Rabu, 30 Maret 2011

Aku dan Bangsa


Selanjutnya, saya akan berbicara bagaimana menjadi Kristen di Indonesia. Bagaimana menjadi Kristen yang mengindonesia? Secara singkat, saya mengutip perkataan Yesus yang terkenal. Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 15 Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. 16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. (Mat. 5:13-16).

Mengapa Yesus memaknai kehadiran murid-murid-Nya di dunia sebagai garam dan terang? Terang bekerja dari luar, kelihatan. Garam bekerja dari dalam, tak kelihatan. Yesus mendefinisikan ihwal menjadi terang di dunia sebagai melakukan perbuatan baik sedemikian rupa sehingga orang yang melihat perbuatan-perbuatan baik itu memuliakan Bapa di surga. Dalam banyak hal, orang Kristen sudah memaknai kehadirannya di dunia dengan perbuatan-perbuatan baik yang memuliakan Bapa. Dalam jangka panjang, orang Kristen masih harus memberi kontribusi dalam memerangi kemiskinan di Indonesia. Masih banyak orang tak memiliki akses ke kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, pendidikan dasar, infrastruktur dasar seperti sanitasi dan air bersih.

Sebelum kita melihat problem kemiskinan di negeri sendiri, mari kita letakkan problem itu dalam kemiskinan global. Sekjen PBB Kofi Annan pernah menegaskan, “Kemiskinan merupakan ancaman bagi abad ke-21, yang daya rusaknya tidak kalah dahsyat dari sebuah perang.” Dalam 2005 Panglaykim Memorial Lecture di Jakarta dengan topik “The End of Poverty: Economic Possibilities for Our Time,” Jeffrey D Sachs, Profesor Manajemen dan Kebijakan Kesehatan pada Universitas Columbia, New York, mengatakan, saat ini kemiskinan ekstrem merupakan tantangan yang harus bisa diatasi oleh pembangunan ekonomi dan para ilmuwan.

Berdasarkan data PBB, dari 6 milyar penduduk dunia, ada 1,2 milyar yang hidup di bawah garis kemiskinan atau berpenghasilan kurang dari Rp 9000 per hari. Jika batas angka penghasilan itu dinaikkan, ada 2 milyar penduduk dunia yang berpenghasilan kurang dari Rp 18.000 per hari. Kemudian, sekitar 700 juta dari 1,2 milyar penduduk berpenghasilan kurang dari Rp 9000 per hari itu tinggal di Asia Pasifik. Ironisnya, tingkat kemakmuran justru meningkat sementara potret kemiskinan semakin buram. Ada masalah serius dengan distribusi kemakmuran dunia yang semakin tidak merata.

Di seluruh dunia, antara 8 hingga 11 juta orang meninggal setiap tahun, sebagian besar anak-anak karena mereka terlalu miskin untuk bisa bertahan hidup. Ini berarti sekitar 20.000 orang meninggal setiap harinya karena kemiskinan ekstrem. Mereka tewas sia-sia karena rumah sakit kekurangan obat, tempat tinggal tak dilengkapi kelambu, rumah tak dilengkapi air minum bersih. Di Mali, Ghana, Ethiopia, atau Yaman, ribuan orang setiap hari berjuang untuk bisa makan. Makanan praktis tak ada karena kekeringan. Juga tak ada air minum yang layak. Seorang ibu dengan lima anak harus berjalan beberapa kilometer untuk mengobati putrinya yang terkena malaria. Tak ada transportasi.

Bagaimana dengan di Indonesia? Menurut standar Bank Dunia, sekitar 60 juta penduduk berpenghasilan di bawah dua dollar Amerika Serikat per hari. Jika Perkantas Indonesia mau berkontribusi bagi bangsa, bukankah ini sebuah ladang pelayanan yang siap dituai. Musuh kemiskinan adalah nurani manusia sendiri. Masihkah kita menutup mata hati pada kaum papa?

Dalam dua bidang, yakni kesehatan dan pendidikan, orang Kristen telah berpartisipasi nyata. Banyak rumah sakit beroperasi di Indonesia, mulanya dirintis misi asing (Amerika, Jerman, Korea Selatan), namun kemudian melibatkan dokter-dokter nasional. Saya hampir tak pernah mendengar rumah sakit Islam sebagai bagian dari dakwah Islam. Sebaliknya, dalam bidang pendidikan, misi Islam jauh lebih maju ketimbang Kristen. Pesantren, madrasah, sekolah Muhamadiyah mudah ditemukan di mana-mana. Dari sedikit keterlibatan Kristen dalam bidang pendidikan itu, dapat dikatakan Katolik jauh lebih di depan dibandingkan Kristen dalam merintis sekolah-sekolah. Salah satu sebabnya adalah gereja Katolik amat serius menggarap bidang pendidikan, sehingga putra-putri terbaik mereka, yakni para rohaniwan yang profesional dalam bidang pendidikan dan mengabdi sepenuh waktu diutus untuk membuka sekolah. Orang seperti Romo Mangun bisa merintis SD Mangunan yang bayaran uang sekolahnya beberapa ratus perak, namun murid mendapat kemewahan diajar guru-guru yang baik dengan satu kelas tidak sampai 20 orang.

III.  Menjadi garam: memelihara keindonesiaan yang mandiri
Jika menjadi terang sudah lama menjadi kiprah orang Kristen di Indonesia, tidak demikian dengan menjadi garam. Masih minim kesadaran Kristen untuk terlibat dalam memelihara keindonesiaan yang mandiri. Kaum intelektual perlu berperan dalam kemandirian bangsa. Kalau tidak, secara ekonomi kita terjajah. Baru-baru ini Amerika Serikat lewat Departemen Pertaniannya melayangkan surat kepada pengusaha unggas Indonesia dan Direktur Jenderal Peternakan. Dalam surat itu ada usulan yang simpatik untuk membuat studi banding tentang kondisi perunggasan di Indonesia, termasuk di dalamnya perkiraan kebutuhan di masa depan, kemampuan produsen untuk memenuhi pasokan, dan peluang pasar ekspor. Juga kegiatan promosi dan pengembangan pasar perunggasan akan dibiayai Departemen Pertanian AS. Akan tetapi, Departemen Pertanian AS meminta para pengusaha Indonesia mau membuka akses pasar untuk produk ayam asal AS, terutama produk potongan ayam seperti paha dan sayap.

Dua tahun yang lalu, Pemerintah Indonesia pernah menolak produk sejenis dengan berbagai alasan. Yang jelas produk potongan ayam seperti paha dan sayap di Amerika adalah produk buangan yang dijual dengan harga murah. Rusia dan Filipina membiarkan produk AS itu membanjiri pasaran lokalnya dengan akibat industri unggas kedua negara itu menjadi rusak dan kemudian tergantung pada produk unggas impor. Sebagai bagian integral dari bangsa, orang Kristen di Indonesia harus berpartisipasi dalam memelihara keindonesiaan. Untuk itu, prasyaratnya adalah mencintai keindonesiaan.
Saya menduga ada orang Kristen yang lebih merasa sebagai orang Kristen daripada orang Indonesia. Mereka perlahan-lahan sedang meninggalkan Indonesia, baik dalam pikir maupun laku. Ada perbedaan besar antara menjadi orang Indonesia yang beragama Kristen dan menjadi orang Kristen yang kebetulan berada di Indonesia. Model orang Kristen yang terakhir adalah mereka yang lahir, menghirup udara, makan dari hasil tanah Indonesia, namun tidak merasa bertanah air Indonesia.

Sebagai gantinya, mereka bisa memandang Indonesia sebuah ladang pelayanan yang perlu digarap. Cuma itu. Tetapi soal sebagai bertanah air Indonesia, kalau bisa, menjadi warga negara Singapura, Australia, atau Amerika. Tak ada rasa sayang Indonesia dan keindonesiaan. Kekristenan seperti itu tentu saja terlihat asing di Indonesia.

Selayaknya orang Kristen mencintai keindonesiaan dengan cara masing-masing. Adalah bagian dari mandat budaya untuk ikut melestarikan kultur yang baik sebagai bagian dari realitas kemajemukan masyarakat. Ini tanggung jawab semua orang yang cinta Indonesia, termasuk orang Kristen. Namun sayang, karena persepsi PI yang kebablasan maka pendekatan mandat budaya orang Kristen sering bersifat menaklukkan. Lucunya, penaklukan itu dilakukan dengan memakai budaya yang sebenarnya duniawi, sekali pun berlabel Kristen. Dapatkah secara akademik kita berbicara “Budaya Kristen?” Jika bisa, seperti apa atau yang mana bisa disebut budaya Kristen? Jika ada budaya Kristen, apakah itu tunggal atau majemuk? Bisakah kita memakai sebuah ukuran budaya Kristen untuk mengadili budaya lain sebagai kurang Kristen? Atau, lebih tepat kita berbicara budaya yang dikembangkan kelompok Kristen tertentu?

Daripada kita berdebat tanpa ujung, sebaiknya yang sudah jelas ada di hadapan kita semua adalah budaya(-budaya) bangsa. Adakah kecintaan orang Kristen kepada keindonesiaan dalam arti itu? Dr Anne Pellowski adalah seorang Amerika Serikat berdarah Polandia. Ia seorang pendongeng profesional dan telah menekuni mendongeng selama 50 tahun. Ia sudah menulis 19 novel dan buku tentang anak. Gelar doktor diraihnya di Columbia University, New York. Baru-baru ini ia hadir dalam Festival Mendongeng Ke-6 (23/7) di Bentara Budaya Jakarta dan sebelumnya juga mendongeng untuk anak-anak miskin di Tangerang. Seharusnya pada waktu yang bersamaan, ia menerima Lifetime Achievement Award for Story Telling di Chicago. Tetapi, ia hanya meninggalkan video rekaman pidatonya pada acara penghargaan itu untuk bisa berada di Indonesia. “Mendongeng di sini lebih penting daripada menerima penghargaan. Tidak mungkin, kan, melihat anak-anak itu lewat surat elektronik. Saya harus langsung melihat bagaimana mereka ketika didongengi.”

Lalu, apa yang dibawakan Anne dalam dongengnya di Jakarta? Udang Bengkok, sebuah cerita rakyat Kalimantan yang dibawakan dengan media wayang beber kontemporer. Ia yang sudah melanglang ke 115 negara menyatakan jatuh cinta pada wayang beber ketika pertama kali mempelajarinya sembilan tahun lalu. “Saya menggunakan banyal sekali alat peraga, seperti kertas, tali, gambar, tanaman, kain, juga boneka kayu. Wayang beber saya anggap sebagai salah satu peraga yang sangat menarik. Wayang ini ada sejak zaman dulu, tetapi saya membuat desain dan ceritanya dengan versi modern.” Cara Anne memainkan wayang beber tak berbeda dari para pengrawit di zaman Majapahit. Cerita dituangkan dalam beberan atau bentangan kain yang digulung. Saat bercerita, beberan dibuka sedikit demi sedikit. Jika sudah dimainkan, beberan digulung lagi. Lucunya, cerita Udang Bengkok itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh orang Indonesia dan kemudian dikisahkan kembali oleh Anne dengan dibantu seorang penerjemah ke dalam bahasa Indonesia. Toh, anak-anak tertawa ketika ada bagian cerita yang lucu.

Di usia senjanya, 72 tahun, Anne masih ingin terus mendongeng. Baginya, bekerja dengan anak-anak sangat nikmat, apalagi jika bisa membahagiakan mereka dengan dongengannya, meski ia sendiri tidak menikah. Musim gugur tahun ini ia berencana berkeliling Amerika Serikat. “Saya akan tunjukkan wayang beber kepada anak-anak di AS,” ujarnya mantap. Mengapa bukan orang Indonesia yang melakukannya? Mungkin sebagian dari kita mengetahui gaya romantik dari pianis dan komponis Rusia Rachmaninoff. Almarhum Jazeed Djamin, pianis Indonesia yang juga meraih gelar doktor dalam komposisi musik menggubah lagu Themes and Variations on Sepasang Mata Bola dengan gaya seperti itu. Saya amat terkesan dengan kepiawaian teknik komposisinya yang mampu mengangkat lagu sederhana gubahan Ismail Marzuki ketika republik masih muda usia menjadi sebuah karya kelas dunia. Pianis Trisuci Kamal yang mempromosikan gubahan-gubahan Lizt di Indonesia juga banyak menggubah komposisi piano yang amat indonesia.

Andrias Wiji Setio Pamuji (27), suami dari Mila Juliani Perangin-angin (24), adalah alumnus Teknik Kimia ITB. Saat masih kuliha di tingkat III, ia sudah membuat percobaan membuat reaktor biogas sederhana dari plastik. Kemudian, ia sempat menang dalam Lomba Kreativitas Mahasiswa tahun 2002 yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Tahun ini ia sudah menyempurnakan percobaan- percobaannya untuk dipasarkan. Inti reaktor biogasnya adalah kotoran sapi dijadikan gas dan kemudian dialirkan serta berfungsi seperti gas biasa untuk memasak. Kini reaktor biogas itu sudah digunakan 66 peternak sapi perah di Subang, Bandung, Garut, Tasikmalaya, dan Padang. Akan menyusul Bali, Jawa Tengah, dan Lampung. Dengan berbagai kotoran makhluk lain juga bisa dan hanya terbentur oleh asas kepantasan dalam masyarakat. Bahkan, sampah di tempat penampungan akhir (TPA) juga bisa menjadi bahan reaktor. Bukankah ini sebuah temuan gemilang yang tepat untuk dikembangkan sebagai energi alternatif, terlebih saat harga BBM amat tinggi seperti sekarang?

Saya masih ingin menyebut sebuah inovasi putra-putri bangsa. Ampas tebu yang selama ini hanya digunakan untuk bahan bakar ketel uap di pabrik gula, sekarang telah dimanfaatkan untuk kanvas rem sepeda motor dan berbagai jenis mobil. Produk itu telah dipatenkan dan dalam waktu dekat akan dipasarkan secara massal. Bahkan, kini sedang dilakukan penelitian kualitas di sebuah laboratorium perguruan tinggi. Jika kanvas rem itu memenuhi standar kelayakan sebagai kanvas rem kereta api, PT Kereta Api Indonesia tak perlu lagi mengimpor kanvas rem kereta api dari China, Australia, dan Argentina.

Selain dalam bidang budaya, dibutuhkan juga partisipasi Kristen dalam transformasi nilai yang sedang berlangsung di negeri ini. Domain itu lebih banyak digarap kaum Muslim. Dalam hal ini, masih terlalu sedikit, untuk mengatakannya belum ada, kontribusi kaum injili bagi keindonesiaan. Bahkan, mungkin banyak gereja injili di Indonesia tak mampu menyebut kata keindonesiaan, sebab dalam praktik bergereja mereka terlalu sibuk dengan urusan memperluas jemaat di bawah panji gereja masing-masing. Mereka mengelola gereja seperti sebuah usaha franchise. Kemudian, mereka mengklaim perkembangan gereja mereka sebagai perkembangan Kerajaan Allah. Padahal, mungkin lebih tepat itu perkembangan kerajaan orang Kristen, Christian kingdom yang notabene adalah kerajaan manusia. Aktivitas dalam gereja seperti itu didominasi preferensi dan ambisi tokohnya yang sudah dikemas rapih sebagai aktivitas rohani, yang lagi-lagi, mengklaim atas nama Allah.

Banyak orang lupa bahwa dalam Doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan kita berdoa agar Kerajaan Allah datang, bukan meminta supaya kerajaan itu berkembang. Lalu apa artinya “Kerajaan Allah datang.” Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus kapan Kerajaan Allah datang, Ia menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk. 17:20-21). Kerajaan Allah, yakni kehadiran Kristus, ada di antara mereka, di antara orang-orang Farisi, bukan di antara orang-orang Kristen!

Kembali kepada topik menggarami masyarakat, sebagai fungsi yang berbeda dari menjadi terang. Menggarami bekerja dari dalam, mencegah pembusukan dalam masyarakat, membuat kehidupan menjadi lebih enak untuk dinikmati. Aktivitas garam tak terlihat. Ia larut, tak diabadikan dalam bentuk simbol-simbol Kristen. Saya membayangkan fungsi garam itu sedang bekerja lewat banyak orang Kristen yang memajukan masyarakat bersama dengan komponen-komponen bangsa yang lain. Mereka ikut memberantas korupsi. Mereka ikut memberi warna kepada civil society, ke arah itu Indonesia sedang bergerak secara pelan namun pasti meninggalkan rezim militeristik. Mereka ikut menyusun draf undang-undang. Mereka ikut menyelamatkan hutan Indonesia dari eksploitasi.

Harus diakui bahwa gereja dan  STT masih tertinggal dalam mempersiapkan umat untuk berperan sebagai garam dunia. Banyak energi, uang, potensi SDM dihabiskan gereja untuk mengembangkan kerajaan masing-masing. Visi sosial orang Kristen menjadi miop. Seharusnya, kaum intelektual Kristen ikut memberi arah kepada perkembangan civil society. Ruang untuk partisipasi itu sudah tersedia. Namun, banyak orang Kristen terlena dengan isu-isu banal, sehingga tidak salah masyarakat sipil yang berkembang didominasi orang berjubah putih yang sibuk menertibkan masyarakat sesuai dengan konsep mereka. Civil society adalah masyarakat perantara antara sistem kekuasaan negara dengan lingkungan primordial. Sudah jelas itu bukan masyarakat model Mekkah atau Madina. Tetapi, itulah yang akan terjadi jika khilafah global yang berlaku di Afganistan semakin dominan di Tanah Air.

Di mana para intelektual Kristen yang mendedikasikan diri berperang dalam jalur ideologis, ikut mengawasi jalannya pemerintahan, ikut memberi kontribusi dalam wacana yang sedang berkembang? Agama Kristen terkenal dengan tindakan-tindakan karitatifnya, mencontoh orang Samaria yang baik hati. Namun, untuk jangka panjang, terutama di saat-saat ini, harus muncul lebih banyak intelektual Kristen yang memberi kontribusi ideologis kepada keindonesiaan, kepada civil society.

Saya agak heran dengan kecenderungan sebagian kaum awam dalam berteologi. Mereka tampak bersemangat berbicara teologi, bahkan lebih bersemangat daripada sarjana teologi. Padahal, harus diakui hingga kini wacana teologi yang berkembang masih memiliki ketergantungan yang tinggi pada teologi impor dari Barat. Meski ada hal-hal positif dalam teologi dari Barat, namun teologi itu berkembang dalam konteks sosial dan pergumulan gereja di Barat yang cukup berbeda dari konteks sosial dan pergumulan gereja yang ada di Indonesia.

Tentu saja panggilan khusus gereja bukan berteologi. Porsi berteologi seyogianya diemban sekolah-sekolah tinggi teologi. Namun, tidak sedikit sekolah tinggi teologi terjebak menjadi pengawal kebenaran Kristen secara ideologis. Tak ada ruang yang cukup untuk berbeda. Kaum mudanya yang pandai dan kreatif hanya menjadi corong-corong setia untuk mempromosikan kebenaran-kebenaran yang diyakini para pendahulunya.

Salah satu akibatnya, meski sudah lebih dari setengah abad gereja di Indonesia hidup di alam merdeka, gereja masih belum bisa berkata tentang teologi kemiskinan, teologi penderitaan, teologi kebangsaan, atau teologi kerakyatan, untuk menyebut beberapa genre teologi yang tidak ada dalam nomenklatur ilmu teologi dari Barat. Sudah jelas kita memiliki masalah serius dengan terjadinya berbagai konflik komunal di Tanah Air. Namun, di mana sumbangsih Kristen dalam menggagas teologi komunal sebagai sebuah model solusi?

Berteologi di Indonesia baru sebatas identitas kelompok dan labelisasi. Setiap aliran tergoda memiliki label masing-masing. Berteologi belum merupakan sebuah upaya inkarnasional. Padahal, dulu logos berinkarnasi dalam bentuk manusia konkret, berwajah, dikenali pada zamannya. Jika berteologi di Indonesia belum digabungkan dengan keindonesiaan, memang belum bisa disebut teologi inkarnasional.

Kebangsaan: Ancaman dan Revitalisasi
Dalam impitan kedua fundamentalisme itu, nasionalisme mengalami pelemahan. Sepintas tak ada hubungan antara kedua fundamentalisme sebab yang satu terkait ekonomi dan yang lain terkait agama, namun keduanya saling terkait.

Disorientasi nilai
Pasar memproduksi barang, jasa, dan pekerjaan yang semuanya dibutuhkan manusia. Namun, manusia juga membutuhkan solidaritas, identitas, kohesi sosial, a sense of human spirit, yang persis tidak dipedulikan ekonomi pasar. Itulah the spiritual poverty of markets, kemiskinan sosial ekonomi kapitalistis (Benjamin R. Barber, Jihad vs. McWorld, 215). “In the world of McWorld, the alternative to dogmatic traditionalism may turn out to be materialist consumerism or relativistic secularism or merely a profitable corruption” (h. 16).

Persoalannya bukan kapitalisme atau neoliberalisme itu sendiri, tetapi “unrestrained capitalism counterbalanced by no other system of values” (h. 295). Tanpa sistem nilai-nilai pengimbang, ekonomi pasar merajalela, bahkan menguasai kegiatan-kegiatan politik, masyarakat, dan kebudayaan. Dan, itu berbahaya bagi demokrasi. Kapitalisme tidak mesti berakhir dengan demokrasi. Jika dibiarkan, kekuatan bisnis global membahayakan demokrasi dan civil society. Di sinilah peringatan Noreena Hertz tentang kapitalisme global dan kematian demokrasi perlu diperhatikan para pengambil keputusan di Tanah Air (The Silent Takeover, 2003).

Jika orang sudah miskin secara materi, sudah wajar ia tidak mau jiwanya juga miskin. Biarlah miskin di dunia, asal kaya di surga. Maka, orang miskin dengan mudah lari kepada agama yang kaya dengan janji-janji surgawi. Baik fundamentalisme pasar maupun fundamentalisme agama menyebarkan janji kesejahteraan. Yang pertama dengan jalan mitos pasar bebas, yang kedua dengan mitos agama kesejahteraan. Itulah dua pola kesejahteraan yang ditawarkan dari dua dunia berbeda. Dunia sini dan dunia sana. Dunia sekuler dan dunia rohani. Para pemuda Palestina yang diimpit kemiskinan terperangkap di antara dua pola kesejahteraan ini. Pertama, berusaha keluar dari Palestina dan pergi ke Eropa untuk suatu kehidupan yang lebih baik. Kedua, jika tidak dapat keluar dari Palestina, para pemuda itu pergi ke mesjid-mesjid di Palestina dan dicekoki ajaran agama yang menghalalkan kekerasan.

Spiritualitas garam
Agama dapat dipakai untuk menghalalkan kekerasan dan membuat orang menjadi eksklusif karena membentuk identitas kelompok. Maka, tidak cukup hanya mempertahankan Pancasila sebagai ideologi bangsa sementara secara operasional mandul. Implementasi sila ketuhanan yang menjamin kebebasan beragama juga harus dibarengi dengan perjuangan keadilan sosial bagi seluruh bangsa. Yesus memaknai kehadiran murid-murid-Nya di dunia dengan metafora terang dan garam (Mat. 5:16). Terang maksudnya perbuatan-perbuatan baik dan itu langsung terlihat. Garam memengaruhi diam-diam, tanpa warna, tak terlihat, namun rasa asinnya efektif mencegah pembusukan. Spiritualitas garam bekerja tanpa terlihat, melebur dengan masyarakat, identitasnya larut. Dengan cara itu, pembusukan masyarakat dicegah, hal-hal baik diawetkan, citra rasa kehidupan bersama menjadi sedap. Itulah garam masyarakat.

Komunitas-komunitas perlu keluar dari lingkungan sendiri yang nyaman, untuk terlibat dengan persoalan bangsa dan proses transformasi sosial. Salah satu persoalan bangsa yang mendesak adalah akses 100 juta lebih penduduk kepada layanan kesehatan dan pendidikan. Penghasilan mereka hanya sekitar Rp. 20 ribu per hari. Merekalah korban pertama globalisasi ekonomi dan pemanasan global. Sebenarnya tiada dikotomi antara kesalehan individual-vertikal dan kesalehan sosial-horizontal. Kesalehan sejati adalah utuh tak terbagi.

Menjadi sesama
Sikap menjadi sesama harus menjadi gaya hidup sehari-hari. Ketika seorang ahli agama menguji Yesus dengan bertanya “Siapakah sesamaku?” (Luk. 10:25-37). Yesus tidak langsung menjawab, “Sesamamu adalah ini atau itu.” Ia bercerita tentang seorang Yahudi yang jatuh ke tangan penyamun dan dirampok habis-habisan, dipukuli hingga sekarat, dan dibiarkan tergeletak di tepi jalan. Kemudian berturut-turut lewatlah seorang imam dan seorang Lewi. Keduanya orang Yahudi dan seagama. Namun, mereka tidak berhenti untuk menolong.

Lewatlah seorang Samaria yang secara ras bermusuhan, namun ia menolong korban. Sampai di situ, Yesus tidak meneruskan ceritanya. Ia tidak menjawab pertanyaan “Siapakah sesamaku?” Malah, Yesus balik bertanya kepada ahli agama itu, “Siapakah di antara ketiga orang ini (imam, orang Lewi, orang Samaria), menurut pendapatmu, adalah sesama manusia bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Langsung ia menjawab, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Yesus menutup dialognya dengan berkata, “Pergilah dan perbuatlah demikian!”

Hingga akhir dialog, Yesus tidak menjawab pertanyaan “Siapakah sesamaku?” Itu pertanyaan keliru sebab diasumsikan ada orang termasuk kelompok dan tidak; ada yang sederajat sebagai sesama dan tidak. Cara bertanya demikian menempatkan diri penanya sebagai pemberi kriteria siapa saja yang layak sebagai sesama. Penanya merasa layak menentukan siapa sesama dan siapa bukan sesama, sebab di matanya tidak semua orang adalah sesama.

Yesus mengoreksi cara pandang keliru yang mengasumsikan pengelompokan berdasarkan primordialisme. Pengelompokan seperti itu akan memengaruhi sikap terhadap orang lain. Yang masuk kelompok ditolong, di luarnya tidak ditolong. Akan tetapi, seyogianya kita menjadi sesama bagi siapa saja, menemui orang lain sebagai sesama. Secara tak langsung, Yesus mengatakan, “Perluaslah lingkaran sesamamu menjadi siapa saja, sama halnya seperti seorang yang dalam kesusahan akan mengharapkan pertolongan dari siapa saja yang dapat menolongnya!” Maka, pertanyaan yang benar bukan “siapa sesamaku?” tetapi “sudahkah aku menjadi sesama?”

Apakah aku menjadi sesama bagi yang terdiskriminasi? Apakah aku menjadi sesama bagi yang sedang ketakutan? Apakah aku menjadi sesama bagi yang dilecehkan martabatnya? Apakah aku menjadi sesama bagi yang menderita? Yang benar adalah bagaimana menjadi sesama bagi orang yang memerlukan uluran tangan. Dengan begitu, kita menerobos batas-batas yang memisahkan kita dari kelompok di luar kita. Keluar dari ketertutupan kelompok dan menjadi sesama bagi orang lain. Kita masih mengimpor 80 persen kebutuhan bahan baku obat sebab Indonesia belum memiliki pabrik kimia dasar untuk memproduksinya.

Tidak ada komentar: