gereja. Selanjutnya kita akan nampak doa Paulus untuk pengu­atan manusia batiniah kita, agar Kristus dapat berumah di dalam hati kita, dan agar kita dapat dipenuhi dengan segala kepenuhan Allah. Hal ini memungkinkan kita mengalami Kristus secara riil. Sesudah itu, seperti yang diwahyukan dalam ketiga pasal terakhir, kita akan me­ngetahui bagaimana kita harus hidup di bumi, bagaimana kita harus menanggung kewajiban, dan bagaimana kita berperang bagi kehendak Allah. Demikianlah isi Kitab Efesus.

3. CIRI‑CIRI 
Kitab Efesus memiliki ciri‑ciri yang khusus. Tidak seperti Kitab Roma, yang membahas dari keadaan orang dosa. Kitab Efesus berbicara dari kehendak Allah yang kekal. Pada pasal‑pasal permulaan Kitab Roma, kita nampak keadaan orang dosa. Dalam Roma 1 tercantum daftar segala jenis dosa. Namun, daftar yang demikian tidak terdapat dalam Efesus 1. Ini disebabkan Kitab Efe­sus bukan berbicara dari keadaan orang dosa, melainkan dari kehendak Allah yang kekal. Tambahan pula, Kitab Efesus berbicara dari kekekalan, bukan dari waktu; dan dari surga, bukan dari bumi. Kitab Efesus membawa kita ke dalam kekekalan. Janganlah tertinggal di dalam wak­tu ‑ masuklah ke dalam kekekalan. Karena Kitab Efesus membawa kita ke dalam surga, kita tidak seha­rusnya tertinggal di dalam keadaan kita sendiri, sebalik­nya kita harus berada di dalam kekekalan dan surga. Kita berada dalam kehendak Allah yang kekal, dan kita tidak perlu memandang keadaan diri kita sendiri. Seba­liknya, marilah kita memandang kehendak Allah yang kekal. Karena kita begitu terikat oleh keadaan kita dan terbungkus di dalamnya, maka kita perlu diselamatkan. Kitab Efesus memperhatikan kehendak Allah jauh lebih banyak daripada memperhatikan keadaan kita. Kitab Efesus berbicara kepada kita darl inti kehendak Allah. Ketika kita membaca kitab ini, kita perlu berdoa, "Oh Tuhan, bawalah aku keluar darl keadaanku, keluar dari bumi, dan keluar darl waktu. Tuhan, selamatkanlah aku dari keadaanku dan bawalah aku masuk ke dalam keke­kalan dan surga. Aku ingin masuk ke dalam hati Allah dan ke dalam kehendak‑Nya yang kekal."

Pada tahun‑tahun yang lalu, ketika saya membaca Kitab Efesus, saya seperti katak dalam tempurung yang sempit. Dari posisi saya di dalam tempurung itu, saya mencoba memahami Kitab Efesus ini. Tetapi saya tidak berdaya memahaminya. Untuk memahami kitab ini, kita perlu dilepaskan dari keadaan kita dan dibawa masuk ke dalam kehendak Allah yang kekal dan ke dalam surga. Bila kita membaca Kitab Efesus dari posisi yang sedemi­kian, pembacaan kita akan lain. Ciri kitab ini ialah ditulis dari kekekalan, dari surga, dari hati Allah, dan dari ke­hendak Allah yang kekal.
4.KEDUDUKAN 
Kitab Efesus mempunyai satu kedudukan khusus da­lam urutan kitab‑kitab Perjanjian Baru. Janggal sekali seandainya Kitab Efesus menjadi kitab pertama Per­janjian Baru. Terpujilah Tuhan, karena kitab ini telah ditempatkan pada posisi yang benar dan tepat, yakni segera setelah adanya wahyu tentang Kristus berlawanan dengan agama (Kitab Galatia), diikuti dengan pengalaman kita yang riil atas Kristus (Kitab Filipi), dan memimpin kepada Sang Kepala (Kitab Kolose).
A. Sesudah Wahyu tentang Kristus Berlawanan dengan Agama 
Dalam Kitab Galatia kita nampak masalah Kristus berlawanan   dengan agama. Kita tidak boleh mengganti Kristus dengan perkara apa pun. Ini berarti bukan emosi kita berlawanan dengan agama, atau praktek kita ber­lawanan dengan agama, melainkan Kristus berlawanan dengan agama.Kitab Efesus menyusul setelah wahyu Kristus berlawanan dengan agama ini, membawa kita ke­pada gereja. Kristus berlawanan dengan agama bukan se­ kadar untuk pengalaman kita; itu adalah penekanan yang   tidak tepat oleh orang‑orang yang menyebut dirinya alir­an hayat batiniah; mereka memang mencari Kristus, te­tapi bukan untuk gereja, melainkan untuk pengalaman mereka sendiri. Kristus berlawanan dengan agama ter­utama bukan untuk pengalaman kita, melainkan untuk gereja. Galatia 2:20 mengatakan bahwa kita telah disalib­kan bersama Kristus, dan Kristus hidup di dalam kita. Pengalaman ini seharusnya ditujukan untuk hidup gereja.
B. Diikuti oleh Pengalaman yang riiI atas Kristus 
Adalah hal yang keliru bila kita terlalu memper­hatikan pengalaman pribadi atas Kristus sehingga mengabaikan gereja. Namun, bila kita terlalu memen­tingkan gereja dan mengabaikan pengalaman yang riil atas Kristus, itu pun tidak benar. Kepada orang yang hanya mementingkan pengalaman pribadi tanpa memen­tingkan gereja, saya ingin berkata, "Kalian harus maju ke depan, dari Kitab Galatia menuju Kitab Efesus." Teta­pi kepada mereka yang terlalu mementingkan gereja, sehingga mengabaikan pengalaman atas Kristus, saya akan berkata, "Kalian harus ingat, setelah Kitab Efesus ada Kitab Filipi.".Kita perlu pengalaman yang riil atas Kristus, agar kita dapat berkata, “Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, mau­pun oleh matiku" (Flp. 1:20); kita juga harus bisa berka­ta, "Karena bagiku hidup adalah Kristus" (Flp. 1:21). Bahkan kita harus dapat menganggap segala sesuatu seperti sampah, karena kemustikaan Kristus (Flp. 3:8). Kita. semua perlu mengalami Kristus. Sebelum seseorang masuk ke dalam gereja, ia harus memiliki pengalaman atas Kristus, dan setelah ia masuk ke dalam gereja, ia bahkan perlu mengalami‑Nya lebih banyak.
C. Dipimpin kepada Sang Kepala 
Pengalaman atas Kristus akan memimpin kita ke­pada Sang‑Kepala. Karena itu, setelah Kitab Filipi, ada Kitab Kolose. Saya sangat menyukai Kitab Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose. Saya telah menghabiskan lebih banyak waktu untuk mempelajari keempat kitab ini daripada kitab lainnya dalam Alkitab. Kita semua perlu meluangkan lebih banyak waktu atas keempat kitab ini. Kitab Galatia memuat wahyu Kristus berlawanan dengan agama, Kitab Efesus membahas ketujuh aspek gereja, Kitab Filipi membicarakan pengalaman riil atas Kristus, dan Kitab Kolose memimpin kita kepada Sang Kepala. Kalau kita memasuki keempat kitab ini, kita akan nam­pak Kristus ada di sini, Kristus membawa kita memasuki gereja, hidup gereja membawa kita mengalami Kristus dari hari ke hari, dan semuanya itu membawa kita ke­pada Sang Kepala. Demikianlah kedudukan Kitab Efesus dalam Perjanjian Baru.
5. PENULIS 
Sekarang kita perlu melihat penulis Kitab Efesus. Kita tahu penulisnya ialah Rasul Paulus. Efesus 1:1 me­ngatakan‑, "Dari Paulus, rasul Kristus Yesus atas kehen­dak Allah." Paulus dijadikan seorang rasul Kristus bukan oleh manusia, tetapi melalui kehendak Allah, sesual dengan ekonomi Allah. Kedudukan ini memberinya otoritas untuk menjabarkan wahyu tujuan kekal Allah mengenai gereja dalam surat ini. Gereja dibangun di atas wahyu ini (2:20). Paulus sebagai rasul Kristus ditujukan kepada kedudukannya, sedang ia sebagai rasul oleh kehendak Allah ditujukan kepada kekuasaannya. Sebagai seorang rasul yang demikian, Paulus menjadi penulis kitab ini.
VI. PENERIMA
A. Orang‑orang Kudus di Efesus 
Bagian akhir dari Efesus 1:1‑2 menerangkan, "Ke­pada orang‑orang kudus di Efesus, orang‑orang percaya dalam Kristus Yesus. Anugerah dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dart Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu." Penerima surat ini ialah orang‑orang kudus di Efesus. Ini ditujukan kepada posisi mereka. Orang‑orang kudus adalah orang‑orang yang dijadikan kudus, yang dikuduskan, dipisahkan bagi Allah dari segala sesuatu yang umum.
B. Orang‑orang yang Setia dalam Kristus Yesus 
Para penerimanya juga adalah orang‑orang "yang setia" (TI.) dalam Kristus Yesus. Orang‑orang,yang setia ialah mereka yang setia dalam iman, yang disebutkan dalam Efesus 4:13, 2 Timotius 4:7 dan Yudas 3. Para penerima ini, orang‑orang yang setia dalam Kristus Ye­sus, tidak saja memiliki kedudukan yang dikuduskan, ju­ga memiliki kehidupan yang setia. Mereka hidup dengan setia dalam iman mereka. Untuk memenuhi syarat dan berkedudukan menjadi penerima surat ini, kita perlu menjadi orang yang sedemikian. Kita harus menjadi orang‑orang yang kudus dan menjadi orang‑orang yang setia dalam Kristus Yesus. Kita harus mempunyai posisi yang dikuduskan dan kehidupan yang setia.
C. Anugerah dan Damai Sejahtera
Di antara penulis dan penerima terdapat perseku­tuan anugerah (kasih karunia) dan damai sejahtera (1:2). Anugerah dan damai sejahtera mengalir dari penulis ke­pada penerima. Tidak ada gosip, kritik, tuduhan, atau penghakiman, melainkan anugerah dan damai sejahtera semata.

1. Anugerah Berarti Allah Menjadi Kenikmatan Kita 
Anugerah berarti Allah menjadi kenikmatan kita (Yoh. 1:17, 1 Kor. 15:10). Ketika Allah menjadi bagian ki­ta, untuk kita nikmati, itulah anugerah. Jangan mengira anugerah sebagai sesuatu yang lebih rendah daripada Allah. Anugerah tidak lain ialah Allah yang kita nikmati menjadi bagian kita secara riil.
2. Damai Sejahtera Adalah Keadaan yang Dihasilkan dari Anugerah
Damai sejahtera ialah suatu keadaan yang dihasilkan dari anugerah, berasal dari kenikmatan kita terhadap Allah Bapa. Tatkala kita menikmati Allah sebagai anuge­rah, berarti kita berada dalam suatu keadaan yang penuh perhentian, kepuasan, dan sukacita. Inilah damai sejah­tera. Anugerah ialah suatu substansi, sedang damai se­jahtera adalah suatu keadaan. Substansi anugerah lalah Allah sendiri, dan keadaan damai sejahtera ialah hasil dari kenikmatan kita terhadap Allah sebagai anugerah. Kita semua dapat bersaksi, ketika kita menikmati Allah sebagai anugerah, kita pun memiliki damai sejahtera. Pa­da baris pertama kidung No: 378 tercantum, "Hayat dan alangkah teduh (damai)." Hayat adalah anugerah. Ketika kita benar‑benar menikmati Kristus sebagai hayat kita, kita pun beroleh bagian dalam anugerah. Kemudian kita akan memiliki damai sejahtera. Alangkah hayat! Alang­kah damai! Sekarang kita pun dapat berkata: Alangkah substansi! Alangkab keadaan! Kita memiliki substansi ilahi menjadi kenikmatan kita, dan kita memiliki keadaan surgawi. Inilah damai sejahtera yang kita nikmati.
3. Allah Adalah Pencipta bagi Kita, Makhluk Ciptaan‑Nya; dan Bapa Kita Adalah Bapa bagi Kita, Anak‑anak‑Nya 
Anugerah dan damai sejahtera ini berasal dari Allah Bapa kita dan Tuhan Yesus Kristus. Kita adalah makhluk ciptaan Allah dan anak‑anak Allah. Dari kedudukan kita sebagai makhluk ciptaan Allah, Allah adalah Allah kita, sedang ditinjau dari kedudukan kita sebagai anak‑anak Allah, Allah adalah Bapa kita. Di satu pihak, kita adalah makhluk ciptaan Allah; di pihak lain, kita adalah anak­anak Bapa.
4. Tuhan Yesus Kristus Adalah Penebus bagi Kita, Umat Tebusan Allah 
Anugerah dan damai sejahtera juga datang kepada kita dari Tuhan Yesus Kristus. Dialah Penebus kita, dan kita adalah umat tebusan‑Nya. Sebagai umat tebusan Tuhan, kita memiliki‑Nya sebagai Tuhan kita.
Jadi, anugerah dan damai sejahtera datang kepada kita dari Allah, Pencipta kita, dari Bapa kita, dan dari Tuhan, Penebus kita. Sebagai umat ciptaan, yang dilahir­kan kembali dan ditebus, kita berkedudukan untuk me­nerima anugerah dan damai sejahtera Dia. Kita memiliki tiga status: kita telah diciptakan, kita telah dilahirkan kembali, dan kita telah ditebus. Kita mempunyai Allah sebagai Pencipta kita, kita mempunyai Bapa sebagai Ba­pa kita, dan kita mempunyai Yesus Kristus sebagai Penebus kita. Karena itu,‑ kita benar‑benar memenuhi syarat untuk menerima anugerah dan damai sejahtera dari Allah Tritunggal. Demikianlah kata pengantar untuk Kitab Efesus ini.  
TIGA ASPEK PUJIAN (KATA‑KATA INDAH)

Dalam berita ini kita akan membahas ketiga aspek dari pujian (kata‑kata indah) terhadap Allah. Judul sema­cam ini mungkin kelihatannya sangat tidak lazim. Efesus 1:3 mengatakan, "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga." Isti­lah "terpujilah", "mengaruniakan", dan "berkat" dalam ayat ini, dalam bahasa Yunaninya memiliki kata dasar yang sama. Istilah Yunani yang diterjemahkan "terpuji­lah" berarti dibicarakan dengan baik, yaitu dipuji sembah; “mengaruniakan" berarti memuji atau menuturkan de­ngan baik; dan "berkat" berarti ucapan atau pengutaraan yang baik, tuturan yang baik, kata‑kata yang indah yang menyiratkan kebaikan dan manfaat. Bila ditujukan untuk Allah, ini adalah suatu sanjungan dan pujian yang sejati, bahkan suatu pujian kepada Allah pada tingkat yang ter­tinggi. Istilah yang dipakai Rasul Paulus untuk memuji Allah dalam Efesus 1:3, dalam makna dasar Yunaninya adalah kata‑kata indah (mengatakan yang baik). Dengan istilah ini Paulus menyanjung Allah, mengucapkan pujian yang indah, bahkan pujian yang elok kepada‑Nya. Dengan ini pula Paulus memuji, menjunjung, dan meninggikan Allah. Maka, memuji Allah berarti mengatakan kata‑kata indah tentang Allah.
I. TERPUJILAH ALLAH DAN BAPA TUHAN KITA YESUS KRISTUS 
Dalam pujian yang tinggi kepada Allah ini, Paulus tidak berkata, "Terpujilah Allah, bahwasanya untuk se­lama‑lamanya kasih setia‑Nya." Banyak orang muda yang suka menyanyikan mazmur, khususnya Mazmur 136 yang mengatakan "Bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia‑Nya." Pujian terhadap Allah semacam ini sedikit pun tidak setinggi yang diucapkan oleh Paulus dalam Efesus 1:3 ini. Walaupun kita sulit memahami Efesus 1:3, tetapi kita mudah sekali mengerti apa artinya kata bah­wasanya untuk selama‑lamanya kasih setia Allah, sebab ini cocok dengan konsepsi alamiah kita.
Dalam kekristenan hari ini terdapat dua sumber utama percampuran. Percampuran pertama dibuat oleh gereja Katolik, mereka telah mencampurkan ekonomi Perjanjian Baru dengan tata cara Perjanjian Lama. Per­campuran kedua dibuat oleh gerakan Pentakosta. Go­longan Pentakosta mengembalikan orang Kristen kepada pujian Perjanjian Lama dalam Kitab Mazmur. Sudah ten­tu saya bukan menyalahkan Kitab Mazmur, tetapi saya menyalahkan cara mereka menyanyikannya menurut kon­sepsi alamiah itu. Sebagai contoh, tidak ada satu ayat pun dalam Perjanjian Baru yang mengatakan, "Bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia Allah." Namun, golong­an Pentakosta terus‑menerus menyanyikan Kitab Maz­mur menurut konsepsi alamiah. Saya tidak pernah men­dengar golongan Pentakosta menyanyikan Kitab Efesus, sebab bagi mereka Kitab Efesus adalah sebuah kitab yang tertutup. Dalam puji‑pujlan mereka tidak ada cita rasa inkarnasi, tidak ada petunjuk bahwa Allah telah menjadi satu dengan manusia. Untuk memuji Allah karena kasih setia‑Nya yang kekal, tidak perlu wahyu. Siapa saja yang menaruh perhatian kepada Allah tentu mengetahui bah­wa kasih setia‑Nya kekal. Akan tetapi, jika ingin memuji Allah seperti yang diucapkan Paulus dalam Efesus 1:3, kita harus mempunyai wahyu.

Dalam Efesus 1:3 Paulus berkata, "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. " Jika Yesus Kristus itu Allah, mengapa Paulus mengatakan Allah (dari) Ye­sus Kristus? Bagaimana mungkin Allah menjadi Allah­Nya? Tidak hanya demikian, Paulus juga mengatakan Bapa (dari) Yesus Kristus. Bagaimana mungkin Allah mem­punyai seorang Bapa? Ditinjau dari Tuhan Yesus Kristus, kita sebagai Anak Manusia, Allah adalah Allah Tuhan kita Yesus Kristus; ditinjau dari Dia sebagai Anak Allah, Allah adalah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Menurut keinsanian Tuhan, Allah adalah Allah‑Nya; menurut ke­ilahian Tuhan, Allah adalah Bapa‑Nya.
Dalam ayat 3 Paulus juga membicarakan tentang Tuhan kita Yesus Kristus. Karena Tuhan Yesus Kristus adalah milik kita, maka hakiki Allah terhadap Dia juga merupakan milik kita. "Tuhan kita" mengacu kepada ke­tuhanan (Lordship) Juruselamat kita (Kis. 2:36); Yesus mengacu kepada Dia sebagai seorang manusia (1 Tim. 2:5); dan Kristus mengacu kepada Dia sebagai yang di­urapi Allah (Yoh. 20:31). 

Adalah mutlak benar jika kita mengatakan Allah pe­nuh rahmat dan kasih setia‑Nya kekal. Memang ini suatu ungkapan yang indah untuk menyanjung Allah. Namun, ungkapan sedemikian adalah menurut konsepsi alamiah kita semata. Hari ini kita berada di surga, di dalam ke­kekalan di dalam kehendak hati Allah, dan di dalam tujuan Allah. Karena itu, kita tidak seharusnya memuji­ muji Allah menurut konsepsi alamiah kita, melainkan menurut wahyu‑Nya tentang diri‑Nya sendiri. Pujian atas kasih setia dan keagungan Allah itu bertaraf sekolah da­sar, sedang pujian dalam Efesus 1:3 bertaraf pasca sar­jana. Dalam sidang kita perlu lebih banyak pujian tingkat tinggi.
Pujian Efesus dalam 1:3 sungguh dalam dan rahasia, karena mencakup seluruh ekonomi Perjanjian Baru. Di sini tidak saja ada penciptaan yang dinyatakan oleh se­butan "Allah", tetapi juga ada inkarnasi yang ditunjukkan oleh sebutan "Allah Tuhan kita Yesus Kristus". Wahyu pertama tentang Allah dalam Alkitab terdapat dalam penciptaan, sebab Alkitab dimulai dengan kalimat, "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." Setelah penciptaan ada inkarnasi. Pada suatu hari, Allah Pencip­ta berinkarnasi menjadi seorang manusia. Firman yang bersama‑sama dengan Allah dan yang adalah Allah itu, telah menjadi daging (manusia) (Yoh. 1:1, 14). Ketika Allah sendirl menjadi manusia, maka Allah yang mencip­takan segala sesuatu itu menjadi Allah‑Nya. Inilah inkarnasi, bukan hanya keagungan atau kasih setia Allah. Karena itu, Allah Tuhan kita Yesus Kristus dalam Efesus 1:3 mengacu kepada Inkarnasi; Bapa Tuhan kita Yesus Kristus mengacu kepada penyaluran hayat.

Allah tidak hanya menciptakan, pada suatu hari, Dia juga berinkarnasi. Dalam inkarnasi Dialah Bapa yang me­nyalurkan hayat‑Nya kepada semua anak‑Nya. Allah Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah seorang manusia. Jika Dia hanya sebagai Allah, Allah tidak mungkin menjadi Allah‑Nya. Agar Allah bisa menjadi Allah‑Nya, Dia harus menjadi seorang manusia. Allah yang disembah orang‑orang Yahudi hanyalah Allah yang menciptakan, bukan Allah yang berinkarnasi. Na­mun Allah yang kita sembah hari ini bukan hanya Allah yang menciptakan, tetapi juga Allah yang berinkarnasi dan Bapa yang menyalurkan hayat. Maka puji‑pujian yang tertinggi terhadap Allah mengatakan bahwa Allah kita, Pencipta, telah menjadi seorang manusia, dan Allah kita juga sebagai Bapa penyalur hayat. Dalam inkarnasi, Allah Pencipta telah menjadi Allah Yesus. Pada saat yang sama, Allah pun menjadi Bapa Kristus (sebagai Anak Allah). Dalam keinsanian Kristus, Allah adalah Allah‑Nya, tetapi dalam keilahian Kristus, Allah adalah Bapa‑Nya. Sebelum penyaliban dan kebangkitan‑Nya, Dia adalah Anak Tunggal Allah, tetapi setelah kebangkitan‑Nya, Dia men­jadi Anak Sulung Allah, yang menghasilkan banyak anak Allah. Karena itu, puji‑pujian terhadap Allah yang di­ucapkan Paulus dalam Efesus 1:3 mencakup penciptaan, inkarnasi, dan penyaluran hayat.

Akan tetapi, memuji‑muji kekekalan kasih setia Allah tidaklah mencakup inkarnasi atau penyaluran ha­yat, melainkan hanya mengatakan Allah penuh kasih se­tia. Puji‑pujian demikian tidak ada hubungannya dengan Allah menjadi manusia atau penyaluran hayat‑Nya, bah­kan sama sekah tidak berkaitan dengan penyaluran hayat Bapa ke dalam ciptaan‑Nya, agar mereka menjadi anak‑anak Allah. Karena alasan inilah maka saya me­ngatakan puji‑pujian tinggi dalam Efesus 1:3 berada di tingkat pasca sarjana, berbeda dengan puji‑pujian yang mengatakan "Bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia Allah."

Karena pujian Paulus dalam Efesus 1:3 sulit dime­ngerti, maka di tempat lain dalam Efesus 1, Paulus berdoa meminta Allah memberikan roh hikmat dan wahyu. Hari ini kita benar‑benar memerlukan roh yang sedemi­kian. Kita perlu wahyu untuk melihat, kita pun perlu hikmat untuk mengerti, menyadari, dan memahami. Namun kebanyakan kita tidak mempunyai wahyu dan hikmat. Kita hanya mempunyai konsepsi alamiah. Karena itulah kita hanya bisa memuji, "Bahwasanya untuk sela­ma‑lamanya kasih setia‑Nya." Kita tidak seharusnya‑me­muji sedangkal itu, melainkan perlu memuji‑muji Allah menurut puji‑pujian Efesus 1:3 ini. Kita harus memuji Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, memuji Dia atas penciptaan‑Nya, inkarnasi‑Nya, dan penyaluran ha­yat‑Nya.

Apa adanya Allah bagi Kristus telah ditransmisikan kepada kita. Allah itu milik‑Nya, dan Dia milik kita. Allah itu Allah dan Bapa‑Nya, dan Dia adalah Tuhan kita. Nanti akan kita lihat dalam Efesus 1:22 bahwa Allah memberikan Kristus kepada gereja sebagai Kepala atas segala sesuatu. Istilah "kepada" yang kecil ini menyirat­kan suatu transmisi, yang menunjukkan bahwa apa yang telah dicapai dan diperoleh Kristus telah ditransmisikan kepada gereja.

Sebutan "Tuhan kita Yesus Kristus" mengandung ar­ti yang kaya. "Tuhan" berarti ke‑Tuhanan (Lordship) Kristus, "Yesus" berarti keinsanan‑Nya menjadi Penebus dan Juruselamat kita, dan “Kristus" berarti Dialah yang diurapi Allah. Ini merupakan keterangan lebih lanjut yang membuktikan bahwa Efesus 1:3 adalah puji‑pujian yang top, dan penyanjungan tertinggi terhadap Allah. Kita semua perlu memuji‑muji Allah dalam aspek‑aspek sedemikian: Allah itu Allah yang menciptakan, berinkar­nasi, yang menyalurkan hayat, dan yang mentransmisi­kan dengan penebusan; sebagai Penebus, Juruselamat, dan Persona yang diurapi untuk menggenapkan kehen­dak Allah yang kekal.
Ketika Bapa di surga mendengar puji‑pujian Paulus yang setinggi ini, Dia pasti sangat gembira. Mungkin Dia akan berkata, "Paulus, sebelum engkau mengucapkan perkataan ini, Aku tidak pernah mendengar seorang pun yang menyanjung Aku sedemikian. Aku pernah mende­ngar orang‑orang Yahudi memuji‑Ku, bahwasanya untuk selama‑lamanya kasih setia‑Ku. Aku juga mendengar me­reka memuji‑muji‑Ku karena keagungan‑Ku. Namun Aku merasa bosan dengan puji‑pujian yang demikian. Tetapi, Paulus, puji‑pujianmu sungguh menjamah hati‑Ku." Su­dah tentu Allah Bapa m.engerti makna pujian Paulus. Kita semua perlu memuji Allah dengan pujian yang bermutu tinggi menurut Efesus 1:3 ini.
Bila kita hanya mengerti memuji Allah karena kasih setia‑Nya, kita tetap, berada dalam kondisi yang kasihan. Puji‑pujian macam itu tidak menunjukkan ada sesuatu dari diri‑Nya telah masuk ke dalam kita. Karena itu, kita perlu nampak bahwa Pencipta, Allah Yesus Kristus, telah berinkarnasi menjadi manusia, Dia pun Bapa Penyalur hayat yang menyalurkan diri‑Nya sendiri sebagai hayat ke dalam kita, sehingga kita dapat menjadi anak‑anak­Nya. Berdasarkan Yohanes 20:17, setelah kebangkitan­Nya, Tuhan Yesus memberi tahu Maria Magdalena, "Per­gilah kepada saudara‑saudara‑Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa‑Ku dan Bapamu, kepada Allah‑Ku dan Allahmu." Karena Kristus telah menjadi milik kita, maka segala apa adanya Allah bagi Kristus telah disalurkan ke dalam kita. Hal ini jauh lebih besar daripada kasih setia. Allah tidak lagi hanya memberikan kasih setia kepada kita. Dialah Allah dan Bapa kita, dan kita adalah anak‑anak‑ Nya; bukan hanya makhluk ciptaan‑Nya. Kita bukan hanya makhluk ciptaan Allah yang telah diciptakan, jatuh, dan ditebus, tetapi juga anak‑anak‑Nya, yang memiliki hayat dan si­fat‑Nya dalam batin kita. Jadi, kita bersatu dengan Dia. Oh, semoga Tuhan mencelikkan mata kita, agar kita nampak hal ini! Kita wajib memuji‑muji Allah menurut ekonomi Perjanjian Baru. Dalam puji‑pujian kita harus terkandung pikiran inkarnasi, penyaluran hayat, dan transmisi yang surgawi dan rohani. Kita pun harus me­rangkum pikiran Kristus sebagai Tuhan, sebagai Kepala, dan Yesus sebagai Yehova, Juruselamat kita, yang merampungkan penebusan dan keselamatan bagi kita. Kita pun harus ingat bahwa Kristus adalah Persona yang diurapi Allah, yang telah menggenapkan kehendak Allah sepenuhnya. Puji‑pujian kita yang tinggi kepada Allah tidak seharusnya alamiahnya, tetapi harus dipenuhi oleh wahyu tentang setiap aspek yang indah dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.
II. YANG TELAH MENGARUNIAKAN BERKAT KEPADA KITA 
Allah yang kita puji ini telah mengaruniakan berkat kepada kita. (Berkat dalam ayat 3, dalam bahasa aslinya berarti ucapan atau pengutaraan yang baik, kata‑kata yang indah). Kata‑kata indah Allah kepada kita men­cakup seluruh Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, Allah mengucapkan kata‑kata indah tentang kita. Kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru penuh dengan ung­kapan dan kata‑kata indah Allah tentang kita. Salah satu contoh dari kata‑kata indah Allah itu tercatat dalam Wahyu 22:14, "Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon­-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu‑pintu gerbang ke dalam kota itu.". Kata‑kata "anugerah dan damai sejahtera . . . menyertai kamu", juga merupakan sebagian dari kata‑kata indah Allah. Jika Anda ingin mendengar kata‑kata indah Allah, Anda perlu membaca Perjanjian Baru, dan mengaminkan setiap aspeknya. Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Amin. Dia memilih kita agar klita kudus dan tak bercacat. Amin.

Kita memuji Allah, karena Allah telah memberkati kita. Karena Dia telah mengatakan kata‑kata yang begitu indah terhadap kita, maka kita membalas‑Nya pula de­ngan kata‑kata indah. Sebagai contoh, ketika kita mem­baca tentang penebusan tubuh kita, kita harus berkata, "Ya Allah, betapa syukurku kepada‑Mu, karena engkau telah masuk ke dalamku, dan engkau telah menjenuhi aku dengan diri‑Mu sendiri. Pada suatu hari, jenuhan‑Mu ini akan terekspresi melalui tubuhku. Itulah saat tubuh­ku ditebus. Ya Allah, betapa syukurku kepada‑Mu atas hal ini!" Berkata demikian berarti membalas Allah de­ngan kata‑kata indah. Jadi, Dia memberkati Anda, Anda pun memuji‑muji Dia. Belajarlah mengucapkan kata‑kata indah kepada Allah menurut ekonomi Perjanjian Baru­Nya. Setelah mendengar kata‑kata indah Allah terhadap kita, kita pun memenuhi syarat untuk mengucapkan kata‑kata indah, yakni memuji‑muji‑Nya.
Kita memenuhi syarat, sebab kita adalah makhluk ciptaan‑Nya, umat tebusan‑Nya, dan umat yang dilahir­kan kembali oleh‑Nya. Semua berkat, kebaikan, dan manfaat dalam alam semesta ini terbagi dalam tiga ka­tegori. Kategori pertama adalah penciptaan Allah, kate­gori kedua ialah penebusan Allah, dan kategori ketiga ialah kelahiran kembali Allah. Dalam penciptaan Allah, kita menikmati banyak sekali benda yang baik dan indah, seperti udara, cahaya matahari, mineral, hayat binatang, hayat tumbuhan. Semua itu adalah barang yang baik dan indah dalam penciptaan Allah, dan kita memenuhi syarat untuk mengambil bagian atas semua itu, karena kita adalah makhluk ciptaan‑Nya. Selain itu, sebagal umat tebusan, kita menikmati pengampunan dosa, pembenaran oleh iman, pendamaian dalam anugerah Allah, dan pe­ngudusan. Karena kita telah ditebus, maka semua ke­baikan dalam penebusan Allah menjadi milik kita. Selain itu, karena kita telah dilahirkan kembali, kita menikmati hayat Allah, sifat‑Nya, dan pribadi‑Nya. Melalui ketiga kualifikasi ini ‑ diciptakan, ditebus, dan dilahirkan kem­bali ‑ kita benar‑benar memenuhi syarat untuk menik­mati segala berkat dalam alam semesta ini; yakni berkat­berka t Allah dalam penciptaan, penebusan, dan kelahiran kembali. Para malaikat mungkin tidak berdosa, tetapi mereka tidak bersyarat untuk menikmati semua berkat ini. Namun melalui darah Kristus, kita menikmati pengampunan dosa, pembasuhan darah, pembenaran oleh iman, dan pendamaian dengan Allah. Kita menikmati semua berkat dalam penebusan Kristus. Tidak hanya demikian, dari hari ke hari kita menikmati segala keba­ikan dan manfaat dari kelahiran kembali. Kita memiliki hayat i1ahi, sifat ilahi, dan Persona ilahi. Adakah Yang lebih tinggi daripada ini? Hari ini kita menikmati Pen­cipta, Penebus, dan Bapa. Itulah aspek kedua dari kata­kata indah.
III. SEGALA BERKAT ROHANI DALAM SURGA DI DALAM KRISTUS
Aspek ketiga dari kata‑kata indah ialah bahwa Allah "dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga." Allah telah memberkati kita dengan kata‑kata‑Nya Yang baik dan indah. Tiap ka­ta‑kata Yang demikian adalah berkat bagi kita. Ayat 4‑14  adalah suatu catatan kata‑kata indah atau berkat yang sedemikian. Semua berkat ini bersifat rohani, di dalam surga, dan di dalam Kristus.
A. Segala 
Istilah "segala" di sini menunjukkan kealmuhitan (meliputi segala sesuatu, all inclusive) berkat Allah. Berkat ini meliputi segala sesuatu, tanpa ada yang ter­kecuali.
B. Rohani 
Semua berkat ini bersifat rohani. Ini menunjukkan hubungan antara berkat Allah dengan Roh Kudus. Ka­rena segala berkat yang digunakan Allah untuk mem­berkati kita bersifat rohani, maka hal ini berhubungan dengan Roh Kudus. Roh Allah bukan hanya saluran, te­tapi juga realitas berkat‑berkat Allah. Dalam ayat ini, Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh, semuanya berhu­bungan dengan berkat‑berkat yang dikaruniakan kepada kita. Sebenarnya, berkat Allah atas kita adalah penya­luran diri‑Nya sendiri ke dalam kita. Maka berkat‑berkat Allah terutama ialah untuk menyalurkan Allah yang Tri­tunggal ke dalam kita.
C. Di Dalam Surga 
Selain itu, berkat‑berkat rohani ini ialah berkat yang ada di dalam surga. Kata "surga" di sini bukan hanya menandakan tempat surgawi, tetapi juga sifat, keadaan, ciri‑ciri, dan atmosfer surgawi dari berkat‑berkat rohani yang dengannya Allah telah memberkati kita. Berkat­berkat ini berasal dari surga, memiliki sifat surgawi, keadaan surgawi, ciri‑ciri surgawi, dan atmosfer surgawi. Kaum beriman dalam Kristus di bumi sedang menikmati berkat‑berkat surgawi ini, yang rohani juga surgawi. Berkat‑berkat ini berbeda dengan berkat‑berkat yang Allah berikan kepada orang Israel. Berkat‑berkat itu ber­sifat jasmaniah dan bumiah. Berkat‑berkat yang dikaru­niakan ke atas kita adalah dari Allah Bapa, dalam Allah Putra, melalui Allah Roh, dan di dalam surga.
D. Di Dalam Kristus 
Terakhir, segala berkat rohani itu adalah di dalam Kristus. Kristus adalah kebajikan, alat, dan ruang ling­kup tempat Allah memberkati kita. Di luar Kristus, ter­pisah dari Kristus, Allah tidak ada hubungannya dengan kita, tetapi dalam Kristus, Dia telah memberkati kita dengan berkat rohani di dalam surga.
Kita bukan berada di dalam diri sendiri, melainkan di dalam Kristus. Bila kita berada dalam diri sendiri, kita putus hubungan dengan berkat Allah. Haleluyal Kita ber­ada di dalam Kristus, Dialah ruang lingkup, saluran, alat, dan kebajikan yang di dalamnya kita telah di­berkati.

DIPILIH MENJADI KUDUS
Dalam berita ini kita akan membahas masalah pe­milihan Allah (Ef 1:4), yakni masalah kita dipilih menjadi kudus.
1. PERKARA PERTAMA DALAM BERKAT ALLAH 
Efesus 1:4 mengatakan, "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan‑Nya. " Setelah ayat 3, ayat 4‑14 memberikan sebuah daftar tentang segala berkat rohani yang digunakan Allah untuk memberkati kita. Pemilihan Allah adalah berkat pertama yang Ia ka­runiakan kepada kita, dan perkara yang pertama dari kata‑kata indah Allah tentang gereja. Pemilihan Allah berarti seleksi Allah. Dari antara orang‑orang yang tak terhitung jumlahnya, Dia memilih kita.
2. DI DALAM DIA
Allah memilih kita "di dalam Dia", yaitu di dalam Kristus. Kristus adalah ruang lingkup yang di dalam‑Nya kita dipilih oleh Allah. Di luar Kristus kita bukan pilihan Allah.
3. SEBELUM DUNIA DIJADIKAN 
Ayat 4 mengatakan, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Ini ditujukan pada kekekalan yang lam­pau. Sebelum Dia menciptakan kita, Allah memilih kita menurut pandangan jauhnya yang tak terbatas. Kitab Roma dimulai dengan manusia jatuh di bumi, Surat Efe­sus dimulai dengan orang‑orang pilihan Allah di dalam surga. 

Pemilihan Allah bukan terjadi dalam waktu, melain­kan dalam kekekalan. Allah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Di antara jutaan manusia, Dia telah nampak dulu akan kita, bahkan sebelum kita terlahir, dan memi­lih kita sebelum dunia dijadikan. Ungkapan "sebelum dunia dijadikan" mencakup alam semesta, tidak hanya bumi. Ini berarti bahwa dunia, alam semesta, diciptakan bagi keberadaan manusia untuk menggenapkan tujuan kekal Allah. Maka manusia adalah inti ‑dari kehendak kekal Allah. Alam semesta dijadikan agar manusia dapat hidup, agar kehendak kekal Allah dapat digenapkan.
4. SUPAYA KITA MENJADI KUDUS 
Allah memilih kita supaya kita menjadi kudus. Istilah "kudus" telah dirusak oleh ajaran‑ajaran agama Kristen hari ini. Boleh jadi pengertian Anda terhadap "kudus" juga telah dipengaruhi oleh ajaran‑ajaran ter­ebut. Istilah "kudus" dalam Alkitab tidak boleh kita pahami menurut konsepsi alamiah kita. Banyak orang mengira kudus berarti keadaan tanpa dosa. Menurut konsepsi ini, jika seseorang tidak berbuat dosa, dia ada­lah orang kudus. Anggapan demikian sama sekali keliru. Kudus bukan keadaan tanpa dosa, juga bukan kesem­purnaan. Kudus bukan hanya berarti dikuduskan, disisih­kan bagi Allah, tetapi juga berbeda, terpisah dari segala sesuatu yang bersifat umum. Hanya Allah yang berbeda, terpisah dari segala sesuatu. Karena itu, Dia yang kudus; kudus adalah sifat‑Nya.

la membuat kita kudus dengan menyalurkan diri­Nya sendiri, Sang Kudus, ke dalam diri kita, sehingga seluruh diri kita diresapi dan dijenuhi dengan sifat ku­dus‑Nya. Bagi kita, kaum pilihan Allah, menjadi kudus berarti mengambil bagian dalam sifat ilahi Allah (2 Ptr. 1:4), dan membiarkan seluruh diri kita diresapi dengan Allah sendiri. Ini berbeda dengan sekadar sempurna tan­pa dosa atau murni tanpa dosa. Ini membuat diri kita kudus dalam sifat dan karakter Allah, sama seperti Allah sendiri.
A. Allah Itu Kudus 
                              Menjadi kudus berarti terpisah dari setiap perkara yang di luar Allah, juga berarti dibedakan dari segala yang bukan Allah. Maka kita tidak seharusnya menjadi umum, tetapi harus berbeda. Dalam alam semesta, hanya Allah yang kudus. Dia berbeda dengan setiap perkara dan terpisah. Karena itu, menjadi kudus berarti menjadi satu dengan Allah. Tanpa dosa atau sempurna tidak sa­ma dengan menjadi kudus. Untuk menjadi kudus, kita perlu menjadi satu dengan Allah, sebab hanya Allah yang kudus (Im. 11:44; 1 Sam. 2:2).
B. Di Mana Ada Allah, di Sana Kudus 
            Istilah "kudus" tidak tercantum dalam Kitab Kejadian. Istilah ini kali pertama dipakai dalam Kitab Keluaran. Di satu pihak, manusia dalam Kitab Kejadian masih belum terbawa ke dalam Allah. Dalam Kitab Ke­luaran, bukan dalam Kitab Kejadian, yakni ketika Allah mulai beroleh tempat kediaman di bumi, barulah manu­sia dibawa ke dalam tempat maha kudus. Tidak peduli berapa tingginya pengalaman rohani mereka yang berada dalam Kitab Kejadian, saat itu di bumi belum ada tempat maha kudus untuk dimasuki manusia. Tetapi dalam Kitab Keluaran terjadilah sesuatu yang luar biasa: di bumi dan di antara manusia ada satu tempat yang disebut tempat maha kudus, dan Allah ada di sana. Manusia bisa pergi ke tempat itu untuk berjumpa dengan Allah. Di sana, di dalam tempat maha kudus, Allah berfirman dan meng­atur. Karena tempat yang demikian tidak terdapat dalam Kitab Kejadian, maka istilah "kudus" juga tidak dipakai dalam kitab tersebut. Ketika Allah datang dan menyuruh umat‑Nya membangun Kemah Pertemuan dengan tempat maha kudus, barulah istilah "kudus" mulai dipergunakan.

            Penyebutan pertama istilah ini terdapat dalam pang­gilan atas Musa dalam Keluaran 3. Ketika Musa meng­gembalakan kawanan domba, ia melihat semak duri menyala di padang gurun. Sewaktu ia ingin melihat mengapa semak itu tidak terbakar habis, Allah berfirman kepadanya dari dalam semak duri, "Janganlah datang dekat‑dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus" (Kel. 3:5). Ini menunjukkan bahwa di mana saja Allah berada, tempat itu kudus. Ingatlah, hanya Allah yang kudus. Jika Anda tidak berhubungan dengan Allah, Anda tidak kudus; tidak peduli betapa Anda tanpa dosa atau sempurna. Anda mungkin tanpa dosa dan sempurna seluruhnya, tetapi bila Anda tidak berhubungan dengan Allah, Anda tidak kudus. Begitu Anda berhubungan dengan Allah, Anda segera menjadi kudus.
C. Apa saja yang dari dan untuk Allah Adalah Kudus 
Di mana saja, benda apa saja, perkara apa saja, dan siapa saja, yang berkaitan dengan Allah adalah kudus, sebab apa saja yang dari dan untuk Allah adalah kudus (Im. 20:26; Bil. 16:5; Neh. 8:9; Kel. 30:37).
D. Roh Allah Mencapai Manusia Adalah Roh Kudus 
Tambahan pula, ketika Roh Allah mencapai kita, Dia itulah Roh kudus (Luk. 1:35; Mat. 1:20; 28:19; lihat Rm. 1:4). Itulah sebabnya istilah "Roh Kudus" tidak dipakai dalam kitab Perjanjian Lama (Dalam Yesaya 63:10‑11 untuk "Roh Kudus‑Nya" seharusnya diterjemahkan men­jadi "roh kekudusan"). Istilah ini kali pertama dipakai ketika Tuhan Yesus akan dikandung dalam rahim Maria (Luk. 1:35). Hal ini menandakan bahwa kudus berarti membawakan Allah kepada manusia dan membawakan manusia kepada Allah. Lebih lanjut lagi, istilah ini juga berarti membawakan Allah ke dalam manusia dan mem­bawakan manusia ke dalam Allah. Bila Allah masuk ke dalam kita, kita menjadi kudus. Bila kita masuk ke da­lam Allah, kita menjadi lebih kudus. Tetapi ketika kita berbaur dengan Allah, kita akan menjadi paling kudus. Jadi, kita menjadi kudus oleh adanya Allah di dalam kita, kita menjadi lebih kudus dengan berada di dalam Allah, dan kita menjadi paling kudus dengan dibaurkan, di­resapi, dan dijenuhi oleh Allah.

Kitab Efesus menyebut kaum beriman "orang‑orang kudus" (Ef. 1:1). Setiap orang yang telah percaya Tuhan Yesus adalah orang yang kudus (orang saleh). Tetapi ada sebagian orang beriman yang kudus, ada yang lebih ku­dus, dan ada yang paling kudus. Tidak perlu diragukan, kita semua kudus, tetapi apakah kita lebih kudus atau paling kudus, itu patut dipertanyakan. Sebagai contoh, selama Anda beserta dengan Tuhan di waktu pagi, Anda mungkin berada di bawah proses diresapi dan dijenuhi oleh‑Nya. Tetapi kemudian istri Anda mengucapkan se­suatu yang menyinggung hati Anda, dan Anda menjadi marah. Kemudian setelah makan pagi, Anda kembali ke kamar dan berdoa, "Oh Tuhan, ampunilah aku. Aku tadi sudah dijenuhi oleh‑Mu, tetapi sepatah kata istriku me­nyebabkan aku terpisah dari‑Mu. Tuhan, bawalah aku kembali ke dalam penjenuhan‑Mu. Tuhan, aku memuji­Mu karena darah pembasuhan‑Mu." Perumpamaan ini bertujuan menunjukkan bahwa ketika kita bersekutu dengan Allah, kita ini kudus, sebab kita berada di bawah penjenuhan‑Nya. Tetapi bila kita meninggalkan Allah, kita menjadi tidak kudus. Saya ulangi, dikuduskan bukan berarti disempurnakan atau tanpa dosa, melainkan di­satukan dengan Allah. Ketika kita dijenuhi dan diresapi oleh Allah, kita akan menjadi paling kudus.

Kita telah nampak bahwa kekudusan adalah Allah sendiri. Pemakaian istilah "kudus" yang pertama ialah ketika Allah mulai memiliki sekelompok orang di bumi yang di tengah‑tengah mereka Dia dapat bermukim dan mereka dapat masuk ke hadirat‑Nya dalam tempat maha kudus. Sejak saat itu dan seterusnya, istilah ini dipakai berulang‑ulang dalam Kitab Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Banyak sekali benda yang tercantum dalam kitab‑kitab itu yang disebut kudus, sebab dalam kitab­kitab itu Allah telah datang di antara manusia dan manusia telah dibawa kepada Allah; karena itu, setiap benda yang berhubungan dengan Kemah Pertemuan dan keimaman itu kudus adanya. Setiap perkara yang ber­hubungan dengan pengaturan atau ketetapan Allah da­lam Perjanjian Lama, kudus adanya, sebab ia berhu­bungan dengan pertemuan bersama antara Allah dan manusia.

Kita telah menunjukkan bahwa kah pertama istilah "Roh Kudus" dipakai adalah ketika Tuhan Yesus dikan­dung dalam rahim gadis Maria. Hal ini merupakan per­kara yang jauh lebih besar daripada bermukimnya Allah dalam kemah di tengah‑tengah manusia. Kemah (Perte­muan) adalah tempat kediaman Allah. Tetapi inkarnasi Kristus berarti berkemahnya Allah di tengah‑tengah manusia. Yohanes 1:14 mengatakan, "Firman itu telah menjadi manusia (daging), dan tinggal (berkemah) di antara kita." Hal ini berawal dari waktu Kristus dikan­dung dalam rahim Maria. Peristiwa itu bukan hanya masalah kekudusan, juga masalah Roh Kudus. Walau ba­nyak benda dalam Perjanjian Lama itu kudus, tetapi tidak ada satu pun yang berasal dari Roh Kudus. Hanya dalam masa Perjanjian Baru, ketika Allah masuk ke da­lam manusia dan menjadi manusia, barulah kita memiliki sesuatu yang berasal dari Roh Kudus (Mat. 1:20).

Dalam kitab Perjanjian Baru Yunani sering kali dipakai ungkapan "Roh itu, yang kudus itu" (1 Tes. 4:8; Ibr. 3:7). Saya belum menemukan satu penjelasan yang memadai tentang ungkapan Yunani yang demikian. Ada beberapa orang menjelaskannya sebagai satu ungkapan bahasa Yunani belaka, namun saya meragukan apakah penjelasan seperti itu sudah memadai. Menurut roh saya, saya percaya bahwa alasan untuk ini dikarenakan Per­janjian Baru bukan hanya menitikberatkan Roh, juga ke­kudusan. Roh itulah kekudusan. Maka, Roh Kudus ka­dang kala disebut Roh itu, yang kudus itu. Di mana Roh itu berada, di situ ada kekudusan.

Hari ini Roh itu tidak hanya ada dalam kita, Ia pun menyatukan diri‑Nya dengan kita dan kita dengan‑Nya. Satu Korintus 6:17 mengatakan, "Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh de­ngan Dia." Karena itu, kekudusan sesungguhnya berarti diresapi oleh Allah, yakni membuat seorang yang biasa diresapi sepenuhnya oleh Roh itu. Tatkala Allah datang untuk tinggal di antara manusia, istilah "kudus" baru di­pakai untuk kali pertama. Ketika Allah datang sebagai manusia, istilah "Roh Kudus" baru pula disebut untuk kali pertama. Untuk menguduskan suatu perabot di Ke­mah Pertemuan, tidak perlu Roh Kudus. Begitu perabot itu ditaruh dalam Kemah Pertemuan untuk Allah, ia se­gera menjadi kudus. Kita tidak seperti perabot yang un­tuk Allah itu, kita adalah orang‑orang hidup yang dihuni Roh Allah di dalam kita, sehingga kita disatukan dengan­Nya. Ini bukan sekadar menjadi kudus, tetapi juga dire­sapi dengan Roh Kudus. Dikuduskan mula‑mula berarti dipisahkan kepada Allah; kedua berarti diterima Allah; ketiga berarti dimiliki Allah; dan keempat berarti di­resapi Allah dan disatukan dengan Allah. Akhirnya, hasil dari perkara ini dalam Alkitab adalah Yerusalem Baru, yang disebut kota kudus, sebuah kota yang bukan hanya milik Allah dan untuk Allah, tetapi diresapi Allah, dan bersatu dengan Allah. Yerusalem Baru adalah satu per­wujudan kudus yang dimiliki Allah, diduduki Allah, di­resapi Allah, dan yang bersatu dengan Allah. Inilah ke­kudusan.
E. Dipisahkan kepada Allah dalam Kedudukan
Untuk membuat kita menjadi kudus, pertama‑tama kita perlu dipisahkan kepada Allah dalam kedudukan. Terhadap keluarga, tetangga, rekan, dan teman sekolah, kita perlu dipisahkan. Namun, banyak orang Kristen yang sudah diselamatkan, belum lagi dipisahkan. Dalam keadaan normal, begitu seseorang beroleh selamat, ia pun harus dipisahkan. Itulah sebabnya orang yang percaya disebut orang kudus. Lihatlah mayoritas orang-orang Kristen hari ini. Pada hakekatnya mereka tidak berbeda dengan orang‑orang duniawi. Pada mereka tidak ada pemisahan. Sampai‑sampai banyak kerabat atau kawan mereka tidak tahu kalau mereka orang Kristen. Namun kudus berarti terpisah bagi Allah. Ini sudah tentu merupakan masalah kedudukan. 
1. Oleh‑ Darah Penebusan Kristus 
Kita telah dipisahkan kepada Allah oleh darah pene­busan Kristus (Ibr. 9:14). Tetapi kita tidak dapat nampak kuasa darah Kristus dalam kebanyakan orang Kristen dewasa ini. Semua orang Kristen percaya diri mereka telah ditebus, namun dalam beberapa orang di antara mereka tidak ada tanda penebusan darah. Tanda darah itulah tanda pemisahan. Bila Anda telah ditebus oleh da­rah, Anda pun harus membawa tanda pemisahan. Mung­kin orang lain boleh dengan bebas berkata atau berbuat sesuatu, namun Anda tidak dapat. Sekalipun Anda dapat melakukan perkara itu, tetapi Anda menahan diri untuk tidak melakukannya, karena Anda telah ditebus oleh darah. Pada Anda terdapat suatu tanda bahwa Anda ber­beda dan terpisah. Kalau orang lain boleh menuturkan perkataan tertentu, mengunjungi tempat tertentu, dan membeli barang tertentu, kita tidak dapat, sebab kita telah dipisahkan dan membawa tanda darah penebusan. Darah ini telah menguduskan dan memisahkan kita.
2. Oleh Roh Kudus
Kita pun telah dipisahkan kepada Allah oleh Roh Kudus (1 Kor. 6:11; 1 Ptr. 1:2; Rm. 15:16). Karena kuasa Roh menaungi kita, kita tidak dapat mengucapkan kata‑kata tertentu, mengunjungi tempat tertentu, dan me­ngerjakan perkara tertentu. Ini tidak berarti kita berada di bawah peraturan. Tidak, melainkan berarti bahwa kita berada di bawah darah penebusan dan di dalam Roh Kudus.
3. Di Dalam Nama Tuhan Yesus 
Kita mempunyai satu kedudukan yang dikuduskan, bukan hanya oleh darah dan oleh Roh, tetapi juga di dalam nama Tuhan Yesus (1 Kor. 6:11). Karena kita membawa nama Tuhan Yesus, kita tidak boleh memalu­kan nama‑Nya dengan bersikap umum. Orang lain boleh menonton pertandingan olahraga atau bioskop, tetapi ki­ta tidak mau, karena kita tidak mau memalukan nama Tuhan. NamaNya harus memelihara kita agar kita selalu terpisah. Jangan bertanya apakah suatu perkara itu ter­bilang berdosa atau tidak berdosa. Pemisahan tidak ber­kaitan dengan perkara berdosa atau tidak berdosa, me­lainkan masalah umum atau terpisah. Kita wajib mem­bawa beberapa tanda yang menunjukkan bahwa kita ber­ada di bawah darah, di dalam Roh, dan di dalam nama Tuhan Yesus.

Tidak dapat disangkal, pemisahan bukanlah suatu masalah yang sangat dalam, ia hanyalah pada aspek kedudukan saja. Tetapi janganlah mengira kedudukan itu tidak penting. Kedudukan sangat penting. Kita memiliki kedudukan sebagal orang kudus, orang yang terpisah; kita perlu menjaga dan memelihara kedudukan ini.
4. Sebelum Pembenaran 
                         Menurut doktrinnya, aspek pengudusan ini terjadi sebelum pembenaran (1 Kor. 6:11). Pengudusan keduduk­an mendahului pembenaran, tetapi pengudusan watak (sifat) menyusul pembenaran. Sebelum kita dibenarkan, kita telah dikuduskan oleh darah, oleh Roh Kudus, dan di dalam nama Tuhan Yesus.
F. Dijenuhi Allah dalam Watak Kita
1. Setelah Pembenaran 
Kini kita meninjau masalah pengudusan watak (sifat) kita, yang terjadi sesudah pembenaran (Rm. 6:19, 22). Ini adalah pengudusan yang bukan hanya pada kedudukan kita, tetapi juga di dalam watak kita. Maka, hal ini lebih dalam dan lebih subyektif daripada pengudusan kedu­dukan.

Dalam pengudusan yang subyektif ini, kita dijenuhi Allah dalam watak kita. Pemisahan dapat terjadi lebih mudah dan memakan waktu yang sangat singkat, namun untuk dijenuhi dalam watak memakan waktu panjang. Ji­ka kita setia kepada Tuhan, barulah kita akan dijenuhi dengan sifat Allah dari hari ke hari. Allah memang ingin menjenuhi kita dengan diri‑Nya sendiri, dan kita wajib menyesap Allah ke dalam diri kita. Hal ini memerlukan waktu. Inilah proses pengudusan kita.
Allah telah memilih kita dengan tujuan menjenuhi kita dengan diri‑Nya sendiri; Ia ingin menggarapkan diri­Nya ke dalam diri kita. Kemudian kita akan menjadi ku­dus, sekudus la sendiri. Dewasa ini, kita semua berada dalam proses penjenuhan. Saya telah berada dalam pro­ses ini lebih dari 50 tahun, dan saya masih berada di da­lamnya, yakni masih "menyesap" Allah dari hari ke hari. Kadang kala istri saya atau saudara saudari saya mem­bantu saya untuk menyesap Allah. Mereka membantu saya untuk rela dijenuhi, sekalipun sewaktu saya sendiri tidak mau. Maka, mau atau tidak, Tuhan tetap membuat saya dijenuhi‑Nya dan menyesap‑Nya. Banyak orang di antara kita yang dahulunya berada dalam kekristenan dapat bersaksi, ketika kita berada di sana, kita tidak mengalami banyak penjenuhan yang sedemikian. Akan tetapi sejak kita memasuki hidup gereja, kita mengalami sangat banyak penjenuhan Allah ini. Hidup gereja adalah hidup yang menyesap Allah. Mau atau tidak, kita tetap akan dijenuhi oleh unsur ilahi.

Saya tidak mempedulikan koreksi luaran, itu tidak ada artinya. Tetapi diresapi dan dijenuhi Allah sangat besar artinya. Dalam hidup gereja, Anda telah dikoreksi atau dijenuhi? Banyak di antara kita telah dijenuhi Allah dalam hidup gereja. Saya tidak mengapresiasi koreksi diri. Misalkan ada seseorang yang congkak dan ia me­ngoreksi dirinya supaya menjadi rendah hati, itu tidak ada artinya. Hanya satu perkara yang penting, yaitu kita dijenuhi Allah. Alangkah girangnya saya melihat banyak saudara saudari telah dijenuhi Allah; mereka telah me­nyesap kelimpahan Allah ke dalam diri mereka. Inilah kekudusan atau pengudusan yang diwahyukan dalam Alkitab.

Kita semua telah dipilih menjadi kudus dengan cara demikian. Pertama, kita dipisahkan kepada Allah; kedua, kita dijenuhi Allah; akhirnya kita menjadi satu dengan­Nya. Pada suatu hari, kita akan serupa dengan‑Nya. Hal itu akan menjadi tanda kegenapan pengudusan kita, pro­ses yang diawali pemisahan, dilanjutkan dengan penje­nuhan, dan tergenap dengan penebusan sepenuhnya atas tubuh kita. Pada saat itu, kita akan menjadi benar‑benar serupa dengan Dia lahir dan batin. Kita akan menjadi ku­dus. Dengan tujuan inilah kita dipilih oleh Allah sebelum dunia dijadikan.
2. Melalui Transformasi Jiwa 
Pengudusan secara watak ini pertama‑tama men­transformasi (mengubah) jiwa kita melalui dijenuhinya tiap bagian batin insani kita oleh unsur Allah yang ku­dus (2 Kor. 3:18; Rm. 12:2).
3. Melalui Transfigurasi Tubuh 
Melalui pengudusan watak tersebut, semua orang beriman pada akhirnya akan menjadi kota kudus yang di­jenuhi oleh Allah yang kudus (Why. 21:2, 10). Yang terakhir, pengudusan secara watak itu akan mentransfigurasi tubuh kita menjadi tubuh yang mulia seperti yang dimiliki Kristus (Flp. 3:21). Ini berarti un­sur kudus Allah akan menjenuhi tubuh kita sehingga tu­buh kita dapat ditebus (Rm. 8:23).
4. Terakhir Menjadi Kota Kudus
V. TAK BERCACAT 
Ayat 4 juga mengatakan bahwa kita dipilih di dalam Dia supaya kita tak bercacat. Suatu cacat adalah seperti sebutir benda asing dalam permata yang mahal. Kaum pilihan Allah seharusnya hanya dijenuhi dengan diri Allah, tanpa benda‑benda asing, seperti unsur manusia alamiah yang telah jatuh, daging, diri, atau perkara‑perkara du­niawi. Inilah "tanpa cacat", tanpa campuran apa pun, tanpa unsur lain, selain sifat kudus Allah. Setelah terba­suh seluruhnya dengan air dalam firman, gereja akan dikuduskan dengan cara demikian (Ef. 5:26‑27).

Hari ini, kita masih memiliki banyak sekali campur­an. Banyak benda asing, antara lain seperti daging, diri sendiri, dan hayat alamiah, masih terdapat di dalam kita. Tetapi kita sedang diubah secara berangsur‑angsur. Ma­ka, pada akhirnya kita akan dijadikan demikian kudus dan jernih, sehingga tanpa cacat, tanpa benda asing, melain­kan hanya unsur ilahi semata.
VI. DI HADAPAN‑NYA 
Kita akan menjadi kudus tanpa bercacat di hadapan­Nya. "Di hadapan‑Nya" menandakan bahwa kita kudus dan tak bercacat dalam pandangan Allah sesuai dengan standar Allah. Keadaan ini melayakkan kita untuk tetap di dalam hadirat‑Nya dan menikmati penyertaan‑Nya. Kita menjadi kudus dan tak bercacat bukan menurut standar atau pandangan kita sendiri, melainkan menurut standar‑Nya dan pandangan‑Nya.
VII. DALAM KASIH 
Terakhir, kita akan menjadi kudus tak bercacat di hadapan‑Nya, di dalam kasih. Kasih di sini mengacu ke­pada kasih Allah, dengan kasih ini Allah mengasihi umat pilihan‑Nya, dan dengan kasih ini juga umat pilihan‑Nya mengasihi Dia. Di dalam dan dengan kasih ini umat pi­lihan Allah menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan­Nya. Mula‑mula Allah mengasihi kita, kemudian kasih Allah ini membangkitkan kita untuk mengasihi‑Nya kem­bali. Dalam keadaan dan suasana kasih ini, kita dijenuhi Allah agar menjadi kudus dan tanpa cacat seperti apa adanya Dia. Dalam kasih ini, yaitu kasih yang timbal ba­lik, Allah mengasihi kita, dan kita membalasnya dengan kasih pula. Dalam kondisi semacam inilah kita diubah. Di bawah kondisi seperti inilah, kita dijenuhi oleh Allah.

Saya harap kita dapat nampak bahwa kekudusan yang diwahyukan dalam Alkitab mutlak berbeda dengan ajaran tentang koreksi diri atau perbaikan kelakuan yang ada pada hari ini‑ Pertama, kita dipisahkan kepada Allah, lalu kita dijenuhi dengan Allah secara terus‑menerus, hingga semua campuran dalam diri kita tertelan oleh si­fat ilahi‑Nya. Ketika hal ini mencapai kesempurnaannya, kita pun akan dikuduskan, diubah, dan diserupakan gambar Anak Allah, Yesus Kristus, dengan sempurna. Akhirnya, kita akan menjadi kudus dengan sempurna.
DITENTUKAN DARI SEMULA UNTUK MENJADI ANAK‑ANAK ALLAH

Dalam berita ini kita tiba pada masalah penentuan Allah atas diri kita dari semula untuk menjadi anak‑anak Allah. Efesus 1:5 mengatakan, “Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak­-anak‑Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak‑Nya." (kata ”kerelaan", dalam bahasa aslinya adalah "kesukaan". Red.). Dalam susunan tata bahasa ayat 4‑5, subyek dan predikat utamanya tidak terdapat dalam ayat 5, melainkan dalam ayat 4. Ayat 4 mengatakan, "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan‑Nya (dalam kasih).

Subyeknya ialah "Dia" dan predikat utamanya ialah "me­milih". Ayat ini boleh ditulis demikian: "Sebab di dalam Dia, Allah telah menentukan untuk memilih kita dari se­mula." Pemilihan Allah tidak dapat dipisahkan dari pe­nentuan‑Nya, sebab keduanya merupakan dua aspek dari satu perkara. Pemilihan Allah berjalan seiring dengan penentuan‑Nya dan penentuan‑Nya bersatu dengan pemi­lihan‑Nya. Sulit dikatakan yang mana yang pertama.

Ditentukan dari semula untuk menjadi anak‑anak Allah merupakan butir kedua dalam berkat Allah. Se­perti telah kita tuniukkan dalam berita yang lalu, butir pertama dalam berkat Allah adalah terpilihnya kita men­jadi kudus.
II. MENETAPKAN NASIB UMAT PILIHAN‑NYA DALAM KEKEKALAN YANG LAMPAU 
Dalam kekekalan yang lampau Allah telah menen­tukan kita untuk menjadi anak‑anak‑Nya, menetapkan nasib bagi umat pilihan‑Nya sebelum dunia dijadikan. Sa­saran penentuan Allah adalah keputraan. Bahkan kita te­lah ditentukan untuk menjadi anak‑anak Allah sebelum kita diciptakan. Maka, sebagai makhluk ciptaan Allah, ki­ta perlu dilahirkan kemball oleh‑Nya, agar kita boleh mengambil bagian dalam hayat‑Nya untuk menjadi anak-­anak‑Nya. Keputraan bukan hanya menyiratkan hayat, juga kedudukan anak. Orang‑orang yang telah ditetapkan ini memiliki hayat untuk menjadi anak‑anak‑Nya dan memiliki kedudukan untuk mewarisi Dia.
III. MEMBERI TANDA SEBELUMNYA PADA UMAT PILIHAN‑NYA
Kata "ditentukan dari semula" yang diterjemahkan dari bahasa Yunani boleh juga diterjemahkan "menandai sebelumnya" Memberi tanda sebelumnya adalah proses, sedangkan penentuan adalah tujuan, yaitu menetapkan nasib sebelumnya. Allah memilih kita sebelum dunia dijadikan, menandai sebelumnya kepada suatu nasib ter­tentu.
IV. MENURUT PENGENALAN DINI‑NYA 
Allah memilih dan menentukan kita menurut penge­nalan dini‑Nya (1 Ptr. 1:2). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kita dengan Allah diprakarsai oleh Allah me­nurut pengetahuan diri‑Nya.
V. MELALUI YESUS KRISTUS 
Allah menentukan kita untuk menjadi anak‑anak­Nya melalui Yesus Kristus. "Melalui Yesus Kristus" ber­arti melalui Putra Allah, Sang Penebus. Melalui Dia kita ditebus, menjadi anak‑anak Allah, memiliki hayat dan kedudukan sebagai anak‑anak Allah.
VI. SESUAI DENGAN KESUKAAN KEHENDAK‑NYA
Allah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak‑anak‑Nya sesuai dengan kesukaan kehendak‑Nya. Ini mewahyukan bahwa Allah mempunyai satu kehendak; dalam kehendak ini terdapat kesukaan‑Nya. Allah me­nentukan kita menjadi anak‑anak‑Nya sesuai dengan ke­sukaan‑Nya, menurut kesenangan hati‑Nya. Tidak seper­ti Kitab Roma, Kitab Efesus tidak berbicara dari sudut keadaan manusia yang penuh dosa, tetapi dari sudut ke­sukaan dalam hati Allah. Sebab itu, Kitab Efesus lebih dalam dan lebih tinggi. 
VII. KEPADA KEPUTRAAN (MENJADI ANAK‑ANAK ALLAH) 
Dalam ayat 4 kita nampak Allah telah memilih kita agar kita menjadi kudus. Tetapi menjadi kudus hanyalah prosedur, bukan sasaran. Sasarannya adalah keputraan, Kita telah ditentukan untuk menjadi anak‑anak‑Nya. De­ngan kata lain, Allah memilih kita supaya menjadi kudus agar kita boleh menjadi anak‑anak‑Nya. Jadi, menjadi kudus adalah proses, prosedur, tetapi menjadi anak‑anak Allah itulah sasaran. Allah tidak hanya menghendaki se­kelompok manusia yang kudus; Ia menghendaki banyak anak. Bagi kita mungkin sudah cukup kalau Allah me­milih kita menjadi kudus, dan kita mungkin merasa puas sekali akan hal ini. Namun Allah memilih kita menjadi kudus untuk satu maksud, dan maksud itu tidak lain lalah agar kita menjadi anak‑anak Allah. 

Baiklah kita mengambil contoh memanggang kue. Ketika seorang saudari memanggang kue, pertama‑tama ia menyediakan adonan dengan mencampurkan berbagai bahan dengan tepung terigu. Setelah bahan‑bahan ini tercampur dengan adonan, kita boleh mengatakan adon­an ini sebagai satu lukisan pengudusan. Mula‑mula adon­an dipisahkan, lalu dikuduskan melalui dimasukkannya berbagai bahan ke dalamnya. Setelah saudari ini meng­aduk adonan itu, la lalu membentuknya menjadi bentuk­-bentuk tertentu. Demikian pula, pertama‑tama Allah misahkan kita, lalu menaruhkan diri‑Nya ‑ Bapa, Putra, dan Roh Kudus ke dalam kita. Berikutnya ialah proses pengadukan. Mengatakan Allah mengaduk kita berarti Allah mengganggu kita. Kita mungkin menyukai kehidupan gereja yang tenang, tetapi sering kali Allah mengaduk, menjungkir‑balikkan urusan‑urusan kita. Na­mun justru inilah kehidupan gereja yang normal. 

Menjadi kudus berarti berbaur dengan Allah. Allah menguduskan kita dengan menaruh diri‑Nya ke dalam kita dan kemudian membaurkan kita dengan sifat‑Nya. Ini adalah masalah sifat, yaitu agar sifat kita diubah dengan sifat‑Nya. Kita dilahirkan sebagai yang insani dan alami, tetapi Allah menghendaki kita menjadi ilahi. Jalan satu‑satunya supaya hal ini dapat terjadi ialah dengan memasukkan sifat ilahi ke dalam diri kita dan berbaur dengannya. Dengan jalan inilah Allah menguduskan kita. Jadi, pengudusan adalah suatu prosedur untuk meng­ubah sifat kita. Tetapi, ini masih bukan sasarannya. Sa­sarannya berkaitan dengan pembentukan. Itulah sebab­nya selain Allah memilih kita menjadi kudus, Ia pun perlu menentukan kita dari semula untuk menjadi anak­anak‑Nya. Menjadi kudus adalah masalah sifat, tetapi menjadi anak‑anak adalah masalah pembentukan. Anak-­anak Allah adalah sekelompok manusia yang diserupakan dengan suatu bentuk atau rupa tertentu. 

Kaki dian emas dalam Wahyu 1 telah menjelaskan hal ini. Dalam sifatnya, kaki pelita itu emas, tetapi dalam bentuknya ia adalah sebuah kaki pelita. Untuk mempro­duksi sebuah kaki pelita emas, pertama bahannya harus emas murni. Ini ditujukan kepada prosedurnya. Tetapi sasaran dari prosedur ini ialah memproduksi kaki pelita yang memiliki bentuk khas. Demikian pula, menjadi ku­dus adalah prosedur kita untuk menjadi anak‑anak Allah. Sewaktu saya nampak kekudusan itu untuk keputra­an, saya berkata kepada diri sendiri, "Bagaimana kamu bisa merasa puas dengan kekudusan sebagai sasaran? Kamu hanya dapat merasa puas bila menjadi anak Allah." Jadi, kita tidak hanya menjadi kudus, juga menjadi anak­-anak Allah. Kita tidak hanya mempunyai sifat kudus Allah, bahkan memiliki Persona Anak‑Nya. Karena itu, kita tidak hanya menjadi, adonan kudus, juga sebagai anak‑anak Allah. 

Semua orang Kristen tahu bahwa kaum beriman yang sejati di dalam Kristus adalah Gereja. Namun ge­reja bukan hanya sekelompok manusia yang telah beroleh selamat. Gereja adalah manusia korporat yang telah diku­duskan sifatnya menjadi anak‑anak Allah. Orang korpo­rat ini seharusnya dikuduskan, diresapi, dan dibaurkan dengan sifat Allah. Demikian, mereka baru menjadi anak­-anak Allah. Orang‑orang yang demikian adalah gereja.

Situasi agama Kristen hari ini menyimpang jauh dari yang demikian. Dalam agama Kristen kita nampak ke­lompok‑kelompok orang yang telah beroleh selamat, na­mun mereka masih awam dan duniawi, tanpa kekudusan sedikit pun. Lagi pula, mereka tidak hidup seperti anak-­anak Allah. Sebaliknya, mereka kebanyakan hidup seper­ti anak‑anak orang dosa. Walaupun begitu banyak orang percaya Tuhan Yesus, dibasuh oleh darah, dan dilahirkan kembali oleh Roh, tetapi mereka masih duniawi dan awam, tanpa tanda kekudusan dalam kehidupan mereka. Mereka sama sekali serupa dengan tetangga, teman, atau kerabat mereka. Namun demikian, mereka menga­takan dirinya itu gereja. Alangkah memalukan Allah dan alangkah memalukan gereja! Gereja tersusun dari seke­lompok orang yang telah dipisahkan bagi Allah, dijenuhi dengan sifat Allah, dan dikuduskan sepenuhnya untuk hidup sebagai anak‑anak Allah. Gereja jelas bukan seke­lompok orang Kristen yang duniawi, yang hidup seperti anak‑anak orang dosa. Memalukan sekali jika Anda menga­takan kelompok orang yang semacam itu gereja.

Kalau kita menyatakan diri kita gereja, kita harus bertanya apakah kita ini orang yang telah dipisahkan dan dikuduskan. Sudahkah kita dipisahkan bagi Allah dan di­jenuhi Allah? Sudahkah kita dikuduskan dalam kedu­dukan dan watak oleh sifat Allah untuk hidup seperti anak‑anak Allah? Oh, semoga mata kita tercelik, sehing­ga kita nampak apa itu gereja. Gereja bukanlah sekelom­pok orang Kristen yang bergairah, tetapi awam dan du­niawi, tanpa pemisahan atau penjenuhan apa‑apa. Gereja tersusun dari mereka yang telah Allah kuduskan, untuk hidup seperti anak‑anak Allah.

Ingatlah, Kitab Efesus membahas masalah gereja. Dalam kata pembukaan kitab ini, diberitahukan bahwa gereja adalah orang‑orang yang berada di bawah kata-­kata indah Allah (Ef 1:3). Perkara yang pertama dalam kata‑kata indah Allah adalah kita telah dipilih untuk menjadi kudus. Itulah berkat Allah, kata‑kata indah‑Nya tentang kita. Tetapi, banyak orang Kristen menolak ber­kat ini. Allah mengatakan bahwa la telah memilih kita untuk menjadi kudus, tetapi mereka mengatakan mereka tidak mau berbeda dengan orang lain. Ada sebagian orang berkata, "Kami tidak mau menjadi kudus. Kami suka menjadi awam." Allah berkatal "Kamu telah dipilih agar berbeda." Tetapi mereka membantah, "Kami tidak ingin berbeda. Kami ingin menjadi serupa dengan orang lain." Menolak kata‑kata indah Allah yang sedemikian berarti memberontak. Oh, semoga Tuhan membelaskasihani ki­ta! Betapa kita memerlukan rahmat‑Nya, karena situasi hari ini demikian kasihan! Kita perlu nampak bahwa kita telah dipilih untuk menjadi kudus, agar kita dapat me­nempuh kehidupan anak‑anak Allah.
A. Melalui Roh Anak Allah 
Sekarang kita perlu membahas tiga perkara tentang keputraan, yaitu tentang kita menjadi anak‑anak Allah. Pertama‑tama Allah telah menentukan kita untuk men­jadi anak‑anak‑Nya melalui menaruh Roh Anak‑Nya ke dalam kita. Pada waktu kita percaya Tuhan Yesus dan dilahirkan kembali, Roh Allah masuk ke dalam kita se­bagai Roh Anak Allah. Itulah sebabnya setelah kita di­lahirkan kembali kita dapat dengan mudah dan manis menyebut "Ya Abba, ya Bapa." Sebelum kita dilahirkan kemball, kita hanya dapat berkata, "Ya Allah, tolonglah aku." Namun setelah kita diselamatkan, kita dengan spontan mulai berseru secara lembut dan dengan rasa manis, "Ya Abba, ya Bapa."
Roma 8:15 dan Galatia 4:6 mengatakan hal ini. Gala­tia 4:6 mengatakan bahwa Roh Anak berseru, "Ya Abba, ya Bapa." Tetapi Roma 8:15 mengatakan kitalah yang berseru demikian. Hal ini menunjukkan bahwa seruan kita adalah seruan‑Nya dan seruan‑Nya adalah seruan kita. Kita dan Dia bersama‑sama berseru, "Ya Abba, ya Bapa", demikian manis dan intim. Tetapi ketika kita mengatakan demikian,‑ kita merasa senang, manis dan nyaman! Ini membuktikan dengan kuat bahwa Roh Allah ada di dalam kita, kita memiliki Roh keputraan.
Sering kali orang‑orang muda bertanya kepada saya tentang olahraga. Ada beberapa yang ingin mendebat de­ngan mengatakan bahwa berolahraga tidak ada salahnya. Saya menjawab, "Saya tidak mengatakan berolahraga itu salah. Saya hanya ingin bertanya, dapatkah kalian me­nyebut 'ya Abba, ya Bapa' sewaktu kalian ingin mengikuti olahraga tertentu?" Jawab mereka, "Saudara Lee, Anda memang terlalu pintar. Anda tahu jika kami menyebut ‘ya Abba, ya Bapa', kami pasti tidak jadi mengikuti olah­raga itu, karena kami tahu Bapa kami tidak memper­kenankannya." Saya tidak menentang olahraga, tetapi saya menentang si jahat itu. Tidak perlu Anda bertanya kepada saya tentang olahraga. Sebaliknya, berseru saja, "Ya Abba, ya Bapa." Jika Anda melakukan hal ini, Dia akan menyuruh Anda berdoa atau membaca Alkitab se­bagai pengganti olahraga itu. Saya dapat bersaksi bahwa saya telah ditanggulangi oleh Bapa sedemikian. Itulah ha­yat anak‑anak Allah. Apakah Anda menempuh kehidupan anak‑anak Allah, atau menempuh kehidupan anak‑anak orang dosa, yaitu anak‑anak durhaka?
B. Dalam Hayat Anak Allah 
Kita telah ditentukan untuk menjadi anak‑anak Allah bukan hanya melalui Roh Anak Allah, juga di dalam hayat Anak Allah. Ini sangatlah subyektiL Kita benar­benar memiliki hayat Anak Allah. Seperti dikatakan da­lam 1 Yohanes 5:12, "Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup; siapa yang tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup." Karena itu, kita bukan anak me­nantu Allah, melainkan anak Allah yang memiliki hayat Allah. Sering kali, kita mungkin bisa menolak Roh Anak Allah, tetapi kita tidak dapat menolak hayat Anak Allah, karena hayat itu telah menjadi diri kita. Kita memiliki dua manusia: manusia alamiah yang dilahirkan oleh orang tua kita, dan manusia rohani yang dilahirkan oleh Allah. Dalam manusia kedua inilah kita memiliki hayat Anak Allah. Menurut manusia kedua ini, kita tidak saja me­miliki Roh Yang bergerak dan bekerja dalam batin kita, kita pun memiliki hayat yang telah menjadi diri kita sen­diri; bukan diri yang alamiah, melainkan yang rohani. Kadang‑kadang kita tidak saja memberontak kepada Roh, juga kepada diri kita sendiri, menentang diri sen­diri.
Saya tidak setuju dalam gereja harus ada suatu peraturan. Namun, saya tahu dalam setiap anak Allah terdapat Roh Anak Allah dengan hayat Anak Allah. Ka­rena itu, tidak perlu ada peraturan‑peraturan. Sebagai contoh: Anda tidak perlu menempelkan sebuah peratur­an di rumah Anda Yang menyatakan anak‑anak Anda ti­dak boleh makan barang Yang pahit, hanya boleh makan barang Yang manis. Andaikata seorang anak memasuk­kan sesuatu Yang pahit ke dalam mulutnya, ia akan me­muntahkannya dengan spontan, sekalipun ia tidak me­ngetahul apa artinya pahit. Karena hayat dalam setiap anak menolak benda‑benda Yang pahit, tidak perlu diberi peraturan tentang hal‑hal Yang pahit. Sebagai tambahan Roh Anak Allah, kita memiliki hayat Anak Allah. Jika kita mengecap sesuatu yang dirasa pahit oleh hayat Anak ini, kita tidak dapat berpura‑pura merasa senang ter­hadapnya. Walau kita boleh berpura‑pura senang, tetapi di dalam batin kita tidaklah senang, sebab kita tahu bah­wa kita telah bertindak melawan hayat Anak Allah. Jika kita menyebut, "Ya Abba, ya Bapa" dan hidup menurut hayat Anak Allah, kita akan bersukacita dalam lubuk ba­tin kita. Pada hakekatnya, seluruh diri kita akan dipe­nuhi oleh sukacita.
C. Dalam Kedudukan Anak Allah
Kita tidak saja memiliki Roh Anak Allah dan hayat Anak Allah, kita pun memiliki kedudukan Anak Allah (Yoh. 20:17). Sesungguhnya, keputraan lebih erat hu­bungannya dengan kedudukan daripada dengan hayat. Mungkin Anda seorang anak dari ayah Anda, tetapi ka­rena alasan hukum tertentu, Anda mungkin tidak mem­punyai kedudukan sebagai anak, jika demikian berarti Anda tidak memiliki hak keputraan. Jadi, keputraan me­rupakan masalah hukum. Sebagai contoh: seseorang mungkin sebenarnya bukan terlahir sebagai anak orang kaya. Tetapi bila ia memiliki kedudukan sebagai anak orang itu secara hukum, maka ia berhak menjadi ahli warisnya. Warisan itu menjadi miliknya bukan menurut hayat, melainkan menurut kedudukannya. Tetapi bebe­rapa anak yang sejati malahan boleh jadi kehilangan ke­dudukan sebagai anak, sekalipun mereka memiliki hayat ayah mereka. Ini menerangkan suatu fakta bahwa hayat anak Allah hanya berkaitan dengan hayat, tetapi kedU­dukan anak Allah itu masalah hukum. Haleluya, kita memiliki Roh Anak Allah, hayat Anak Allah, dan kita pun memiliki kedudukan Anak Allah.

Semuanya ini adalah untuk warisan kita. Karena kita anak‑anak Allah, kita akan mewarisi segala apa adanya Allah dan segala milik Allah. Kita mempunyai kedudukan yang sah untuk mewarisi segala kekayaan Bapa. Dalam kehidupan gereja, kita menikmati Bapa dari hari ke hari. Hari ini, hal ini mungkin merupakan masalah hayat, te­tapi kelak ini juga merupakan masalah kedudukan. Wah­yu 21:7 mengatakan, "Siapa yang menang, ia akan mem­peroleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak‑Ku." Dalam ayat ini, menjadi anak dan mewarisi semuanya, bukan hanya masalah ha­yat, juga masalah kedudukan. Walau kita hari ini adalah anak‑anak Allah di dalam hayat, namun alam semesta be­lum lagi nampak kita sebagai anak‑anak Allah pada aspek kedudukan. Tetapi ketika Yerusalem Baru tiba, alam semesta akan mengetahui bahwa kita adalah anak‑anak Allah dalam kedudukan, juga dalam hayat kita. Andai­kata saya masuk ke sebuah rumah makan dan menyata­kan kepada orang‑orang yang duduk di situ bahwa saya adalah anak Allah, mereka pasti akan menganggap saya mengidap sakit jiwa. Namun, ketika Yerusalem Baru ti­ba, kita tidak perlu mengatakan apa‑apa. Setiap orang dapat melihat kita sebagai anak‑anak Allah dalam kedu­dukan kita. Semua malaikat akan berkata, "Lihat orang­orang itu ‑ mereka adalah anak‑anak Allah. Mereka menikmati Allah dan mewarisi segala apa adanya Allah di dalam Yerusalem Baru."
Hari ini gereja adalah miniatur Yerusalem Baru. Dalam gereja kita adalah anak‑anak Allah dalam hayat dan kedudukan. Kita tidak perlu saling mengatakan bah­wa kita adalah anak‑anak Allah, sebab kita mengenal satu sama lain bahwa kita adalah anak‑anak Allah. Karena ki­ta memiliki Roh, hayat, dan kedudukan, kita saling me­mahami dan saling mengenal. Kita mengakui bahwa kita semua adalah anak‑anak Allah. Walaupun kita mempu­nyai Roh, hayat, dan kedudukan sebagai anak‑anak Allah, tetapi ditinjau dari watak kita, kita masih belum kudus. Karena itu, dalam kehidupan gereja Allah senantiasa membaurkan kita, agar kita dapat dikuduskan melalui berbaur dengan sifat‑Nya.

Banyak guru Kristen menunjukkan bahwa Kitab Efesus membahas masalah gereja, namun mereka sendiri tidak berada dalam kehidupan gereja yang riil. Kita tidak puas dengan hanya membicarakan gereja, kita ingin me­miliki kehidupan gereja secara riil. Kehidupan gereja yang riil terdapat dalam terpilihnya kita agar menjadi kudus, dan penentuan‑Nya atas kita untuk menjadi anak­-anak dengan Roh, hayat, dan kedudukan. Karena kita memiliki ketiga hal tersebut, maka Bapa sering meletak­kan kita ke dalam alat pengaduk, agar kita dapat diku­duskan pada aspek watak. Kadang kala Bapa seolah‑olah berkata, "Anak‑Ku, kamu mempunyai Roh, hayat, dan kedudukan, tetapi kamu masih perlu diaduk. Kamu perlu dibaurkan dengan sifat‑Ku yang kudus. Aku telah memi­lihmu menjadi kudus. Kini Aku akan menggarap dirimu, agar kamu menjadi anak‑Ku yang kudus." Inilah kehi­dupan gereja. 

Kita semua mengharapkan kehidupan gereja menjadi teduh, tenang, dan damai sejahtera. Tetapi tidak ada da­pur yang demikian pada saat koki menyiapkan makanan. Sebaliknya, segalanya berantakan. Bila keadaan dapur ti­dak demikian ketika makanan dipersiapkan, tidak mung­kin ada pesta. Kehidupan gereja hari ini serupa dengan suatu dapur yang penuh dengan macam‑macam barang yang berantakan. Di satu pihak, kehidupan gereja me­mang indah dan mulia, tetapi di pihak lain, kehidupan gereja benar‑benar "berantakan", agar kita dapat berbaur dengan Allah dan menjadi kudus. Semakin mengalami pembauran, kita akan semakin dikuduskan. Tatkala Ye­rusalem Baru tiba, ia akan menjadi keputraan yang ku­dus dan korporat dengan Roh, hayat, dan kedudukan. Pada saat itu, pembauran akan berlalu, karena kita se­mua sudah dijenuhi, dikuduskan, dan diubah. Itu barulah keputraan yang sempurna.

VIII. KEPADA DIRI‑NYA SENDIRI
Keputraan membawa kita kepada Allah, yaitu masuk ke dalam diri Allah sendiri, supaya kita dapat disatukan dengan‑Nya dalam hayat dan sifat.
IX.   DISERUPAKAN DENGAN GAMBAR ANAK‑NYA
Sewaktu Bapa membawa kita kepada keputraan yang sempurna, kita diserupakan dengan gambar Anak‑Nya (Rm. 8:29). Hal ini berarti Allah hendak "memutrakan" seluruh diri kita. Proses pemutraan ini sedang berlang­sung dalam kehidupan gereja dewasa ini. Boleh jadi Anda telah disalahl oleh seseorang dalam kehidupan gereja, atau Anda yang menyalahi orang lain. Baik disalahi mau­pun menyalahi, kedua‑duanya berguna bagi proses "pe­mutraan". Saya bukan menganjuri Anda untuk disalahi atau menyalahi orang lain. Tetapi nyatanya masalah ter­sebut tidak dapat kita hindari. Jika bukan Anda yang menyalahi orang, Anda akan disalahi orang. Tetapi kita semua akan "diputrakan" oleh hal tersebut. Semakin di­salahi, kita akan semakin "diputrakan". Jika Anda tidak pernah disalahi dalam kehidupan gereja, Anda mungkin masih belum banyak mengalami "pemutraan". Berbaha­gialah bila Anda disalahi oleh saudara saudari atau para penatua, sebab Anda telah cukup "diputrakan". Tetapi, ada sebagian orang tidak bisa disalahi orang. Bila di­salahi, ia akan meninggalkan kehidupan gereja. Pada saat demikian, seharusnya tidak meninggalkan kehidupan ge­reja, melainkan menghargainya, bahkan mencium hal‑hal yang menyalahi kita, sebab hal‑hal itulah yang "memut­rakan" kita. Bila Anda ingin melarikan diri dari kehidup­an gereja, hayat Anak Allah dalam Anda akan berkata, "Janganlah melarikan diri. Tinggallah dan tanggunglah hal itu, bahkan rangkullah dia." Bila Anda merangkul hal itu, ia akan menjadi sukacita Anda. Itulah "pemutraan' dalam kehidupan gereja.
Kita semua berada dalam proses "pemutraan". Kita memiliki Roh Anak Allah, hayat Anak Allah, dan kedu­dukan Anak Allah, tetapi kita masih perlu diserupakan dengan gambar Anak Allah. Karena itu, kita perlu lebih banyak "pemutraan". Tuhan hendak menyerupakan kita dengan gambar‑Nya, gambar Anak Allah. Satu‑satunya tempat yang memungkinkan hal ini bisa terjadi adalah kehidupan gereja. Di luar gereja kita tidak dapat diseru­pakan dengan gambar Anak Allah. Sebab itu, saya meng­anjuri kalian, bersukacitalah dalam kehidupan gereja yang serba berantakan ini. Janganlah menendang duri (galah rangsang), melainkan terimalah proses "pemutra­an" dengan senang hati.
X. DISEMPURNAKAN DALAM KEPUTRAAN 
Akhirnya, kita akan disempurnakan dalam keputra­an. Kesempurnaan keputraan, keputraan yang penuh, adalah penebusan tubuh kita (Rm. 8:23). Ini berarti tu­buh kita akan ditransfigurasi dan juga "diputrakan". Roh kita telah "diputrakan, jiwa kita dalam proses "pemutra­an", dan ketika Tuhan datang, tubuh kita juga akan "diputrakan". Itulah kesempurnaan keputraan.
XI. TERAKHIR MEWARISI SEGALA APA ADANYA ALLAH 
Terakhir, makna keputraan adalah kita akan me­warisi segala apa adanya Allah sampai selama‑lamanya (Why. 21:7). 
PUJIAN ATAS KEMULIAAN ANUGERAH ALLAH

Dalam berita ini kita akan membahas tentang pujian atas kemuliaan anugerah (kasih karunia) Allah (Ef 1:6). Judul ini kelihatannya sangat sederhana, tetapi sesung­guhnya sangat sulit. Boleh jadi kita mengira bahwa kita mengenal istilah‑istilah pujian, kemuliaan, dan anugerah, namun bila kita jujur, kita akan mengakui bahwa kita ti­dak cukup mengetahui apa sebenarnya makna istilah-­istilah tersebut.

Efesus 1:6 mengatakan, "Supaya terpujilah anuge­rah‑Nya yang mulia, yang dikaruniakan‑Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi‑Nya." Ayat ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan akibat atau hasil penentuan keputraan yang dikatakan dalam ayat sebe­lumnya. Ini berarti pujian atas kemuliaan anugerah Allah adalah hasil atau akibat keputraan. Karena itu, untuk memahami pujian dalam ayat 6, haruslah kita memahami keputraan dalam ayat 5. Jika kita tidak memahami isi keputraan, kita hanya mungkin memahami ayat 6 secara alamiah.
I. ANUGERAH ADALAH APA ADANYA ALLAH TERHADAP KITA BAGI KENIKMATAN KITA
Apa itu anugerah Allah? Sulit sekah mendefinisikan anugerah. Saya telah dipersulit olehnya bertahun‑tahun lamanya, bahkan sampai hari ini saya masih mempela­jarinya. Menurut Perjanjian Baru, anugerah adalah apa adanya Allah terhadap kita bagi kenikmatan kita (Yoh. 1:16‑17; 2 Kor. 12:9; 1 Kor. 15:10). Yohanes 1:17 menga­takan bahwa hukum Taurat diberikan melalui Musa, te­tapi anugerah dan kebenaran (realitas) datang dari Yesus Kristus. Dalam 1 Korintus 15:10 Paulus mengatakan bah­wa ia bekerja lebih keras daripada rasul‑rasul lainnya, tetapi bukan dia, melainkan anugerah Allah yang me­nyertainya. Galatia 2:20 sejajar dengan 1 Korintus 15:10. Galatia 2:20 mengatakan, "Tetapi bukan aku, melainkan Kristus". sedang 1 Korintus 15:10 mengatakan, "Tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyer­tai aku." Ini menunjukkan bahwa anugerah adalah Kris­tus itu sendiri. Bagian lain dari Perjanjian Baru juga me­nekankan anugerah. Sebagai contoh, "Anugerah Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Ku­dus menyertai kamu sekalian" (2 Kor. 13:13). Selain itu, Paulus mengawali semua surat kirimannya dengan me­nyebut anugerah; ia pun mengakhirinya dengan kata‑kata tentang anugerah. "Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara‑saudara! Amin" (Gal. 6:18). "Tuhan menyertai rohmu. Anugerah‑Nya menyertai kamu!" (2 Tim. 4:22). Dalam ayat ini Kristus paralel de­ngan anugerah. Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kita sama dengan anugerah menyertai roh kita. Ini menun­jukkan bahwa anugerah pada hakekatnya sama dengan Kristus. Ketika kita memiliki Kristus, kita memiliki anu­gerah. Ketika Kristus tiba, anugerah pun tiba. Inilah se­babnya Yohanes 1:17 mengatakan bahwa anugerah datang dari Yesus Kristus, menunjukkan bahwa anugerah agak mirip dengan seseorang. Anugerah dipersonifikasikan se­bagai seorang manusia. Personifikasi anugerah ini tak lain ialah Allah sendiri.

Walau hal ini bagi sementara orang kedengarannya agak asing, namun ini adalah fakta. Mengenai anugerah, jika Anda memasuki roh dalam Perjanjian Baru, Anda akan nampak bahwa sedikit atau banyak anugerah me­mang dipersonifikasikan. Tatkala Paulus berkata, "Bukan aku, melainkan anugerah Allah", anugerah merupakan satu persona hidup baginya. Dalam Paulus, ada satu Per­sona menjadi anugerah untuk bekerja keras. Karena itu, anugerah sesungguhnya adalah Allah itu sendiri; yaitu apa adanya Allah terhadap kita bagi kenikmatan kita. Ketika Allah telah kita nikmati, itulah anugerah. Anu­gerah adalah Allah sendiri, yang menjadi bagian kita di dalam Yesus Kristus Anak‑Nya, agar kita dapat menik­mati segala apa ada‑Nya.

Allah itu kasih. Bila kita tidak menikmati‑Nya seba­gai kasih, kita tidak memiliki anugerah. Tetapi jika kita menikmati Allah sebagai kasih, kita memiliki anugerah. Sekali lagi saya katakan, anugerah ialah apa adanya Allah terhadap kita sebagai bagian kita, untuk kenikmat­an kita. Kita seharusnya tidak hanya menyanyikan, bah­wasanya untuk selama‑lamanya kasih setia‑Nya, tetapi juga anugerah‑Nya. Kita perlu mengubah beberapa lagu tentang Allah menjadi anugerah kita, untuk mengeks­presikan bahwa Allah itu untuk kenikmatan kita. Jika kita memuji Allah hanya untuk kasih setia atau belas ka­sih‑Nya, berarti kita tetap berada di taraf Sekolah Dasar. Kita perlu maju terus, dari kasih setia kepada anugerah Allah. Anugerah terbit dari belas kasih, seperti halnya Sekolah Menengah sebagai lanjutan Sekolah Da­sar. Setelah tamat Sekolah Dasar, kita harus menerus­kan ke Sekolah Menengah. Kita perlu maju terus, jangan selalu tertinggal di Sekolah Dasar. Namun hari ini ba­nyak orang Kristen, sekalipun telah bertahun‑tahun la­manya menjadi orang Kristen, tetap saja tertinggal di tahap Sekolah Dasar. Marilah kita maju terus menuju tingkat yang lebih tinggi, dan memuji Allah karena anugerah‑Nya. 
II. KEMULIAAN ANUGERAH ALLAH BERARTI ALLAH DIEKSPRESIKAN DALAM ANUGERAH‑NYA 
Kini kita perlu membahas apa itu kemuliaan anuge­rah Allah. Boleh jadi Anda telah sering membaca Kitab Efesus tanpa memperhatikan ungkapan "kemuliaan anu­gerah‑Nya" ini. Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Kristus, Anak Allah, adalah cahaya kemuliaan Allah. Allah mem­punyai satu kemuliaan, dan cahaya atau pancaran kemu­liaan‑Nya ialah Anak‑Nya. Jika Anda mempelajari dengan seksama perihal kemuliaan dalam Alkitab, Anda akan mengetahui bahwa kemuliaan adalah Allah yang tereks­presi. Bila Allah terekspresi, itulah kemuliaan. Kita boleh mengambil listrik sebagai contoh. Listrik itu tersem­bunyi, tetapi bila diekspresikan sebagai terang, terang itu adalah kemuliaan listrik. Begitu pula, bila Allah ter­sembunyi, kita tidak dapat nampak kemuliaan‑Nya, teta­pi bila la terekspresi, kemuliaan‑Nya ternyatakan. Karena itu, kemuliaan berarti Allah terekspresi. Begitu didiri­kan, tabernakel dipenuhi oleh kemuliaan Allah (Kel. 40:34). Kemuliaan itu adalah ekspresi Allah. Seprinsip dengan ini, Anak Allah datang sebagai cahaya kemuliaan Allah Yang berarti Dia adalah ekspresi Allah. Tidak ada se­orang pun Yang pernah melihat Allah, tetapi kita telah nampak kemuliaan Anak Tunggal‑Nya.

Kemuliaan anugerah Allah menandakan bahwa anu­gerah Allah, Yang adalah diri‑Nya sendiri sebagai kenik­matan kita, mengekspresikan Dia. Allah terekspresikan dalam anugerah‑Nya, dan penentuan‑Nya adalah untuk pujian ekspresi ini. Ketika kita menerima anugerah dan menikmati Allah, kita memiliki perasaan mulia, wa­laupun kita mungkin tidak mempunyai kata‑kata untuk mengekspresikan perasaan itu. Kadang kala setelah sele­sai suatu sidang Yang indah, kita dipenuhi oleh anugerah dan kita berkata, "Alangkah mulianya!" Ini berarti Allah terekspresi dalam anugerah‑Nya.

Ketika kita nampak bahwa kita telah dipilih untuk menjadi kudus dan ditentukan untuk keputraan, nampak bahwa kita memiliki Roh Anak, hayat Anak dan kedu­dukan Anak, dan nampak bahwa kita akan diserupakan dengan gambar Anak, memiliki kesempurnaan keputra­an, penebusan tubuh, dan mewarisi keputraan Yang sem­purna, kita akan berseru, "Oh, alangkah mulianya!" Kita perlu merenungkan keenam perkara ini sambil berdoa: Roh Anak, hayat Anak, kedudukan Anak, gambar Anak, kesempurnaan keputraan, dan warisan keputraan. Bila Anda berbuat demikian, Anda akan berada dalam kemu­liaan dan memuji Allah atas keputraan.
III. PUJIAN ATAS KEMULIAAN ANUGERAH ALLAH ADALAH PUJIAN TINGGI ATAS TEREKSPRESINYA ALLAH DALAM ANUGERAH‑NYA 
Kita telah nampak bahwa anugerah itu berarti Allah sendiri menjadi kenikmatan kita, kemuliaan berarti ter­ekspresinya Allah, dan kemuliaan anugerah Allah berarti Allah diekspresikan dalam kenikmatan kita terhadap­Nya. Sekarang kita harus meninjau aspek yang tersulit dalam berita ini, yaitu makna pujian dalam ayat 6. Apa maksud pujian kemuliaan anugerah Allah? Pernahkah Anda memuji Allah karena keputraan? Kita, anak‑anak Allah, tidak banyak memuji‑muji Allah. Biasanya kita bersyukur kepada‑Nya saja. Ketika kita mengatakan, "Puji Tuhan," maksud kita sering berarti, "Syukur ke­pada Tuhan". Bersyukur kepada Allah berarti kita berte­rima kasih untuk suatu kebaikan Allah. Tetapi tatkala kita memuji Allah, itu terutama berarti memuji‑Nya atas apa ada‑Nya atau perbuatan‑Nya, tidak peduli kita me­nerima suatu kebaikan dari Dia atau tidak. Dalam me­muji Allah Anda harus melupakan diri sendiri dan keluar dari diri sendiri. Ketika Anda benar‑benar memuji Allah, seolah‑olah diri Anda sendiri tidak ada. Anda hanya nampak apa adanya Allah dan apa yang Dia lakukan.

Karena itu, Anda memuji‑Nya dan mengatakan kata‑kata indah tentang Dia. Dengan perumpamaan yang ekstrem, seandainya Allah menyuruh Anda turun ke neraka, da­patkah Anda memuji‑Nya? Jika Anda benar‑benar me­ngenal Allah, Anda dapat berkata, "Ya Allah, sekalipun Engkau menyuruh aku turun ke neraka, aku akan tetap memuji‑Mu, sebab Engkau adalah Allah." Oh, betapa per­lunya kita belaJar memuji‑Nya!
IV. ALLAH MENENTUKAN KITA UNTUK KEPUTRAAN BAGI KETERPUJIAN EKSPRESI ALLAH DI DALAM ANUGERAH‑NYA
Allah menentukan kita untuk keputraan bagi kepuji­an ekspresi‑Nya di dalam anugerah‑Nya. Mungkin para malaikat adalah yang pertama‑tama memuji Allah atas keputraan kita. Ketika para malaikat memuji Allah atas keputraan kita, setan‑setan akan terkejut dan berkata, "Astaga, orang‑orang dosa yang kita kuasai bisa menjadi anak‑anak Allah!" Bukan hanya para malaikat memuji Allah atas keputraan kita, tetapi juga setiap perkara yang positif dalam alam semesta akan memuji Dia. Hal ini akan terjadi pada saat anak‑anak Allah dinyatakan (Rm. 8:19). Dewasa ini semua makhluk sedang berkeluh­kesah di bawah perbudakan, dan menantikan manifestasi anak‑anak Allah. Ketika hal 1tu terjadi, alam semesta akan memuji Allah. Jadi, Efesus 1:6 akan tergenap kelak pada saat Roma 8:19 itu. Pada waktu itu seluruh perkara yang positif dalam alam semesta akan memuji Allah, sebab kemuliaan anugerah Allah akan tertampak dalam manifestasi anak‑anak Allah. Kita, anak‑anak Allah, mungkin akan tercengang melihat puji‑pujian yang diper­sembahkan para malaikat kepada Allah, karena mereka memuji‑muji Allah atas keputraan kita. Itulah pujian ter­hadap kemuliaan anugerah Allah.

Keputraan sangatlah bermakna. Berdasarkan Roma 8, alam semesta sedang menantikan manifestasi anak­anak Allah. Kemerdekaan seluruh makhluk dari perham­baan kebinasaan tergantung pada manifestasi kita. Saya ulangi, pada saat manifestasi itu, barulah Efesus 1:6 ter­genap.
V. ALLAH MENGARUNIAI KITA BERARTI MENEMPATKAN KITA DALAM KEDUDUKAN ANUGERAH DAN MENJADIKAN KITA SASARAN PERKENAN‑NYA
Efesus 1:6 mengatakan bahwa Allah telah "mengaru­niai kita" (dikaruniakan‑Nya kepada kita). Istilah "dika­runiakan" merupakan ungkapan yang sangat tidak lazim. Allah mengaruniai kita berarti Ia menaruh kita ke dalam kedudukan anugerah, sehingga kita menjadi sasaran anu­gerah dan kemurahan Allah, yaitu agar kita boleh menik­mati segala apa adanya Allah bagi kita. Untuk menerima sesuatu, perlu kedudukan yang tepat. Karena itu, Allah telah menaruh kita dalam anugerah‑Nya. la telah mem­beri kita kedudukan dalam anugerah‑Nya, agar kita men­jadi sasaran anugerah. Di sini, di atas kedudukan anuge­rah dan sebagai sasaran anugerah, kita sepenuhnya di­perkenan oleh Allah. Karena kita berada dalam keduduk­an anugerah dan menjadi sasaran anugerah, maka Allah berkenan menerima kita. Perkenan‑Nya ada di dalam  kita, dan kita pun bersukacita dengan Dia. Pada akhir­nya, terdapatlah saling menikmati: kita menikmati Dia, Dia pun menikmati kita. Di sini, dalam anugerah, Dialah sukacita dan kepuasan kita, dan kita adalah sukacita dan kepuasan‑Nya. Semuanya ini tercakup, dalam istilah "di­karuniakan‑Nya" ini.

Hari ini kita tidak hanya berada di bawah belas kasih Allah, kita juga di atas kedudukan anugerah, menjadi sa­saran anugerah‑Nya. Kita menikmati‑Nya dan juga men­jadi kenikmatan‑Nya. Maka, di sini terdapat saling me­nyukai, saling menikmati, dan saling memuaskan. Jangan lagi menganggap diri sendiri sebagai orang berdosa, ka­rena kita tidak lagi terikat oleh waktu dan tempat. Se­baliknya, kita berada di surga, dan dalam kekekalan. Kita juga tidak berada dalam kondisi kita ‑ kita berada dalam kesukaan hati Allah. Itulah artinya kita mengata­kan Allah telah mengaruniai kita. Sebab itu, kita tidak seharusnya memandang diri sendiri lagi, tetapi harus menengadah dan menatap ke surga, ke dalam kekekalan. Jangan terlalu membicarakan atau memikirkan diri sen­diri, melainkan bicarakanlah anugerah Allah, dan pikir­kanlah betapa Dia telah mengaruniai kita. Allah, Yang di dalam‑Nya Dia berkenan (Mat. 3:17; 17:5). Sebab itu, dalam mengaruniai kita, Allah bertujuan men­jadikan kita sasaran Yang diperkenan‑Nya. Ini mutlak adalah kesenangan bagi Allah. Dalam Kristus kita telah diberkati oleh Allah dengan segala berkat. Di dalam Dia yang dikasihi‑Nya, diperkenan‑Nya, kita diberi anugerah, kita menjadi sasaran kesukaan dan kesenangan hati Allah, sehingga kita menikmati Allah, dan Allah menikmati kita dalam anugerah. Di dalam Dia yang dikasihi‑Nya, kita ju­ga menjadi perkenan‑Nya.

Allah berkenan kepada Dia Yang dikasihi‑Nya -Anak­Nya ‑ Dia pun berkenan kepada kita. Jadi, dalam ung­kapan "di dalam Dia Yang dikasihi‑Nya" terkandung ke­sukaan, kepuasan, dan kenikmatan, Yang dimiliki Allah Bapa di dalam kita, karena kita telah menjadi sasaran anugerah dan perkenan‑Nya. Dalam pengertian ini, kita semua wajib menghargai dan menilai tinggi diri kita sen­diri, karena kita adalah sasaran kesukaan Allah. Anda wajib berkata, "Karena Allah menyukai aku, aku meng­hargai diri sendiri. Bahkan aku menilai tinggi diriku sen­diri, sebab aku telah diletakkan di atas kedudukan anu­gerah, dan menjadi sasaran anugerah Allah." Kita wajib mempunyai pandangan Yang sedemikian terhadap, diri sendiri; bukan menurut keadaan alami kita, tetapi menu­rut fakta bahwa kita telah dipilih, ditentukan, dilahirkan kembali, dan dikaruniai. Allah berkenan kepada kita, bu­kan di dalam diri kita sendiri, melainkan di dalam Anak­Nya yang terkasih. 
PENEBUSAN DALAM ANAK
Dalam Efesus 1:3‑14 terdapat tiga bagian: ayat 3‑6, pemilihan dan penentuan Bapa, membicarakan kehendak kekal Allah; ayat 7‑12, penebusan Anak, membicarakan penggenapan kehendak kekal. Bapa; dan ayat 13‑14, me­terai dan jaminan Roh Kudus, membicarakan penerapan kehendak Allah yang telah rampung. Pertama‑tama kita mempunyai kehendak kekal Bapa, kemudian Anak meng­genapkan kehendak Bapa, dan terakhir Roh Kudus mene­rapkan apa yang digenapkan Anak sesuai dengan kehendak Bapa. Dengan ini kita nampak bahwa Allah Tritunggal terekspresi dalam berkat‑Nya. Melalui kehendak Bapa, penggenapan Anak, dan penerapan Roh Kudus, kita men­jadi gereja. Dalam berita terdahulu kita telah membahas tentang pemilihan dan penentuan Bapa. Dalam berita ini kita akan membahas penebusan Anak, yakni penebusan di dalam Anak (Ef. 1:7).

Kita telah nampak bahwa Kitab Efesus tidak ber­bicara dari keadaan kita, darl bumi, atau dari waktu, me­lainkan dari kehendak kekal Allah, dari surga, dan dari kekekalan. Karena demikian, mungkin Anda merasa heran, mengapa penebusan disinggung di sini‑ Alasannya adalah karena umat pilihan Allah telah jatuh. Menurut kehendak kekal Allah, kita telah dipilih, tetapi setelah diciptakan, kita lalu jatuh. Sebab itu, perlu ada penebus­an. Melalui menebus kita, Anak telah menggenapkan ke­hendak Bapa.

Walaupun pasal 1 membicarakan penebusan, tetapi tidak mencatat keadaan kita yang kasihan. Hal itu ter­ungkap sepenuhnya dalam pasal 2. Ketika kita tiba pada pasal 2, kita akan nampak betapa kasihannya keadaan kita, dan betapa kita memerlukan belas kasihan Allah. Meski pasal 1 sama sekah mulia, namun la ditujukan ke­pada keperluan kita akan penebusan akibat kejatuhan.

Efesus 1:7 mengatakan, "Sebab di dalam Dia kita beroleh penebusan oleh darah‑Nya, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan anugerah‑Nya." Ayat 7 adalah kelanjutan ayat 6. Seperti telah kita lihat dalam berita yang lalu, ayat 6 menyatakan bahwa kita telah menjadi obyek kesukaan Allah, karena kita telah dikaruniai di da­lam Anak yang terkasih. Kata "di dalam Dia" dalam ayat 7 ditujukan kepada 'Anak yang dikasihi‑Nya" dalam ayat 6. Ini berarti kita telah ditebus di dalam Anak yang terkasih, yakni di dalam Dia yang dikasihi Allah. Karena itu, dalam pandangan Allah, penebusan bukan suatu per­kara yang kasihan, melainkan satu perkara yang disukai. Walau mengatakan kita telah ditebus di dalam Kristus itu tepat, tetapi tidaklah begitu menyenangkan seperti mengatakan ditebus di dalam Anak yang terkasih. Kata "di dalam Dia yang dikasihi‑Nya" berarti di dalam per­kenan Allah. Di dalam Anak yang terkasih, dalam perkenan Allah, kita telah ditebus. Hal ini merupakan keterangan lebih lanjut bahwa dalam pasal 1 tidak ada pikiran tentang keadaan kita yang kasihan; sebaliknya, pasal ini penuh dengan kesukaan. Kita telah ditebus me­lalui darah Anak Allah yang terkasih yang dicurahkan bagi kita di atas salib.

Menurut ayat 7, penebusan ini berarti pengampunan pelanggaran, bukan pengampunan dosa. (Kata "dosa" da­lam ayat 7, menurut bahasa aslinya seharusnya diterje­mahkan sebagai "pelanggaran". Red.). Pelanggaran ber­beda dengan dosa. Karena catatan pasal 1 begitu manis, maka pasal ini tidak menyinggung dosa, melainkan pe­langgaran. Dalam pandangan Bapa, umat pihhan‑Nya te­lah melakukan beberapa pelanggaran yang perlu men­dapat pengampunan. Sebaliknya, pasal 2 membicarakan tentang murka dan dosa‑dosa. Dalam pasal 1 Allah Bapa membereskan pelanggaran kita. Namun, pelanggaran‑pe­langgaran itu menyebabkan penebusan menjadi suatu ke­harusan dan darah Anak Allah yang terkasih teralir di atas salib untuk pengampunan kita. Tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan (lbr. 9:22). Maka, darah itu diperlukan. Pengampunan ini adalah berdasarkan ke­kayaan anugerah Allah, yang dilimpahkan‑Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian (ayat 8).
I. BERKAT KETIGA YANG ALLAH KARUNIAKAN
Ayat 4‑5 mengungkapkan bahwa kita telah dipilih dan ditentukan. Tetapi setelah diciptakan, kita jatuh. Maka, kita perlu penebusan, yang telah digenapkan Allah di dalam Kristus melalui darah‑Nya. Inilah bagian lain dari berkat yang Allah karuniakan kepada kita. Berkat pertama ialah pemilihan untuk menjadi kudus, kedua ialah ditentukan untuk menjadi anak‑anak, dan ketiga ialah penebusan di dalam Anak.
II. PENEBUSAN DALAM ANAK TERKASIH ALLAH, MEMUASKAN TUNTUTAN KEADILAN ALLAH DAN MENYUKAKAN ALLAH 
Walaupun Allah menyukai kita dan menjadikan kita sasaran anugerah‑Nya, namun kita tetap memerlukan penebusan, sebab Dia adalah Allah yang adil. Bapa kita yang menyukai kita itu adil, Dia tidak dapat membiarkan ketidakbenaran, kesalahan, atau pelanggaran. Perkara­-perkara semacam itu merupakan penghinaan terhadap keadilan‑Nya. Karena itu, keadilan‑Nya menyebabkan penggenapan penebusan menjadi suatu keharusan. Pene­busan memenuhi tuntutan keadilan Allah dan menyuka­kan Allah. Allah bukan hanya Allah pengasih, Dia pun Allah yang adil; setiap perkara yang tidak benar tidak disukai‑Nya. Setiap perkara yang berhubungan dengan­Nya harus dapat memuaskan tuntutan keadilan‑Nya. Inilah alasannya, untuk menyukakan Allah, Anak yang terkasih harus tersalib, demi menggenapkan penebusan dengan sempurna bagi umat pilihan Allah.
III. MELALUI DARAH‑NYA YANG TERALIR DI ATAS SALIB BAGI DOSA‑DOSA KITA 
Penebusan Anak itu melalui darah‑Nya yang teralir di atas salib bagi dosa‑dosa kita (1 Ptr. 1:18‑19). Karena kematian Anak dalam daging di atas salib telah meme­nuhi tuntutan keadilan Allah, maka darah‑Nya menjadi sarana penebusan kita.
IV.  PENEBUSAN OLEH DARAH‑NYA SEBAGAI  PENGAMPUNAN PELANGGARAN KITA 
Penebusan Anak oleh darah‑Nya adalah pengampunan pelanggaran kita (Mat. 26:28; Ibr. 9:22). Penebusan adalah perkara yang telah Kristus genapkan untuk pe­langgaran kita, sedang pengampunan adalah penerapan apa yang telah Kristus genapkan untuk pelanggaran kita. Penebusan telah dirampungkan di atas salib, sedang pengampunan diterapkan pada saat kita percaya Kristus. Penebusan dan pengampunan sebenarnya adalah dua ujung dari satu perkara. Kita telah nampak bahwa peng­ampunan pelanggaran adalah penebusan yang telah ram­pung melalui darah Kristus. Akan tetapi, untuk perihal ini dipakai dua istilah, sebab perkara ini mempunyai dua ujung: ujung yang dirampungkan di atas salib dan ujung yang diterapkan di atas diri kita pada saat kita percaya. Walaupun penebusan telah rampung di atas salib tatkala Kristus mengalirkan darah‑Nya, tetapi pada waktu itu belum diterapkan pada diri kita. Penerapan baru terjadi ketika kita percaya Kristus dan bertobat terhadap Allah yang adil. Pada saat itulah, Roh Allah menerapkan pe­nebusan Kristus yang telah rampung di salib itu ke atas diri kita. Maka, penebusan merupakan penggenapan, se­dang pengampunan merupakan penerapan. 
V. MENURUT KEKAYAAN ANUGERAH‑NYA 
Ayat 7 menerangkan bahwa penebusan itu berdasar­kan kekayaan anugerah Allah. Menurut konsepsi kita, Allah sangat mudah mengampuni kita, sebab Dia Maha­kuasa dan berdaulat. Namun, kenyataannya tidak begitu mudah. Penggenapan penebusan adalah satu perkara yang amat besar, penting, dan serius. Karena keseriusannya, untuk ini diperlukan kekayaan anugerah Allah. 

Kini kita perlu melihat mengapa penebusan memer­lukan kekayaan anugerah Allah. Alkitab mengatakan, tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Ka­rena itu, darah harus teralir, agar kita bisa beroleh peng­ampunan. Tetapi, dalam hal ini darah binatang tidak berguna (Ibr. 10:4). Darah kurban binatang hanya meru­pakan lambang. Untuk penggenapan penebusan yang sejati, perlu darah yang berasal dari hayat yang lebih tinggi, yaitu darah yang sama sekali tidak berdosa. Dari manakah Allah bisa memperoleh darah semacam ini di antara umat manusia? Tidak mungkin, sebab seluruh umat manusia telah berdosa. Di antara manusia yang telah jatuh tidak ada darah yang tanpa dosa. Lagi pula, orang pilihan Allah berjumlah jutaan. Jika suatu kurban penghapus dosa harus dipersembahkan untuk setiap orang, tentu harus ada jutaan kurban pula. Maka selain darah yang sempurna dan tanpa dosa, perlu pula ada satu kurban penghapus dosa yang mampu mencakup ju­taan orang. Hal ini menunjukkan bahwa darah yang oleh­nya penebusan dirampungkan bukan hanya harus tanpa dosa, bahkan harus berfungsi almuhit, dapat menebus ju­taan orang pilihan Allah. Hanya Yesus Kristus yang dapat menjadi kurban penghapus dosa dengan mengalirkan da­rah‑Nya yang tanpa dosa bagi jutaan orang pilihan. De­ngan penumpahan darah‑Nya yang sekali di salib itu penebusan kekal bagi orang pilihan Allah dirampungkan sekali untuk selama‑lamanya (Ibr. 9:28; 10:10, 12).

Sekarang kita perlu, meninjau bagaimana Allah mem­peroleh darah yang tanpa dosa dan almuhit ini. Untuk memperoleh darah yang sedemikian jauh lebih sulit darl­pada menciptakan alam semesta. Untuk menciptakan alam semesta, Allah cukup berfirman. MisaInya Dia ber­firman, "Jadilah terang", maka terang itu jadi (Kej. 1:3). Tetapi, penebusan tidak mungkin terjadi secara demi­kian. Allah tidak dapat hanya berfirman, "Jadilah pene­busan." Untuk menciptakan alam semesta, Allah tidak memerlukan anugerah, tetapi untuk merampungkan pe­nebusan, diperlukan kekayaan anugerah Allah.

Coba pikirkan bagaimana Sang Penebus, Tuhan Yesus, terkandung. Untuk hal ini Roh Kudus perlu berkontak dengan anak dara Maria. Kita tidak dapat menjelaskan bagaimana Roh Kudus membuat Sang Penebus terkandung di dalam rahim seorang dara. Untuk ini, perlu kekayaan anugerah Allah. Menurut Lukas 1:35, anak yang dikandung dalam Maria oleh Roh Kudus itu disebut "kudus". Hal ini menunjukkan bahwa ter­kandungnya Tuhan Yesus mutlak suatu perkara. yang ku­dus. (Kekudusan ditujukan kepada sesuatu yang terkandung dari Roh Kudus). "Benda kudus" ini berada dalam rahim Maria selama sembilan bulan. Siapakah yang dapat menerangkan berapa banyak anugerah yang dibutuhkan untuk ini? Betapa besar anugerah yang diperlukan bagi Yesus, Yehova Juruselamat, untuk ting­gal di dalam rahim selama 9 bulan!

Tuhan Yesus bekerja sebagai tukang kayu hingga berusia 30 tahun. Betapa besarnya anugerah yang dibu­tuhkan oleh seorang yang bernama Imanuel, Allah me­nyertai kita, untuk bekerja sebagai tukang kayu selama bertahun‑tahun. Terakhir, Dia muncul menunaikan mi­nistri‑Nya selama tiga setengah tahun. Walaupun Dia begitu prihatin terhadap orang dosa, tetapi mereka me­nentang‑Nya, menganiaya‑Nya, bahkan bersekongkol un­tuk membunuh‑Nya. Dia dikhianati oleh seorang murid­Nya dan ditangkap. Dia sebenarnya bukan ditangkap, melainkan menyerahkan diri‑Nya kepada mereka yang datang mencari‑Nya. Dia bisa memohon kepada Bapa untuk mengutus dua belas pasukan malaikat untuk me­nolong‑Nya, namun Dia tidak mau (Mat. 26:53). Setelah ditangkap, Dia diadili di hadapan Imam Besar, Pilatus, dan Herodes. Setelah itu Dia dipaku di atas salib, dan digantung selama 6 jam; dari pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore. Betapa besar anugerah yang diperlukan untuk se­muanya itu! Tuhan Yesus mati bagi dosa kita di atas salib. Lalu Dia dimakamkan, dibangkitkan, dan diangkat ke surga untuk mendatangkan pertobatan dan pengam­punan (Kis. 5:31). Karena kekayaan anugerah Allah, kita dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Ja­nganlah mengira pertobatan Anda berasal dari Anda sen­diri. Tidak, Allah Bapalah yang mengaruniakan perto­batan kepada Anak, Sang Penebus, dan Dialah yang memberikannya kepada Anda melalui Roh itu. Selain pertobatan, kita pun menerima pengampunan. Semua ini adalah berdasarkan kekayaan anugerah‑Nya. Alangkah tak terbatas dan tak terukur anugerah Allah ini!
A. Anugerah Allah yang Berlimpah Telah Menggenapkan Penebusan bagi Kita dan Menerapkan Pengampunan atas Kita 
Anugerah Allah yang berlimpah telah menggenapkan penebusan bagi kita dan telah menerapkan pengampun­an atas kita. Melalui inkarnasi, penyaliban, dan kebang­kitan Kristus, genaplah sudah penebusan itu. Setelah naik ke surga, dan mendatangkan pertobatan dan peng­ampunan, kini Dia menerapkan pengampunan itu atas diri kita. Hal ini berdasarkan kekayaan anugerah Allah.
B. Penebusan dan Pengampunan Sesuai dengan Keadilan Allah, tetapi Digenapkan dan Diterapkan oleh Kekayaan Anugerah Allah 
Penebusan dan pengampunan sesuai dengan keadilan Allah, namun digenapkan dan diterapkan oleh kekayaan anugerah Allah. Ini berarti keadilan Allah, yaitu cara Allah melakukan sesuatu, dan anugerah, yaitu Allah sen­diri yang disalurkan ke dalam umat pilihan‑Nya, telah diterapkan hingga mencapai titik tertinggi.

VI. MEMBUAT ANUGERAH ALLAH DILIMPAHKAN KEPADA KITA 
Efesus 1:8 mengatakan, bahwa anugerah Allah ”dilimpahkan‑Nya kepada kita". Anugerah Allah bukan hanya kaya, tetapi juga limpah. Banyak orang Kristen mengetahui tentang "anugerah yang mengagumkan", te­tapi tidak mengetahui tentang anugerah yang melimpah. Untuk memahami anugerah yang melimpah, perlu wahyu. Anugerah ini menjadikan kita warisan bagi Allah (ayat 11), dan melayakkan kita mewarisi segala apa adanya Allah (ayat 14). Dengan kata lain, anugerah yang melim­pah ini pada satu aspek membuat kita menjadi warisan Allah, pada aspek lain membuat Allah menjadi warisan kita. Ini jauh lebih besar daripada sekadar beroleh sela­matnya orang dosa atau naik ke surga. Konsepsi tentang beroleh selamat masuk ke surga sangatlah alamiah. Kita perlu nampak anugerah yang melimpah, yang menjadi­kan kita warisan Allah, dan yang melayakkan kita me­warisi segala apa adanya Allah.
VII. DENGAN SEGALA HIKMAT DAN KEBIJAKSANAAN 
Ayat 8 mengatakan bahwa kekayaan kasih karunia Allah telah dilimpahkan kepada kita dengan segala hik­mat dan pengertian (kebijaksanaan). Hikmat adalah apa yang ada di dalam Allah untuk merencanakan dan mene­tapkan suatu kehendak tentang kita; pengertian (kebi­jaksanaan) adalah penerapan hikmat Allah. Pertama-­tama, Allah merencanakan dan menetapkan kehendak di dalam hikmat‑Nya, kemudian dengan kebijaksanaan Dia menerapkan apa yang telah la rencanakan dan tetapkan bagi kita. Hikmat terutama bagi rencana Allah dalam kekekalan, dan kebijaksanaan terutama bagi pelaksanaan rencana Allah di dalam waktu. Apa yang di dalam hik­mat‑Nya Allah rencanakan dalam kekekalan, sekarang dalam kebijaksanaan‑Nya dilaksanakan‑Nya di dalam waktu. Dengan kebijaksanaan‑Nya, Allah telah membawa kita kepada diri‑Nya sendiri serta ke dalam pemulihan­Nya. Kini melalui pelaksanaan kebijaksanaan‑Nya, Dia sedang menerapkan setiap perkara yang berhubungan dengan kita yang telah dirancang‑Nya dalam kekekalan itu ke atas diri kita.


Tidak ada komentar: