Senin, 17 Januari 2011

PENGENALAN BATIN

Sampai tingkat mana kita mengenal Allah dari dalam me­nentukan seberapa banyak kita memiliki Allah dan berapa ba­nyak kita mengalami Dia sebagai hayat kita. Jadi pengenalan batin berkaitan erat dengan pertumbuhan hayat. Kalau kita ingin mengenal hayat agar hayat dapat bertumbuh, kita harus mempelajari seteliti mungkin pengenalan batin.


I. PENTINGNYA MENGENAL ALLAH
Allah senang manusia mengenal Dia; karena itu Dia ingin manusia "berusaha sungguh‑sungguh mengenal" Dia (Hos. 6:6, 3). Yang Dia lakukan dalam Perjanjian Baru bertujuan supaya kita dapat mengenal Dia (Ibr. 8: 10‑ 11). Ketika kita di­lahirkan kembali, Roh‑Nya yang mengandung hayat‑Nya, ma­suk ke dalam kita sehingga kita dapat mengenal Dia dari da­lam. Di satu pihak, pengenalan akan Dia ini secara bertahap bertambah bersamaan dengan pertumbuhan hayat kita di da­lam; dan di pihak lain, pengenalan ini juga menyebabkan ha­yat dalam diri kita bertumbuh. Karena Allah telah memberi kita hayat‑Nya, kita dapat mengenal Dia. Semakin hayat‑Nya bertumbuh dalam diri kita, kita pun semakin mengenal Dia. Semakin mengenal Dia, kita akan makin mengalami Dia se­bagai hayat, menikmati Dia, dan mempersilahkan Dia diperhidup­kan keluar melalui kita. Jadi kita dapat mengatakan bahwa pertumbuhan hayat rohani kita tergantung pada pengenalan kita akan Allah. Mari kita berdoa agar Allah memberi kita roh hikmat dan wahyu sehingga kita dapat mengenal Dia de­ngan benar (Ef 1: 17) dan "bertumbuh dalam pengetahuan yang penuh tentang Allah" (Kol. 1:10b).


II. TIGA LANGKAH MENGENAL ALLAH
Mazmur 103:7 mengatakan: "Ia telah memperkenalkan ja­Ian‑jalan‑Nya kepada Musa, perbuatan‑perbuatan‑Nya kepa­da orang Israel." Ayat ini memberi tahu kita bahwa bani Israel mengenal perbuatan Allah, tetapi Musa mengenal jalan‑Nya. Ibrani 8: 10‑11 juga mengatakan: "Aku akan menaruh hukum­Ku dalam akal budi mereka ... Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku." Melalui ayat ini kita melihat bah­wa semua yang menerima hukum batiniah di bawah Perjanji­an Baru dapat mengenal diri Allah sendiri. Kedua bagian Alki­tab ini memperlihatkan kepada kita bahwa pengenalan manu­sia tentang Allah diperoleh dalam tiga langkah. Pertama, me­ngenal perbuatan Allah; kedua, mengenal jalan Allah; dan ke­tiga, mengenal diri Allah sendiri.

A. Mengenal Perbuatan Allah
Manusia mengenal perbuatan Allah melalui apa yang Dia lakukan dan kerjakan. Misalnya, bani Israel di Mesir melihat sepuluh tulah yang Allah kirimkan untuk memukul bangsa Mesir. Di Laut Merah, mereka melihat Allah membelah air laut sehingga mereka dapat melewatinya. Di padang belan­tara, mereka melihat bahwa Allah memerintahkan batu karang mengeluarkan air untuk memuaskan dahaga mereka. Dan setiap hari Allah mengirimkan manna dari surga untuk memberi makan mereka. Ketika mereka menyaksikan mu­jizat‑mujizat Allah itu, mereka mengetahui perbuatan Allah. Misalnya lagi, sewaktu orang banyak melihat mujizat yang dibuat oleh Tuhan Yesus, seperti memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, menenangkan badai dan laut, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh‑rohjahat, dan membangkitkan orang mati; mereka mengenal perbuatan­Nya. Atau misalnya, waktu kita sakit lalu disembuhkan oleh Allah, waktu kita menghadapi bahaya tapi dilindungi oleh­Nya, waktu kita membutuhkan sesuatu dan disuplai oleh‑Nya, kita pun diarahkan untuk mengenal perbuatan Allah. Jadi ketika kita mengenal perbuatan Allah, inilah langkah pertama untuk mengenal Dia. Pengenalan seperti itu dangkal dan luar­an, karena bila kita melihat perbuatan Allah barulah kita tahu apa yang telah Allah lakukan.


B. Mengenal Jalan Allah
Mengenal jalan Allah mengacu kepada mengenal prinsip-­prinsipNya dalam melakukan sesuatu. Pada waktu Abraham memohon belas kasihan untuk Sodom, dia mengakui bahwa Allah itu adil benar, dan bahwa Dia tidak mungkin bertindak berlawanan dengan keadil-benaran‑Nya. Karena itu, Abraham berbicara kepada Allah menurut keadilbenaran Allah (Kej. 18:23‑32). Ini berarti dia mengenal cara‑cara Allah melakukan segala sesuatu. Pada waktu bangsa Israel terus menggerutu, sesudah Korah dan kelompoknya memberontak dan dimus­nahkan, Musa, yang telah melihat penampakan kemuliaan Yehova berkata kepada Harun, "Ambillah perbaraan, bubuh­lah api ke dalamnya dari atas mezbah, dan taruhlah ukupan, dan pergilah dengan segera kepada umat itu dan adakanlah pendamaian bagi mereka, sebab murka TUHAN telah ber­kobar, dan tulah sedang mulai" (Bil. 16:46). Ayat ini menunjuk­kan bahwa Musa mengenal jalan Allah. Diatahu bahwa ketika manusia berbuat dengan cara tertentu, Allah akan menang­gapinya secara demikian.

Samuel berkata kepada Saul, "Sesungguhnya, mendengar­kan lebih baik dari pada kurban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba‑domba jantan" (1 Sam. 15:22). Dan Daud berkata, "Sebab aku tidak mau mempersem­bahkan kepada TUHAN, Allahku, kurban bakaran dengan ti­dak membayar apa‑apa" (2 Sam. 24:24). Ini menunjukkan bah­wa mereka mengenal jalan Allah.

Ketika kita memberitakan firman Allah, kita sangat yakin bahwa firman itu tidak akan sia‑sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Allah kehendaki (Yes. 55:10‑11). Juga kalau kita menabur dalam Roh, maka kita tahu bahwa kita akan menuai hayat kekal dari Roh itu (Gal. 6:8). Ini juga karena kita menge­nal jalan Allah.

Bila kita mengenal jalan Allah melakukan berbagai hal, maka kita memiliki langkah kedua tentang mengenal Allah. Pengenalan seperti itu adalah satu langkah lebih maju dari­pada mengenal perbuatan Allah. Sebelum perbuatan Allah terlaksana, kita tahu apa yang akan Dia lakukan dan bagai­mana cara Dia melakukannya. Pengenalan seperti itu dapat meningkatkan iman kita dalam doa, dan juga dapat memam­pukan kita untuk berunding dengan Allah. Tetapi, meskipun pengenalan seperti itu baik, pengenalan itu masih belum cu­kup dalam dan luas.


C. Mengenal Diri Allah
Mengenal diri Allah berarti mengenal sifat Allah. Begitu kita dilahirkan kembali dan menerima hayat Allah, kita me­miliki sifat Allah. Melalui hayat Allah dalam diri kita, kita da­pat menjamah sifat Allah. Pada waktu kita menjamah sifat Allah, kita menjamah diri Allah; dengan kata lain, kita me­ngenal diri Allah sendiri. Pengenalan seperti itu berbeda de­ngan kedua langkah pertama tentang mengenal perbuatan Allah dan jalan‑Nya dari sisi luar. Inilah pengenalan akan di­ri Allah sendiri dari dalam.

Sebagai contoh, misalnya ada seorang saudara yang mengi­dap penyakit tak tersembuhkan, tetapi ternyata disembuhkan oleh Allah. Dengan gembira dia berseru, "Puji Tuhan, Dia be­nar‑benar memperhatikan saya!" Dari peristiwa ini, dia tahu sedikit tentang perbuatan Allah. Di kemudian hari dia sakit lagi. Kali ini dia tahu bahwa penyakit itu karena dia melaku­kan kesalahan dan Allah sedang menghukum serta men­disiplin dia. Maka dia menanggulangi kesalahannya. Setelah dia menanggulangi kesalahannya, dia tahu Allah akan me­nyembuhkan dia (1 Kor. 11:30‑32). Akibatnya Allah benar­ benar menyembuhkan dia. Tetapi sebelum dia disembuhkan, dia sudah tahu bahwa Allah akan menyembuhkan dia. Ini karena dia mengenal jalan Allah. Kali ini meskipun penge­nalannya tentang Allah telah meningkat‑‑‑dari mengenal per­buatan Allah kepada mengenal jalan‑Nya‑namun itu masih berupa pengenalan yang objektif akan Allah secara luaran, bukan pengenalan subjektif akan Allah dari dalam. Lalu sau­dara tersebut merasa dari dalam dirinya bahwa dia melakukan hal‑hal tertentu yang tidak sesuai dengan sifat kudus Allah; karena itu dia menanggulangi hal‑hal itu dan menghilangkan­nya. Perasaan dan pengenalan seperti itu tidak berasal dari sesuatu di luar dirinya, tetapi dari kesadaran yang diberikan kepadanya oleh hayat batin Allah. Karena itu, kali ini dia mu­lai mengenal diri Allah sendiri dari dalam; dia memiliki penge­nalan yang subjektif akan Allah.

Misalkan ada saudara lain yang pada permulaan kesukar­an yang berat berdoa kepada Allah, dan Allah membawanya melewati kesukaran itu. Maka dia pun mengenal perbuatan Allah. Kemudian, ketika dia mengalami kesulitan lagi, dia tahu bagaimana caranya dia harus bertindak supaya dia dapat dibawa melewatinya oleh Allah. Ini menunjukkan bahwa dia mengenal jalan Allah. Akhirnya, ketika dia mengalami ke­sulitan lagi, secara ajaib timbul suatu perasaan dalam dirinya. Dia merasa bahwa Allah pasti akan membawanya melewati kesulitan itu. Perasaan atau pengenalan ini tidak timbul ka­rena dia melihat perbuatan tertentu oleh Allah dari sisi luar­nya saja atau karena dia mengenah prinsip Allah dalam me­lakukan berbagai hal, melainkan karena dia telah menjamah diri Allah sendiri dari dalam. Pengenalan tentang Allah seperti itu dapat dikatakan pengenalan yang paling tinggi, paling dalam, dan paling batiniah.

Dalam zaman Peijanjian Lama, Allah hanya menyatakan perbuatan‑Nya dan jalan‑Nya kepada manusia. Karena itu, pada waktu itu manusia hanya dapat mencapai dua langkah pertama dalam mengenali Allah. Kini karena zaman Perjan­jian Baru sudah datang, meskipun kita masih perlu menge­nali perbuatan dan jalan Allah, namun hal yang paling penting dan paling mulia adalah bahwa Allah sendiri di dalam Roh tinggal dalam diri kita untuk menjadi hayat kita. Kenyataan ini memampukan kita untuk menjamah diri Allah secara lang­sung dan mengenal Dia dari dalam. Langkah ketiga dalam mengenali Allah ini, yaitu mengenah diri Allah sendiri, adalah berkat khusus bagi kita yang diselamatkan di bawah perjanji­an yang baru.


III. DUA MACAM PENGENALAN AKAN ALLAH
Meskipun tahap pengenalan kita tentang Allah ada tiga, sesungguhnya hanya ada dua macam pengenalan: pengenalan lahir dan pengenalan batin. Mengenal perbuatan dan jalan Allah adalah pengenalan lahir. Meskipun dua tahap pengenalan ini berbeda tingkat kedalamannya, namun keduanya adalah pe­ngenalan yang berasal dari perbuatan dan jalan Allah di luar diri kita. Karena itu, keduanya bersifat objektif dan lahiriah. Tetapi mengenal diri Allah sendiri adalah pengenalan yang di dalam. Jenis pengenalan ini datang pada waktu kita menja­mah diri Allah sendiri melalui hayat‑Nya dalam diri kita dan dengan demikian kita mengenali Dia secara subjektif dan batiniah.

Dalam naskah asli Alkitab, ada dua kata berbeda yang dipakai untuk menggambarkan pengenalan lahir dan batin. Ibrani 8:11 membicarakan pengenalan kita tentang Tuhan. Kata "mengenal" digunakan dua kali dalam ayat ini, tetapi dalam teks aslinya, dua kata yang berbeda digunakan dengan arti yang berbeda. Kata "mengenal" yang pertama (kenallah) mengacu kepada pengenalan kita yang umum dan lahiriah, yang untuknya kita memerlukan pengajaran manusia. Kata "Mengenal" yang kedua mengacu kepada pengenalan dari perasaan batiniah kita, yang untuknya kita tidak memerlukan pengajaran manusia. Ini menunjukkan bahwa pengenalan lahiriah dan batiniah akan Allah benar‑benar berbeda.

Misalnya, seandainya kita menaruh sedikit gula putih ha­lus berdampingan dengan sedikit garam putih halus. Dalam penampilan luar, keduanya sama‑sama putih dan halus, dan sulit untuk membedakan keduanya. Kita dapat meminta orang lain untuk memberi tahu kita yang manakah gula dan yang manakah garam, tetapi pengenalan ini berasal dari ajaran orang lain dan hanya dari sisi luar, objektif, dan secara umum saja. Pemberitahuannya itu juga bisa salah. Namun kalau ki­ta mencicipinya, kita dapat segera merasakan yang mana yang manis, berarti itulah gula, dan yang terasa asin adalah garam. Kita tidak memerlukan orang lain untuk memberi tahu kita. Pengenalan ini berasal dari perasaan yang ada dalam diri kita; jadi perasaan ini subjektif dan merupakan milik perasaan ba­tin.

Setiap kali kita mengecap Allah dari dalam, kita mendapat­kan kenikmatan dan perasaan yang tidak dapat diperoleh me­lalui pengenalan akan Allah berdasarkan perbuatan atau ja­Ian‑Nya dari luar. Mazmur 34:9 mengatakan, "Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!" Syukur kepada Allah, karena Dia bisa dikecap! Ibrani 6:4‑5j uga mengatakan, "Mere­ka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap ka­runia surgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia‑karunia dunia yang akan datang." Ini menunjukkan kepada kita bahwa bukan Allah saja yang bisa dirasakan, te­tapi hal‑hal yang berasal dari Allah, hal‑hal yang berasal dari Roh, juga dapat dikecap. Pengecapan ini menyebabkan kita mengenal dari dalam. Begitu kita "mengecap" Allah dan hal­ hal Allah dari dalam diri kita, kita pasti memiliki pengenalan  tertentu yang tepat yang berasal dari perasaan batiniah, dan tidak perlu orang lain mengajar kita. Ini benar‑benar berkat yang mulia di bawah peijanjian yang baru!       


IV. PENGENALAN BATINIAH
Dalam Perjanjian Baru, ada empat ayat yang membicara­kan pengenalan batiniah dengan sangat jelas. Dua yang per­tama adalah Ibrani 8:11 dan 1 Yohanes 2:27. Keduanya menga­takan bahwa kita tidak memerlukan orang lain untuk meng­ajar kita, tetapi kita dapat mengenal Allah dari dalam diri kita. Meskipun demikian, keduanya berbicara dengan cara yang berlainan. Ibrani 8 mengatakan bahwa hukum hayat Allah, yang adalah fungsi alamiah hayat Allah, dapat membuat kita mengenal Allah. Dan 1 Yohanes 2 mengatakan bahwa peng­ajaran pengurapan, yang adalah pergerakan yang memberi­kan wahyu dari Roh Kudus, dapat membuat kita mengenal Allah. Mengenal Allah melalui hukum hayat adalah mengenal Dia melalui hayat‑Nya. Mengenal Allah melalui pengajaran pengurapan berarti mengenal Dia melalui Roh‑Nya.

Dua ayat lainnya yang membicarakan pengenalan batiniah adalah Yohanes 17:3 dan Efesus 1:17. Yohanes 17:3 mengata­kan bahwa orang‑orang yang memiliki hayat kekal Allah ada­lah orang‑orang yang mengenal Allah. Ini berarti bahwa hayat Allah dalam diri kita dapat membuat kita mengenal Dia. Efe­sus 1:17 mengatakan bahwa Allah memberi kita roh hikmat dan wahyu sehingga kita dapat mengenal Dia. Roh yang dise­but di sini adalah roh manusia kita yang berkaitan dengan Roh Allah. Ini berarti roh kita dengan Roh Allah dapat mem­buat kita mengenal Allah daii dalam diri kita.

Keempat ayat Alkitab ini memperlihatkan kepada kita bahwa pengenalan batiniah kita terhadap Allah diperoleh me­lalui dua sarana: yang pertama adalah melalui hukum hayat, yang berasal dari hayat Allah; yang lain adalah melalui peng­ajaran pengurapan, yang berasal dari Roh Kudus Allah. Kare­na kita memiliki dua sarana mengenal Allah ini dalam diri kita, maka pengenalan kita, tentang Allah dapat berada dalam dua fase. Hukum hayat terutama membuat kita mengenal si­fat Allah, yang adalah ciri khas hayat‑Nya. Setiap kali hayat­Nya bekerj a dan berftmgsi dalam diri kita untuk mengekspre­sikan ciri khas ini, hayat‑Nya itu pasti menyatakan sifat Allah kepada kita dan membuat kita mengenalinya. Pengajaran pengurapan terutama membuat kita. mengenal diri Allah sen­diri. Ini karena pengajaran pengurapan berasal dari Roh Ku­dus, dan Roh Kudus adalah perwujudan diri Allah sendiri. Ketika Roh Kudus mengurapi dan bekerja dalam diri kita, Dia selalu mengurapkan diri Allah sendiri ke dalam diri kita, dengan demikian menyebabkan kita mengenal diri Allah sendiri. Hukum hayat dan pengajaran pengurapan menye­babkan kita mengenal sifat Allah dan diri Allah sendiri. Inilah yang kita sebut pengenalan batiniah.


V. HUKUM TAURAT DAN NABI‑NABI
Kita dapat melihat sebuah bayangan kedua fase penge­nalan akan sifat Allah dan diri Allah sendiri dalam Perjanjian Lama. Allah memberikan hukum Taurat dan nabi‑nabi supaya bani Israel dapat mengenal sifat‑Nya dan diri‑Nya melalui hukum Taurat dan nabi‑nabi itu. Pengenalan ini berasal dari sisi luar.

Ciri khas Perjanjian Lama adalah hukum Taurat dan nabi­nabi. Alasan Allah memberikan hukum Taurat dan menetap­kan nabi‑nabi adalah supaya umat‑Nya mengenal Dia. Jadi hukum Taurat dan nabi‑nabi adalah dua sarana yang dipakai oleh Allah untuk membimbing bangsa Israel mengenal‑Nya. Dengan dua sarana ini, bangsa itu dapat memiliki pengenalan akan Allah dalam dua fase.

Allah memberikan hukum Taurat untuk membimbing bangsa Israel mengenal sifat‑Nya. Hukum Taurat berasal dari sifat Allah karena hukum Taurat membicarakan apa yang dise­nangi Allah dan yang tidak disenangi‑Nya. Semua yang di­senangi oleh sifat Allah adalah apa yang Dia inginkan agar dilakukan oleh bangsa Israel. Segala sesuatu yang tidak di­sukai sifat Allah adalah apa yang Dia larang. MisaInya, Allah adalah Allah yang cemburu; karena itu Dia melarang bangsa itu menyembah berhala. Allah itu penuh kasih; karena itu Dia melarang bangsa itu membunuh, Allah itu kudus; karena itu Dia ingin bangsa itu menjadi kudus. Allah itujujur; karena itu Diaingin bangsa itu menjadijujur. Tipe hukum yang diberi­ kan kepada bangsa itu sesuai dengan tipe sifat yang dimiliki Allah. Jadi seluruh hukum Taurat menunjukkan sifat Allah kepada mereka. Beberapa butir bukum itu membicarakan ke­ cemerlangan Allah, yang lain membicarakan kekudusan dan kebaikan Allah, dan yang lain lagi membicarakan kasih Allah. Allah menggunakan tuntutan dan larangan setiap butir hu­kum itu untuk membimbing bangsa Israel mengenali setiap aspek sifat‑Nya.

Allah juga menunjuk nabi‑nabi untuk membimbing bangsa Israel mengenal diri‑Nya; karena nabi‑nabi Perjanjian Lama ditunjuk oleh Allah untuk mewakili diri‑Nya, pribadi‑Nya. Perkataan yang mereka sampaikan adalah wahyu dan bim­bingan yang diberikan oleh Allah sesuai dengan kehendak­Nya. Misalnya, Musa adalah nabi yang ditunjuk oleh Allah (Ul. 18:15). Perkataan yang disampaikan Musa kepada bangsa Israel mengenai pembangunan Kemah Pertemuan adalah wahyu Allah kepada bangsa itu mengenai hal itu. Ketika Musa memimpin bangsa itu berjalan melewati padang gurun, Allahlah yang memimpin bangsa itu beijalan di padang gurun. Jadi Allah menggunakan segala j enis wahyu dan bimbingan melalui nabi‑nabi untuk memimpin bani Israel mengenal Dia, pribadi‑Nya.

Karena hukum Taurat berasal dari sifat Allah, maka ka­raktomp telap dan tak dapat bembah. Hukum Taurat menga­takan bahwa orang harus menghormati orang tuanya, tidak boleh membunuh, tidak boleh berbuat zinah, dan tidak boleh mencuri. Semua ini adalah hukum yang tetap dan tegas dan tidak dapat diubah. Hukum‑hukum ini dapat dikenakan pada setiap orang, entah yang hidup di Yerusalem maupun di Sama­ria. Hukum‑hukum ini tidak terpengaruh oleh orang, peristi­wa, waktu, atau tempat. Kalau bani Israel bersedia menerima stan dar hukum ini, mereka bukan hanya akan mengenal sifat Allah yang kekal dan tak dapat berubah, tetapi gaya, karakter, dan selera hidup mereka juga akan sesuai dengan sifat itu.

Sebaliknya, karena nabi‑nabi mewakili diri Allah sendiri dan memberitakan kehendak‑Nya selama waktu tertentu, ma­ka kegiatan mereka fleksibel dan dapat berubah. Kegiatan mereka tidak terbatas dan tidak tetap. Sebab Allah melakukan segala sesuatu menurut kehendak‑Nya sendiri, dan diri‑Nya sendiri fleksibel dan tidak dapat dibatasi. Nabi‑nabi tersebut mungkin pada satu saat memberikan kepada bangsa itu satu macam wahyu, dan pada saat lain memberikan wahyu yang lain lagi. Di sini nabi‑nabi itu mungkin memberikan bimbingan seperti ini, dan di sana mereka mungkin memberikan jenis bimbingan yang lain lagi. Jadi standar hukum yang diberikan kepada manusia itu tetap dan terbatas. Tetapi wahyu dan bim­bingan yang diberikan nabi‑nabi itu kepada bangsa tersebut fleksibel dan tidak terbatas. Kalau bangsa Israel bersedia mengikuti wahyu dan bimbingan nabi‑nabi itu, bangsa itu dapat mengenal Allah dalam pribadi‑Nya melalui nabi‑nabi itu, dan mereka pun dapat mengenal kehendak‑Nya untuk masa itu. Mereka juga dapat menyesuaikan diri mereka de­ngan diri Allah dan dengan kehendak‑Nya, entah waktu me­lakukan kegiatan atau waktu beristirahat, dalam pekerjaan atau dalam peperangan.


VI. HUKUM HAYAT DAN PENGAJARAN PENGURAPAN
Meskipun hukum Taurat dan nabi‑nabi Perjanjian Lama dapat menyebabkan bani Israel mengenal Allah, namun se­muanya merupakan pengenalan lahiriah, bukan batiniah. Ka­rena itu dalam zaman Perjanjian Baru, Allah menaruh Roh­Nya bersama hayat‑Nya dalam diri kita, sehingga kita mampu memiliki pengenalan batiniah akan Dia. Hukum hayat, yang berasal dari hayat‑Nya, mengambil alih kedudukan hukum Taurat Perjanjian Lama dan membuat kita mampu mengenal sifat‑Nya dari dalam diri kita. Pengajaran pengurapan meng­ambil alih kedu.dukan nabi‑nabi Perjanjian Lama dan mem­buat kita mampu mengenal diri Allah sendiri dan kehendak­Nya dari dalam diri kita.

A. Hukum Hayat
Hukum hayat adalah ciri khas alamiah dan ftmgsi dari hayat, dan ciri khas hayat ini adalah sifat hayat itu. Karena itu, ketika hukum hayat Allah dalam diri kita menyatakan fimgsinya dan mengatur kita, hukum hayat itu selalu me­wahyukan sifat Allah kepada kita. Karena itu, hukum hayat itu membuat kita mampu mengenal sifat Allah. Pengenalan seperti ini tidak memerlukan ajaran pengenalan lahiriahjuga tidak memerlukan pengaturan luaran dari hukum harfiah dan peraturan‑peraturan, tetapi melalui kesadaran alamiah yang diberikan kepada kita oleh hukum hayat batiniah. Sebagai contoh, jika cuka diteteskan ke dalam mulut seorang bayi, dia akan memuntahkannya. Tetapi kalau gula yang ditaruh ke dalam mulutnya, dia akan menelannya. Kemampuan bayi itu untuk membedakan rasa asam dengan manis tidak ber­dasar pada pengajaran, tetapi berdasar pada fungsi alamiah darihayat. Demikianjuga, orangyangbaru sajadiselamatkan dan telah menerima hayat Allah tidak suka berbuat dosa. Bukan karena dia takut hukuman dosa, tetapi karena. sifat kudus hayat Allah dalam dirinya dengan sendirinya memberi dia kesadaran yang membuatnya merasa benci, muak, dan tak tahan terhadap dosa. Kesadaran seperti ini lebih dalam daripada tuduhan hati nurani. Dari kesadaran yang membenci dosa itulah kita bisa mengenal sifat kudus Allah.

Paulus memberi tahu orang‑orang kudus di Korintus bah­wa "kami melakukan pekeijaan tangan yang berat. Kalau ka­mi dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sa­bar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah" (1 Kor. 4:12‑13). Paulus dapat berperilaku demikian bukan hanya karena hayat Allah dalam dirinya membuatnya demi­kian, tetapi juga karena sifat hayat Allah dalam dirinya adalah demikian. Ketika dia hidup dalam hayat Allah secara demi­kian, maka dia menjamah sifat Allah; dengan kata lain, dia mulai mengenal sifat Allah.

Sifat hayat Allah, seperti kekudusan, kasih, kejujuran, te­rang, dan sebagainya, selalu tak berubah dari kekekalan sam­pai kekekalan, tidak terpengaruh oleh perbedaan waktu atau tempat. Karena itu ciri khas hukum hayat‑Nya juga tetap dan tak dapat berubah. Di mana pun atau kapan pun hukum hayat Allah bekeija, sifat Allah yang membuat Kita mampu men­jamah‑Nya selalu tetap dan tak berubah.

Ketika hukum hayat bekerja dalam diri kita, membuat kita mampu mengenal sifat Allah, akibatnya adalah hukum itu membuat perilaku, karakter, dan cita rasa seluruh hidup kita sesuai dengan sifat Allah, tidak seperti hukum harfiah Peijanjian Lama, yang hanyalah peraturan luaran yang me­nuntut agar hayat lahiriah manusia sesuai dengan sifat Allah. Inilah hukum hayat Pezjanjian Baru, yang oleh pekerjaan hayat ini di dalam, membaurkan sifat Allah ke dalam sifat kita. Jadi hukum hayat ini menyebabkan sifat kita menam­pung unsur sifat Allah dan secara bertahap menjadi seperti sifat Allah. Apa pun yang dikasihi atau dibenci oleh sifat Allah, sifat kita juga akan mengasihi atau membencinya. Sekarang, kapan pun kita melakukan atau bahkan ingin melakukan hal­hal masa lalu yang gelap dan cemar, hukum hayat di dalam kita menyebabkan kita merasa tidak tenang, tidak wajar, dan tanpa damai, Sebaliknya, semakin kita melakukan hal‑hal yang terang dan kudus serta sesuai dengan sifat Allah, kita makin merasakan hidup dan damai dari batin. Dengan demiki­an hidup kita dengan sendirinya diubah sehingga sesuai de­ngan sifat Allah dari batin.

B. Pengajaran Pengurapan
Dalam Alkitab, hanya 1 Yohanes 2:27 yang membicarakan "pengajaran pengurapan". Kita semua tahu bahwa pengurap­an adalah kata benda verbal yang mengacu kepada kegiatan minyak urapan, gerakan dan pekerjaan minyak urapan. Me­nurut perlambangan Perjanjian Lama dan penggenapannya dalam Perjanjian Baru, minyak urapan atau minyak dalam All;itab mengacu kepada Roh Kudus (Yes. 61:1; Luk. 4:18). Ka­Tena minyak urapan atau minyak mengacu kepada Roh Ku­dus, maka"pengurapan"pasti mengacu kepada pekerjaan Roh Kudus. Pekerjaan Roh Kudus dalam diri kita sama seperti pengurapan minyak urapan; karena itu, Alkitab menyebut peke‑rjaan Roh Kudus ini "pengurapan".

Karena pengurapan adalah pekerjaan Roh Kudus dalam diri kita, pengurapan itu tentu membuat kita memiliki perasa­an batin sehingga kita dapat mengenal Allah dan kehendak­Nya. Ketika pengurapan membuat kita mengenal. Allah dan kehendak Allah secara demikian, pengurapan itu mengajar kita dari dalam. Jadi Alkitab menyebut aj aran ini, "pengaj aran pengurapan".

Karena pengurapan adalah pekeijaan Roh Kudus dalam diri kita, pengurapan juga adalah diri Allah sendiri yang be­keija dalam diri kita, karena Roh Kudus adalah perwujudan Allah dalam diri kita. Allah itu tidak terbatas; karena itu ka­rakter pengajaran yang Dia berikan kepada kita lewat peker­jaan dan pengurapan dalam diri kita tidak dapat dibatasi. Kadang‑kadang Dia memberi kita ajaran seperti ini; kadang­kadang Dia memberi kita ajaran seperti itu. Ajaran‑Nya tidak seperti hukum hayat‑Nya, yang berkarakter pasti dan tak da­pat diubah. Hukum hayat Allah berasal dari sifat hayat‑Nya yang tetap dan membuat kita menj amah sifat hayat‑Nya yang tetap; karena itu fimgsi hukum ini dalam diri kita juga tetap. Tetapi pekerjaan Roh Kudus‑Nya berasal dari diri‑Nya yang tak terbatas, dan pekerjaan ini membuat kita menjamah diri­Nya yang tak terbatas; karena itu, pengajaran yang diberikan pekerjaan ini kepada kita dari batin juga tidak terbatas. Pe­kerjaan Roh ini dapat menyebabkan kita memperoleh wahyu­Nya dan menerima bimbingan.Nya, karenanya menyebabkan kita mengenal diri‑Nya yang tak berkesudahan dan kehendak­Nya yang tak terbatas.

Karena pengajaran pengurapan memberi kita wahyu dan bimbingan oleh Allah yang tak berkesudahan, maka ajaran ini dapat menyebabkan semua kelakuan, perbuatan, gerakan, dan pilihan kita menjadi sesuai dengan kehendak Allah. Ini ti­dak sama dengan nabi‑nabi zaman Perjanjian Lama yang mengajar orang banyak dari luar dan menuntut agar perbuat­an mereka sesuai dengan kehendak Allah. Ini adalah Roh Ku­dus sebagai minyak urapan dalam diri kita, mengurapkan elemen Allah sendiri ke dalam diri kita dan membuat kita mampu memahami kehendak Allah karena. telah menjamah diri Allah sendiri. Akibatnya adalah ajaran ini tidak hanya menyebabkan perbuatan kita tetapi juga seluruh diri kita di­penuhi elemen Allah dan selaras dengan kehendak‑Nya.

Jadi hukum hayat membuat kita menjamah sffat hayat Allah. Hukum ini mengatur dari dalam diri kita menurut sifat hayat Allah. Tetapi pengurapan membuat kita menjamah Allah, menjamah pribadi‑Nya, dan mengurapkan esens‑Nya ke dalam diri kita. Karena hukum hayat dan pengurapan terus bekezja dan mengajar dalam diri kita, kita dapat mengenal Allah dalam segala hal dan tidak memerlukan orang lain meng­ajar kita. Kapan pun kita menjamah perihal cara dan dta ra­sa hidup, maka hukum hayat membuat kita mengenal sifat Allah dalam soal ini. Dan kapanpun kita menjamah hal per­buatan atau pilihan, pengajaran pengurapan menyebabkan kita mengerti bagaimana perasaan Allah terhadap hal‑hal ini.

Sebagai contoh, misalkan kita ingin membeli pakaian. Entah kita membelinya atau tidak adalah soal dipimpin oleh Roh Kudus dalam perbuatan. Jadi pengurapan itu akan meng­ajar dan membimbing kita. Ketika kita masuk ke toko, gaya dan warna yang kita pilih adalah soal yang berhubungan de­ngan cita rasa sifat Allah. Hukum hayat akan membuat kita merasakan gaya dan warna apa yang sesuai dengan sifat Allah. Bimbingan mengenai apakah kita harus pergi ke toko dan membeli pakaian atau tidak, bukanlah hal yang kaku. Mungkin saja pada saat ini kita harus pergi, dan pada saat yang lain tidak. Namun cita rasa tentang gaya dan warna apa yang harus kita pilih tidak pernah berubah; setiap kali kita pergi, hal itu tetap sama.

Misalnya, ada seorang saudara dan saudari yang ingin menikah. Pada hari apa mereka harus menikah adalah soal dibimbing dalam perbuatan; tidak berkaitan dengan sifat Allah. Bukannya hari pertama atau hari kelima belas yang sesuai dengan sifat Allah, dan hari‑hari yang lain tidak sesuai. Karena ini adalah soal bimbingan dalam perbuatan, maka ini akan ditentukan oleh pengurapan atau pekeijaan Roh Kudus. Namun pada waktu pernikahan, gaya pakaian, tipe pengatur­an, bagaimana sidang diselenggarakan, dan apakah karakter, cita rasa, dan gayanya sesuai dengan gereja serta pantas bagi orang‑orang kudus, semuanya adalah hal‑hal yang berhu­bungan dengan sifat Allah. Karena itu, hal‑hal tersebut tidak diajarkan oleh pengurapan, tetapi diatur oleh hukum hayat.


C. Hubungan antara Keduanya
Meskipun hukum hayat dan pengajaran pengurapan me­miliki fungsi berbeda dan tidak sama, namun keduanya ber­kaitan erat sekali. Hubungan sebab dan akibat antara yang satu dengan yang lain tidak bisa dipisahkan.

Hukum hayat berasal dari hayat Allah, dan hayat Allah terletak pada dan terkandung dalam Roh Allah. Karena itu, hukum ini juga disebut "hukum Roh hayat" (Rm. 8:2‑TI.), dan juga hukum Roh Kudus. Meskipun hukum ini berasal dari hayat Allah dan ditentukan oleh hayat itu, namun hukum ini dilaksanakan oleh Roh Kudus Allah, dan pekeijaan Roh Kudus ini adalah pengurapan. Karena itu, fungsi hukum ini perlu diwujudkan dengan pengurapan. Begitu pengurapan berhenti, maka ftmgsi hukum ini pun menghilang. Ini mem­buktikan kepada kita bahwa pengurapan dan ftmgsi hukum hayat sesungguhnya saling berkaitan dan tidak dapat dipisah­kan.

Selanjutnya, pengajaran pengurapan juga berkaitan de­ngan pemahaman kita. terhadap hukum hayat. Karena hukum hayat adalah fungsi alamiah hayat, maka pekerjaan hukum ini di dalam kita adalah milik perasaan hayat. Melalui hukum hayat ini, kita hanya dapat memiliki perasaan dalam bagian terdalam dari diri kita, perasaan yang membuat kita merasa­kan suatu dorongan atau larangan, suka atau benci. Namun kita masih tidak dapat memahami arti perasaan itu. Untuk memahami arti perasaan batin itu, Kita memerlukan pengajar­an pengurapan. Bila pengurapan mengajar kita barulah kita dapat memahami arti perasaan yang diberikan kepada kita melalui hukum‑hayat. Msalnya, seorang anak yang merasa­kan gula dan garam untuk kali pertama dapat dengan kemam­puan alamiah hayatnya dalam dirinya merasakan perbedaan dalam rasa; tetapi dia masih tidak tahu apa sebenarnya kedua benda itu. Namun, sewaktu ibunya memberi tahu dia bahwa yang manis itu namanya gula dan yang asin disebut garam, dia tidak hanya merasakan bahwa rasa kedua benda itu ber­beda, tetapi ia juga tahu sebenarnya kedua benda itu apa.

Demikian juga, sewaktu seorang saudara diselamatkan, dia memiliki hayat Allah dalam dirinya. Karena itu, kalau dia pergi ke bioskop, minum anggur atau merokok, karena semua ini tidak sesuai dengan sifat hayat Allah dalam dirinya, maka sifat hayat ini menyebabkan dia merasa tidak tenang dan tidak memiliki damai sampai dia meninggalkan hal‑hal ini. Inilah yang diberitahu oleh perasaan hayat Allah kepadanya. Tetapi, meskipun dia merasa tidak tenang dalam melaku­kan hal‑hal itu, dia masih belum mengerti mengapa. dia merasa tidak tenang. Ketika pengurapan, melalui pengajaran Alkitab, memberi tahukan kepadanya bahwa semua. hal ini tidak sesuai dengan sifat hayat kudus Allah dalam dirinya, barulah ia mengerti penyebab ketidaktenangan itu. Pada saat ini, dia ti­dak hanya memiliki kesadaran yang diberikan oleh perasaan hayat Allah dalam difinya, tetapi diajuga memiliki pengajaran pengurapan yang menyebabkan dia mengerti. Jadi, bukan ha­nya fungsi hukum hayat yang diwujudkan lewat pengurapan, tetapi arti perasaan hukum hayat juga diwahyukan melalui pengajaran pengurapan.

Di pihak lain, pekexj aan hukum hayat juga berkaitan de­ngan pemahaman kita terhadap pengajaran pengurapan. Dari pengalaman. kita tahu. bahwa pengertian akan pengajaran pengurapan tergantung pada pertumbuhan hayat. Tingkat pertumbuhan hayat Kita menentukan sebempajauh Kita menger­ti pengajaran pengurapan. Sebagai contoh, kalau anak yang mengecap gula dan garam itu masih sangat muda, meskipun seandainya ibunya memberi tahu. dia bahwa yang manis itu gula dan yang asin itu garam, dia tetap tidak dapat mengerti. Perlu menunggu sampai hayatnya berturnbuh. mencapai ting­kat tertentu; barulah dia dapat mengerti. Prinsip yang sama juga berlaku kalau kita ingin memahami pengajaran peng­urapan. Pertumbuhan hayat harus cukup. Kalau kita ingin lebih memahami pengajaran pengurapan, hayat kitajuga ha­rus semakin bertumbuh. Dan pertambahan pertumbuhan ha­yat berasal dari pekexjaan hukum hayat. Semakin sering hu­kum hayat bekerja dalam diri kita, maka pertumbuhan hayat akan semakin meningkat, dan kita pun semakin dapat mema­hami pengajaran pengurapan. Jadi, pekezjaan hukum hayat  dapat meningkatkan pemahaman kita akan pengurapan.

Karena. itu ingatlah bahwa hukum hayat dan pengurapan bukan hanya saling berkaitan, tetapi juga saling mempenga­ruhi. Keterkaitan dan hubungan kedua hal inilah yang membuat pengenalan batiniah kita akan Allah semakin bertumbuh sampai kita mengenal Allah secara utuh dan kaya.


D. Perbandingan antara Keduanya
Kita sudah melihat perbedaan antara hukum hayat dengan pengajaran pengurapan, dan bahwa keduanya saling berkait­an timbal balik. Kini kita akan melihat perbandingan sederha­na dan jelas antara pengenalan tentang Allah yang diberikan lewat kedua hal itu; yang akan membuat kita makin jelas.

Karena hukum hayat adalah:ftmgsi alamiah hayat Allah, maka pengenalan tentang Allah yang diberikannya kepada kita hanya terdiri dari satu hal, yaitu, ia menyebabkan kita mengenal sifat hayat Allah.

Tetapi, karena pengajaran pengurapan adalah pekerjaan Roh Allah sendiii, pengenalan akan Allah yang diberikannya kepada kita paling sedikit terdiri dari tiga macam:

Pertama, ajaran itu menyebabkan Kita mengenal diri Allah sendiri. Ini berarti kita menjamah diri Allah sendiri dan karenanya kita mengalami serta mendapatkan Dia.

Kedua, ajaran itu membuat kita mengenal kehendak Allah. Ini berarti kita mengerti bimbingan yang Allah berikan kepada kita dalam perbuatan kita. Bimbingan ini dapat dibagi menjadi bimbingan biasa dan bimbingan khusus. Bimbingan biasa ada­lah untuk kehidupan kita seho‑ri‑hari. Bimbingan khusus ada­lah bagi rencana pekerjaan Tuhan. Seperti telah kita bahas sebeluninya, apakah kita harus membeli pakaian atau tidak, pada hari apa kita akan menikah, dan sebagainya, semuanya adalah contoh bimbingan biasa dalam hidup kita sehari‑hari. Di pihak lain, ketika Saudara Hudson Taylor merasa bahwa dia harus membawa Injil Tuhan ke pedalaman negeri Cina, ini adalah bimbingan khusus dalam pekerjaan Allah.

Ketiga, ajaran itu menyebabkan Kita mengenal kebenaran. Ini berarti kita menerima wahyu mengenai kebenaran. Wahyu mengenai kebenaran juga dibagi menjadi yang bersifat biasa dan yang bersifat khusus. Yang bersifat biasa berkaitan de­ngan tingkah laku insani kita; nlisalnya, nampak bahwa orang percaya tidak boleh menjadi "pasangan yang tidak seimbang dengan orang‑orang yang tak percaya" (2 Kor. 6:14), atau apapun yang kita lakukan, kita harus "melakukan ... semua­nya itu untuk kemuliaan Allah" (1 Kor. 10:31). Di pihak lain, wahyu khusus berkaitan dengan rencana Allah, seperti nam­pak rahasia Allah dalam Kristus (Kol. 2:2), dan fimgsi gereja dalam hubungannya dengan Kristus (Ef 1:23).

Sesudah melihat pokok‑pokok pembicaraan ini, kita me­nyadari bahwa pengenalan batini yang diberikan kepada kita oleh hukum hayat dan pengajaran pengurapan memang kaya. Pengenalan ini meliputi hampir semua pekerj aan Allah dalam diri kita, dan karenanya membuat kita mampu memiliki penge­nalan yang utuh, kaya, dan menyeluruh tentang Allah.


VI. Hukum Alkitab
Perasaan batin yang diberikan kepada kita oleh hukum hayat dan pengajaran pengurapan membuat kita mampu me­ngenal Allah. Tetapi, meskipun perasaan batin ini mungkin mutlak nyata dan benar, perasaan ini masih perlu dibuktikan dengan pengajaran dan prinsip‑prinsip Alkitab. Kalau ke­sadaran yang ada di dalam kita tidak sesuai dengan ajiaran dan dasar‑dasar Alkitab, kita tidak boleh menerimanya. De­ngan demikian kita dapat berjaga‑jaga supaya tidak tertipu atau menjadi ekstrim, dan supaya kita dapat menjadi tepat dan stabil.

Tak peduli apakah kesadaran batin itu berasal dari hukum hayat dalam roh kita ataukah berasal dari Roh Kudus sebagai pengurapan, ia harus sesuai dengan kebenaran Alkitab. Kalau kesadaran yang kita rasakan dalam diri kita tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab, maka kesadaran itu pasti bukan dari hukum hayat atau pengajaran pengurapan. Meskipun kesadaran dalam diri kita mungkin hidup, namun kebenaran dalam Alkitab itu tepat dan texjamin. Walaupun kebenaran Alkitab itu sendiri hanya tepat dan tezjamin namun tidak hidup, tetapi perasaan batin saja kadang‑kadang hidup tidak tepat; atau hidup, tetapi tidak terjamin. Itu sama seperti kereta api yang melaju ke depan: seharusnya tidak hanya ada daya di dalanmya, tetapi juga rel di luarnya. Tentu saja, kalau hanya ada rel di luarnya dan tidak ada daya di dalam­nya, maka kereta api itu tidak dapat bergerak. Tetapi kalau hanya ada daya di dalam kereta itu dan tidak ada rel di luar­nya, meskipun keretanya bisa bergerak, pasti akan melaju menuju malapetaka. Karena itu, kita tidak hanya memerlukan perasaan yang hidup dalam diri kita, tetapi juga kebenaran yang tepat di luar diri kita. Kesadaran yang hidup dalam diri kita berasal dari hukum hayat dan pengajaran pengurapan; kebenaran yang tepat di luar diri kita terletak dalam ajaran firman yang tertulis di Alkitab dan terang prinsip‑prinsipnya.

Ketika bani Israel berjalan di padang gurun, tiang awan adalah pembimbing mereka pada waktu siang, dan tiang api menjadi pembimbing mereka pada malam hari. Demikianjuga, sewaktu keadaan rohani kita terang dan jelas, sewaktu batin kita seterang siang hari serta perasaan batin kita jelas dan tepat, dengan bimbingan Roh Kudus seperti yang dilambang­kan dengan tiang awan, barulah kita dapat bezjalan di jalan Allah yang benar. Tetapi sering kah, keadaan rohani kita se­perti keredupan malam; batin kita segelap tengah malam, dan perasaan batin kita kabur dan tidak jelas. Maka kita pun me­merlukan Alkitab, yang dilambangkan dengan tiang api, un­tuk menjadi pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita untuk membimbing kita berjalan di i alan Allah yang benar.

Karena itu, kalau. kita ingin berjalan di jalan hayat yang aman dan kebenaran, kita harus memeriksa dan membukti­kan setiap kesadaran, bimbingan, dan wahyu dengan ajaran dan prinsip kuasa yang sesungguhnya dan kekuatan yang terjamin. Hanya keseimbangan inilah yang akan membuat kita mampu maju tanpa meniadi berat sebelah.


VII.  "AJARAN" DARI LUAR
Meskipun di satu pihak Alkitab mengatakan bahwa karena kita memiliki hukum hayat dan pengajaran pengurapan di dalam kita, kita dapat mengenal Allah dan tidak perlu diajar oleh orang lain, namun di pihak lain ada banyak bagian Al­kitab yang berbicara tentang ajaran dari manusia. Nfisalnya, ayat‑ayat seperti 1 Korintus 4:17; 14:19; 1 Timotius 2:7; 3:2; 2 Timotius 2:2, 24, dan seterusnya, mengatakan bahwa rasul. Paulus mengajar orang‑orang, dan dia menghendaki orang lain juga belajar bagaimana cara mengajar. Ada tiga alasan utama untuk hal ini.

Pertama, meskipun perasaan batin yang diberikan kepada kita oleh hukurn hayat dan pengajaran pengurapan cukup untuk membuat kita mengenal Allah, dan karenanya kita ti­dak memerlukan pengaj aran manusia, namun kita sering kali tidak mendengar dan tidak mempedulikan kesadaran itu. futa lemah, khususnya untuk mendengar firman Allah. Kadang­kadang kita tidak mendengar, dan kadang‑kadang kita tidak mau mendengar. Orang‑orang yang sakit pikirannya, orang­orang yang subjektif, orang‑orang yang memaksakan pen­dapatnya sendiri saja, dan orang‑orang yang dengan sengaja menutup diri sering kali tidak dapat mendengar. Dan orang­orang yang tidak mengasihi Tuhan, yang tidak mau membayar harga dan yang tidak mau mengikuti Tuhan, adalah orang­orang yang tidak bersedia mendengar. Karena mereka tidak mau mendengar, maka mereka pun tidak mendengar. Karena mereka tidak mendengar, mereka semakin tidak mau men­dengar. Karena itu, sering kah bukannya Allah tidak mau berbicara, bukan pula karena hayat‑Nya tidak mengatur, atau pengurapan‑Nya tidak mengajar, tetapi karena kita tidak men­dengar. Ayub 33:14 mengatakan: "Karena Allah berfirman de­ngan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya." Keadaan kita yang lebih buruk daripada ini. Bahkan ketika Allah berbicara lima, sepuluh atau dua puluh kah, kita masih tidak mau mendengar. Tetapi syukur kepada Allah, Dia pe­maaf dan panjang sabar. Kalau kita tidak mendengar apa yang dikatakan‑Nya dalam diri kita, Dia menggunakan ajaran ma­nusia dari luar diri kita untuk mengulangi perkataan‑Nya. Dia sudah berbicara dalam diri kita, tetapi karena kita tidak mendengar, maka Dia mengajar kita dari luar diri kita melalui orang lain untuk mengulangi apa yag sudah dikatakan‑Nya dalam diri kita.

Di bawah Perjanjian Baru, banyak ajaran mengikuti prin­sip pengulangan ini. Dalam Surat‑surat Kiriman, perkataan "Tahukah kalian, ataukah tidak?" sering kah muncul. Maksud­nya adalah Anda telah mendengar dan tahu, tetapi Anda tidak peduli dan tidak mendengar; karena itu, Allah memakai manusia untuk mengajar Anda lagi. Jadi, sering kali, entah Allah memakai kata‑kata dalam Alkitab atau pelayan‑Nya un­tuk mengajar kita, Ia tidak melakukannya untuk mengganti­kan pengajaran‑Nya di dalam kita, tetapi untuk mengulangi apa yang telah Ia ajarkan di dalam kita. MesIdpun bimbingan dari luar dan ajaran dari dalam saling melengkapi dan men­dukung, namun yang dari luar tidak dapat menggantikan ke­dudukan yang dari dalam. Itu hanya pengulangan dari yang di dalam.

Jadi, hari ini jika Kita membantu orang lain dalam hal ro­hani, kita tidak boleh memberikan Sepuluh Perintah kepada­nya untuk mengajar dia bertindak begini atau begitu secara objektif. Kita hanya dapat menerangkan apa yang telah Allah tetapkan dalam prinsip, dengan demikian bersaksi terhadap ffiman yang Allah sampaikan dari dalam dan mengulangi apa yang telah Allah ajarkan kepada mereka dari dalam. Kita tidak boleh secara objektif mengajar orang‑orang secara begini atau begitu dengan terperinci. Inilah yang telah dilakukan nabi­nabi Peijanjian Lama. Dalam Pezja~ian Baru, hanya ada nabi­nabi untuk gereja, yang menjelaskan apa yang ditentukan oleh Allah dalam prinsip. 71dak ada nabi untuk perorangan, yang memutuskan soal‑soal secara terperinci. Penyelesaian rinciannya adalah apa yang Allah beri tahukan kepada setiap manusia dari dalam melalui hukum hayat dan pengajaran pengurapan. Inilah prinsip Perjanjian Baru. Jadi, meskipun ki­ta harus merendah untuk menerima pengajaran orang lain, namun yang memerintah kita haruslah apa yang sudah diatur oleh hukum hayat dalam diri kita atau yang sudah diajarkan, oleh pengurapan. Kalau tidak, maka masih belum sesuai de­ngan prinsip Perjanjian Baru.

Alasan kedua mengenai perlunya ajaran manusia dalam Perjanjian Baru adalah, meskipun hukum hayat dan peng­urapan dapat membuat kita mengenal Allah, namun kesadar­an dan pengajaran Yang mereka berikan kepada kita semua­nya ada di dalam roh. Kalau kita tidak menerima cukup ajaran dari luar diri kita, maka pildran kita sulit memahami kesadar­an dan ajaran Yang diberikan dalam roh Kita oleh hukum hayat dan pengurapan. Agar pikiran kita memahami kesadaran dan ajaran Yang diberikan kepada kita oleh hukum hayat dan pengurapan dari dalam, kita perlu orang lain mengajar kita dari luar mengenai jalan Allah. Semakin banyak kita mene­rima ajaran dari luar tersebut, pikiran kita semakin mema­hami kesadaran dan pengajaran dari hukum hayat dan peng­urapan di dalam. Dan semakin banyak kita menerima peng­ajaran di luar sedemildan, pengajaran itu semakin membantu roh kita untuk bertumbuh, dengan demikian memberikan le­bih banyak dasar dan kesempatan kepada hukum hayat dan pengurapan untuk menyatakan f‑Lmgsi mereka dan memberi Iiita perasaan dan pengajaran Yang lebih dalam. Karena itu, meskipun hukum hayat dan pengurapan memberi kita ke­sadaran dan ajaran dari dalam, kita masih memerlukan ajaran manusia dari luar. Namun ajaran dari luar ini tidak dapat dan tidak boleh menggantikan kedudukan kesadaran dan ajar­an hukum hayat serta pengurapan dari dalam. Ajaran dari luar itu hanya membantu kita memahami perasaan dan ajaran batin ini dan membeTikan kesempatan kepada hukum hayat dan pengurapan untuk memberi kita perasaan dan ajaran Yang lebih dalam. Aj aran manusia dari luar harus selalu men­dapatkan "amin" atau "gema" dari kesadaran dan ajaran dari dalam Yang diberikan oleh hukum hayat dan pengurapan. Setelah itu barulah ajaran itu sesuai dengan prinsip Perjanjian Baru. Ajaran dan bimbingan dari dalam dan luar bukanlah untuk saling menggantikan, tetapi untuk saling menolong dan menanggapi.

Ketiga, meskipun hukum hayat dan pengajaran pengurap­an dapat membuat Kita mengenal Allah. dalam segala sesuatu, namun mengenai kebenaran hal‑hal yang mendalam dari Allah dan pengenalan dasar penghidupan rohani, sering kah kita masih memerlukan orang lain yang menjadi pelayan fir­man dalam wahyu Allah untuk mengajar kita supaya kita da­pat mengerti. Kita memerlukan pengenalan subyektif yang berasal dari pengurapan dan hukum hayat di dalam, namun sering kah tanpa ajaran objektif dari orang lain, kita tidak dapat memperoleh pengenalan subjektif dari dalam. Tentu saja, di bawah Pezjanjian Baru, pengajaran luaran yang objek­tif tidak dapat menggantikan kedudukan pengenalan di batin yang subjektif; tetapi sering pengenalan batin yang subjektif didapat karena pengajaran objektif di luar.

Untuk ketiga alasan di atas, Allah sering kah membangkit­kan orang‑orang yang memfliki pengenalan dan pengalaman rohani di hadapan Allah dan mengatur mereka untuk meng­ajar dan membimbing kita. Mari kita berharap bahwa di satu pihak kita dapat menghormati apa yang Allah ajarkan kepada kita dari dalam melalui hukum hayat dan pengurapan, dan di pihak lain kita tidak akan mengabaikan ajaran yang Allah berikan bagi kita melalui manusia dari luar. Kita tidak boleh menolak aj aran manusia dari luar hanya karena kita memiliki hukum hayat dan ajaran pengurapan dalam diri kita. Kita ber­terima kasih kepada Allah karena memberi kita hukum hayat dan pengajaran pengurapan, tetapi kita tetap harus rendah hati dan mengosongkan diri kita untuk menerima. ajaran dan bimbingan yang Allah berikan kepada kita melalui orang lain. Ingatlah bahwa di bawah Pexjar~ian Baru, Allah tidak hanya memberi kita hukum hayat dan pengurapan untuk mengajar kita dari dalam, tetapi Iajuga memberikan orang‑orang yang dapat mengajar dan membimbing kita dari luar.


VIII. MENGENAL DI DALAM ROH DAN MENGERTI DI DALAM PIKIRAN

A. Mengenal di dalam Roh
Karena pengenalan batiniah dihasilkan dari hukum hayat dan pengajaran Roh Allah sebagai pengurapan, dan keduanya ada dalam roh kita, maka pengenalan yang dari dalam ini pasti akan diberi tahukan kepada kita dalam roh kita. Kecuali untuk pertanyaan tentang benar dan salah, yang ditentukan oleh bagian hati nurani roh kita, maka pengenalan dalam roh ini dapat dikatakan menjadi tanggung jawab bagian intuisi roh kita. Karena itu, kalau kita mau memahami pengenalan batiniah, kita harus mengetahui apakah intuisi roh itu.

Baik tubuh dan jiwa manusia sama‑sama memiliki indra. Sebagaimana tubuh memiliki indra penglihatan, pendengar­an, penciuman, pengecap, dan perasa; sedangkan jiwa me­miliki rasa bahagia, marah, sedih, sukacita, dan lain sebagai­nya, begitu juga roh manusia memiliki indra hati nurani dan perasaan intuisi. Perasaan hati nurani muncul disebabkan oleh masalah benar dan salah; sedangkan perasaan intuisi mun­cul secara langsung tanpa sebab. Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa roh dapat "menurut" (Mat. 26:41), dapat "mengeta­hui" pertimbangan hati manusia (Mrk. 2:8), dapat"mengeluh" (Mrk. 8:12), dapat"bermaksud"(Kis. 19:21), dan dapat"sangat sedih", "bersemangat", "disegarkan" dan lain sebagainya (Ms. 17:16; 18:25; 2 Kor. 7:13). Semua ini adalah perasaan intuisi roh. Mta dapat mengatakan bahwa intuisi roh memiliki perasaan yang sama banyaknya dengan jiwa.

Namun intuisi roh berbeda dengan perasaan jiwa. Perbeda­an utamanya adalah perasaan jiwa bersumber daxi suatu se­bab, tetapi intuisi roh tidak memiliki sebab. Penyebab untuk perasaan jiwa berasal dari manusia, peristiwa, dan hal‑hal luaran. Apakah penyebab itu berasal dari orang, peristiwa, ataukah sesuatu, yang jelas hal itu dapat menyebabkan kita memiliki kesadaran jiwa. Kalau hal itu menyenangkan, maka kita gembira; kalau menyedihkan, maka kita merasa sedih. Perasaan‑perasaan jiwa yang timbul karena pengaruh dari luar itu adalah perasaan yang memiliki sebab. Namun intuisi roh tidak memilild sebab, yang berarti intuisi itu tanpa sarana, tetapi hadir langsung di bagian dalam roh. Bukan hanya in­tuisi itu tidak dipengaruhi oleh manusia, peristiwa, atau benda dari luar; intuisi ini juga tidak dipengaruhi oleh perasaan ji­wa. Bahkan sesungguhnya, intuisi ini sering bertindak ber­lawanan dengan perasaan jiwa.

Misalnya, kadang‑kadang kita ingin melakukan sesuatu. Alasan kita sangatlah cukup, hati kita juga sangat senang, dan kita memiliki keinginan untuk melaksanakannya, kita tidak tahu mengapa kita memiliki keadaan yang tidak terucapkan dalam roh kita. Kita merasa sangat berat dan ter­tekan, seolah‑olah roh menentang apa yang dipildrkan pikiran kita, yang disukai emosi kita, dan yang ditentukan tekad kita. Roh kita seolah‑olah mengatakan bahwa kita tidak boleh me­laksanakan apa yang kita rencanakan. Kesadaran seperti itu adalah larangan intuisi roh. Kadang‑kadang ada soal tertentu yang tidak memiliki alasan untuk menunjangnya; hal itujuga bertentangan dengan keinginan kita, dan Kita tidak bersedia melaksanakannya. Namun meskipun kita tidak tahu sebab­nya, kita terus merasa dalam roh seperti ada dorongan dan gerakan, yang menginginkan kita melakukannya. Begitu kita melakukannya, kita merasa nyaman di dalam. Kesadaran se­perti ini adalah dorongan intuisi dalam roh.

Larangan atau pun dorongan intuisi dalam roh terjadi tan­pa sebab. Itu adalah perasaan yang lebih dalam yang terjadi karena pekerjaan hukum hayat dan pengurapan. Karenanya, kita dapat menjamah Allah, mengenal Dia, dan mengetahui kehendak‑Nya secara langsung. Pengenalan dalam intuisi roh ini adalah apa yang AlKitab bicarakan sebagai "wahyu". Jadi wahyu tak lain Roh Kudus dalam roh kita menunjukkan ke­pada kita realitas peristiwa tertentu sehingga kita dapat me­mahaminya denganjelas. Pengenalan seperti itu dapat dikata­kan sebagai pengenalan terdalam akan Allah dalam diri kita. Pengenalan tersebut juga adalah pengenalan batiniah yang sedang kita bicarakan.

B. Mengerti di dalam Pikiran
Meskipun pengenalan batiniah adalah intuisi roh kita, namun pengenalan itu masih harus dimengerti dengan pikiran jiwa kita. Ini karena organ untuk mengerti dan memahami adalah pikiran. Karena itu, pengenalan batiniah tidak hanya perlu diketahui dengan roh, tetapijuga dipaharni dengan pikir­an. Pengenalan oleh intuisi dalam roh harus ditambahkan dengan pengertian pikiran supaya memiliki pemahaman. Pe­ngertian oleh pikiran adalah semacam penafsiran oleh pikiran intuisi roh. Kapan pun kita memilild kesadaran yang berasal dari intuisi dalam roh kita, pikiran kita perlu mengerti dan menafsirkannya. Ini berarti kita mengambil orang, peristiwa, maupun benda‑benda yang berkaitan dan memeriksanya de­ngan kesadaran intuisi roh. Kita perlu memeriksanya sampai roh menanggapinya. Baru kemudian kita tahu maksud Roh Kudus dan dapat berbuat sesuai dengan maksud‑Nya.

Misalnya, waktu kita datang kepada Tuhan, dan merasa­ kan beban dalam intuisi kita, kita tahu bahwa bimbingan dari Allah telah datang kepada kita. Inilah pengenalan dalam roh. Namun mungkin Kita tidakjelas apakah bimbingan dari Allah ini menyuruh kita mengabarkan Injil, ataukah mengunjungi saudara. Kalau untuk mengunjungi saudara, saudara yang mana yang harus kita kunjungi? Semua ini memerlukan pikir­ an untuk memaharninya. Dalam pikiran kita, kita harus me­nempatkan semua hal yang harus kita lakukan di hadapan Allah satu demi satu dan memeriksa semuanya dengan intuisi di dalam diri kita. Kalau waktu kita sampai kepada soal mengunjungi saudara ada tanggapan dalam diri kita, maka kita pun mengerti bahwa Allah ingin kita mengunjungi be­berapa saudara. Lalu dalam persekutuan dengan Allah ini selanjutnya kita kemukakan satu demi satu saudara‑saudara yang harus kita kunjungi dan memeriksanya dengan intuisi roh. Ketika kita memeriksa mengenai saudara yang berada dalam kekuran gan/miskin, mungkin tidak ada tanggapan da­lam roh. Ketika kita memeriksa tentang saudara yang sakit, mungkin juga tidak ada tanggapan dalam roh. Tetapi waktu kita mempertimbangkan tentang saudara lain yang meng­hadapi kesulitan, intuisi dalam roh menanggapi, dan seperti­ nya seluruh diri kita mengatakan "Amin!" Kalau kita takut salah, maka kita dapat mengajukan lebih banyak saudara yang perlu dikunjungi dan memeriksa mereka juga. Kalau roh tidak menanggapi satu pun di antaranya, kita mengerti bahwa orang yang Allah inginkan untuk kita kunjungi adalah saudara yang sedang menghadapi masalah. Inilah mengguna­ kan pikiran untuk mengerti apakah yang diketahui roh, atau menggunakan pikiran untuk menafsirkan kesadaran dalam roh.

Contoh lainnya adalah dalam doa Anda mungkin memiliki beban, merasa bahwa Allah menginginkan Anda mengatakan sesuatu kepada saudara saudari. Beban ini adalah pengenalan dalam intuisi. Tetapi mengenai apa yang Allah ingin Anda katakan, Anda tidak jelas. Hal ini menunjukkan Anda perlu di dalam pikiran Anda membawa satu berita demi satu berita dan memeriksanya dengan beban dalam roh Anda. Ketika An­da memeriksa masalah. membereskan daging, roh menang­gapi. Maka Anda mengerti bahwa Allah menghendaki Anda untuk berbicara tentang subyek ini. Pengertian ini adalah pemahaman pikiran. Jadi, beban intuisi dalam roh memberi tahu Anda bahwa Allah menghendaki Anda melakukan se­suatu, dan pengertian pikiran dalamjiwa membuat Anda mam­pu memahami apakah yang Allah kehendaki agar Anda per­buat.

Mungkin pada hari Tuhan, seperti biasanya, Anda ingin mempersembahkan sejumlah uang. Tetapi roh Anda memiliki beban, satu perasaan bahwa Allah ingin Anda memberikan persembahan khusus. Tetapi berapa banyak yang Allah kehen­daki Anda persembahkan, untuk apa, dan untuk siapa, harus­lah dimengerti dalam pikiran. Dengan demikian, tidak hanya Anda memiliki beban dari Allah dalam intuisi, tetapi Anda juga. mengerti maksud Allah dengan pikiran. Maka, inilah pengenalan batiniah.

Cara seperti itu untuk melakukan pekerjaan mungkin kelihatan agak j anggal. Namun waktu seseorang baru mulai belajar menafsirkan kesadaran roh dengan pikirannya, dia harus melaksanakannya demikian. Kemudian, ketika dia te­lah belajar menjadi biasa melakukannya dan menjadi cakap, maka pada waktu ada kesadaran atau pengenalan dalam roh, pikirannya segera dapat memahanii dan mengerti.


X. CARA MEMPEROLEH PENGENALAN BATINIAH
Sekarang karena kita telah melihat setiap aspek penge­nalan batiniah, kita harus melihat cara mempraktekkan atau cara memperoleh pengenalan batiniah. Untuk memperoleh pengenalan batiniah, kita harus melatih roh, memperbarui pengertian, dan membereskan hati kita.

A. Melatih Roh
Karena pengenalan batiniah ada dalam intuisi roh kita, jika kita mau memperoleh pengenalan seperti itu, kita harus sering melatih dan menggunakan roh kita sehingga roh kita hidup dan kuat. Bila roh hidup dan kuat barulah intuisi roh itu sadar dan siap siaga, sehingga kita mampu mengenal Allah dari dalam.

Untuk melatih roh, pertama‑tama Kita harus belajar untuk kembali ke roh. Kalau kita terus hidup dalam manusia j asma­niah, kita tidak bisa untuk mengenal Allah dalam intuisi roh. Kita harus belajar mengesampingkan pekerjaan‑pekerjaan luaran yang menyibukkan dan hambatan‑hambatan. Kita ti­dak hanya perlu menahan diri dari kesibukan di luar, tetapi juga tidak membiarkan pikiran kita mengembara. Sebaliknya, kita harus memperhatikan gerakan dalam roh, kesadaran da­lam diri kita. Ketika melayani Tuhan, Samuel yang masih anak‑anak dapat mendengar suara Tuhan; Maria yang duduk tenang di kaki Tuhan dapat mengerti perkataan Tuhan. Jadi kalau kita dapat kembah ke roh untuk mendekati Allah, kita dapat benar‑benar menjamah kesadaran Allah di dalam roh dan dengan demikian mengenal Allah.

Kita juga perlu melatih dan menggunakan roh dalam ke­hidupan Kita sehari‑hari. Entah ketika menghadapi orang lain, mengelola berbagai hal, menangani berbagai persoalan, atau dalam sidang melayani Tuhan dan memberitakan perkataan Allah; entah dalam percakapan dengan orang lain atau bahkan ketika melakukan suatu pekezjaan; dalam semua hal. kita ha­rus menyangkal jiwa dan mempersilakan roh memimpin. Kita tidak boleh membiarkan pikiran, emosi, atau pun tekad kita memimpin, tetapi dalam segala hal, pertama‑tama, kita harus mencoba menjamah kesadaran dalam roh. Jadi, pertama‑tama kita harus mencoba bertanya apa yang akan dikatakan oleh Tuhan yang tinggal dalam roh. Kalau kita terus melatihnya demikian, kesadaran dalam roh pasti akan siap dan pengenal­an batiniah akan mudah meningkat dan mendalam.

Dalam melatih roh, latihan terbaik adalah berdoa, karena doa menuntut kita melatih roh lebih banyak daripada kegiatan lainnya. Mta suka mengobrol, tetapi kita tidak mau berdoa atau memuji; karena itu roh kita sering menjadi layu. Kalau kita dapat meluangkan sejam atau lebih untuk berdoa setiap hari, bukan untuk meminta tetapi menyembah, bersekutu, dan memuji, maka tidak akan lama roh kita pasti akan ber­tumbuh dan menjadi kuat. Pemazmur berkata bahwa dia me­muji Tuhan tujuh kah sehari (Mzm. 119:164). Jika mereka yang berlatih tinju berlatih satu jam setiap hari, setelah se­jangka waktu tinju mereka akan menjadi kuat. Demikianjuga, jika kita melatih roh kita setiap, hari untuk berdoa, roh kita pasti akan menjadi kuat. Kalau roh kuat, intuisi pasti akan siaga. Dengan intuisi yang siap siaga, maka kita dapat mem­peroleh pengenalan tentang Allah lebih dalam lagi.

B. Memperbarui Pengertian
Kita sudah menyebutkan bahwa pengenalan batiniah tidak hanya memerlukan pengenalan dalam roh, tetapijuga penger­tian pikiran. Karena itu, kalau kita ingin memperoleh pengenalan batiniah ini, kita perlu melatih roh kita dan memper­barui pengertian pildran kita. Pikiran adalah organ untuk mengerti berbagai hal; memahami adalah kemampuannya yang terutama.

Roma 12:2 menunjukkan kepada kita bahwa bila pikiran yang mengandung pengertian, diperbarui dan diubah, barulah kita dapat "membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Kolose 1:9 juga menunjukkan kepada kita bahwa dengan memiliki " pengertian yang benar (pengertian rohani‑TI.)" kita dapat "menerima ... pengertian yang benar, untuk mengetahui ke­hendak Rihan dengan sempurna (diisi dengan pengenalan tentang kehendak‑Nya‑n.)." Karena itu pembaruan penger­tian pikiran diperlukan dalam perkara mengenal Allah.

Sebelum kita diselamatkan, seluruh diri kita, termasuk pikiran kita ' telah jatuh. Setiap khayalan pikiran hati kita itu jahat (Kej. 6:5), dan pemildran serta pandangan kita juga dipenuhi dengan aroma dunia. Karena pikiran kita berada dalam keadaan seperti itu, maka pengertian kita menjadi ka­bur. Karena itu, kita tidak mampu sama sekali memahami hal‑hal rohani. Terlebih lagi untuk mengerti kehendak Allah. Ketika kita diselamatkan, kita diperbarui oleh Roh Kudus (M. 3:5). Pekeijaan pembaruan Roh Kudus ini dimulai dalam roh kita, lalu meluas ke jiwa kita untuk memperbarui pengertian pikiran kita, sehingga kita dapat mengetahui hal‑hal tentang roh. Semakin pengertian pikiran kita diperbarui oleh Roh Ku­dus, maka kita semakin dapat memahami hal‑hal rohani dan mengerti kehendak Allah,

Meskipun pembaruan pengertian pikiran ini dilakukan oleh Roh Kudus, kita harus memikul dua tanggung jawab:

Yang pertama, kita harus mempersembahkan diri kita.  Dalam Roma 12, sebelum pikiran diperbarui dan ditransfor­masi, kita diminta untuk mempersembahkan tubuh kita se­bagai persembahan yang hidup. Ini menunjukkan bahwa pem­baruan pengertian pikiran berdasar pada persembahan diri kita. Kalau kita benar‑benar bersedia mempersem-bahkan diri kita dan memberikan diri kita sendiri kepada Allah, maka Roh Kudus Allah dapat meluaskan pekerjaan pembaruan‑Nya ke dalam jiwa kita dan dengan demikian memperbarui pe­ngertian pemikiran kita.

Yang kedua, kita harus menerima penanggulangan salib untuk membuang hidup masa lalu yang. Efesus 4:22‑23 me­nur~ukkan kepada kita bahwa kalau kita menanggalkan ma­nusia lama dari cara hidup kita yang dulu, barulah pikiran kita, yang mengandung pengertian kita, diperbarui. Sebelum kita diselamatkan, cara hidup kita yang lama telah menggelap­kan pengertian pikiran kita. Sesudah kita diselamatkan, me­lalui kematian Tuhan di kayu salib, kita membuang hidup masa lalu yang usang. Ini memberi kesempatan kepada pem­bunuhan salib Tuhan untuk meniadakan semua cara hidup yang lama satu per satu. Setelah itu barulah pengertian pikir­an dapat diperbarui. Jadi kita harus menerima penanggu­langan salib supaya pengertian pikiran kita diperbarui. Se­berapajauh kita mempersilakan salib meniadakan hidup kita yang lama, sejauh itulah pengertian pikiran kita dapat di­perbarui.

Efesus 4:23 mengatakan, "Supaya kamu dibaharui di da­lam roh dan pikiranmu." Kita tahu bahwa pikiran adalah bagi­an utama dari jiwa. Semula, pikiran tidak berkaitan dengan roh, tetapi sekarang roh telah menjadi "roh pikiran"; karena itu roh berkaitan dengan pikiran. Karena roh telah meluas dan mencapai pikiranjiwa kita, kita dapat diperbarui di dalam roh ini, yaitu, pikiran kita dapat diperbarui melalui dihubung­kan dengan roh. Karenanya, pembaruan ini diperluas dari roh kepada pikiran.

Pekeijaan Roh di dalam adalah dari pusat menuju ke se­keliling, yang juga berarti dari roh yang berada di dalam me­nuju ke jiwa yang berada di luarnya. Roh itu pertama‑tama memperbarui roh kita, yang adalah pusat diri Kita. Kemudian, kalau kita mempersembahkan diri Kita kepada‑Nya dan mene­rima penanggulangan salib, Dia akan meluas dari roh kita ke jiwa, yang berada di sebelah luarnya. Hal ini akan memper­banii setiap bagian jiwa kita. Ini berarti ketika jiwa Iiita tun­duk kepada pengaturan Roh dan mer~adi satu dengan roh ki­ta, jiwa kita diperbarui. Karena itu, pengertian pikiran juga diperbarui.

Sesudah kita menerima kelahiran kembali dari Roh Kudus di dalam roh kita, kalau kita mempersembahkan diri kepada Allah dan menerima penanggulangan Roh Kudus melalui salib untuk membuang hidup kita yang lama, maka Roh Kudus dapat terus melakukan pekerjaan perluasan‑Nya di dalam kita, memperbarui pengertian pikiran dalam jiwa kita. Hanya pengertian yang diperbarui seperti itulah. yang dapat sesuai dengan intuisi roh. Setiap kah Allah memberitahukan sesuatu kepada kita dalam intuisi roh kita, maka pengertian pikiran dapat segera mengerti. Ketika kita memiliki roh yang kuat dan siap siaga ditambah pengertian yang diperbarui danjelas, maka kita dapat memiliki pengenalan batiniah. yang utuh ten­tang sifat Allah dan semua bimbingan serta wahyu‑Nya.

C. Menanggulangi Hati
Hati adalah keseluruhan diri manusia; karena itu, kalau hati bermasalah, maka semua kegiatan roh dan hayat dalam diri kita akan mendapat rintangan dan pembatasan. Mesldpun roh kita siap siaga dan pengertian Kita diperbarui, Masih ada masalah dengan hati kita, kita masih tidak dapat memperoleh pengenalan batiniah tentang Allah. Karena itu, Kitajuga harus menanggulangi hati kita, sehingga bisa mer~adi lembut dan bersih, mengasihi Allah, menginginkan Allah, dan mentaati Allah.

Dalam Matius 11:25, Tuhan mengatakan bahwa Allah telah menyembunyikan hal‑hal rohani dari orang bijak dan orang pandai, namun telah mengtmgkapkannya kepada orang kecil. "Orang bijak dan orang pandai" adalah orang‑orang yang da­lam hatinya merasa dirinya benar, pila diri dan keras kepala; karena itu orang‑orang ini tidak dapat melihat hal‑hal rohani dari Allah. "Orang kecil" adalah orang‑orang yang rendah hati dan lembut hati; karena itu mereka dapat menerima wahyu Allah. Jadi, hati Kita harus ditanggulangi sampai menjadi ren­dah dan lembut. Kalau kita menyingkirkan kepuasan diril dan kekeras‑kepalaan, barulah kita dapat menerima wahyu dan pengenalan batiniah tentang Allah.

Dalam Matius 5:8, Tuhan mengatakan bahwa "orang yang suci hatinya ... akan melihat Allah." Kalau hati kita tidak su­ci, dan memiliki kecenderungan serta hasrat lain yang bukan Allah, maka dalam hati kita ada selubung yang menghalangi kita sehingga tidak dapat melihat Allah dengan jelas. Namun kapan pun hati kita kembali kepada Allah, selubung itu di­ ambil (2 Kor. 3:16). Jadi, kita harus menanggulangi hati Kita.

Hati kita harus suci dan tidak "mendua hati" (Yak. 4:8); baru kemudian kita dapat menerima terang dan wahyu dalam roh, mengerti dan memahami dalam pikiran kita, dan mengenal AIIah.

Dalam Yohanes 14:2 1, Tuhan mengatakan bahwa "barang‑siapa mengasihi Aku, ... Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri‑Ku kepadanya." Maria Magdalena, pa­da pagi hari kebangkitan mencari Dia, karena kasihnya yang begitu dalam kepada Ibhan. Dia melihat penampakan Ibhan yang pertama kepada murid‑murid‑Nya sesudah kebangKitan, dan menjadi orang pertama yang mengenal Kristus yang bang­kit (Yoh. 20). Saudara Lawrence berkata bahwa kalau orang mau mengenal Allah, maka kasih adalah satu‑satunya cara. Hati kita harus mengasihi Allah dan mencari Allah; barulah kemudian Kita bisa mendapatkan penyataan Allah dan menge­nal‑Nya.

Dalam Yohanes 7:17, Tuhan mengatakan: "Barangsiapa mau melakukan kehendak‑Nya, ia akan tahu Ini meng­ungkapkan bahwa hati kita haruslah menginginkan Allah dan kehendak‑Nya; baru kemudian kita dapat mengenal Allah dan menggenal kehendak‑Nya.

Dalam Filipi 2:13, rasul mengatakan bahwa Allahlah yang mengezjakan kemauan dan pekezjaan dalam diri kita. Kalau hati kita tidak tunduk atau tidak mau tunduk kepada pe­keijaan Allah dalam diri kita, maka Allah tidak dapat bekerja dalam diri kita; sehingga kita tidak dapat menerima kesadar­an yang akan diberikan oleh pekerjaan Allah bagi kita dalam pengenalan tentang Dia. Karena itu, hati kita harus ditang­gulangi sampai tidak hanya dapat tunduk kepada Allah, tetapi juga mau tunduk kepada Allah. Barulah kemudian kita dapat menerima kesadaran dan pengenalan yang datang melalui peke‑rjaan Allah dalam diri kita.

Karena itu, kita harus (1) melatih dan menggunakan roh sampai menjadi kuat dan siap siaga, (2) memilild pengertian yang diperbarui oleh Roh, dan (3) menanggulangi hati kita sampai menjadi lembut dan murni, mengasihi Allah, menginginkan Allah, dan tunduk kepada Allah; barulah kemudian kita dapat memiliki pengenalan batiniah tentang Allah.


XI. KESIMPULAN

Karena Allah ingin manusia mengenal Dia, maka Dia memberi banyak cara dan sarana kepada manusia. sehingga manusia dapat mengenal Dia. Dalam zaman Peijanjian Lama, Dia menyatakan perbuatan‑Nya dan menyatakan jalan‑Nya kepada manusia, sehingga manusia dapat mengenal Dia. Te­tapi pengenalan manusia tentang Dia melalui perbuatan dan jalan‑Nya hanyalah bersifat luaran, objektif, dangkal, dan ti­dak lengkap. Karena itu, pada zaman Pezjanjian Baru, meski­pun Dia masih menggunakan perbuatan‑Nya dan jalan‑Nya untuk memperkenalkan diri‑Nya kepada manusia, tetapi hal yang paling penting dan mulia adalah bahwa Dia sebagai Roh telah masuk ke dalam diri kita menjadi hayat kita. Hal ini membuat kita mampu memiliki pengenalan batiniah, subjek­tif, mendalam, dan lengkap tentang Dia.

Ketika Allah berada dalam diri kita sebagai hayat, Dia menyebabkan kita memiliki hukum hayat ilahi dalam diri kita. Hukum itu mengatur kita terus‑menerus dari dalam, menye­babkan kita mengenal sifat hayat‑Nya. Hukum hayat ini, ka­rena adalah suatu hukum, bukanlah suatu pribadi; bersifat mutlak dan tidak berubah. Hukum itu mengatur kita dari dalam tanpa terubahkan sesuai dengan sifat hayat Allah. Akibatnya hukum itu menyebabkan cara hidup, sifat, dan cita rasa hidup kita menjadi sesuai dengan sifat Allah.

Roh Allah yang tinggal dalam diri Kita sebagai pengurapan, mengurapi dan mengajar kita mengenal Dia. Karena urapan ini berupa diri Allah pribadi, maka adalah pribadi, dan tidak terbatas serta fleksibel. Urapan ini dalam diri kita terus mengurapkan diri Allah yang tak terbatas itu ke dalam diri kita. Akibatnya urapan itu menyebabkan seluruh pribadi, kelaku­an, dan sikap kita terisi dengan esens Allah dan sesuai dengan kehendak Allah.

Sebagai hukum hayat dan urapan, pertama‑tama Allah memulainya dalam roh kita, kemudian meluas ke jiwa kita sehingga pikiran kita dapat memahami dan mengerti. Karena itu, kita perlu nielatih roh supaya intuisi roh dapat menjadi siap siaga. Yitajuga perlu membiarkan pikiran kita diperbarui sehingga pengertian pikiran kita menjadijelas. Lagi pula, kita perlu menanggulangi hati kita supaya menjadi lembut dan murni, mengasihi Allah, menginginkan Allah, dan tunduk ke­pada Allah. Dengan cara demildan, pada saat hukum hayat dan pengurapan bergerak dalam diri kita, intuisi dalam roh kita akan segera tahu, pengertian pikiran kita juga akan se­gera mengerti, dan kita dapat memiliki pengenalan batiniah tentang Allah setiap saat.

Untuk pengenalan batiniah seperti itu, Allah juga telah memberi kita ajaran dan dasar‑dasar Alkitabiah dari luar diri kita untuk memeriksa dan membuktikan bahwa kita tidak salah atau tertipu. Lagi pula, melalui pelayan‑pelayan‑Nya dari luar diri kita, Allah mengajar atau mengulangi ke­sadaran yang kita rasakan dari dalam diri kita. Dia mungkin mengajar pikiran Kita untuk memahami kesadaran yang kita miliki dalam roh, atau Dia mungIdn memperjelas bagi kita hal‑hal yang mendalam tentang Allah dan pengenalan dasar tentang hayat rohani.

Karena dari dalam dan dari luar diri kita, kita memiliki banyak cara dan sarana untuk mengenal Allah, kita dapat "menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan‑Nya serta berkenan kepada‑Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala peker­jaan yang baik dan bertumbuh dalam pengenalan yang benar tentang Allah" (Kol. 1:9‑ 10). Ketika kita mengenal. Allah secara demikian, kita tidak hanya dapat mengenal. seutuhnya kehen­dak Allah, tetapi kita juga dapat bertumbuh dan menj adi de­wasa dalam hayat Allah. Semakin kita meningkat dalam pe­ngenalan tentang Allah, kita akan semakin bertumbuh dalam hayat Allah sampai Dia menduduki seluruh diri kita. Dengan demikian barulah esens Allah akan sepenuhnya tertempa ke dalam diri kita, sehingga menggenapi tujuan kehendak Allah yang mulia untuk berbaur dengan kita menjadi satu.

Tidak ada komentar: