Senin, 17 Januari 2011

YANG DIPEROLEH MELALUI KELAHIRAN KEMBALI

Dalam berita ini kita akan membahas apa saja yang kita dapatkan sewaktu kita dilahirkan kembali. Berita ini sangat dalam dan perlu konsentrasi lebih-lebih perlu berdoa dalam membacanya, kiranya TUHAN memberikan Roh hikmat dan Wahyu pada saudara.

Jika kita damba bertumbuh dalam hayat atau bertumbuh rohani kita, kita harus me­ngetahui apa sebenarnya kelahiran kembali itu. Selain itu, kita harus mengetahui apa yang telah kita peroleh melalui kelahiran kembali. Kelahiran kembali memberi kita permu­laan dalam hayat, dan apa yang diperoleh melalui kelahiran kembali membuat kita bertumbuh dalam hayat. Karena itu, jika kita damba bertumbuh dalam hayat, sedikit banyak kita harus mengenal kelahiran kembali, dan kita seharusnya tahu apa yang kita peroleh melalui kelahiran kembali.

Kelahiran kembali dapat menjadikan kita ciptaan baru, ka­rena kelahiran kembali membuat kita memperoleh unsur‑un­sur Allah (2Pet.1:4). Kelahiran kembali dapat mempersatukan kita de­ngan Allah (1Kort.15:45b), karena kelahiran kembali membuat kita memper­oleh Roh Allah. Semua perampungan kelahiran kembali di atas diri kita dapat tercapai karena hal‑hal yang telah kita peroleh melalui kelahiran kembali. Menurut ajaran Alkitab, kelahiran kembali menyebabkan kita menerima paling sedikit tujuh hal. Ketujuh hal ini ilahi dan agung, atau sangat penting dan dekat dengan kita. Mari kita melihat sekilas ketujuh hal ini satu per satu.

1. HAYAT ALLAH
Hal pertama yang kita peroleh melalui kelahiran kembali adalah hayat Allah. Pada bab sebelumnya kita, telah melihat bahwa kelahiran kembali terjadi pada saat Roh Allah mena­ruh hayat Allah ke dalam roh kita. Dalam kelahiran kemba­li, yang terutama dilakukan oleh Roh Allah adalah menaruh hayat Allah ke dalam kita. Karena itu, yang terutama diberi­kan kelahiran kembali kepada kita adalah hayat Allah.

Tetapi, apakah hayat Allah itu? Hayat Allah adalah isi Allah dan adalah Allah itu sendiri. Semua yang terkandung dalam Allah dan segala adanya Allah, ada dalam hayat Allah. Seluruh kepenuhan ke‑Allahan tersembunyi dalam hayat Allah. Sifat Allah juga terkandung dalam hayat Allah. Setiap aspek dari apa adanya Allah juga tercakup dalam hayat Allah.

Hakiki setiap makhluk hidup terletak dalam hayatnya. Semua kemampuan dan fungsinya berasal dari hayatnya, dan semua perbuatan serta ekspresi lahiriahnya berasal dari hayatnya juga. la menjadi makhluk hidup semacam itu karena ia mempunyai jenis hayat yang semacam itu juga. Hakikinya ada dalam hayatnya. Ini merupakan prinsip yang jelas.

Allah adalah Makhluk hidup yang teragung, dan segala ­adanya Dia dapat dipastikan ada dalam hayat Nya. Semua adanya Dia: baik kebenaran, kekudusan, terang, maupun kasih‑berasal dari hayat‑Nya. Semua tindakan‑Nya: keindahan, keadil‑benaran, kebaikan, atau pengampun­an‑berasal dari hayat‑Nya. Hayat‑Nya menyebabkan Allah memiliki kemampuan dan fungsi ilahi yang di dalam, serta perbuatan ilahi yang di luar. Dia adalah Allah yang demikian karena Dia memiliki hayat yang demikian. Jadi, hakiki‑Nya sebagai Allah terletak dalam hayat‑Nya.

Karena hayat Allah merupakan isi Allah, maka di dalam­nya tersembunyi kepenuhan Allah, dan terkandung sifat Allah itu sendiri; karena itu, sewaktu kita menerima hayat Allah, kita menerima kepenuhan Allah (Kol. 2:9‑10), dan kita mem­punyai sifat Allah (2 Ptr. 1:3‑4). Karena segala yang dimiliki Allah dan segala adanya Allah terletak dalam hayat‑Nya, ma­ka ketika kita menerima hayat ini, kita menerima segala yang dimiliki Allah di dalam diri‑Nya sendiri dan segala adanya Allah (kecuali kemahakuasaanNYA). Karena hayat Allah membuat Allah mempunyai ke­mampuan dan fungsi ilahi di dalam‑Nya, maka hayat Allah dalam diri kita juga dapat menyebabkan kita mempunyai kemampuan dan fungsi yang sama seperti yang terdapat da­lam diri Allah. Karena segala adanya Allah dan segala yang dilakukan‑Nya berasal dari hayat‑Nya, maka hayat yang ber­ada dalam kita ini juga dapat membuat kita menjadi seperti Allah dalam tindakan atau kelakuan yaitu menghasilkan buah-buah Roh (mengasihi, mengampuni, setia, murah hati dll.). Ini berarti ha­yat ini dapat menyebabkan kita menjadi seperti Allah (dalam sifat) dan memperhidupkan kehidupan Allah.

Saudara saudari, pernahkah Anda menyadari bahwa ka­rena hayat Allah ada di dalam kita, maka kita mempunyai semua kemampuan hidup kudus dan fungsi terang yang juga ada di dalam Allah? Pernahkah Anda menyadari bahwa karena kita mempunyai hayat Allah di dalam kita, maka kita dapat menjadi seperti Allah dan melakukan apa yang Allah lakukan yaitu mengasihi dan melakukan kebenaran? Dalam Allah ada kemampuan kudus dan fungsi terang. Karena hayat Allah ada di dalam kita, maka kemampuan kudus dan fungsi terang yang sama juga ada dalam kita sama seperti dalam Allah. Sa­ma seperti Allah yang dapat memperhidupkan kekudusan­Nya dan me mancarkan terang‑Nya dari dalam diri‑Nya, begitu juga kita, karena hayat Allah ada dalam kita, kita dapat mem­perhidupkan kekudusan‑Nya dan memancarkan terang‑Nya dari dalam kita. Hal ini berarti kita dapat menjadi kudus se­perti Allah yang kudus, dan bersinar seperti Allah yang ber­sinar. Apa adanya Allah adalah kasih dan apa yang dilakukan Allah adalah benar. Karena kita mempunyai hayat Allah, ma­ka kita dapat menjadi seperti Allah dan melakukan apa yang Allah lakukan. Bahkan sama seperti Allah yang dapat men­jadi kasih dan melakukan kebenaran, demikian pula, kita, ka­rena hayat Allah ada dalam kita, maka kita dapat menjadi kasih, yaitu apa adanya Allah dan dapat melakukan ke­benaran seperti yang Allah lakukan. Ini berarti kita dapat mengasihi seperti Allah mengasihi, dan menjadi benar seperti Allah yang adalah benar. Jadi, kita dapat menjadi seperti Allah dan memperhidupkan Allah.

Selanjutnya, kita perlu mengetahui bahwa hayat Allah merupakan kuasa agung yang membangkitkan Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus dibangkitkan, Dia mencampakkan maut dan mengalahkan maut. Maut sangat kuat (Kid. 8:6). Dalam alam semesta, selain Allah dan hayat‑Nya, tidak ada yang le­bih kuat daripada maut. Ketika Tuhan Yesus masuk ke dalam maut, maut menggunakan semua kekuatannya untuk me­nahan Tuhan, tetapi Tuhan mematahkan kekuatan maut itu dan bangkit! Jadi, Tuhan bangkit dan tidak dapat ditahan oleh maut (Ms. 2:24), karena dalam diri‑Nya ada hayat Allah Yang penuh kuasa. Hayat Allah yang sangat penuh kuasa inilah yang mampu membuat Dia mematahkan kekuatan maut yang besar itu. Hayat Allah yang sangat penuh kuasa inilah Yang diberikan oleh kelahiran kembali kepada kita! Hayat Allah yang sangat berkuasa ini adalah kuat kuasa ke­bangkitan yang ada di dalam kita saat ini. Kuat kuasa inilah yang membuat kita mampu mematahkan maut dan mengatasi semua perkara milik maut, sama seperti Allah telah menga­tasinya.

Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa Allah mem­punyai dua macam kuat kuasa. Pertama, kuat kuasa untuk menciptakan. Kedua, kuat kuasa kebangkitan. Kuat kuasa penciptaan membuat apa yang tidak ada menjadi ada. Kuat kuasa kebangkitan memberikan hidup kepada yang mati. Inilah yang dipercayai Abraham (Rm. 4:17). Kuat kuasa pen­ciptaan yang dimiliki Allah (terletak dalam tangan‑Nya) mam­pu menciptakan apa saja bagi manusia. Kuat kuasa kebang­kitan Allah yang terletak dalam hayat‑Nya dan Yang merupa­kan hayat‑Nya, membuat manusia dapat lepas dari semua perkara maut yang berada di luar Allah, dan memperhidupkan Allah. Oh, hayat Allah yang kita terima melalui kelahiran kembali merupakan kuat kuasa kebangkitan yang hebat dari Allah, dan bukan kuat kuasa penciptaan. Melalui kelahiran kembali, Allah telah menggarapkan hayat‑Nya ke dalam kita. Hal ini berarti Dia telah menggarap­kan kuat kuasa kebangkitan‑Nya ke dalam kita. 0, semoga kita melihat bahwa hayat Allah yang telah kita terima ketika kita dilahirkan kembali merupakan kuat kuasa kebangkitan Allah! Hayat yang berada di dalam kita hari ini dapat membuat kita sekuat Allah. Sama seperti Allah dapat menang atas maut, kita pun dapat menang atas maut karena kuat kuasa hayat yang ada di dalam kita. Alangkah luar biasanya hayat Allah yang kita peroleh melalui kelahiran kembali ini! Hayat ini dapat membuat kita seperti Allah(dalam sifat-sifat bukan dalam kemaha-kuasaanNYA) sampai taraf yang demikian. Betapa kita harus menyembah dan bersyukur kepada Allah untuk hayat ini!

2. HUKUM HAYAT
Karena kelahiran kembali membuat kita menerima hayat Allah, maka kelahiran kembali juga membuat kita menerima hukum hayat. Karena hayat Allah masuk ke dalam kita, maka hukum hayat yang terkandung dalam hayat tersebut juga di­bawa masuk ke dalam kita.

Setiap jenis hayat memiliki kemampuan bawaannya sen­diri, yang merupakan fungsi alaminya. Fungsi alami setiap jenis hayat merupakan hukum alamnya atau hukum hayat­nya. Ketika hayat tertentu masuk ke dalam suatu ciptaan, maka hayat itu menyebabkan ciptaan tersebut mendapatkan hukum alamnya atau hukum hayatnya. Demikian juga, hayat Allah memiliki kemampuan ilahinya, yang merupakan fungsi alaminya yang ilahi. Fungsi alami hayat Allah merupakan hukum alam atau hukum hayatnya. Ketika hayat Allah masuk ke dalam kita, ia membawa serta hukum alam yang terkandung dalamnya ke dalam kita, dan hukum ini menjadi hukum hayat di dalam kita. Jadi, ketika hayat Allah masuk ke dalam kita, hukum hayat yang terkandung di dalamnya juga masuk ke dalam kita. Karena hayat Allah adalah sesuatu yang kita peroleh melalui kelahiran kembali, maka hukum hayat yang dibawanya juga kita peroleh melalui kelahiran kembali.

Pada bab satu, kita telah melihat bahwa dalam hayat Allah terkandung sifat Allah, dan dalam hayat Allah tersembunyi kepenuhan Allah; karena itu, hukum yang ada dalam hayat Allah sesuai dengan Allah sendiri, dengan apa adanya Allah, dan dengan sifat‑Nya. Jadi, hukum ini merupakan hukum Allah sendiri. Ketika hayat Allah membawa hukumnya ke dalam kita, hal ini juga berarti hayat itu membawa hukum Allah ke dalam kita.

Hukum hayat yang dibawa hayat Allah masuk ke dalam kita merupakan hukum yang disebutkan dalam Ibrani 8:10, yaitu hukum yang diletakkan Allah dalam pikiran kita dan yang ditulis dalam hati kita. Hukum ini berbeda dengan hu­kum dalam Pexjanjian Lama. Hukum Perjanjian Lama adalah hukum Allah yang telah ditulis Allah pada loh batu di luar manusia (Kel. 34:1, 28). Hukum hayat adalah hukum Allah yang ditulis dengan hayat‑Nya pada loh hati di dalam kita. Hukum yang ditulis pada loh batu adalah hukum lahiriah, hukum tertuhs, hukum‑hukum yang mati, dan hukum‑hukum yang tidak memiliki kekuatan; hukum‑hukum tersebut tidak mampu berbuat apa pun terhadap diri manusia (Rm. 8:3; Ibr. 7:18‑19). Hukum yang tertulis pada loh hati kita adalah hu­kum batin, hukum hayat, hukum‑hukum kehidupan, dan hu­kum‑hukum yang memiliki kuat kuasa; hukum ini membuat kita bukan hanya mampu mengenal hasrat hati Allah dan mengikuti kehendak‑Nya, tetapi juga membuat kita mampu mengenal Allah dan raemperhi-dupkan‑Nya.

Hukum alam yang terkandung dalam setiap jenis hayat selalu membuat setiap makhluk ciptaan tahu dengan sendiri­nya bagaimana cara hidup dan bagainiana harus bertindak tanduk; karena itu, hukum tersebut menjadi hukum kehidup­an dalam makhIuk ciptaan itu. hfisalnya, seekor ayam betina: bagaimana seharusnya ayam ini hidup dan bagaimana cara­nya meletakkan telur, semua itu merupakan hukum alam yang ada dalam hayat ayam; hukum itu membuat ayam ter­sebut tahu dengan sendirinya bagaimana melakukan semua perkara itu dan memperhidupkannya. Manusia tidak perlu memberinya hukum apa pun dari luar. Hukum alam yang terkandung dalam hayat yang ada di dalamnya merupakan hukum kehidupan dalam ayam tersebut. Hukum itu dengan sendirinya membuat ayam itu tahu bahwa dia harus hidup dengan cara tertentu, dan membuatnya mampu hidup dengan cara seperti itu pula.

Demikian juga, hukum alam yang terkandung dalam hayat Allah yang ada di dalam Kita juga merupakan kemampuan alaminya. Hukum itu membuat Kita tahu dengan sendirinya bagaimana harus bertindak dan bertingkah laku sesuai de­ngan kemauan Allah, bagaimana agar diperkenan oleh‑Nya dan bagaimana memperhidupkan‑Nya. Apakah hal itu sesuai dengan sifat Allah atau tidak, apakah Allah ingin kita mela­kukan hal itu atau tidak, kemampuan alami atau hukum alam yang dimiliki hayat Allah inilah yang akan membuat kita tahu, juga memberi kita perasaan mengenai hal itu. Jadi, kemam­puan alami atau hukum alam yang dimiliki hayat Allah men­jadi hukum batin kita.

Karena hukum yang tertulis dalam diri kita ini merupakan kemampuan alami dan juga hukum alam yang dimiliki oleh hayat Allah, maka AlKitab menyebutnya "hukum". "Hukum Roh hayat" yang disebutkan dalam Roma 8:2 adalah hukum hayat yang berada di dalam kita. Karena hukum ini berasal dari hayat Allah, dan hayat Allah berada dalam Roh Allah serta tidak dapat dipisahkan dari Roh Allah, maka Roma 8 menyebut hukum ini sebagai "hukum Roh hayat". Hayat Allah ada dalam Roh Allah dan bersatu dengan Roh Allah; Roh Allah berisi hayat Allah; itulah Roh hayat Allah. Karena hukum ini berasal dari hayat Allah, maka hukum ini juga berasal dari Roh hayat Allah. Karena hukum itu merupakan hukum hayat Allah, berarti hukum itu juga merupakan hukum Roh hayat Allah.

Hayat Allah sangat berkuasa, begitu pula dengan Roh Allah. Hukum Roh hayat yang berasal dari hayat Allah dan Roh Allah yang penuh kuasa juga sangat berkuasa. Kita bisa berkata bahwa hayat Allah yang ada dalam diri kita merupa­kan sumber hukum ini, dan Roh Allah yang ada di dalam diri kita merupakan pelaksana hukumnya. Jadi, hukum dalam diri kita ini benar‑benar sangat kuat dan berkuasa; tidak ha­nya membuat kita mampu mempunyai pengetahuan ilahi, te­tapi juga membuat kita mampu mempunyai kuasa ilahi. Be­gitu kita dilahirkan kembali dan mempunyai hayat Allah, Allah menghendaki agar kita menjadi umat‑Nya dan hidup di dalam‑Nya sesuai dengan hukum yang kuat dan perkasa ini, hukum yang penuh kuat kuasa. Sesudah kita dise­lamatkan, Allah mau kita hidup dalam hayat‑Nya dan juga memperhidupkan hayat‑Nya sesuai dengan hukum yang ada di dalam kita ini, yaitu hukum hayat, hukum kehidupan.

3. HATI YANG BARU
Yehezkiel 36:26 memberi tahu Kita bahwa sewaktu Allah membersihkan kita, menyelamatkan kita, atau melahirkan kita kembali, Dia memberi kita hati yang baru. Jadi, menurut ajaran AlKitab, kelahiran kembali juga memberi kita hati yang baru.

Apakah hati yang baru itu? Hati yang baru berarti hati yang lama telah menjadi baru; hati yang baru ini berasal dari pembaruan hati kita yang lama. Jika Allah memberi kita hati yang baru, hal itu berarti Allah memperbarui hati kita yang lama. Setelah mengatakan bahwa Allah memberi kita hati yang baru, Yehezkiel 36:26 juga mengatakan bahwa Dia men­jauhkan hati kita yang membatu (keras) dan memberi kita hati daging (hati yang taat). Berdasarkan ayat ini, Kita menjadi jelas bahwa Allah memberi kita hati yang baru dengan cara memperbarui hati lama kita.

Asalnya hati kita melawan Allah, tidak ingin Allah, serta mengeras seperti batu terhadap Allah; sehingga menjadi "hati yang membatu." Ketika Roh Kudus melahirkan kita kembali, Dia menyebabkan hati Kita menyesali dosa dan menjadi lembut terhadap Allah. Karena itu, sesudah kelahiran kembali, hati kita yang membatu menjadi "hati daging". Hati yang keras seperti batu itu adalah hati kita yang lama; sedangkan hati daging yang lembut ini merupakan hati baru yang Allah be­rikan kepada kita. Ini berarti sewaktu kita dilahirkan kembali, Allah memperbarui hati kita yang lama dan menjadikannya lembut.

Hati kita merupakan organ untuk menyatakan kecenderungan dan rasa sayang kita terhadap sesuatu; hati kita me­wakili kita dalam hal menyatakan kecenderungan, rasa sa­yang, kesenangan, dan keinginan kita terhadap sesuatu. Se­mua kecenderungan, rasa sayang, kesenangan, dan keinginan kita ini merupakan fungsi hati kita. Sebelum kita dilahirkan kembali, hati kita condong kepada dosa, mengasihi dunia, dan mendambakan hal‑hal yang berhubungan dengan hawa nafsu; tetapi dingin dan keras terhadap Allah, tidak ada kecondongan dan tidak ada rasa kasih terhadap Allah; terhadap Allah dan hal‑hal rohani, tidak ada kesenangan serta tidak ada rasa damba sedikit pun. Karena itu, ketika Allah melahirkan Kita kembali, Dia memperbarui hati Kita dan menjadikannya hati yang baru, yang memiliki kecendertmgan baru, kasih sayang baru, kesenangan baru, dan hasrat baru. Jadi, begitu kita dilahirkan kembali dan diselamatkan, hati kita condong ke­pada Allah, mengasihi Allah, dan menginginkan Allah. Ter­hadap perkara‑perkara Allah, perkara‑perkara rohani, dan perkara‑perkara surgawi, hati kita juga memiliki kesenangan dan kedambaan. Setiap kali hal‑hal ini disebutkan, hati kita penuh sukacita, tanggap, dan penuh semangat.

Saudara saudari, sudahkah Anda melihat hal ini? Allah memperbarui hati kita dan memberi kita hati yang baru pada saat kelahiran kembali adalah karena Ia ingin kita con­dong kepada‑Nya, memuja Dia, damba kepada‑Nya, dan me­ngasihi Dia. Sebelumnya, kita tidak mengasihi Dia dan tidak dapat mengasihi Dia, karena hati kita usang dan keras. Kini Dia telah memperbarui, melembutkan, memalingkan hati kita sehingga kita mampu dan mau mengasihi Dia. Karena setelah diperbarui, hati kita menjadi hati yang baru, maka sekarang hati kita mempunyai fungsi yang baru. Fungsi yang baru ini adalah condong kepada Allah dan mengasihi Allah serta hal­-hal yang berkaitan dengan‑Nya.

Karena kelahiran kembali memberi kita hati yang baru, maka hal ini menyebabkan Kita punya kecenderungan dan kasih yang baru, hasrat dan kerinduan yang baru. Kecen­derungan, kasih, hasrat, dan kerinduan yang baru ini semua­nya mengarah kepada Allah dan hal‑hal yang berkaitan dengan‑Nya. Inilah fungsi hati yang baru; ini juga adalah tuju­an Allah memberikan hati yang baru kepada Kita.

4. ROH BARU
Sesudah Yehezkiel 36:26 mengatakan bahwa Allah mem­beri kita hati yang baru, ayat itu pun mengatakan bahwa Allah juga menaruh roh yang baru di dalam diri kita. Jadi, kelahiran kembali bukan hanya menyebabkan kita mempu­nyai hati yang baru; tetapi juga menyebabkan kita mempu­nyai roh yang baru.

Apakah roh baru itu? Roh baru berarti roh lama kita yang mati telah diperbarui dan dihidupkan. Sama seperti hati baru adalah hati lama yang dijadikan baru, maka roh baru juga adalah roh lama yang dijadikan baru. Ketika diperbarui, hati lama kita dijadikan lembut, sedangkan roh lama kita dihidup­kan. Ini dikarenakan masalah hati lama kita adalah kedegil­annya, dan masalah roh lama kita adalah kematian. Karena itu, sewaktu Allah melahirkan kita kembali, sama seperti Dia memperbarui hati kita yang lama dan keras dengan cara me­lembutkannya sehingga menjadi hati baru; Diajuga memper­barui roh Kita yang lama dan mati dengan cara menghidup­kannya sehingga menjadi roh baru.

Pada mulanya, roh manusia yang diciptakan merupakan organ manusia untuk menghubungi Allah. Manusia ber­sahabat dan bersekutu dengan Allah melalui dan oleh rohnya. Namun, karena kejatuhan manusia, rohnya rusak akibat ter­cemar oleh dosa. Jadi, roh manusia kehilangan fungsinya ter­hadap Allah dan menjadi roh yang mati. Karena roh itu mati, maka roh menj adi usang. Karena darah Tuhan kita Yesus Kris­tus membasuh bersih roh kita dari kecemarannya, maka se­waktu kita dilahirkan kembali itu, Roh Allah menaruh hayat Allah, yang merupakan unsur Allah ke dalam roh kita dan menghidupkannya (Iihat Kol. 2:13). Dengan demilkian, roh la­ma kita yang mati diperbarui dan menjadi roh baru yang hidup.

Pada mulanya, roh kita adalah ciptaan lama; tidak me­ngandung unsur Allah di dalamnya. Kemudian, roh kita bukan hanya tidak mengandung unsur Allah, bahkan tercemar oleh dosa, dan menjadi usang. Ada dua alasan yang menjadikan sesuatu itu bagian dari ciptaan lama: pertama, ia tidak mem­punyai unsur Allah selama penciptaan; kedua, ia dicemari dan dirusak oleh dosa dan Satan. Kedua alasan inilah yang menyebabkan roh kita menjadi roh yang usang. Karena itu, sewaktu Allah melahirkan kita kembali demi memperbarui roh kita yang lama, dan menjadikannya roh baru, Dia bekerja dari dua sisi. Di satu sisi, Dia menggunakan darah Tuhan Ye­sus untuk membasuh bersih pencemaran roh kita, sehingga roh kita menjadi bersih. Di sisi lain, Dia memakai Roh‑Nya untuk menaruh hayat‑Nya dalam roh kita, sehingga roh kita mempunyai unsur‑Nya. Jadi, Dia memperbarui roh lama kita dan membuatnya menjadi roh baru. Dia memperbarui roh ki­ta dan menjadikannya baru, berarti Dia menaruh roh baru ke dalam diri kita.

Jika Allah sudah memberi kita hati yang baru pada waktu kita dilahirkan kembali, mengapa Dia masih perlu menaruh roh baru dalam diri kita? Karena hati Kita hanya dapat meng­inginkan Allah dan mengasihi Allah, tetapi masih belum dapat menghubungi Allah atau menyentuh Allah. Karena itu, Allah merasa tidak cukup jika Dia hanya memberi kita hati baru; Dia pun harus menaruh roh baru dalam diri kita. Kalau Allah hanya memberi kita hati baru, Dia hanya dapat membuat kita damba dan mengasihi Dia; Dia tidak bisa membuat kita menghubungi‑Nya. Karena itu, Dia harus menaruh roh baru di da­lam diri kita sehingga kita dapat menghubungi Dia dan ber­sekutu dengan‑Nya.

Kita sudah menyebutkan bahwa hati merupakan organ untuk menyatakan kecenderungan dan kasih kita. Karena itu, terhadap Allah, fungsi hati kita adalah condong kepada­Nya dan mengasihi Dia. Alkitab mengatakan bahwa hati me­rindukan Allah, hati haus akan Allah (Mzm. 42:2‑3 ‑ Alkitab bahasa Indonesia menterjemahkan hati sebagai "jiwa"). Hati dapat merindukan Allah dan haus akan Allah, tetapi tidak dapat menghubungi Allah atau menyentuh Allah. Hati hanya berfungsi untuk mengasihi Allah dan haus akan Allah; hati tidak dapat menghubungi Allah dan menyentuh Allah, yang dapat menghubungi Allah bukanlah hati, tetapi roh. Hati hanya berguna untuk mengasihi Allah, tapi roh berguna untuk menghubungi Allah dan bersekutu dengan‑Nya.

Misalnya, di sini ada pena yang bagus. Hati saya sangat menyukainya; tetapi hati saya tidak dapat menyentuh atau memilikinya, karena hati saya tidak punya kemampuan untuk memegangnya. Kemampuan itu ada pada tangan saya. Tangan menggam­barkan roh. Meskipun hati kita mengasihi Allah dan sangat haus akan Dia, tetapi tidak dapat menghubungi Allah maupun bersekutu dengan‑Nya. Hanya roh kita yang dapat melaku­kannya. Karena itu, sewaktu kita dilahirkan kembali, Allah tidak hanya memberi kita hati baru, Dia juga menaruh roh baru ke dalam diri kita.

Dengan hati baru, kita dapat mendambakan Allah dan mengasihi Allah, dan dengan roh baru Kita dapat menghu­bungi Allah dan menyentuh Allah. Hati baru kita membuat kita mampu memiliki kesenangan dan kecenderungan baru, perasaan dan rasa tertarik yang baru terhadap Allah serta hal‑hal yang berkaitan dengan‑Nya. Roh baru membuat kita mampu memiliki hubungan dan pandangan baru, kemampu­an dan fungsi rohani yang baru terhadap Allah serta hal‑hal yang berkaitan dengan‑Nya. Sebelumnya, kita tidak menga­sihi Allah ataupun menyukai hal‑hal rohani dari Allah; bahkan kita tidak mampu menghubungi Allah atau mengerti hal‑hal rohani dari Allah. Namun sekarang Kita mempunyai hati baru dan roh baru; karena itu kita tidak hanya dapat mengasihi Allah serta hal‑hal yang berkaitan dengan‑Nya, tetapi kita juga dapat menghubungi Allah dan mengenal Allah serta hal­ hal yang berkaitan dengan‑Nya. Semula, kita tidak mempu­nyai perasaan terhadap Allah dan tidak tertarik kepada Allah; kita lemah dan tidak punya kemampuan apa pun terhadap Allah serta hal‑hal yang berkaitan dengan‑Nya. Namun se­karang, dengan hati baru dan roh baru, kita tidak hanya mem­punyai perasaan dan rasa tertarik kepada Allah serta hal‑hal yang berkaitan dengan‑Nya, tetapi kita juga benar‑benar mampu menghubungi Allah dan memahami hal‑hal yang ber­kaitan dengan‑Nya. Karena itu, begitu hati kita mengasihi Allah, roh kita menyentuh‑Nya; begitu hati kita menyenangi hal‑hal yang berkaitan dengan Allah, roh kita memahaminya. Inilah maksud Allah memberi kita roh baru di samping hati baru.

5. ROH KUDUS
Sesudah Yehezkiel 36:26 mengatakan bahwa Allah mem­beri kita hati baru dan menaruh roh baru dalam diri kita, ayat 27 melanjutkan dengan berkata bahwa Allah menaruh Roh‑Nya sendiri dalam diri kita. Karena itu, di antara hal-­hal yang kita peroleh melalui kelahiran kembali juga ada Roh Allah.

Sebelumnya, kita tidak mempunyai Roh Allah. Kita bukan hanya tidak mempunyai Roh Allah, bahkan roh kita sendiri mati terhadap Allah. Ketika Allah melahirkan kita kembali, di satu pihak Dia membuat Roh‑Nya menaruh hayat‑Nya da­lam roh kita sehingga menghidupkan roh kita yang mati; di pihak lain, Allah juga menaruh Roh‑Nya dalam roh kita. Hal ini berarti Dia membuat Roh‑Nya tinggal dalam roh baru kita yang dihidupkan itu. Jadi, dalam diri kita yang dilahirkan kembali, tidak hanya ada roh baru yang dihidupkan, yang mempunyai unsur hayat Allah, tetapi juga Roh Allah yang berdiam di dalam roh baru kita.

Mengapa Allah menaruh Roh‑Nya dalam diri kita? Untuk apa Roh Allah berhuni di dalam roh kita? Menurut Alkitab, paling sedikit ada tujuh aspek fungsi utama mengapa Roh Allah berhuni dalam kita:
A. Sebagai Roh yang Menghuni
Allah menaruh Roh‑Nya dalam diri kita, sehingga Roh­Nya bisa menjadi Roh yang menghuni di dalam kita, supaya kita bisa mengenal Allah dan mengalami semua yang telah dirampungkan‑Nya dalam Kristus bagi kita (Rm. 8:9‑11). Ini­lah berkat khusus yang diberikan Allah dalam zaman Per­janjian Baru; hal ini tidak ada dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, Roh Allah hanya datang dari luar untuk bekerja di atas diri manusia; Roh‑Nya tidak tinggal di dalam manusia. Sesudah kematian dan kebangkitan Tuhan, barulah Allah memberikan Roh‑Nya kepada kita dan membuat Roh­Nya tinggal di dalam diri kita sebagai Roh yang menghuni (Yoh. 14:16‑17). Dengan demikian, Roh itu dapat menying­kapkan Allah dan Kristus kepada kita dari dalam kita se­hingga kita boleh menerima dan menikmati kepenuhan Allah dalam Kristus (Kol. 2:9‑10).
B. Sebagai Penghibur (Penolong yang Lain)
Tuhan memberi tahu kita tentang Penolong yang lain da­lam Yohanes 14:16‑17. Tuhan berkata bahwa Dia akan berdoa kepada Bapa agar memberi kita Roh Kudus untuk finggal da­lam dizi kita sebagai Penghibur (Penolong yang lain). Istilah "Penghibur (Penolong yang lain)" dalam naskah aslinya ber­asal dari kata yang sama dengan "Pengantara" dalam 1 Yo­hanes 2:1, dan ketika diterjemahkan menjadi “Paraclete" atau "pengacara yang berdiri di samping." Pada mulanya, Allah mengutus Putra‑Nya untuk menjadi Penghibur kita, untuk menjadi Paraclete kita. Sewaktu Putra‑Nya kembali kepada‑Nya, Dia mengutus Roh‑Nya kepada Kita untuk men­jadi Penghibur (Penolong yang lain), Paraclete yang lain. Ini juga berarti bahwa Dia mengutus Roh‑Nya yang adalah per­wujudan Putra‑Nya untuk menjadi Penghibur kita. Karena itu, Roh Allah yang berhuni di dalam kita adalah perwujudan Kristus di dalam kita. Dia memelihara kita dari dalam, penuh tanggung-jawab terhadap kita, sama seperti Kristus terhadap kita di hadapan Allah.
C. Sebagai Roh Kebenaran
Dalam Yohanes 14:16‑17, Tuhan memberi tahu kita bahwa Roh Kudus yang datang untuk berhuni di dalam kita sebagai Penghibur adalah "Roh Kebenaran". Karena itu, Roh Allah yang berhuni di dalam kita juga adalah Roh Kebenaran. Kata kebenaran dalam naskah aslinya berarti realitas. Karena itu, Roh Allah yang berhuni di dalam kita sebagai "Roh Kebenaran" atau "Roh Realitas", menyebabkan segala adanya Allah dan Kristus menjadi realitas di dalam kita. Segala adanya Allah dan semua yang telah dipersiapkan‑Nya dalam Kristus bagi kita, serta semua adanya Kiistus dan semua yang telah di rampungkan‑Nya bagi kita melalui kematian dan kebang­kitan‑Nya, dinyatakan dan dibagikan kepada kita sebagai rea­litas oleh Roh Allah yang berhuni di dalam kita. Dengan demi­kian, kita boleh menyentuh dan mengalami‑Nya hingga men­jadi bagian Kita.
D. Sebagai Roh Hayat
Roma 8 menyebut Roh Kudus yang tinggal di dalam kita sebagai "Roh yang memberi hidup (Roh hayat ‑ TI.)" (ay. 9, 2). Ini Tenunjukkan kepada kita bahwa Roh Allah yang ting­gal di dalam kita juga adalah Roh hayat Allah. Meskipun hayat Allah ada dalam Kristus (Yoh. 1:4), namun kita mengalami dan mengenal‑Nya melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam kita. Semua hal yang berkaitan dengan hayat diberitahukan kepada kita oleh Roh Kudus yang tinggal dalam kita. Semua pengalaman hayat menjadi milik kita juga oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam kita.

E. Sebagai Meterai
Efesus 1: 13 dan 4:30 menunjukkan kepada kita bahwa Roh Kudus yang kita, terima pada waktu kelahiran kembali ada di dalam kita sebagai meterai. Sewaktu Allah menaruh Roh‑Nya dalam diri kita, hal itu berarti Dia mencapkan Roh‑Nya pada kita sebagai meterai. Sewaktu meterai dicapkan pada suatu barang, fungsinya bukan hanya menjadi tanda kepemilikan, tetapi juga meninggalkan bekas pada barang itu, seperti me­terai yang dipakai untuk menyegel. Inilah fungsi Roh Allah di dalam kita sebagai meterai. Roh Allah yang tinggal dalam diri kita bukan hanya menjadi tanda yang menunjukkan bahwa, kita adalah milik Allah dan membedakan kita dari an­tara orang‑orang dunia, tetapi lebih‑lebih sebagai perwujudan Allah dan Kristus, Roh itu memeterai kita menurut gambar Allah dan Kristus, sehingga kita menjadi seperti Allah, seperti Kristus.
F. Sebagai Jaminan
Efesus 1: 14 dan 2 Korintus 1:22 memberi tahu kita bahwa Roh Kudus Allah tinggal dalam diri kita sebagai jaminan. Ja­minan adalah suatu agunan atau garansi. Roh Allah yang tinggal dalam diri kita bukan hanya meterai yang menandai kita sebagai milik Allah dan mencap kita menurut gambar Allah; Dia juga merupakan jaminan, menjamin bahwa Allah dan semua hal yang berasal dari‑Nya akan menjadi bagian dan warisan untuk kita nikmati.
G. Sebagai Pengurapan
Satu Yohanes 2:27 mengatakan bahwa dalam diri kita ada "pengurapan", yang telah kita terima dari Tuhan. Pengurapan dalam Alkitab ditujukan kepada Roh Allah (Luk. 4:18). Karena itu, ayat ini memberi tahu kita bahwa Roh Allah yang tinggal di dalam kita merupakan pengurapan. Pengurapan di dalam kita ini sering kali mengurapi kita. Pengurapan adalah per­gerakan Roh Allah di dalam kita. Roh Allah bergerak di dalam Kita atau mengurapi kita berarti Roh itu mengurapkan diri Allah sendiri ke dalam kita, sehingga unsur Allah bisa menjadi unsur batin kita, dan kita bisa mengenal Allah beserta semua hasrat dan kehendak‑Nya dalam segala hal. Alangkah tinggi dan mulianya ketujuh fungsi ini! Ketujuh fungsi ini tidak hanya menunjukkan kepada kita fungsi Roh Allah yang tinggal di dalam Kita, tetapi juga menjelaskan ke­pada kita betapa luar biasanya Roh Allah yang kita terima melalui kelahiran kembali ini.

6. KRISTUS
Roma 8:9‑10 menuniukkan kepada Kita bahwa Roh Allah yang tinggal di dalam kita adalah Roh Kristus yang tinggal di dalam Kita; dan Roh Kristus yang berhuni di dalam kita adalah Kristus yang berhuni di dalam kita. Ini menyingkapkan bahwa Roh Allah di dalam kita adalah perwujudan Kristus. Karena kelahiran kembali menyebabkan kita memiliki Roh Allah di dalam diri kita, maka kelahiran kembali juga menyebabkan kita memiliki Kristus di dalam diri Kita. Sewaktu percaya, Allah mewahyukan Kristus di dalam kita melalui Roh‑Nya (Gal. 1:16). Karena itu, begitu kita me­nerima Kristus sebagai Juruselamat, Dia sebagai Roh itu tmg­gal di dalam kita (2 Kor. 13:5).

Apakah tujuan Kristus tinggal di dalam kita? Tujuan‑Nya adalah agar Dia dapat menjadi hayat kita. Meski Kristus ting­gal di dalam kita untuk menjadi segala sesuatu kita, alasan utama Dia berhuni di dalam kita adalah supaya Dia dapat menjadi hayat kita.

Allah dalam keselamatan‑Nya telah melahirkan kita kembali hingga kita bisa menerima hayat‑Nya, mempunyai sifat‑Nya, dan dengan demikian menjadi seperti Dia sepe­nuhnya. Dia menaruh hayat‑Nya dalam Kiistus supaya bisa kita terima (Yoh. 1:4; 1 Yoh. 5:11, 12). Dengan kata lain, Dia ingin Kristus menjadi hayat kita (Yoh. 14:6; Kol. 3:4). Meski Roh‑Nya itulah yang menaruh hayat‑Nya ke dalam kita, dan meski Roh‑Nya itulah yang membuat kita mampu mengenal, mengalami, dan memperhidupkan hayat‑Nya, tetapi hayat­Nya itu adalah Kristus. Melalui Roh‑Nya, Allah menyatakan Kristus di dalam kita; ini berarti Dia menghendaki Kristus menjadi hayat kita. Kristus tinggal dalam diri kita berarti Dia tinggal di dalam kita sebagai hayat kita (Gal. 2:20) dan ingin memperhidupkan hayat‑Nya melalui diri kita (2 Kor. 4:10‑11). Jadi, Dia ingin kita bertumbuh ke dalam gambar­Nya dan menjadi seperti Dia di dalam hayat‑Nya (2 Kor. 3:18). Sewaktu kita bertumbuh ke dalam gambar‑Nya dan menjadi seperti Dia di dalain hayat‑Nya, kita bertumbuh ke dalam gambar Allah dan menjadi seperti Allah, karena Dia adalah gambar Allah (Kol. 1:15).

Kita sudah melihat bahwa hayat Allah adalah apa adanya Allah; karena itu, sewaktu Allah menaruh hayat‑Nya dalam Kristus, Dia menaruh segala adanya Dia dalam Kristus. Kris­tus merupakan inkarnasi Allah, perwujudan Allah. Segala adanya Allah dan seluruh kepenuhan ke‑Allahan‑Nya berada dalam Kristus secara jasmani (Kol. 2:9). Karena itu, Kristus yang tinggal di dalam diri kita menyebabkan Kita dipenuhi dengan seluruh kepenuhan Allah (Ef 3:17‑19).

Kristus yang tinggal di dalam kita sebagai hayat kita tidak hanya membuat kita mampu menikmati seluruh kepenuhan Allah pada saat ini, tetapi juga masuk ke dalam kemuliaan Allah di masa yang akan datang (Rm. 8:17; Ibr. 2:10). Karena itu, dengan tinggal di dalam kita saat ini, di satu pihak Dia adalah hayat kita; di pihak lain Dia adalah pengharapan kita akan kemuliaan (Kol. 3:4; 1:27). Tinggalnya Dia di dalam kita sebagai hayat kita saat ini berarti, melalui hayat Allah dalam diri‑Nya, Dia akan menyebabkan kita bertumbuh dan menjadi seperti Allah, bertumbuh dan diserupakan dengan gambar Allah, dan akhimya bertumbuh ke dalam kemuliaan Allah.

7.ALLAH
Kristus adalah perwujudan Allah. Karena kelahiran kem­bali menyebabkan kita mendapatkan Kristus, maka kelahiran kembali juga menyebabkan kita mempunyai Allah. Selain itu, Kristus merupakan perwujudan Allah, dan Roh Kudus meru­pakan realitas Kristus. Allah ada dalam Kristus, dan Kiistus adalah Roh Kudus. Karena itu, ketika kelahiran kembali mem­buat kita memilild Roh Kudus, kelahiran kembali tidak hanya membuat kita memiliki Kristus, tetapi juga memiliki Allah.

Sejak Allah melahirkan kita kembali, Ia di dalam Kristus dan melalui Roh telah tinggal di dalam kita. Rasul Yohanes berkata bahwa kita mengenal Allah Yang tinggal di dalam kita melalui Roh Kudus yang Dia berikan kepada kita (1 Yoh. 3:24; 4:13). Tuhan Yesus juga berkata bahwa Dia dan Allah bersama‑sama tinggal di dalam kita (Yoh. 14:23). Karena itu, baik Roh Kudus maupun Kristus yang tinggal di dalam kita itu sebenarnya adalah Allah yang tinggal di dalam kita. Allah ada di dalam Kiistus, dan Kristus adalah Roh. Karena itu, Roh yang berhuni di dalam kita adalah Kristus yang berhuni di dalam Kita; dan Kristus yang berhuni di dalam kita adalah Allah yang berhuni di dalam kita. Allah dalam Kristus berhuni di dalam Kita, dan Kristus adalah Roh Kudus yang berhuni di dalam kita. Karena itu, sewaktu kita mempunyai Roh yang berhuni di dalam kita, kita mempunyai Kiistus dan Allah yang berhuni di dalam kita. Roh, Kristus, dan Allah ‑ ketiganya ‑ tinggal di dalam kita sebagai satu kesatuan, hal ini berarti bahwa Allah Tritunggal tinggal di dalam kita.

Tetapi ketika Alkitab menyebutkan bahwa Roh Kudus ber­huni di dalam kita, penekanannya adalah pada pengurapan­Nya di dalam kita (1 Yoh. 2:27); dan kalau ayat itu menye­but Kristus tinggal di dalam kita, penekanannya adalah pada tinggalnya Dia di dalam kita sebagai hayat kita (Gal. 2:20); dan sewaktu ayat itu menyebutkan Allah tinggal di da­lam kita, penekanannya adalah pada pekerjaan Allah dalam diri kita (FIp. 2:13; Ibr. 13:2 1; 1 Kor. 12:6). Alkitab memberikan uraian yang sangat jelas mengenai ketiga perkara itu. Me­ngenai Roh Kudus yang tinggal di dalam kita, Alkitab ber­bicara tentang "pengurapan"; mengenai Kristus yang tinggal di dalam kita, Alkitab berbicara tentang "kehidupan"; sedang­kan mengenai Allah yang berada di dalam kita, Alkitab ber­bicara tentang "pekerjaan". Alkitab tidak pemah mengatakan bahwa Kristus atau Allah sedang mengurapi kita, Roh Kudus atau Allah hidup di dalam kita, Roh Kudus atau Kristus be­kerja di dalam kita. Alkitab hanya mengatakan bahwa Roh Kudus mengurapi kita, Kiistus hidup di dalam kita, dan Allah bekerja di dalam diri kita. Ketiga cara penyampaian ini tidak dapat dipertukarkan. "Pengurapan" berkaitan dengan Roh Ku­dus sebagai minyak urapan di dalam Kita; "kehidupan" berkait­an dengan Kristus yang hidup di dalam kita, dan "pekeijaan" berkaitan dengan Allah yang bekerja di dalam kita.

Roh Kudus tinggal di dalam kita sebagai minyak urapan; karena itu apa yang dilakukannya di dalam kita adalah meng­urapi. Kristus berhuni di dalam kita sebagai hayat; karena itu apa yang dilakukannya di dalam diri kita adalah hidup. Allah berhuni di dalam kita berkaitan dengan pekerjaan, ka­rena itu apa yang dilakukannya di dalam kita adalah bekerja. Melalui mengurapi kita, Roh Kudus mengurapkan unsur Allah ke dalam diri kita. Melalui hidup di dalam kita, Kristus mem­perhidupkan hayat Allah di dalam kitajuga keluar (tertampil) dari diri kita. Melalui bekerja di dalam kita, Allah melak­sanakan kehendak‑Nya di dalam kita hingga dapat diram­pungkan di atas diri kita.

Karena itu, kita harus nampak bahwa yang kita peroleh melalui kelahiran kembali itu sangatlah agung, tinggi, kaya, dan mulia. Melalui kelahiran kembali, kita memperoleh hayat Allah dan hukum hayat. Melalui kelahiran kembali kita mendapatkan hati baru dan roh baru. Selain itu, melalui kelahiran kembali kita mendapatkan Roh Kudus, Kristus, dan Allah sendiri. Ini benar‑benar memadai bagi kita‑memadai untuk menjadikan kita kudus dan rohani, memadai untuk meniadikan Kita menang dan unggul, dan memadai untuk menjadikan kita bertumbuh dan matang dalam hayat.

Sumber: Pendalaman Alkitab, GUP Jemaat Dr. Sutomo 19 Ngawi

Tidak ada komentar: