Rabu, 06 Juli 2011

Membumikan Panggilan Intelektual


Indonesia tidak kekurangan kaum terpelajar dengan gelar akademik tertinggi dalam bidangnya masing-masing. Namun, orang-orang pandai itu tidak dengan sendirinya termasuk cerdik cendekiawan. Dalam masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih miskin pendidikan, tanpa disadari kaum terpelajar terkungkung dalam posisi sebagai pegiat intelek yang, meminjam istilah Rendra, menempati rumah di atas angin.

Kaum terpelajar bisa membentuk komunitas eksklusif dan berbahasa yang hanya dimengerti mereka sendiri. Namun, bukan itu panggilan utama kaum intelektual. Kecenderungan menjadi intelektual menara gading dikarenakan cara berpikir keliru yang bersangkutan tentang hakikat kecendekiaan. Sudah pasti cendekia memiliki akal yang tajam, namun ia memilikinya bukan seperti uang di dalam dompetnya atau seperti pedang di pinggang yang siap dihunus kapan saja dibutuhkan. Juga kecendekiaan bukan seperti kecantikan yang dimiliki perempuan jelita, yang pesonanya secara spontan terus-menerus memancar dari dalam dirinya.

Sebagai modus operandi, kecendekiaan memampukan orang untuk menilai secara retrospektif bahwa dalam peristiwa ini atau itu, ia telah bertindak cerdas. gbisa ditambah efektivitasnya lewat selalu dipakai, diasah, dan terlatih dalam konsentrasi. Namun, hakikat kecendekiaan bukan sebagai bagian pesona diri. Dalam pandangan José Ortega y Gasset (1883-1955), filsuf Spanyol, cendekia sejati dihantui ketakutan menjadi bodoh dan karena itu berupaya melepaskan diri dari kebodohan (Historical Reason, tr. P. W. Silver, New York: W. W. Norton, 1984, hal 121-56).

Cendekia hidup dan bergerak di antara kebodohan-kebodohan aktual maupun potensial. Dalam hal ini, mereka tak berbeda dengan orang kebanyakan. Namunh, yang membedakan mereka secara fundamental adalah mereka memiliki sadar di mana mereka berada, sementara orang bodoh begitu percaya diri sehingga tak mampu melihat kebodohannya yang masih dalam tingkat awal (incipient obtuseness). Tanpa rasa cemas, orang bodoh menenggelamkan diri dalam lautan kebodohan.

Anatole France (1844-1924), novelis Perancis yang juga seorang pemenang Nobel Sastra, berkata bahwa ia lebih takut kepada orang yang amat bodoh daripada orang jahat. Yang kedua kadang-kadang berhenti dari aktivitasnya (bertindak jahat), namun yang pertama tidak pernah berhenti (bertindak bodoh). Kecendekiaan sebagai modus operandi memaksa cendekia untuk hidup mawas diri agar terhindar dari berbuat salah.

Itu sebabnya Ortega menolak menerima eulogi tentang kecendekiaannya sehingga ia layak menerima jabatan mahaguru di Fakultas Sastra Universitas Lisabon. Dalam ceramahnya (1944), ia menjelaskan alasan penolakannya itu. Seorang cendekia hidup hanya dengan kejelasan dan otentisitas. Ia akan merasa malu ketika angin pujian bertiup ke arahnya. Itu sebabnya ia merasa janggal untuk menerima pujian atas kecendekiaannya.

Ortega menegaskan, sikap rendah hati, bersahaja, tak berlebih-lebihan, merupakan prakondisi panggilan dan praksis intelektual. Seorang intelektual tidak menjadikan kecendekiaan sebagai milik pribadi yang dibanggakan. Itu lebih sebuah proses spontan dan merupakan sebuah kejutan, seperti tanah yang kurang subur menghasilkan tanaman unggul. Yang harus dilakukan cendekia adalah memelihara kepolosan dan keterbukaannya terhadap sesuatu yang baru.

Kalau tidak, ia akan kehilangan kewaspadaannya dan tenggelam dalam kebodohan. Kehati-hatiannya terhadap kekeliruan yang bodoh merupakan vitamin penunjang kecerdasannya. Itu sebabnya kecendekiaan tak dapat diprofesionalisasi. Tak ada profesi sebagai cendekiawan atau intelektual. Profesi bisa menjadi jalan hidup seseorang, tetapi tidak bisa demikian dengan menjadi intelektual.

Selama kurun waktu 1740-1929, posisi kaum intelektual di masyarakat (Eropa) Barat amat terhormat, dibandingkan sebelum dan sesudah itu. Suara mereka memimpin dan didengar sebagai otoritas bagi kemajuan peradaban rasional. Namun, dalam pandangan Ortega hal itu membuat kaum intelektual menyesuaikan diri dengan karakter massa dan pada saat yang sama membuat mereka menjadi sumber inspirasi yang kering bagi masyarakat.

Misi otentik intelektual adalah membentuk standar-standar baru yang mengganti standar- standar lama yang menyusut. Untuk itu, intelektual harus tetap menjaga dirinya sebagai mata air inspirasi yang memelihara kejernihan budi dan nuraninya. Dari kehidupan gurun yang dijalaninya, dari kesunyiannya yang produktif, ia terlibat dalam melahirkan opini-opini tentang tema-tema penting yang menyangkut kemanusiaan (opinion maker).

Oleh: Yonky Karman

Tidak ada komentar: